Tegang dan Mengerikan Suasana di Dalam Persidangan

Menjalani persidangan, takut tidak sih? jelas takut, jawabannya. Kalau pertanyaan itu ditujukan kepada saya. Apalagi kalau memang bersalah, karena telah melakukan kesalahan maksudnya. Pasti tingkat takutnya naik berkali lipat. Jangan sampai ya anda, saya, dan anak keturunan menjalani persidangan. Walau untuk urusan mengambil SIM akibat ditilang oleh polisi. Alasannya karena itu tadi, menjalani persidangan itu menakutkan. Jangankan menjalani persidangan karena terkait sebuah kasus. Hanya data, lihat, dan mengikuti jalannya persidangan saja sudah merasa tegang dan mengerikan. Lagi pula sekarang sudah mudah, tidak perlu sidang untuk mengambil SIM akibat ditilang. Pelanggar lalu lintas tinggal bayar denda saja. Anda bisa membaca pengalaman saya di tautan tadi.

Apa hubungannya ya menjalani persidangan dengan mengambil SIM? Memang tidak ada hubungannya sih 😅. Cuma saja jadi teringat pengalaman pribadi saat mengambil SIM akibat ditilang belum lama ini. Ketika itu saya penasaran sekali ingin mengikuti dan menjalani sidang pengambilan SIM sendiri. Alhamdulillahnya, waktu itu tidak perlu menjalani sidang. Karena melihat dari pengalaman menemani saudara yang menjadi saksi kemarin. Ternyata menjalani sidang itu mengerikan.

Ceritanya begini, hari Selasa tanggal 17 September kemarin saya diminta menemani saudara. Yang kebetulan diminta kesediaannya menjadi saksi dari pihak penggugat. Atas sebuah kasus penipuan jual beli sebuah rumah di Depok. Jadi saya dan saudara datang ke Pengadilan Negeri Depok, dalam rangka membantu teman yang sedang melakukan gugatan. Berangkat dari Matraman sekitar setengah sepuluh, langsung menuju pengadilan. Untuk mempercepat perjalanan kami bahkan memilih lewat jalan bebas hambatan, tol. Alhamdulillah lancar, kondisi jalan tol ramai lancar dan tidak sampai macet.

Pengadilan negeri Depok

Saat tiba di lobi Pengadilan Negeri Depok, kedatangan kami sudah ditunggu oleh penggugat (disebut principal saat di persidangan), suaminya, pengacara, dan saksi pertama. Ternyata kedatangan kami berdua terlambat satu jam, karena saudara saya lupa. Pukul berapa waktu yang telah ditentukan untuk bersaksi. Sementara sidang tidak akan dimulai, kalau saudara saya (sebagai saksi) belum datang. Karena agenda sidang hari itu khusus mendengarkan keterangan dari para saksi yang diajukani oleh penggugat. Setelah sempat menunggu beberapa menit di lobi, rombongan kecil kami pun akhirnya pindah posisi. Masuk ke dalam, ke ruang tunggu yang letaknya di depan ruang sidang. Cukup lama kami menunggu di sini dan belum ada kepastian kapan sidang digelar. Bahkan kami pun sempat pindah lagi dan masuk ke ruangan sidang yang bernama ruang Candra.

Kesempatan memasuki ruangan sidang ini adalah yang pertama kalinya buat saya. Ada perasaan berbeda saat pertama kali melihatnya. Ruangan sidang yang kami masuki tidaklah seluas yang ada dalam imajinasi saya. Kalau boleh menilai, ruangan itu malah terasa cukup sempit. Karena diisi dengan furnitur berukuran besar. Seperti meja dan kursi hakim, terdiri dari hakim ketua dan 2 hakim anggota. Di samping kanan kiri meja hakim terdapat bendera merah putih dan panji berwarna hijau dengan logo Pengadilan Negeri Depok di tengahnya. Di sudut ruangan, tepat di belakang meja hakim terdapat 2 meja dan kursi untuk panitera. Meja dan kursi untuk penggugat dan tergugat masing-masing 3 unit. Berada di depan kanan kiri meja hakim dan saling berhadap-hadapan. Tepat di tengah antara meja hakim, meja penggugat, dan meja tergugat terdapat kursi panjang. Yang berfungsi sebagai tempat duduk untuk para pihak yang berkepentingan dan berkaitan dengan persidangan. Baik untuk memberikan saksi, tersangka, atau sebagai terdakwa yang nantinya akan ditanya oleh hakim atau memberikan kesaksian.

Ruang sidang

Sementara kursi panjang sebanyak 3 unit, disediakan untuk masyarakat umum. Yang ingin dan diizinkan mengikuti jalannya persidangan. Berada di seberang meja hakim dengan dibatasi oleh pagar. Mungkin berfungsi sebagai pembatas agar yang menyaksikan jalannya persidangan tidak menyerobot masuk. Saat kami duduk menunggu di dalam ruangan sidang ini, tiba-tiba datanglah para hakim. Menduduki tempatnya masing-masing dan bersiap-siap. Saya yang baru pertama kalinya juga melihat hakim, langsung saja mengambil foto mereka yang masih ngobrol dan belum membuka persidangan. Tapi sayang salah satu hakim anggota melihatnya. Dan menegur saya untuk segera menghapus foto yang baru saja saya ambil. Bahkan hakim itu pun mengingatkan dilarang untuk mengambil foto saat persidangan. Saya baru tahu kalau dalam persidangan dilarang untuk mengambil foto. Kecuali sudah ada izin terlebih dahulu.

Kalau berdasarkan ucapan tersebut, sebenarnya masih bisa memoto bukannya? Kan belum dimulai persidangannya 😅. Tidak ingin memperpanjang dan membuat masalah, saya pun menghapus foto tersebut. Setelah kejadian itu, persidangan pun langsung dimulai. Hakim Ketua membacakan nomor kasus dan nama penggugat, diikuti ketukan palu. Ternyata sidang tersebut bersifat tertutup dan tidak boleh disaksikan oleh masyarakat umum. Jadi yang tidak berkaitan atau tidak berkepentingan harus keluar ruangan sidang. Rombongan kecil kami pun akhirnya keluar dan menunggu lagi, di ruang tunggu di luar. Hingga hampir waktunya istirahat, pengacara baru mendapatkan kabar. Kalau sidang diundur waktunya, disebabkan atas keterlambatan yang kami berdua lakukan. Mundur empat jam dari waktu yang sudah dijadwalkan. Dari awalnya pukul 9.30 pagi menjadi 13.30 siang.

Meleset sudah perkiraan waktu yang dialokasikan untuk menghadiri sidang. Sebelumnya kami berpikir, tidak akan lama untuk bersaksi. Paling tidak sampai batas dzuhur, kira-kira jam 12.00 acara memberikan saksi selesai. Padahal hari itu saudara saya sedang sibuk dengan pekerjaannya. Mempersiapkan akreditasi sekolah miliknya, ini juga yang menjadi penyebab keterlambatan datang ke pengadilan. Sementara saya sendiri punya tugas untuk menjaga tiga dara di rumah. Selepas mereka pulang sekolah, karena ibu sedang pergi ke Bandung. Bersama teman-temannya sesama pensiunan. Utamanya, menjemput dan menjaga adek yang waktu pulangnya lebih dulu dibanding kedua kakaknya. Jadilah adek harus dititip di sekolah sampai kami kembali dari Pengadilan Negeri Depok. Untungnya, sekolah tempat adek belajar milik saudara sendiri. Jadi aman sentosa soal titip adek 😅.

Selepas sholat dzuhur kami berdua menunggu di dalam masjid, yang berada di lantai 2 kantor Pengadilan Negeri Depok. Baru pada pukul 13.30 kurang kami turun untuk mencari rombongan kecil kami, yang sempat berpisah tadi. Setelah berkumpul, rombongan pun menuju ruangan sidang. Tapi berbeda dari ruangan sebelumnya, kali ini letaknya lebih dekat dengan lobi. Sayangnya saya lupa melihat apa nama ruangan sidangnya. Saat masuk ke ruangan, di dalam ternyata sudah ada beberapa orang yang tidak kami kenal. Lebih dulu mengisi kursi yang disediakan, juga sedang menunggu. Kami pun mengisi kursi yang masih kosong dan berada di baris ketiga (paling belakang). Kalau dilihat kondisi di dalam, tidak jauh berbeda isinya dengan ruangan sebelumnya. Termasuk tata letak meja dan kursinya. Mungkin memang dibuat seragam. Sambil menunggu, saudara saya dimintai KTP aslinya oleh pengacara. Padahal sebelumnya sudah dimintai fotokopinya. Jadi bagi anda yang suatu hari diminta untuk menjadi saksi, jangan lupa siapkan fotokopi KTP selembar. Antara 5-15 menit kami menunggu di sini, sampai para hakim datang dari pintu yang berada di belakang meja hakim.

Seorang panitera yang lebih dulu datang ke ruangan sidang. Tidak lama, dua orang hakim menyusul memasuki ruangan. Seorang hakim perempuan yang menduduki kursi hakim ketua. Satu lagi, hakim laki-laki duduk di sebelahnya sebagai hakim anggota. Persidangan tidak langsung di mulai. Kedua hakim pun sempat mengobrol, entah apa yang diobrolkan. Tidak terdengar dari tempat saya duduk. Lagi pula kami pun asik ngobrol sendiri 😅. Tiga sampai lima menit kemudian, datanglah hakim laki-laki satu lagi. Menduduki kursi hakim anggota sambil tangannya sibuk merapikan jubah dan dasi hakimnya. Mungkin karena terburu-buru jadi beliau belum sempat merapikannya dengan sempurna.

Persidangan pun dimulai setelah ketiga hakim yang bertugas, sudah berada di posisinya masing-masing. Saya merasakan suasana berubah,menjadi sedikit tegang dan mengerikan. Entah, apakah hanya saya yang merasakannya atau semua orang yang berada di ruang sidang itu merasakannya. Persidangan kali ini terbuka untuk umum, karena saat hakim ketua mulai membacakan nomor kasus dan mengetuk palu. Sebagai tanda persidangan dimulai, kami yang tidak berhubungan dengan kasus tersebut. Diizinkan tetap berada di dalam ruangan dan mengikuti jalannya persidangan. Tidak lama persidangan untuk kasus yang pertama, setelah selesai hakim ketua mengetukan kembali palunya.

Tegang dan Mengerikan Suasana di Dalam Persidangan

Giliran kasus teman saudara saya disebut oleh hakim. Pengacara yang mendampingi kasus tersebut kemudian memasuki area persidangan. Kemudian duduk di kursi pada area untuk penggugat. Selanjutnya hakim ketua mulai menjalankan tugasnya menanyai pengacara. Karena agenda sidang kali ini memang untuk mendengarkan kesaksian dari para saksi. Maka tidak lama kemudian, dua orang saksi dihadirkan di persidangan. Keduanya diminta untuk masuk dan duduk di kursi yang ada di hadapan hakim. Kemudian hakim ketua mulai menanyai saksi. Dimulai dengan mengecek identitasnya: nama, tempat tanggal lahir, dan pekerjaan. Jawaban disesuaikan dengan fotokopi yang sebelumnya diminta oleh pengacara. Ditanya pula, apakah saksi mengenal tergugat?.

Selesai pengecekan identitas, hakim ketua menanyakan kesediaan dari saksi untuk disumpah berdasarkan agama yang dianut (Islam). Jelas saja para saksi bersedia, karena sumpah berdasarkan agama yang dianut dalam hukum merupakan kewajiban. Tegang dan mengerikan suasana di dalam persidangan makin terasa. Mungkin perasaan saya saja, yang baru pertama kalinya mengikuti persidangan hingga selesai. Walau sebatas saat agenda sidang mendengarkan keterangan saksi.

Para saksi diminta untuk berdiri saat mengucapkan sumpah. Ada petugas yang memegang Al-Qur’an didekatkan ke atas kepala saksi selama sumpah diucapkan. Isi sumpah yang diucapkan saksi dengan dipandu oleh seorang hakim anggota, berbunyi:

“Bismillahirrahmanirrahim, demi Allah saya bersumpah, bahwa saya sebagai saksi akan memberikan keterangan yang benar tiada lain daripada yang sebenarnya”.

Proses sumpah selesai, barulah pertanyaan berikutnya ditanyakan secara maraton. Untuk menggali informasi dan keterangan dari para saksi. Ternyata menjadi saksi itu berat, membuat orang menjadi tiba-tiba gagap, grogi, dan tidak bisa menjawab pertanyaan hakim dengan baik. Isi pertanyaan bisa jadi diulang-ulang dengan formasi yang berbeda. Cenderung membuat bingung. Di sini bisa dilihat dan dinilai, apakah saksi memberikan keterangan atau jawaban itu konsisten. Dan berhubungan satu sama lainnya. Pertanyaan dari hakim bahkan bisa “menjebak”, untuk mendapatkan kesaksian yang benar. Bahkan tambahan bukti untuk memutuskan suatu perkara. Di sinilah pentingnya peranan seorang saksi. Dalam Islam hukumnya adalah fardhu ‘ain bagi orang yang diminta sebagai saksi. Karena dikhawatirkan kebenaran akan hilang, bila tidak ada yang bersedia bersaksi.

Tegang dan mengerikan suasana di dalam persidangan, makin bertambah saat ada saksi yang menjawab ragu-ragu. Bahkan sering mengucapkan lupa saat ditanya oleh hakim. Sekarang saya mulai mengerti kenapa ada tersangka, terdakwa, atau saksi sering menjawab lupa. Dari potongan persidangan yang pernah disaksikan di televisi. Memberikan jawaban lupa, dikarenakan memang lupa. Kondisi diluar niat untuk berbohong dan memberikan kesaksian palsu ya. Bisa jadi karena pertanyaan tentang kejadian yang ditanyakan, berlangsungnya sudah lama waktunya. Jadi mulai sekarang tidak boleh suudzon kalau melihat jalannya persidangan. Seperti kasus penipuan atas jual beli tanah yang menimpa teman saudara saya itu. Kejadian sebenarnya terjadi beberapa yang lalu.

Wajar kalau ada yang terlupa kalau ditanya tentang kejadian sebenarnya. Apalagi kalau tidak bertransaksi langsung. Hanya sebatas mengantar atau menemani saja. Istilahnya, berada dalam kejadian hanya sebatas “sambil lalu” saja. Tidak ada kepentingan di dalamnya dan bukan menjadi urusannya. Hakim bahkan bisa mengingatkan para saksi yang sedang memberikan keterangan, bahwa mereka berada di bawah sumpah. Ada konsekuensi hukumnya bila berani dan terbukti memberikan keterangan dan kesaksian palsu.

Perasaan saya, saat hakim memberi peringatan tersebut. Membuat tegang dan mengerikan suasana di dalam persidangan bertambah berkali lipat 😰. Karena saya yakin yang memberikan kesaksian siang hari itu mengucapkan yang sebenarnya. Hanya karena gugup, grogi, lupa, dan takut. Jadi memberikan jawaban yang patah-patah. Belum lagi saat persidangan berlangsung ada pengunjung yang sempat ditegur oleh hakim. Ditegur untuk menurunkan kedua tangannya yang diletakkan di atas sandaran kursi.

Untunglah, pertanyaan yang diberikan hakim tidak terlalu banyak. Jadi tidak harus merasakan tegang dan mengerikan suasana di dalam persidangan lebih lama lagi. Bisa-bisa semakin terasa panas dan pusing berada di dalam ruang sidang yang tanpa dipasang pendingin ruangan itu. Kurang lebih 30-45 menit proses pemberian saksi dari para saksi di persidangan itu. Hakim mengetukan palunya tanda sidang untuk satu kasus ditutup.

Bagi anda yang ingin menjadi saksi, kuatkan mental ya. Jangan sampai ragu-ragu saat menjawab pertanyaan. Pastikan apa yang diucapkan dalam persaksian adalah yang sebenarnya. Jangan sampai berbohong. Tipsnya adalah tenang saja, kan bukan anda yang berbuat salah. Jadi jangan khawatir. Semoga dengan kesaksian yang diberikan dapat membongkar keburukan dan memberikan keadilan. Wallahu’alam.

2 thoughts on “Tegang dan Mengerikan Suasana di Dalam Persidangan

  1. Ternyata begini ya, sudut pandang persidangan bagi orang umum. Unik juga kalau ditulis. Saking biasnya masuk ruang sidang aku pikir ruangan itu biasa aja…. hehehe… salam kenal, follow2an IG yuk… j.jihanfauziah

Leave a Reply to Jihan fauziah Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>