Wahai Guru Beranikah Menolak “Pemberian” dari Orang Tua/Wali Murid?

beranikah menolak

Sumber: ksstudio/freepik

Sudah lama niat untuk menulis tentang yang satu ini, tapi belum ada kesempatan. Masih belum cukup bukti sebagai contoh. Alhamdulillah, pagi tadi bukti sebagai contoh yang diharapkan datang juga. Imbasnya tulisan ini akhirnya jadi dibuat.

Tadi pagi seorang teman bercerita kalau ingin pergi ke pasar untuk mencari kado. Sekaligus meminta saran kado apa yang pantas untuk guru anaknya. Sebagai tanda kasih dan kenang-kenangan. “Kok pakai kasih kado segala?” tanya saya. “Aduh mbak, kemarin orang tua murid yang lainnya sudah pada kasak kusuk.” Jawab teman saya itu. Masih dilanjutkan dengan cerita yang lain. Parahnya lagi asisten di rumah teman saya sudah ditanya sama guru kelas, begini: “Adakah titipan amplop dari ibu?”

Saya kaget dengar cerita di atas itu dilakukan oleh oknum guru di sebuah TK yang mengaku IT. Letak TK itu berada di pinggiran kota Jakarta, paling pinggir. Meminjam istilah teman saya, yang sering menyebut daerah rumahnya itu adalah di planet lain. Untuk mengekspresikan kejauhan jaraknya dari Jakarta.

Cerita dari teman itu jadi membuktikan pertanyaan kepada diri saya sendiri. Apakah profesi guru bisa bebas dari “pemberian”? Nyatanya profesi yang begitu terhormat ini masih belum bebas dari “pemberian”. Karena masih saja ada oknum yang memanfaatkan profesinya tersebut untuk keuntungan pribadi. Contohnya seperti yang dialami dan diceritakan oleh teman saya di atas. Pemberian yang saya maksud di sini bisa berupa uang, makanan, kado, dan berbagai bentuk lainnya. Pemberian-pemberian itu begitu marak dilakukan saat kenaikan kelas, tepatnya pada waktu pembagian rapot. Bahkan ada pula yang dilakukan sebelum kenaikan kelas. Entah adakah praktek tertentu dibalik “pemberian” itu?. Karena dari tahun ke tahun masih saja ada praktek “pemberian” ini.

Bisa jadi akibat dari “pemberian” tadi bisa terdapat sebab dan akibat. Atau ada pihak yang diuntungkan dan pihak yang dirugikan. Sebabnya ada oknum guru yang ingin mendapatkan sesuatu (katakanlah uang atau barang). Akibatnya oknum guru itu melakukan praktek yang tidak sesuai dengan profesinya tersebut. Praktek yang dilakukan bisa bermacam-macam. Seperti memainkan nilai murid, menekan mental murid, dan sebagainya. Praktek tersebut ada yang dilakukan sembunyi-sembunyi ada pula yang secara terang-terangan. Ini masih terjadi hingga tulisan ini dibuat. Saya memang tidak bisa membuktikan dengan foto. Tapi ini memang berdasarkan cerita dari beberapa orang, termasuk teman saya sendiri. Bahkan ada guru yang merasa bangga dan begitu bahagia telah mendapatkan “pemberian” dari para orang tua murid saat pembagian rapot berlangsung.

Wahai Guru Beranikah Menolak “Pemberian” dari Orang Tua/Wali Murid?

Yang jadi pertanyaan kemudian kepada para guru di manapun tugasnya, adalah wahai guru beranikah menolak “Pemberian” dari Orang Tua/Wali Murid? Mengatakan tidak dan menolak segala pemberian yang diberikan oleh para orang tua atau wali murid kepada dirinya dibutuhkan keberanian. Jelas dibutuhkan keberanian karena harus mengalahkan nafsu dalam diri. Demi menjaga kehormatan dan nama besar dari profesi sebagai guru, yang akan mencetak generasi masa depan yang hebat. Harusnya beliau para guru berani menolaknya, untuk menjaga kebersihan hati dan menghindari adanya praktek-praktek yang tidak baik. Karena tidak akan pernah tahu apa alasan dibalik adanya “pemberian” itu.
Karena guru dan sekolah tempat membentuk generasi.

Beberapa alasan kenapa saya berharap tidak ada lagi guru yang menerima “pemberian” dari orang tua/wali murid yang diajarnya, dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Untuk memuliakan profesi guru
  2. Memberikan pelajaran kepada para murid untuk tidak memiliki mental mengharapkan pemberian dari orang lain
  3. Agar tidak terjadi pilih kasih kepada murid tertentu
  4. Menghindari praktek yang tidak baik, seperti pertukaran nilai

Saya percaya masih ada ibu dan bapak guru yang berani menolak “pemberian” dari orang tua/wali murid saat ini.  Semoga dari tangan para guru terlahir generasi Indonesia yang hebat. Ayo jadi guru hebat yang menginspirasi!

20 thoughts on “Wahai Guru Beranikah Menolak “Pemberian” dari Orang Tua/Wali Murid?

  1. Nah, ini lama-lama kok jadi kebiasaan ya. Jaman saya sekolah, nggak ada deh orangtua yang kasih kado ke wali kelas.
    Saya sekarang jadi orangtua, termasuk yang ngasih kado. Cukup ucapan terimaksih saja.

  2. saya juga pernah jadi guru dan saya tahu ada beberapa guru yang menerima ‘yang begitulah’ itu. Saya juga pernah lihat guru yang menolak habis-habisan sebuah “pemberian” dan saya melihat betapa ia kasihan dengan orangtua murid dan muridnya sendiri. Momen dilema menurut saya.
    Syukur saya bukan guru yang punya jabatan tertentu, bukan wali kelas, bukan senior, jadi ya aman aja.
    Pemberian hanya berupa hadiah terimakasih, bukan terima jadi

  3. Tulisannya menarik sekali, Mbak :)
    Sepengetahuan aku, ada sekolah yang melarang keras para guru menerima “pemberian” orang tua.
    Tapi ada juga yang show off sampe dipajang semua di depan kelas pas ambil rapot.
    *Loh
    Tapi kalo menurut aku, pemberian di waktu ambil rapor masih gak masalah karena bisa jadi ucapan terima kasih. Biasanya yang mengandung maksud terselubung diberikan sebelum ambil rapor, mungkin sesudah ulangan umum 😀

  4. sepertinya masih ada ya praktik seperti ini mba. Tapi kalau kita ikhlas memberi kenang-kenangan sebagai tanda ingat oke ngga mba? Saya selalu memberi karena ingin berterima kasih, tapi wujudnya selalu barang, tidak pernah uang.

    • Mungkin dari pihak ortu tulus memberi ya mbak. Yang hebatkan guru yang berani menolak pemberian dari ortu murid, apapun alasannya :)

  5. Saya termasuk orang tua yang memberikan kenang-kenangan kepada guru wali kelas atau guru mengaji anak-anak di sekolah. Niatnya murni ikhlas tidak ada maksud apapun. Apalagi menaikkan nilai anak. Itu murni sebagai wujud rasa terima kasih karena sudah setahun mendidik anak-anak. Mendidik belasan anak dengan tingkah laku yang beraneka ragam membutuhkan kesabaran tersendiri. Saya pun tahu beliau-beliau ikhlas mendidik karena sudah mendapat gaji juga dari yayasan. Tetapi ini cuma sebagai bentuk rasa terima kasih ortu kepada guru. Apalagi anak-anak bisa hafal juz 30 karena guru ngajinya telaten.

    • Mungkin dari pihak ortu tulus dan ikhlas memberi ya mbak. Yang hebatkan guru yang berani menolak pemberian dari ortu murid, apapun alasannya :)

  6. Memberikan sesuatu kepada guru itu sebuah kebaikan, tapi penolakan dari guru tsb. juga kebaikan. Bahkan pernah guru saya bilang “Guru harus punya profesi lainnya utk menunjang kehidupannya sehingga tdk selalu mengharapkan pemberian wali murid”. Tapi Wali Murid tidak dilarang memberikan sesuatu kepada guru anaknya.

  7. baruuuu aja lusa kemarin salah seorang temen cerita kalo dia lg bingung mw ksh apa ke guru TK anaknya.. -___-.. dan akhirnya dia ksh kue2 gitu.. aku heran sbnrnya mbak… ankku memang msh paud ya.. tp aku g prnh ksh2 brg k guru anak.. makanya pas temenku bilang gitu, jd kepikir, ini memang kebiasaan jaman skr, ato niat temenku udh beda nih dgn ngasih kue2 bgitu -__-. Ntahlah ya… jaman aku sekolah dulu, ga prnh ortuku ngasih2 bgituan buat guru2ku.. dan sepertinya aku jg bakal ngelakuin hal yg sama sih utk guru2 anakku.. bukannya pelit ya, tp dgn memberi aku takut org2 yg melihat punya anggapan yg salah, dan takutnya guru yg mau dikasih juga punya pikiran yg beda.. Jadi lebih bgs ga ush memberi :)

    • Setuju mbak, saya juga tidak mau membiasakan ngasih2 ke guru, apapun alasannya…

      Hanya ingin membiasakan untuk menghilangkan mental mengharapkan, baik dari saya sebagai ortu maupun bagi guru sebagai pengajar

  8. Praktik semacam itu blm sampai ke sekolah2 yg d desa. Kemarin sekolah anak saya hanya minta sumbangan 10ribu rupiah per anak saat penerimaan raport. Itupun untuk membantu pembangunan perpustakaan yg belum 100% jadi.

  9. wah masa sih skarang udah jadi kaya kewajiban gitu, biasanya pemberian seikhlasnya gitu, sebagai tanda terimakasih sudah diajarkan, tapi yang miris masa ada guru yg berani minta”baru tau aku mba..

    • Iya masih ada belum lama, temen saya sendiri yang ngalamin. Bahkan sekarang ortu juga pada patungan segala untuk kasih guru. Tinggal gurunya sih berani nolak atau tidak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>