Jalan Kaki 10.000 Langkah Pertama Bersama Suami

Jalan kaki 10.000 langkah pertama bersama suami

Daftar Isi

Idulfitri hari kelima. Tidak punya rencana ke mana-mana. Senang sekaligus agak aneh. Sebab baru tahun ini terjadi 😅. Akhirnya bisa jalan kaki 10.000 Langkah pertama bersama suami. Alhamdulillah bisa menghabiskan jatah jalan kaki 10.000 langkah per hari. 

Jalan Kaki 10.000 Bersama Suami

Sejak sebelum Idulfitri badan kurang sehat. Berawal dari migrain yang kumat, kepala bawaannya ngeleyeng. Badan juga rasanya greges. Saat suami berangkat untuk jalan kaki kemarin pagi. Saya tidak ikut, bahkan beliau pergi pun tidak tahu. Karena selesai sholat Subuh kembali rebahan di kasur hingga tidak sadar kembali terlelap. 

Barulah ketika suami pulang, saya mendapat oleh-oleh cerita. Kalau beliau jalan kaki hingga ke stasiun Jatinegara. Mampir ke pasar ikan di bekas lapangan di Jl. Jendral Urip. Berapa kilometer atau langkah kaki yang sudah dilalui, tidak dicatat. Saya yang sedang membiasakan diri untuk jalan kaki 10.000 langkah tiap hari. Jadi merasa ‘iri’ karena melihat suami berkeringat dan segar. Setelah olahraga jalan kaki di pagi hari. 

Rencana Jalan Kaki Bersama

Dari kemarin saya sudah bertanya ke suami. Apakah beliau ingin jalan kaki lagi di esok hari (hari ini, Ahad)? Dijawab singkat khas pria, “Iya boleh.”  Sip, berarti besok pagi kami memiliki rencana akan jalan kaki bersama di pagi hari. Namun beberapa jam kemudian, agak menyesal sudah melontarkan pertanyaan tersebut. Pasalnya, hingga malam hari sepulang dari Pondok Ranggon. Badan masih terasa greges dan kepala pun masih ngeleyeng. Khawatir tidak bisa ikut pergi jalan kaki di pagi harinya. 

Tadi pagi selesai sholat Subuh, antara ingin pergi jalan kaki seperti rencana kemarin. Atau kembali rebahan di tempat tidur untuk memulihkan badan. Sambil menunggu suami kembali dari masjid. Saya pun memilih menarik selimut dan rebahan di tempat tidur. Berharap badan lebih enakan, supaya kuat untuk ikut jalan kaki bersama suami. 

Jalan Kaki 10.000 Langkah

Awalnya sudah ingin membatalkan rencana jalan kaki 10.000 langkah pertama bersama suami. Tapi saya juga ingin olahraga. Kepikiran, mungkin dengan jalan kaki badan jadi kemringet dan sehat. Anak-anak malah yang semangat tanya, baik ke saya maupun ke suami. “Ayah jadi jalan kaki lagi sekarang?” begitu tanya mereka. “Iya,” jawab Ayahnya sambil menggunakan kaos. Melihat suami yang sudah bersiap-siap. 

Bersiap-siap

Saya jadi semakin tertarik untuk ikut. Seperti ada kekuatan tambahan yang hadir ke badan. Untuk segera bersiap-siap ganti baju. Tidak pakai lama, kami berdua telah siap. Suami menggunakan celana training dan kaos yang biasa digunakan untuk bermain bulutangkis. Dirangkap dengan jaket yang biasa digunakan untuk bersepeda. Sementara saya hanya menggunakan jilbab, rok, dan kaos seperti biasa saja. Bukan pakaian khusus olahraga 😅. 

Rute Jalan Kaki

Pukul 5.32 WIB kami berdua mulai perjalanan. Suami menanyakan rute yang akan kami lalui. Namun pada akhirnya, beliau sendiri yang memutuskan untuk jalan kaki 10.000 langkah kali ini. Melalui rute seperti yang dilalui olehnya kemarin. Yaitu melalui jalan Kramat Asem, Moncokerto, Cendana, Kayumanis Timur, Kayumanis VIII. Kemudian menyeberangi rel kereta stasiun Pondok Jati. Lanjut menyusuri jalan K.H. Ahmad Dahlan sampai ke Matraman Raya. Menuju pasar ikan yang berada di bekas lapangan di jalan Jendral. Urip. 

Tidak sampai tiga puluh menit perjalanan dari rumah sampai ke pasar ikan. Yang terletak di sekitar Jatinegara. Rupanya suami memang sudah punya keinginan atau rencana sendiri. Karena mengajak saya masuk dan melihat-lihat di pasar ikan. 

Mampir Pasar Ikan 

Pasar ikan ini adalah tempat berkumpulnya para pedagang ikan. Sepertinya memang disediakan untuk menampung para pedagang ikan. Dari yang sebelumnya ada di sepanjang trotoar di jalan Jatinegara. Dengan tujuan supaya mengurangi kemacetan. Atau memang sengaja untuk menambah lapak bagi para pedagang yang memang belum tertampung di area trotoar seberang pasar Jatinegara. 

Entahlah, saya kurang paham. Semoga ada kesempatan untuk bertanya kepada salah satu pedagang. Yang jelas hingga kini para pedagang yang ada di sepanjang trotoar tetap berjualan di sana. Tidak berkurang. Lalu lintas macet, tentu saja masih bertahan di jalan Jatinegara tersebut. Karena masih suasana liburan Idulfitri, pasar ikan ini masih sepi. Lapak-lapak di tengah pasar banyak yang masih belum buka. Masih ditutup terpal dan tidak ada penjualnya.

Bahkan terlihat para pedagangnya tertidur begitu saja. Ada yang beralaskan tikar atau “kasur” sederhana. Atau ngegeletak di lantai beralaskan tanah. Berbaur dengan ikan-ikan dagangannya. Baik yang ada di dalam akuarium maupun di dalam bungkus plastik. Saya melihat pasar ikan ini tidak tertata rapi. Pihak pengelola sepertinya tidak membuat pasar ini bagus. Terkesan sekedarnya dan asal ada saat membuat pasar ikan ini. 

Lapak Ikan yang Menarik

Suami mengajak untuk berputar melihat-lihat di bagian depan. Mungkin beliau sedang berpikir akan membeli ikan apa. Saya hanya mengekor saja di belakang atau di sampingnya. Akhirnya kami berhenti di sebuah lapak yang berada tepat di tengah-tengah pelataran pasar. Lapak ikan yang menarik, di mana ada berjajar akuarium-akuarium kecil. Ukuran masing-masingnya kurang lebih 40X20X15 cm berbentuk persegi panjang. Disusun membentuk huruf U. 

Dengan penjualnya berada di tengah-tengah. Memudahkannya saat melayani pembeli. Akuarium-akuariumnya terisi dengan ikan-ikan kecil dengan warna-warna cerah. Mungkin ada lebih dari 200  ekor ikan masing-masingnya. Baru ada tiga calon pembeli yang sedang melihat-lihat dan memilih ikan. Mereka diberi akuarium kecil kotak dan sebuah saringan. Bebas memilih ikan yang akan dibelinya. Kehadiran kami menjadi calon pembeli keempat. Suami menyusuri semua akuarium, untuk melihat ikan-ikan yang ada. 

Lapak ikan glowfish yang menarik

Membeli Ikan

Akhirnya suami memutuskan untuk membeli ikan-ikan kecil yang bernama glowfish. Yang dipajang di dalam akuarium dilengkapi dengan lampu. Menambah cantik warna ikan-ikannya saat terkena lampu. Namun tidak menyilaukan mata (bukan warna dangdut 🤭). Warnanya ikan ada hijau, merah, kuning, biru, ungu, oranye, dan putih). 

“Memang ada akuariumnya Yah?” Tanya saya kepada suami. “Ada, pakai yang lama. Kan masih bisa digunakan” jawabnya. “Mau beli yang mana? Yang di akuarium ini sampai sini harganya Rp1.000 per ekor, yang garis-garis Rp10.000 per 7 ekor.” Tanya suami kepada saya, sambil menunjukkan ke arah akuarium-akuarium yang dimaksud. “Terserah saja yang mana, bagus-bagus semua.” Jawab saya menyerahkan pilihan kepadanya. 

Suami kemudian meminta akuarium kecil kepada penjual untuk memilih ikan yang ingin dibeli. Setelah mendapatkan wadah dan saringan, langsung serius memilih. Entah apa yang menjadi pertinbangannya dalam memilih ikan-ikan glowfish itu. Saya hanya memesan supaya ada ikan yang berwarna biru. Lumayan lama memilih ikan-ikan kecil glowfish, yang gesit itu. Sambil menunggu, saya mencari bangku yang bisa diduduki. 

Melanjutkan Jalan Kaki 10.000 Langkah

Selesai membeli 2 jenis ikan glowfish, kami pun melanjutkan perjalan untuk pulang ke rumah. Tidak kembali melalui rute yang awal tadi. Melainkan jalan kaki terus ke arah stasiun Jatinegara. Dari pasar ikan terus saja melalui mal City Plaza, Jatinegara. Tidak jauh dari stasiun, kami pun naik ke jembatan penyeberangan orang (JPO). Sampai di seberang, di daerah Pisangan. Kemudian melanjutkan perjalanan ke arah Kebon Sereh. 

Keluar dari Kebon Sereh ke arah jalan By Pass (A. yani). “Kita terus ya, Yah. Ke Utan Kayu Raya. Supaya target jalan kaki 10.000 langkah tercapai. Atau lewat BPKP. “ Pinta saya ke suami saat di perjalanan. “Nanti ikannya mati kelamaan ke gojlak-gojlak.” Tolak suami. “Oh iya, ya sudah lewat Utan Kayu Raya saja.” Jawab saya. 

Kami pun jalan kaki terus sampai perempatan lampu lalu lintas Rawamangun. Seberang lapangan golf Rawamangun. Dari perempatan lampu lalu lintas itu, barulah belok ke kiri ke jalan Utan Kayu Raya, kemudian belok ke jalan Balai Rakyat. Lanjut melalui jalan Kramat Asem sebelum masuk ke jalan di mana rumah kami berada.

Nah di jalan Balai Rakyat inilah sepatu yang saya pakai mulai bermasalah. Berbunyi. Terdengar seperti sepatu diseret setiap kali melangkahkan kaki. Untungnya sol sepatunya sudah pernah dijahit. Jadi tidak copot lagi seperti sebelumnya 😅. Setelah sampai rumah barulah ketahuan. Kalau lapisan karetnya ada yang lepas. Menjadi penyebab berbunyi setiap kali melangkahkan kaki. Oh iya, foto sepatu di atas menjadi saksi dan menemani saya jalan kaki 10.000 langkah tadi pagi.

Alhamdulillah, jalan kaki 10.000 langkah pertama bersama suami berhasil dilakukan. Sudah begitu membawa oleh-oleh ikan glowfish aneka warna untuk anak-anak di rumah 😊.

blog catcilku

Terima kasih sudah membaca postingan di blog catcilku.com. Semoga dapat memberi pencerahan dan bermanfaat buat Anda.

35 Tanggapan

  1. Wah ini aktivitas yang menyenangkan banget, Kak. Jalan kaki bareng keluarga. Ikhtiar keluarga sehat nih. Btw masih penasaran nih Kak dengan keramaian dan hiruk pikuk di pasar ikannya. Tambah pics kak. Hehe

  2. Wahh lumayan juga ya 10.000 langkah, kira-kira berapa kilometer itu? Makin seru kalau jalan pagi ada temennya jadi semangat terus.

    Ikannya murahh ya, apa karena kecil2?

  3. wah ide kegiatan seru bersama suami ini. Belum pernah nih jalan kaki 1000 langkah apalagi ditemani suami. hihi
    asik dapat ikan glowfish lagi. ikan itu emang cantik warnanya kalau ada banyak.

  4. aku malah tertarik sama ikan glowfish-nya,, hehehe.. keliatannya lucu, warna-warni, cocok nih buat akuarium yang gak terlalu besar soalnya kecil2 ikannya

  5. Mantap, Kak. Saya sudah berencana ingin olahraga jalan kaki setiap pagi belum kesampaian. Kalaupun terlaksana. Itupun nggak konsisten. Kudu konsisten nih aku. Biar sehat. Hehehe….

  6. Sepatu yang sangat berjasa itu. Hehehe
    Jadi bagaimana sekarang badannya apa sudah lebih sehat atau masih terasa greges?
    Semoga lekas sembuh ya dan bisa jalan kaki selalu sebagai olahraga murah meriah tapi manfaat melimpah

  7. Duh so sweet. Semoga kalian selalu diberkati dalam setiap langkah membina rumah tangga ya kak. Seneng bgt ada pasangan yg bikin iri semua keluarga wkwkw.

    Ngomongin rutenya, jadi ingat pernah punya mantan di Pisangan wkwk. Bahkan ortunya, sampe skrg masih nanyain mulu. Knp aku ga prnh dtg ke rumahnya lagi.

    Lha gmn sih? Kan udh putus. Masa suruh ngapelin mulu. Lagian kami kan sdh berkeluarga. Bahaya dong kl ksna. Dikira mau ngapelin anaknya kali. Wkwkw.

  8. Ciamik banget kak 10rb langkah sambil ceki-ceki ikan. Daku belum sampe segitu per hari hihi..
    Cuss semangat 10rb langkah

  9. Jadi kebayang deh, bagaimana semrawutnya pasar ikan yang Mba dan suami lewati saat jalan-jalan berdua. Apalagi tentang pedagangnya yang tidur di samping dagangannya tanpa alas tidur. Sendu, jadinya. Semoga pihak pengelolanya menaruh perhatian lebih ya. Kalau kalau pasar tertata rapi, bukan cuma pedagang yang senang, tentu saja pembeli juga, ya kan?

  10. Anak2 udah gede ya Kak? Jadi bisa ditinggal kalo ortunya jalan kaki hehe. Saya tuh biasanya sepedaan bareng suami kalo di rumah mbahnya anak2. Soalnya kalo di rumah ngga ada yg jaga. Lumayan banget kalo rutin jadi berotot kaki wkwk

  11. Rute jalan kakinya serasa familier bagiku: Rawamangun, Utan Kayu … Hehe…. Lumayan pegel juga itu ya kalau jalan kaki. Btw, ikannya imut bangeeeet.

    1. Iya, jalan kaki masih bisa dilakukan saat badan sedang kurang sehat. Karena tidak terlalu nguras energi seperti olahraga lainnya. Tapi perlu hati-hati juga ya mbak 😊

  12. Duh jadi kangen jalan jalan tiap minggu subuh, sepedahan sama temen2 wkwkwk skrg rumah jauuuh sekali dari pusat kota dan ga nyaman dibuat lari2 dan jalan2 sendirian

  13. selamat! kakak dan pasangan berhasil olahraga jalan kaki bersama, which is sulit looh apalagi abis lebaran. kalo hari hari biasa juga keburu riweuh dengan rutinitas. btw saya kapok beli ikan hias meski suami keukeuh pengen, karena yang ngurus dan bersiin pasti saya! hiks

  14. Tapi jalan kaki di pagi hari selepas subuh tuh emang nikmat banget sih kak apalagi sama orang tersayang, kayak jadi ngajak sehat bareng-bareng. Saya biasanya tiap minggu jalan bareng ibu mertua kakak saya. Mampir ke pasar juga, bedanya kami beli sayuran. Dan mencapai 10ribu langkah juga. Saya juga kayak kakak, gak pake baju olahraga dan malah pake rok.

    1. Wah Ibu mertua kakaknya masih kuat dan sehat banget ya, alhamdulillah. Semoga sehat selalu.

      Iya, tidak sah ribet. Kan kita juga berjilbab jadi ya tidak mungkin pakai yang ketat-ketat gitu 🤭

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

catcilku.com

Hai selamat datang di blog catcilku. Blog ini adalah catatan kecilku untuk saling berbagi macam-macam cerita dan cita. Semoga bermanfaat

- Titi Bdy -

PROGRAM
Peserta BRT Network Growth Organic Periode April - Agustus 2024
KOMUNITAS

Copyright ©dinti 2024 | All Rights Reserved