Breadcrumb

Ke Hollywood dengan Kacamata Patah

ke hollywood dengan kacamata patah

Saya pernah loh ke Hollywood dengan kacamata patah. Walau agak risih khawatir dilihat orang, tetap pede dan cuek saja. Mau bagaimana lagi soalnya tidak sempat untuk membeli kacamata yang baru. Sementara kegiatan di Hollywood sudah ditetapkan jauh-jauh hari. Anda mau tahu ceritanya seperti apa, lanjut membacanya ya.

Malam hari pada tanggal 13 Februari 2026

Duk, krek, bunyi benturan dua kepala yang tiba-tiba. Kepala si bungsu membentur kepala saya yang sedang duduk di pinggir tempat tidur dengan keras. “Aduh sakit Dek, ssst” rintih saya. Sambil dalam hati membatin ada yang patah nih kayaknya.

“Maaf Bun, tidak sengaja,” ucap Dedek lirih, merasa bersalah. “Maaf ya Bun,” ucapnya lagi. Karena saya masih diam tidak merespon permintaan maafnya. 

Setelah rasa sakit akibat benturan itu mereda. Saya langsung melepaskan tangan yang sedari tadi berada di samping kanan kepala. Reflek untuk mengurangi rasa sakit. Betul saja, begitu telapak tangan menjauh dari kepala. 

Gagang Kacamatanya Patah

Tiba-tiba benda panjang ikut terjatuh, gagang kacamatanya patah. Saking kencangnya benturan dua kepala tadi. “Bun, maaf,” ucap dedek lagi makin lirih. Takut akan dimarahi. 

“Patah deh jadinya, ya sudah. Lain kali hati-hati. Dedek memang mau apa? sampai membentur kepala gitu. Kepalanya sakit tidak?” tanya saya kepadanya. 

“Adek cuma mau duduk di sebelah Bunda. Tidak sakit kok kepalanya,” jawabnya, sambil terdiam lagi. Menunggu saya akan melakukan apa. “Dilem ya Bun,” ucapnya lagi sambil pergi mencari lem yang dimaksud. 

Mencoba Mengelem 

“Sini Bun, Adek lem,” pintanya. Saya pun menyodorkan kacamata dan gagangnya yang patah. Dengan takut-takut Dedek menerima kacamata yang gagangnya patah itu. Saya cuma diam saja, menunggu apa yang akan dilakukan olehnya. 

Dedek mencoba mengelem gagang yang patah menggunakan selotip. Saya memperhatikan, sambil diam-diam mengucap syukur. Sebab anak ini mau bertanggung jawab untuk memperbaiki sesuai kemampuannya. 

Saya sangat menghargai usaha Dedek untuk memperbaiki gagang kacamata yang patah. Tapi apalah daya, usaha untuk mengelem gagang kacamata tidak berhasil. Alasannya, karena yang digunakan adalah selotip.

Sementara yang patah pas bagian ujung dekat baut. Jadi sangat sulit untuk disatukan kembali. Kecuali menggunakan lem Korea, mungkin masih bisa merekat. Itupun hanya untuk sementara waktu saja. Hehe. 

Panitia Nobar Film

Sekarang saya hanya memikirkan bagaimana cara memperbaiki desain, kalau sewaktu-waktu diminta. Kebetulan saya jadi salah satu panitia nobar film berjudul: “Teman Tegar Maira, whisper from Papua. 

Benar saja, tidak lama kemudian ada notifikasi pesan masuk. Dari seorang teman sesama panitia. Mengabarkan kalau hasil rapat yang tidak bisa saya hadiri, memutuskan untuk membuat perbaikan kecil. Pada desain untuk latar belakang panggung yang sudah dibuat. 

Alhamdulillah, hanya perubahan kecil yang harus dilakukan. Itupun sudah membuat saya agak kesulitan. Karena kacamata yang tinggal satu gagangnya, selalu melorot saat dipakai. Jadi harus sering membetulkan posisinya. Mengganggu sekali. 

Doa dan pinta saya dalam hati, semoga tidak ada tambahan pekerjaan desain lainnya dari kepanitiaan nobar film. Tinggal mengkondisikan diri untuk kegiatan esok harinya, di bioskop saat acara nobar dan harus bertemu dengan orang banyak. 

Di malam hari, saya mencoba berbagai gaya menggunakan kacamata yang patah. Sambil meminta pendapat kepada anak-anak. “Kelihatan kalau kacamata ini patah atau tidak?” 

Bukannya mendapatkan jawaban, yang ada malah ditertawakan haha. Karena kejadian benturan kepala sudah sore, jadi tidak sempat untuk membeli baru dan sudah tidak punya kacamata cadangan.

Tetap Pede ke Hollywood

Mau bagaimana lagi, saya tetap harus pergi juga ke acara nobar di Hollywood. Selain sebagai salah satu panitia, juga menemani anak-anak yang mendapatkan tiket gratis nobar. Dengan kacamata patah, saya dan tiga anak pergi menuju tetap pede ke Hollywood. 

Ke Hollywood hari Sabtu 14 Februari 2026 kemarin adalah yang ketiga kalinya untuk saya. Dua kalinya adalah saat survei dan rapat panitia. Keren ya ke Hollywood, hehe. 

Hollywood XXI

Hollywood adalah nama bioskop XXI. Saya pun baru tahu kalau ada nama bioskop Hollywood di Jakarta. Malah dengan lugunya bertanya ke mbak manajer yang saya temui saat survei. “Ini bioskop baru ya?”

“Iiish, sudah lama Bu,” jawab mbak Nissa dengan santainya. Sebelum kami melanjutkan diskusi. Di hari kedua saat ke bioskop Hollywood lagi. Saya baru menemukan jawaban, atas perkataan mbak Nissa. 

Saat sedang di depan pintu masuk, sambil menunggu panitia lainnya datang. Saya mengedarkan pandangan ke sekeliling kawasan di mana gedung bioskop berada. Tidak lama kemudian, menemukan sesuatu yang membawa ingatan saya ke tahun 90-an. 

Sebuah tulisan sekaligus logo bertuliskan Planet Hollywood. Tertempel di setiap kaca yang ada di gedung kosong yang berada tepat di sebelah pintu masuk bioskop Hollywood. 

Gedung Ikonik di Kawasan Elit Jakarta Selatan

Pada masanya, Planet Hollywood adalah sebuah diskotik terkenal di kawasan elit Jakarta Selatan. Bahkan sangat viral kalau menggunakan bahasa sekarang. Bagi kalangan muda mudi gaul dari keluarga berpunya. 

Saya, hanya kebagian cerita dari temen-teman saja saat itu. Tidak tahu di mana letak dan posisinya. Tidak tertarik, karena bukan tipe orang yang suka dengan dunia gemerlap.

Walau jujur penasaran dan ingin tahu seperti apa dan di mana diskotik bernama Planet Hollywood. Wajar saja, karena saat itu saya masih muda, yang duduk di bangku SMA. Jadi memiliki rasa penasaran dan ingin tahu yang besar. 

Tapi kini kejayaan Planet Hollywood sudah tidak ada, tersisa hanya tinggal gedung dan namanya saja. Itupun sudah tidak terawat dan terbengkalai, dengan kerusakan di sana sini.

Bahkan sepanjang kawasan hampir semua gedung mengalami kerusakan dan sangat tidak terawat. Terlihat plafon yang sudah ambruk, cat yang sudah kusam di banyak gedung. Semua terlihat lapuk, tua, dan udara di dalam ruangan terasa lembab.  

Beberapa pintu gerbang yang megah pun sudah tidak dioperasikan lagi. Terlihat kusam bahkan mungkin ada yang keropos besi-besinya. Tinggal satu pintu gerbang yang masih beroperasi untuk keluar masuk. 

Termasuk Hotel Kartika Chandra yang juga pada masanya sangat berjaya. Kini kedua nama yang ikonik di kawasan elit Jakarta Selatan itu, sepertinya tinggal menunggu waktu saja. 

Tidak Ada yang Komentar Kacamata Patah

Saya tidak pernah mengira akan mengalami keadaan di mana menggunakan kacamata patah. Pergi keluar rumah sebagai panitia sebuah acara dan harus bertemu banyak orang. Haha.

Alhamdulillah, selama berada di bioskop, kacamata masih bisa menggantung dan dipakai. Cukup terbantu dengan jilbab yang menjadi penjepit gagang sebelah kiri yang masih ada. Kacamata aman dan tidak jatuh. 

Untungnya tidak ada orang yang berkomentar. Entah karena tidak melihat atau tidak memedulikannya. Itu membuat keuntungan tersendiri buat saya. Jadi semakin pede saja menggunakan kacamata patah. 

Foto Bareng Pemain Maira

Di akhir acara nobar, para undangan memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Elizabeth. Perempuan muda yang masih kelas 2 SMP asli Papua. Pemeran utama wanita, sebagai Maira. 

Karena pekerjaan sebagai panitia sudah selesai. Saya punya kesempatan menemani anak-anak untuk berfoto dengan sang bintang. Sekaligus ikutan juga untuk berfoto bareng, walaupun dengan kacamata patah. Haha. 

Baru pertama kalinya saya bisa foto dan sedekat itu dengan pemain film. Selama ini kalau ada kesempatan nobar belum pernah dihadirkan artis pemain filmnya. Jadi, nobar kali ini sangat berkesan dan merasa senang.

blog catcilku

Blog Catcilku

Selamat datang di blog yang isinya berbagi catatan kecilku tentang cerita, perjalanan, dan dunia digital. Semoga bermanfaat

Kolaborasi dan kerja sama:
📩 mail@catcilku.com

Jelajahi lainnya

Review Film Jumbo: Cerita Anak tentang Persahabatan, Persaingan, dan Perundungan
Blog Catcilku Hilang Lagi, Tapi Saya Memutuskan Memulainya Kembali 

Kategori lainnya

Artikel Terkait