Workshop Blog To Book Bersama Ang Tek Khun di BloggerHangout7

Ang Tek Khun di #BloggerHangout7Tanggal dan hari spesial, Sabtu 17 Desember. Saya berkesempatan untuk belajar, meningkatkan keahlian. Yaitu mengikuti sebuah workshop dalam dunia tulis menulis secara umum dan blogging khususnya. Bertempat di gedung Cikini Gold Center, lantai 3 di foodcourt-nya kami para blogger beruntung belajar kepada ahlinya.

Seorang blogger yang berpengalaman sebagai editor kawakan. Ang Tek Khun, yang menjadi guru kami Sabtu itu. Entah itu nama sebenarnya atau nama samaran :). Karena hanya itu nama yang saya kenal dari sebuah grup dan sekaligus penggagas acara workshop ini. Adalah komunitas BloggerCrony yang menjadi penggerak #BloggerHangout7 kali ini, berupa workshop blog to book bersama Ang Tek Khun.

Acara workshop menulis blog to book diawali dengan makan siang bersama di foodcourt CGC. Kami para peserta diberikan voucher sebesar sepuluh ribu rupiah untuk makan di sana, sisanya tentu harus ditambah dari kocek sendiri. Saya sendiri memilih makan dengan soto kudus, walau awalnya saya berkeinginan untuk makan mie ayam. Tapi batal karena saat saya bertanya kepada penjualnya apakah menggunakan angciu, dijawab iya menggunakan angciu. Angciu adalah semacam penyedap yang digunakan pada masakan, biasanya komposisi angciu ada babinya (kata seorang pemilik restoran masakan cina yang pernah saya tanya). Tentu saja hukumnya jelas bagi muslim yaitu haram.

Alhamdulillah, Siang itu saya dapat terhindar memasukan makanan yang haram ke dalam perut ini dan tetap terisi sekaligus kenyang. Dengan mengganti menu makanan yang insyaallah lebih aman, yaitu soto. Selesai makan, naik ke lantai P5 untuk sholat Dzuhur terlebih dulu, biar tenang dan santai saat mengikuti workshop.

Workshop Blog To Book Bersama Ang Tek Khun di Bloggerhangout7

Sekitar pukul 13.30 acara workshop blog to book bersama Ang Tek Khun  di Bloggerhangout7 mulai dibuka oleh mbak Gita Siwi, yang bertugas sebagai pembawa acara sekaligus merangkap moderator. Selanjutnya penjelasan Blog To Book diberikan oleh guru Ang Tek Khun. Kalimat pembuka yang menarik disampaikan oleh guru Ang, yaitu: Buku ibarat sebuah platform atau kartu nama atau rekam jejak seseorang. Kenapa bisa begitu? karena dalam sebuah buku ada nomor ISBN. Jadi siapapun dibelahan dunia manapun dapat mengenali sebuah buku siapa pengarangnya dari ISBN. Itulah yang menjadikan sebuah buku sebagai kartu nama seseorang.

Kanan ke kiri: Wahyu Group (Sandy, Endro, Adel) dan guru Ang Proses sebuah tulisan diubah hingga menjadi berwujud buku sesungguhnya tidaklah sebentar. Butuh berbulan-bulan dan bertahun-tahun. Bahkan seumur hidup, bila tidak juga diselesaikan penulisannya. Pada akhirnya semua tergantung dari si pengarangnya juga, ingin menyelesaikannya atau tidak tulisan yang sudah dimulainya. Bila tulisan sudah selesai disusun, penulis dapat memilih akan mengirimkan dan mencetakan tulisannya ke mana. Ada tiga jenis penerbitan yang bisa dipilih oleh penulis, yaitu:

  1. Mayor: penerbit ini tidak akan meminta uang kepada penulis sedikit pun
  2. Indie: penerbit meminta uang untuk mencetakan buku kepada penulisnya. Pada penerbit indie tidak akan ada editor yang bertugas untuk memeriksa dan menilai tulisan dari penulis. Selain itu tidak ada satu toko buku pun yang mau menerima dan menjual buku yang sudah dicetak
  3. Separuh mayor separuh indie: penerbit meminta kepada penulis untuk membeli sebagian buku yang sudah dicetak. Minimal 1000 eksemplar buku harus penulis beli dan kemudian jual sendiri. Di sini sangat dibutuhkan penulis yang mampu “menjual diri” demi bukunya terjual.

Setelah tulisan berada di penerbit maka akan ada tiga pihak yang akan memutuskan. Apakah tulisan yang masuk tersebut layak untuk diterbitkan menjadi sebuah buku. Ketiga pihak tersebut adalah:

  1. Editor: yang pertama kali menyeleksi tulisan layak atau tidak. Yang pertama dilihat adalah tulisan harus sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)
  2. Marketing: mempertimbangkan bagaimana cara menjual tulisan yang sudah dicetak menjadi buku tersebut
  3. Toko buku: apakah buku yang masuk ke toko dan dipajang itu akan laku dan meraih penjualan terbanyak.

Siapa bloggernya, yang akan menolak kalau kelak tulisannya di blog bisa dibuatkan buku? Tentu tidak ada yang akan menolak kalau ada kesempatan yang begitu terbuka untuk menjadi seterkenal Raditya Dika. Seorang yang awalnya juga adalah blogger dan sekarang sudah jadi selebritis. Raditya sendiri sudah membukukan semua tulisan di blognya secara total. Bisa dibilang Kambing Jantan (tahun 2014) adalah blog to book pertama yang ada di Indonesia. Termasuk saya yang ingin sekali dapat menerbitkan buku dari tulisan-tulisan baik yang di blog atau pun menulis khusus untuk diterbitkan sebagai buku.

Bagi saya dan juga blogger lainnya yang belum pernah menghasilkan buku, datang ke acara workshop blog to book bersama Ang Tek Khun  di Bloggerhangout7 kali ini sangat istimewa. Karena komunitas BloggerCrony sudah memfasilitasi agar para blogger bertemu dengan editor dan juga penerbit langsung sekaligus. Yang paling menggembirakan adalah pihak penerbit bersedia memberikan janji bahwa seluruh peserta workshop blog to book #bloggerhangout7 akan mendapatkan perhatian khusus. Apabila blogger-blogger yang hadir ingin menerbitkan buku di penerbit Wahyu Group (Wahyu Media, Bintang Wahyu, Wahyu Qolbu, Moka Media).

Seperti kata guru Ang (dari tadi saya seperti berada di negeri api :) di serial kartun Avatar) kesulitan blogger atau penulis baru yang ingin membukukan tulisannya adalah karena tidak ada kesempatan untuk bertemu editor. Yang dapat memberi masukan (atau kritikan membangun) apakah tulisannnya sudah baik dan layak untuk dijadikan buku. Tapi di workshop blog to book kali ini tentu kesulitan itu sudah bisa dicoret dari daftar para blogger. Tinggal bagaimana saya dan para blogger lain bersungguh-sungguh menyiapkan tulisan yang akan dibukukan.

Para blogger yang ingin blog to book haruslah memperhatikan blognya, utamanya tentu isi dari blog (content). Tulislah blog dengan bagus, benar, dan baik. Karena sekali lagi kata guru Ang, para editor sesungguhnya tidak diam. Mereka mencari para blogger (penulis) yang bagus, dengan cara blogwalking ke blog-blog yang ada. Dalam hati berharap blog saya ini ditemukan oleh para editor tersebut (salah satunya tentu saja guru Ang) dan diberikan nilai layak atau tidaknya. Semoga…

Bagaimana cara membuat tulisan untuk blog yang baik bisa mengikuti tips yang diberikan oleh guru Ang berikut ini:

  1. Miliki ciri khas sendiri dari tulisan yang dibuat: setiap orang memiliki gaya yang berbeda dalam menulis ataupun bercerita. Jangan pernah sekalipun berusaha mengikuti gaya orang lain secara utuh. Karena akan garing dan tidak enak dibaca. Kalau hanya sesekali masih dimungkinkan menurut saya. Tetap, menjadi diri sendiri adalah yang terbaik
  2. Gunakan tekhnik Story Telling: tulislah dengan cara bercerita dan sesuai dengan pengalaman (user experience) yang telah dilalui. Dengan bercerita sesuai pengalaman pastinya tulisan akan berbeda dengan blogger lainnya. Gunakan kata saya, sehingga tulisan akan lebih hidup  dan lebih dekat dengan pembaca. Selain itu pembaca juga akan lebih percaya dengan tulisan yang ditulis dari hasil pengalaman sendiri. Salah satu contoh tulisan saya di blog ini yang menggunakan tekhnik story telling yaitu mencari tukang puing
  3. Buat tulisan yang tidak peka waktu (timeless) dan ambil dari sudut yang berbeda. Semua orang memiliki sudut pandang yang berbeda bila melihat suatu permasalahan. Jadi tulislah sesuai dengan sudut pandang sendiri, sebisa mungkin berbeda dengan apa yang ditulis oleh orang. Dengan begitu tulisan yang anda buat akan berbeda dengan orang lain. Jangan lupa berikan nilai tambahnya yang berbeda dari tulisan yang dibuat oleh orang lain.

Saya sangat tertarik dengan tekhnik story telling yang dikatakan oleh guru Ang. Di mana disebutkan tulislah dengan cara show don’t tell. Sebenarnya show don’t tell ini sudah lama saya dengar dan juga praktekan dalam menulis blog catcilku ini. Tapi apakah sudah benar atau belum penggunaannya masih belum tahu. Masih menunggu ada yang mengomentari dan menilai tulisan-tulisan yang ada di blog ini. Oh iya, show don’t tell ini tidak hanya digunakan dalam penulisan fiksi saja tapi dapat digunakan untuk jenis tulisan apa saja.

Para blogger di workshop Blog To BookFungsi dari show don’t tell sendiri adalah untuk menghidupkan apa yang ditulis dengan menggunakan panca indera (ada lima ya). Panca indera apa yang akan digunakan, maka sangat tergantung pada objek mana yang akan ditonjolkan. Yang perlu juga diingat adalah haram menggunakan kata sifat. Supaya lebih jelas penggunaannya, guru Ang memberikan contoh yang membuat saya semakin mengerti. Kami para blogger diminta untuk membuat kalimat yang menceritakan seseorang yang berwajah tampan. Tapi syaratnya tidak boleh menggunakan kata tampan itu sendiri. Ini dia kalimat pengganti kata tampan: “…waktu kutatap matanya dan dagunya yang kokoh membuat hatiku bergetar.” Sangat menarik ya bila menggunakan show don’t tell dalam menulis. Jadi tidak sabar untuk diaplikasikan dalam tulisan untuk menghasilkan sebuah buku.

19 thoughts on “Workshop Blog To Book Bersama Ang Tek Khun di BloggerHangout7

  1. aah senangnya, yang gak ikut bener2 bisa ngerasain workshop kemarin, thanks udah berbagi lewat tulisan ini yaaa. Iyaah mari kita tagih janji penerbitnya yaa hahahahaha. tapi In Sya Allah memang akan ada lanjutan programnya mbak, doakan kami sehat2 untuk bisa terus jadi fasilitator yaaaa.

    Workshop Show Don’t Tell juga bisa jadi next BloggerHangout. Tunggu aja tanggal mainnya.

    Oya, BloggerCrony gak pake spasi yah hihiihi

    • Makasih mbak untuk kesempatannya, ditunggu mau ikut lagi workshop selanjutnya daftar duluan ah :)

      Eh iya, maaf aku benerin tulisan BloggerCrony nya hehe

  2. Ah, ah, jadi ikutan berharap dilirik editor. Xixixi. Story telling ya Mbak. Terkadang suka bingung untuk menentukan sudut pandang yang unik dan menuliskannya kembali secara mengalir dalam bentuk story telling..

  3. Mendengar penjelasan Pak Khun, proses dari blog ke buku memang panjaaaang ya. Saya perlu banyak belajar supaya kalau ada editor yang mampir ke blog saya langsung berkata “Ini dia!”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>