Yakin Boikot Masakan Padang?

Kemarin siang sempat membaca berita yang isinya menanggapi atas adanya ajakan dari seseorang untuk melakukan boikot rumah makan padang. Tanggapan yang sempat saya baca ternyata ditulis oleh dr. Patrianef yang asli orang Minang. Saya jadi tahu ternyata ada yang mengajak boikot rumah makan padang. Cuma komentar dalam hati: “ada-ada saja, masa sih rumah makan padang atau masakan padang diboikot.”

Pagi ini saya kembali penasaran. Apakah ajakan boikot ini benar ada dan dapat menjadi besar gerakannya? Akhirnya coba cari di twitter, ternyata sejak kemarin pun ajakan boikot ini hanya berlalu begitu saja. Tidak ada satupun yang menggunakan tagar boikot masakan padang di lini masa akun twitter saya. Percakapan tentang boikot masakan padang pun hanya saya temui satu saja. Itu pun hasil dari retwit seseorang yang masuk ke lini masa yang sempat terbaca. Isinya pun lucu, membuat penasaran untuk melihat siapa yang membuat twit aslinya.

Setelah berselancar dan mencari tahu di mesin pencarian google. Ternyata, ajakan boikot masakan padang benar adanya. Ajakan yang dibuat oleh seorang pendukung salah satu capres yang merasa kecewa. Karena jagoannya kalah telak dalam bertarung di provinsi Sumatera Barat. Lalu pendukung yang kecewa itu, melalui media sosial (FB) mengajak melakukan boikot masakan padang.

Saya jadi terpikir, apakah mampu gerakan boikot masakan padang ada yang mengikuti dan seberapa besar dampaknya? Tapi rasanya, tidak akan banyak pengikutnya. Karena, alasan yang digunakan untuk mengajak boikot tidak masuk akal, di era yang penuh keterbukaan seperti sekarang. Ajakan boikot itu mungkin akan berpengaruh kepada barisan orang-orang yang merasa kecewa. Waktunya juga tidak akan bertahan lama. Pun ajakan ini hanya karena alasan musiman saja, beda pilihan di masa pemilihan capres dan cawapres saja.

Beda dengan boikot alasan agama dan kemanusiaan, pasti banyak yang mendukung. Seperti ajakan boikot di seluruh dunia untuk produk dari zionis israel dan negara pendukungnya. Begitu pula ajakan boikot untuk produk dalam negeri sendiri, yang pernah terjadi beberapa waktu lalu. Gerakan boikot yang diserukan memiliki banyak pendukung. Yaitu boikot untuk produk roti dan media berita.

Yakin Boikot Masakan Padang?

Yakin boikot masakan padang? Coba dipikir lagi deh, kalau saya sih tidak tahan dan tidak kuat. Walau ada makanan pengganti lainnya, tetap masakan padang tidak mungkin bisa ditolak. Penggemar masakan padang, bukan hanya di dalam negeri saja melainkan sudah mendunia. Bahkan salah satu masakannya yaitu rendang, beberapa tahun terkahir (sejak 2014, CMIIW) sudah dinobatkan menjadi masakan terlezat nomor wahid di dunia. Keren ya. Masih yakin boikot masakan padang? Kuat?

Dua alasan kenapa ajakan boikot masakan padang itu tidak mungkin saya ikuti:

1. Mana ada sih yang tahan tidak makan rendang, nah ini menjadi salah satu alasan saya tidak mungkin bisa boikot masakan padang. Rendang, sudah pasti kehalalannya ditambah sedap dan nikmat rasanya. Menjadikan rendang sebagai salah satu masakan yang sulit dan jarang sekali orang bisa menolaknya. Tidak percaya? coba saja sendiri pasti ketagihan dan nagih. Masih yakin boikot masakan padang?

2. Alasan tidak masuk akal, yang dijadikan ajakan untuk memboikot masakan padang. Menjadikan saya tidak mungkin mengikuti boikot ini.Mohon maaf, kalau hanya karena beda pilihan dalam pemilu capres dan cawapres lalu mengajak orang lain untuk melakukan boikot, kok sepertinya tidak bijak. Kalah menang dalam sebuah kompetisi itu kan biasa, begitu pula dalam kompetisi pemilihan presiden dan wakilnya. Tidak ada yang beda, tinggal kita berlaku sportif dengan dilandasi kejujuran dan keadilan dalam melaksanakan pemilu ini.

Walau masakan padang penuh dengan kuah bersantan dan pastinya tinggi kalorinya, tetap saja orang tidak takut untuk makan dengan menu masakan padang. Asalkan tidak setiap hari, saya kira masih aman dan sehat untuk dikonsumsi.

Masih yakin boikot masakan padang? Sebentar lagi lebaran loh. Tidak ngiler dengan rendang dagingnya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>