Cara Menyikapi Penggunaan Gawai yang Berlebihan

Cara menyikapi penggunaan gawai yang berlebihan

Tiga pekan lalu ada seminar parenting yang saya ikuti secara daring. Melalui postingan kali ini saya ingin berbagi hasil dari seminar tersebut dengan anda. Melalui tulisan berjudul cara menyikapi penggunaan gawai yang berlebihan

Selepas dari pandemi, kegiatan yang mengumpulkan banyak orang. Untuk sebuah pertemuan, seperti: rapat, seminar, belajar/kursus, dan workshop. Ternyata masih banyak yang dilakukan melalui aplikasi telekonferensi. Sepertinya kebiasaan tersebut tidak akan bisa hilang. Bagaikan sebuah kebutuhan dalam kehidupan kita usai pandemi. Alasannya bisa bermacam-macam. 

Tentu saja penyelenggaraan melalui aplikasi telekonferensi akan dilakukan sesuai kebutuhan. Baik bagi penyelenggara maupun peserta. Salah satunya, mungkin karena kemudahannya. Belum lagi supaya menjangkau seluruh wilayah NKRI. Sekaligus demi penghematan anggaran. Sehingga membuat kegiatan pertemuan melalui aplikasi telekonferensi, masih banyak diminati. Hingga sekarang, di akhir tahun 2023.

Seminar Parenting Menyikapi Penggunaan Gawai yang Berlebihan

Bagaimana dengan anda, apakah senang berkegiatan melalui aplikasi telekonferensi? Kalau saya yang ditanya, jawaban jujurnya adalah kurang suka 😅. Berhubung sebagai peserta, ya mau tidak mau harus mau. Seperti kemarin Sabtu, tanggal 2 Desember 2023. Alhamdulillah berkesempatan mengikuti seminar parenting melalui aplikasi telekonferensi. Yang diselenggarakan oleh salah satu sekolah Islam swasta di Jakarta Timur. Dengan Ustadz Bendri Jaisyurrahman, sebagai narasumbernya. Seorang praktisi islamic parenting. 

“Membangun karakter dan mencerdaskan anak dalam pesatnya perkembangan teknologi digital”. Woah, panjang banget temanya, ya 🤭. Seminarnya sendiri diadakan saat siang hari. Tumben banget, biasanya kalau seminar pagi-pagi. Kemarin itu pukul 13.00 sampai 15.00 WIB, Lagi jam lapar atau ngantuk-ngantuknya. Alhamdulillah, saat ikut telekonferensinya saya tidak merasa ngantuk. 

Pengasuhan Berfokus pada Anak

Namanya juga seminar parenting pastilah yang dibicarakan bagaimana menemukan cara pengasuhan anak yang baik. Yaitu pengasuhan yang berfokus pada anak. Disesuaikan dengan tumbuh kembang anak. Kali ini soal pengasuhan dalam menyikapi paparan serta ketergantungan (kecanduan) anak terhadap gawai.

Tahu sendirikan, saat ini banyak sekali orang tua yang mengeluh soal ketergantungan anaknya pada gawai. Kedatangan sebuah teknologi, layaknya seperti pisau bermata dua. Bila diperlakukan sebagaimana mestinya, tentu saja banyak manfaat yang didapatkan. Sementara bila tidak disikapi dengan baik, keburukan pula yang dihasilkan.

Yang dimaksudkan dengan gawai di seminar ini, bisa berupa ponsel atau tab.. Di mana gawai-gawai tersebut adalah sebuah mesin pintar. Kehadirannya di tengah-tengah keluarga, yang dilakukan serampangan. Dapat mengancam bahkan mencerabut ikatan (bonding) antara orang tua terhadap anak-anaknya. Yakni orang tua dan anak tidak lagi sejiwa. Kalau mau jujur, pun bisa mengancam ikatan jiwa antara pasangan suami dan istri. 

Pada akhirnya, bila diteruskan dan tidak berusaha untuk diperbaiki. Maka orang tua hanya memiliki 3 tugas. Yakni: pertama, memberi nafkah, kedua adalah memberikan izin saat anak ingin menikah. Mengerikan sekali, ya. Kalau sudah begitu siapa yang salah? tentu saja orang tua (orang dewasa). Anak tidak bisa disalahkan. Malah mereka adalah korban kemalasan dan keegoisan dari orang tuanya.

Lingkaran Setan Ketergantungan Ponsel

Awal mula lingkaran setan atas ketergantungan dan kecanduan terhadap ponsel pintar. Adalah itu tadi, kemalasan dan keegoisan orang tuanya. Alasan supaya anak: anteng, biar sama dengan temannya, keren, dan sebagai hiburan. Ponsel menjadi jalan pintas bagi orang tua untuk “mengurus” anak-anaknya. Mulai dari bayi, sudah dikenalkan dengan yang namanya ponsel. Bahkan menjadi teman dan sahabat setia anak. Selalu ada kapanpun dan di manapun untuk anak.

Sehingga orang tua dapat melakukan aktivitasnya dengan tenang. Mengurus pekerjaan rumahnya (masak, mencuci, dan beberes). Atau bekerja mencari nafkah keluar rumah. Tanpa ada gangguan dari anak. Lambat laun, tidak ada lagi obrolan dan canda tawa antara anak dan orang tua. Masing-masing anggota keluarga sudah asyik dengan dunianya sendiri. Dunia hiburan di dalam genggaman.

Anak telah kehilangan ikatan hati dan jiwa terhadap orang tuanya. Anak tidak lagi membutuhkan orang tua ada di sisinya. Toh semua yang diinginkan sudah ada dan dipenuhi oleh ponsel pintar. Orang tua telah melepaskan kesempatannya untuk bisa membangun koneksi. Antara dirinya dengan anak-anaknya. Padahal koneksi sangat penting dalam sebuah hubungan. Apalagi pada pengasuhan kepada anak. Karena, koneksi berarti mengikat hati sebelum menasehati.

Anak Menjadi Raja

Ketika anak sudah memiliki dunianya sendiri. Yakni di dunia maya. Gawai dengan segala “hiburan dan kemudahan” yang ditawarkan. Telah berhasil menjadikan anak hari ini menjadi raja.  Ibarat raja, yang berkuasa “semaunya sendiri” dalam bertindak. Di dunia maya, anak berkuasa kepada siapapun, yang disukai dan tidak disukainya. Untuk menambah/mengurangi teman (friend/unfriend), pergi/ngeluyur (left), block, mengikuti/meninggalkan (follow/unfollow). Tanpa ada orang tua yang melihat dan mengawasi. 

Native Digital

Dengan gempuran aneka permainan (game) serta media sosial. Anak-anak sudah menjadi native digital. Yaitu perilaku anak dibentuk di dunia maya. Kemudian perilaku yang ada di dunia maya dibawa ke dunia nyata. Akhirnya menghasilkan generasi stroberi. Generasi yang kreatif, maunya cepat dan instan, namun mental dan jiwanya rapuh. Kalau sudah kejadian begitu, barulah orang tua kalang kabut. Kebingungan, sedih, dan tidak tahu harus bagaimana. Yang ada mengeluh dan mengeluh lagi. Tanpa bisa berbuat banyak. 

Padahal yang menjadikan anak seperti itu, ya orang tuanya sendiri. Yang telah dengan bangganya, memfasilitasi dan mengizinkan anak menggunakan gawai. Secara serampangan, tanpa pengawasan, dan kebablasan. Bukannya bermanfaat. Membuat anak anteng, nurut, dan mudah diatur. Malah sebaliknya, malah memberikan daya rusak yang luar biasa. Anak malah jadi susah untuk dikendalikan. 

Cara Menyikapi Penggunaan Gawai yang Berlebihan

Inti pertanyaannya sekarang, bagaimana cara menyikapi penggunaan gawai yang berlebihan. Sebelum dilanjutkan, maka perlu adanya pemahaman yang sama. Bahwa gawai bukanlah kebutuhan sejati bagi anak. Jadi orang tua, Ayah dan Bunda harus duduk bersama. Untuk kemudian mencari solusinya. Sebagai orang tua harus bekerja sama menjalankan perannya masing-masing. Tidak bisa tanggung jawab dibebankan ke salah satu pihak saja. 

Bila sampai sini orang tua sudah mau mengambil perannya dan bersedia bekerja sama. Maka akan dilanjutkan ke tahap berikutnya. Kalau belum, maka jangan pernah melanjutkan ke tahap berikutnya. Selesaikan di sini lebih dulu. Sebab akan butuh kerja sama untuk melaksanakan tugas berat lainnya. Ternyata memang tidak mudah, ya jadi orang tua 🤭. Sudah begitu tidak ada pelajaran atau mata kuliahnya. Semua harus belajar langsung praktek.

Gawai Bukanlah Kebutuhan Anak

Seperti sudah dituliskan di atas, kalau gawai bukanlah kebutuhan sejati bagi anak. Melengkapi cara menyikapi penggunaan gawai yang berlebihan, maka orang tua harus:

  1. Mau repot di awal masa pertumbuhan anak. 

Supaya tidak ada kerepotan-kerepotan yang harus dihadapi di dua puluh tahun akan datang. Lebih baik repot untuk menemani anak main dan mengajak ngobrol anak saat kecil. Daripada nanti ketika anak beranjak besar. Orang tua tidak bisa lagi ngobrol dengan anak-anaknya. Yang ada anak sudah tidak bisa dikendalikan. 

  1. Mau berperan dalam tumbuh kembang anak. 

Pada dasarnya anak hanya butuh perhatian dan kasih sayang kedua orang tuanya. Mereka ingin ketika menjalani pertumbuhan dan perkembangan dirinya. Orang tua selalu ada, sehingga koneksi akan terbentuk. Di mana ayah, yang berperan sebagai pembuat dan penegak aturan. Sebab menurut penelitian, vibrasi suara ayah adalah seperti auman singa. Sementara suara ibu seperti pudel, sehingga dianggap tidak berenergi. Peran Ibu adalah menjaga, mendidik, dan memberi kenyamanan.

  1. Mau belajar dan terus memperbaiki diri. 

Orang tua dituntut untuk mau belajar sepanjang hayat. Dengan ilmu yang dimilikinya, maka perbaikan diri terus dilakukan. Seperti mau datang ke majelis-majelis ilmu dan seminar parenting. Sehingga dalam mendidik anak-anaknya dijalani dengan dasar ilmu. Berharap Allah SWT. akan menghadiahkan anak soleh/solehah, karena telah memperbaiki diri terus menerus. 

Kebutuhan Anak atas Orang Tua

Sebab anak tergantung dan kecanduan gawai, seperti yang sudah dijabarkan di atas. Adalah karena orang tua abai terhadap kebutuhan anak-anaknya. Bahkan orang tua telah sukses mengalihkan perannya kepada gawai. Berikut ini adalah kebutuhan anak dari ortu yang beralih ke dunia maya (digital):

  1. Hiburan.

Pada dasarnya, anak itu membutuhkan hiburan dari orang tua. Layaknya kita para orang tua juga butuh hiburan. Hanya saja, anak tidak tahu mencari hiburan ke mana. Kedua orang tuanya “sok” sibuk, bahkan tidak pernah sempat hanya untuk ngobrol sebentar. 

Makanya, penting sekali untuk menjadi orang tua yang asyik lebih dulu. Daripada menjadi orang tua yang baik dan soleh. Kenapa? karena anak zaman now saat ini sudah merasakan dunia yang membosankan. Di mana-mana hanya ketemu nasihat dan dinasihati. Mulai di rumah, sekolah, masjid, dan di jalan. Akhirnya mengalihkan kebosanan dalam dirinya, dengan memainkan gawainya.

Oleh karena itu, agar bisa menjadi penghibur bagi anak adalah memulai dari pembicaraan yang tidak penting. Poinnya di sini adalah yang tidak penting itulah yang penting. Misalnya, tiba-tiba ada yang sedang (maaf) kentut. Dari situ anda bisa memulai pembicaraan untuk membahas soal bunyi kentut. Kira-kira dialog yang akan terjadi:

O: “coba tebak ada berapa macam bunyi kentut yang ada di dunia ini?’

A: “Ih, apa sih Ayah/Bunda. Kentut aja dibahas.” (sambil senyum)

O: sambil nyengir, “iish, beneran, Pasti ada banyak macam bunyinya. Nih brooot, psss, dut.”

A: mulai tertawa lebar, “ada lagi, broweekt, pruut …”

selanjutnya terserah anda, yang jelas. Dimulai dari pembicaraan yang tidak penting, semua jadi tertawa dan terhibur. 

  1. Eksistensi dan perhatian (attention). 

Anak ingin keberadaan (eksistensi) dirinya itu diakui dan diterima. Oleh sekelilingnya, utamanya orang tua. Sebab itu wajib bagi orang tu menyediakan dan punya cermin di rumah. Supaya anak bisa memagut-magut dirinya di depan cermin. 

Jangan dilupakan juga, kalau anak mendambakan perhatian dari kedua orang tuanya. Anda bisa memberi perhatian kecil nan tulus, saat anak sedang berada di depan cermin, misalnya.

  1. Cepat diakses (fast access).

Anak mau orang tua dapat dengan cepat dan mudah diakses. Kapanpun anak butuh akan orang tuanya, selalu ada. Bahkan melalui aplikasi perpesanan maupun saat ditelepon. Jangan sampai mengabaikan pesan atau telepon dari anak. Segera beri respon, sesaat setelah selesai urusan yang penting di kantor (rapat misalnya).

Sekarang anda sudah tahu kebutuhan sejati anak-anak. Jadi tinggal dipraktekkan, supaya anak tidak lagi merana. Rasulullah SAW. juga telah mengingatkan kita sebagai orang tua. Bahwa “anak punya hak dari dirimu.” Jadi jangan abaikan hak anak. 

Sejak awal seharusnya orang tua sadar diri. Bahwa gawai (ponsel dan tab) bukanlah jalan pintas untuk mengurus anak-anaknya. Gawai bukanlah teman, apalagi sahabat bagi anak. Karenanya tidak patut kalau ponsel diperlakukan serampangan, tanpa pengawasan, dan kebablasan. Orang tua harus melatih interaksi anak terhadap gawai ponsel. Serta memberlakukan manajemen waktu penggunaan gawai. 

Ayo latih anak dalam berinteraksi dengan gawai, melalui panduan berikut ini:

  1. Usia 0-2 tahun: nol gadget. 

Di usia ini, anak belajar interaksi sosial. Dengan ayah, bunda, kakak, dan keluarga lainnya. Caranya: anak diajak ngobrol dan bercanda, dibacakan buku, dan bermain

  1. Usia 2 tahun-mumayyiz (usia 7 tahun atau anak sudah bisa membedakan kanan dan kiri)

Anak punya hak menyaksikan, bukan menggunakan. Waktunya pun dibatasi hanya 30 menit saja. Tidak boleh lebih. Gawai dalam kendali orang tua, jangan dipegangkan kepada anak.

  1. Usia 7 tahun-baligh: hak menggunakan bukan memiliki. 

Jangan pernah membelikan gawai khusus untuk anak. Semua harus dalam kendali orang tua. Izin penggunaan pun hanya selama 1 jam. 

  1. Usia baligh-rushda (smart): hak memiliki. 

Ciri anak rushda, adalah sudah berani melakukan perjalanan/safar sendirian, untuk pria. Sedangkan untuk anak perempuan. Cirinya adalah kalau anak sudah mampu merapikan dan beberes rumah orang tuanya sendiri. 

Orang tua boleh memberi izin anak untuk memiliki gawai. Memiliki di sini dalam arti dipinjam pakai. Status kepemilikan tetap milik orang tua. Begitu pula waktu penggunaan masih dibatasi. Yaitu hanya selama 2 jam.

Setelah mengetahui batasan penggunaan gawai sesuai usianya. Saatnya sekarang untuk mengatur penggunaanya. Dengan kata lain orang tua harus membuat manajemen penggunaan gawai, yaitu:

  1. Sepakati waktu

Waktu sholat Subuh sampai Syuruq dan Magrib-Isya adalah waktu terlarang bagi anak untuk menggunakan gawai

  1. Lokasi penggunaan

Kamar tidur dan toilet adalah 2 tempat terlarang untuk menggunakan gawai. Alasan akan mengganggu waktu tidur dan istirahat. Sementara toilet adalah tempatnya jin dan setan

  1. Durasi

Seperti sudah dituliskan di atas, berikan batas waktu. Bagi anak untuk bisa menggunakan gawai. Tentu saja sesuaikan dengan usianya. Jangan sampai anak dibebaskan menggunakan gawai tanpa durasi waktu yang ditetapkan. Sebab penggunaan gawai yang berlebihan akan menyebabkan gangguan mata pada anak 

  1. Isi

Orang tua wajib mengontrol aplikasi apa saja yang dapat dipasang dan akses oleh anak. Batasi pemasangan hanya 2 aplikasi, terdiri dari 1 aplikasi perpesanan dan 1 media sosial. Begitu pula dengan permainan, cukup hanya 1 saja yang dipasang

  1. Situasi

Orang tua sering mengabaikan hal ini. Karena dirinya sendiri juga sering melakukannya, termasuk saya 🙈. Beri batasan kepada anak dan juga kita sebagai orang tua. Supaya di situasi dan kondisi tertentu jangan menggunakan gawai. Diantaranya: tidak boleh ada hp saat di meja makan, saat sholat, saat ngobrol dengan orang, saat liburan, dan saat menjadi sopir.

Intinya adalah bagaimana kita harus menyikapi penggunaan gawai pada anak. Bijaksanalah dalam memberikan gawai kepada anak. Jangan sampai anak menjadi pengguna yang kecanduan. Berikut ini anda dapat menilai kondisi penggunaan gawai pada anak saat ini:

  1. Using: kondisi di mana penggunaan gawai hanya sebagai saluran komunikasi. Gawai ditempatkan pada tugas pokoknya. Kondisi kemanfaatan inilah yang kita harapkan
  1. Misused: kondisi di mana penggunaan gawai sudah disalahgunakan. Contohnya sedang melakukan telekonferensi, tapi malah membuka media sosial. Atau malah saling bertukar pesan dengan teman. Tidak memperhatikan materi yang disampaikan oleh narasumber
  1. Abuse: kondisi di mana penggunaan gawai sudah sampai tingkatan mengabaikan sesuatu yang penting (manfaat). Dicari hanya untuk main game bukan untuk belajar misalnya 
  1. Dependent: kondisi di mana penggunaan gawai sudah sampai tingkatan ketergantungan. Bila tidak pegang gawai serasa belum makan. Kondisi seperti ini dapat menghilangkan minat kepada hal-hal yang bermanfaat 
  1. Addict: kondisi di mana penggunaan gawai sudah sampai tingkatan kecanduan. Bila sudah sampai kecanduan, maka akan terlihat perubahan perilaku. Bahkan dapat mendorong penyandang kecanduan untuk melakukan hal yang berbahaya.

Alhamdulillah, akhirnya kelar juga nulisnya. Isi tulisan di atas adalah hasil saya mengikuti seminar parenting. Semoga tulisan berjudul ini Cara Menyikapi Penggunaan Gawai yang Berlebihan, bisa bermanfaat. Baik bagi saya pribadi maupun anda yang mau membaca postingan ini. 

Tetap bijak menggunakan gawai, ya 😊.

===============

Ternyata ada beberapa catatan yang tertinggal. Kesimpulan yang dapat saya tangkap. Hasil dari peserta seminar yang bertanya kepada narasumber. Sayang untuk dihapus. Jadi ditulis saja di bawah postingan cara menyikapi penggunaan gawai yang berlebihan 😁.

A. Penyebab anak suka bohong:

  1. Banyak hukuman

Tanpa sadar sebagai orang tua kita lebih sering menghukum. Terlebih bila anak melakukan kesalahan. Atau sekedar mendapat nilai jelek. Bahkan tanpa ditanyakan alasannya lebih dulu. Anak langsung dihukum. Padahal alasannya karena tidak mengerti pelajarannya. Sudah gitu orang tua tidak memberikan bimbingan atau idak mengajarinya. Anak jadi lebih memilih berbohong daripada kecewa, dimarahi, dan dihukum

  1. Banyak tuntutan

Ternyata panggilan orang tua dengan melabeli anak, dengan sesuatu yang dianggap baik. Tidak dianggap demikian oleh anak. Contoh label ke anak, yakni saat memanggil dengan “anak soleh/solehah”. Panggilan tersebut malah membuat anak merasa dituntut untuk menjadi orang soleh/solehah 

  1. Kurang apresiasi/dipuji

Kesalahan fatal bila orang tua zaman sekarang masih melakukannya. Anak butuh dan senang diapresiasi oleh orang tuanya. Menurut saya bentuk apresiasi pun tidak melulu berupa hadiah barang. Bisa berupa pujian tulus dan ucapan terima kasih pun sudah termasuk. 

B. Mengatasi generasi strawberry:

  1. Zona pemanjaan

Anak selalu dimanja oleh orang tua. Karena anak dianggap akan nyaman dan baik-baik saja bila selalu dimanja

  1. Zona challenge

Kadang-kadang zona challenge adalah zona nyaman buat anak. Tinggal gimana anak dipastikan untuk menjalani challenge yang diberikan dan tanpa campur tangan orang tua.

C. Menyiasati supaya di hari libur anak tidak berponsel ria?

Orang tua dan anak sebisa mungkin mempersiapkan agenda liburan untuk anak. Libur bukan berarti harus pergi liburan. Misal belanja, ke tempat wisata, keluar kota, dan sebagainya. Intinya adalah, anak harus memiliki kesibukan. Sehingga energinya tersalurkan, dengan begitu dapat melupakan ponselnya.

D. Orang tua harus bijak untuk memilihkan homeschooling bagi anak

Hati-hati soal pilihan memberikan pendidikan anak dengan cara homeschooling. Jangan sampai anda terjebak, sebab pada prakteknya ada 2 model nih, yakni: 

  1. Homeschooling ideologis: orang tua sudah memiliki program pendidikan sendiri, untuk diterapkan kepada anaknya
  2. Homeschooling tragis: orang tua terpaksa melakukannya. Karena anak sudah tidak diterima lagi untuk sekolah di mana-mana.

E. Imigran digital: kita-kita ini para orang tua, yang lahir dan besar tanpa paparan dari gawai. Perilaku dibentuk di dunia nyata dibawa ke dunia maya. Jadi yang norak ya akan tetap norak di dunia maya.

Terima kasih telah membaca postingan ini, semoga bermanfaat bagi Anda. Jangan lupa untuk meninggalkan komentar dan bantu share ya, terima kasih 😊.  |  -Titi Bdy-

36 Responses

  1. Waaa aku suka sekali dg Ustad Ajo Bendri… suka ikut kelasnya yg Fatherman di telegram itu kak..

    Memang gawai itu belum dibutuhkan oleh anak, makanya aku suka heran sm ortu2 yg anaknya br SD udah dibelikan hp..
    Aku lebih suka ank2ku main k taman sm tmn2nya, kdg jg aku ajak mereka praktek sains di rumah kak atau bermain bersama kami orangtuanya. Agar bounding kami lekat.

  2. Bagi yang sudah terlanjur anaknya menyukai gadget, memang susah untuk bisa memisahkannya sih. Tapi jika kita kasih arahan lembut, biasanya anak akan bisa lepas sendiri

  3. Salah satu tips yg menarik sesuai pengalaman saya adalah bekerja sama dengan tenaga pengajar profesional seperti guru anak kita disekolah untuk menasihati atau memberikan peraturan tentang batasan bermain ponsel dirumah, nanti guru akan bertanya kepada ots secara berkala, jika ada yg melanggar maka akan diberi sanksi.
    Hal ini dilakukan karena terkadang anak-anak tidak takut atau sering meremehkan perkataan orang tuanya yang memang kurang tegas.

  4. Tips yang menarik ini agar kita tahu bagaimana memberikan batasan bermain ponsel di rumah. Karena ponsel juga sering dijadikan jalan ninja biar anak anteng dan orang tua bisa melakukan aktivitas lain…

  5. Kalau mau anak lepas atau minimal mengurangi penggunaan gadget yaa orang tua wajib mendampingi ya. Juga memberikan alternatif kegiatan offline biar gak HP terusss.

  6. Baca artikel ini brasa menerima nasihat berharga. Selama ini karena kesibukan pekerjaan akhirnya hibur anak main hape saja. Ternyata bahayanya juga pada anak kita.

    Ya, semoga saya masih bisa mengubah pola pendidikan anak tanpa gawai di rumah.Terima kasih atas nasihat berharga di tulisan ini.

  7. Penggunaan gawai yang berlebihan ini memang PR banget, apalagi pelakunya para orang tua yang nantinya sadar tak sadar diikuti oleh anak-anaknya.
    Harus ada kesadaran dari tiap orang tua untuk memberikan contoh terbaik untuk setiap anak termasuk dalam hal bijak menggunakan handphone, ya, agar semua bisa dengan disiplin mengatur penggunaannya

  8. Menjadi orang tua di era serba digital seperti saat ini memang penuh dengan tantangan. Apa yang kita alami dan rasakan ketika kecil tidak bisa menjadi tolak ukur untuk anak-anak kita saat ini. Suka banget dengan penjelasan dalam tulisan ini. Cukup mendalam, detail dan menyeluruh. Terima kasih banyak untuk sharingnya, Kak.

  9. Yap, aku setuju. Salah satu cara agar anak itu gak main hp, ya mereka harus punya kesibukan. Anak2 yang suka main hp sebenarnya karena gak ada kesibukan lain aja. Ini jadi PR sih bagi orang tua, ngasih sesuatu ke anak yang ia suka kecuali HP.

  10. Bener si. Peran dan tugas orang tua di zaman digital ini beneran berat. Kalau aku biasanya sama keponakan yang suka banget main gawai, aku ajak alihin buat baca buku dan bacain dongeng. Atau mainan yang lain

  11. Self plak ini sih. Walaupun sudah terbiasa nol gawai untuk anak pada waktu yang lebih banyak, tapi masih berpotensi kena nyinyir karena Ibu nya malah bernyaman-nyaman bekerja di depan gawai. PR bersama untuk lebih memfasilitasi kebutuhan anak. Terima kasih tulisannya jadi reminder untuk saya

  12. memang butuh kebijaksanaan dan pengetahuan bila ingin kasih gawai ke anak, jangan sampai jadi candu pada hal yang negatif karena bisa berakibat fatal

  13. Aku ngerasain banget saat anak kecanduan dan bisa lepas dari kecanduan hp. Bedanya kelihatan banget. Pas anakku terlalu sering lihat hp, dia jadi sering lambat menangkap saat diajak komunikasi. Emosinya juga sangat labil. Akhirnya aku stok mainan yang bisa dimainkan untuk mengalihkan perhatian dari hp.

  14. Terima kasih sharing ilmu seminar parenting-nya. Betul banget ya, gawai itu bukan kebutuhan anak. Mainan terbaik anak-anak usia prasekolah ya bersama orangtuanya. Semoga kita dikuatkan untuk komitmen membersamai anak sepanjang hayat.

  15. Wah lengkap banget tulisannya kak. Jadi reminder juga buat aku sebagai ibu di era teknologi ini. Lebih baik kita repot dan cape di usia tumbuh kembang anak ya daripada nanti malah udah susah diatur. Manfaatkan momen bersama anak 🥺 kadang kitanya udah menerapkan aturan gadget, ehh lingkungan yang nggak mendukung 🥲 semoga sebagai orang tua bisa lebih bijak lagi.

  16. Jadi orang tua yang asyik dulu. Ini menarik, Mbak. Kalau mau jujur, banyak ortu yang tidak seperti ini, sehingga hubungan ortu-anak pun terasa kaku, penuh aturan, penuh nasihat. Apalagi kemudian datang gawai dengan segala pesonanya yang bagi anak-anak pasti jauh lebih asyik. Jadi nambah PR deh buat ortu.

    1. Lingkaran setan ketergantungan ponsel, kok serem amat yah.. Meman sebagai ortu kudu awasi anak sih ya. Apalagi kalo bisa jadi ortu yg asyik, pasti seru.

  17. wah iya setuju bgt kalau gawai (ponsel dan tab) bukanlah jalan pintas untuk mengurus anak-anaknya. Gawai bukanlah teman, apalagi sahabat bagi anak. aku sering melihat orang tua pas sibuk ngapain biar anak gak rewel kasih hape aja biar diem… huhuuhu

  18. Panjaaaang tapi tiap baca kalimatnya aku mengangguk2. Terus terang yang namanya kebutuhan akan gawai ini juga ke anak aku, karena sampai sekarang belajarnya lebih banyak online baik sekolah maupun les2. Makanya emang PR banget bagi kami supaya anak gak bablas.
    Apalagi kalau anaknya emang suka pakai gawai buat bikin konten atau karya. Pengawasan orang tua bener2 dibutuhkan, tidak boleh lengah, karena aku setuju anak2 belum butuh gadget, itu cuma fasilitas aja yang dipakai apabila dibutuhkan.

    1. Betul, sejak sekolah daring saat pandemi. Jadi banyak ortu yang berantakan progrm dan rencananya ya. Termasuk saya ini, jadi kecepetan anak-anak pegang hp. Alhamdulillah, masih bisa dikendalikan dan diatur

  19. iya juga sih kak kalau ortu gak mendampingi bisa bablas ya anak-anak jadi maen hp aja, bikin pusing juga gak mau bantuin kerja di rumah plus susah belajar, itulah pentingnya aturan tegas ya

  20. Bagus banget tulisan ini yang harusnya lebih banyak dibaca pria, hihi. Pengasuhan memang bukan beban ibu saja tapi kedua ortu secara berkelanjutan sampai si anak dewasa. Soal gawai kalau saya bukan bangga tapi memang kadang terpaksa dikasi gawai karena pekerjaan yang ga bisa disambi momong anak

  21. Sebagai ortu baru, saya sama suami sejak sebelum punya anak udah sepakat bahwa nanti ketika ada anak, gak mau anak terpapar gadget. Sesekali video call sama kakek nenek okelah, tapi gak mau dia jadi lebih dekat sama gadget termasuk tv daripada sama buku. Makanya berusaha banget untuk fokus sama anak, ngasih pengertian juga sama anak, kalau gadget itu dipakai kerja. Meskipun dia masih bayi, tapi ini semacam hypnoparenting gitu sih. Bismillah

    1. Iya mbak, semoga lancar programnya 😊. Saya pun sudah menerapkan, sampai gegara sekolah daring waktu pandemi. Jadi agak berantakan programnya. Awalnya nanti boleh pegang hp sendiri saat kuliah, eh kemarin baru kelas 4 SD 😢

  22. Nah tugas ortu itu ya mendampingi dan memberi pemahaman pada anak kenapa tidak boleh menggunakan gawai secara berlebihan ..kalau udah kecanduan susah banget lepas dari gawai

  23. keponakan saya sempat juga mengalami kencanduan HP kalau hpnya diambil pastin nangis, tapi untungnya setelah sekolah yang full day masuk SDIT teralihkan dna sekarang malahan jarang sekali pegang HP kecuali untuk belajar atau kalau pun main sebentar, lebih suka memilih main sama teman-temannya

  24. Aktifitas ini sangat sering saya lihat khususnya pada anak2, dibandingkan bermain lari-larian lebih sering memegang gadget dan scroll sosmed. Sebenarnya ada baik dan buruknya tetapi jika tidak terkontrol dampaknya sangat parah bagi anak-anak.

  25. Aku sama suami udah sepakat utk gak kenalin gadget ke anak sampe masuk SD hehe.. bismillah bisa istiqamah atau gak khilaf utk gak kasih gadget ke anak & akan batasi bgt pemakaiannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Catcilku

Hai selamat datang di blog catcilku. Blog ini adalah catatan kecilku untuk saling berbagi macam-macam cerita dan cita. Semoga bermanfaat.

-Titi Bdy-

Yang Menarik
Baca Juga yang Ini
Komunitas
Site Map

Copyright ©dinti 2022 | All Rights Reserved