Sikap Penjual yang Kurang Baik kepada Calon Pembelinya

Bukankah pembeli adalah raja? Jadi wajib bagi penjual untuk melayani pembeli dengan baik. Tahu sendirikan bagaimana raja. Pastinya raja tidak suka dong t8dak diberikan pelayaTapi kenapa ya, masih ada saja penjual yang menyepelekan prinsip itu. Padahal para penjual, pasti pernah juga menjadi pembeli. Setidaknya pernah membeli untuk kebutuhannya pribadi. Maupun untuk dijual kembali sebagai barang dagangannya. Pembeli atau calon pembeli bahkan sampai kesal. Menghadapi sikap penjual yang tidak menghargai calon pembelinya. Kita sebagai calon pembeli, bukannya minta dihargai atau gila hormat. Tapi setidaknya berikanlah pelayanan yang baik kepada pembeli. Supaya merasa puas dan siapa tahu, akan menjadi pelanggan setia di kemudian hari.

Saya sendiri beberapa kali harus mengalami kekecewaan dan tidak jadi membeli. Pindah ke penjual lainnya, karena tidak mendapatkan pelayanan yang baik. Ya namanya pembeli bebas dan sah saja, menentukan mau membeli dari penjual yang mana. Pastinya masih ada penjual lain yang menjual barang yang sama. Namun dengan pelayanan yang ramah dan baik. Berikut ini adalah beberapa sikap penjual yang kurang baik kepada calon pembelinya. 

Berkata Ketus 

Baru saja bertanya, “barang ini berapa harganya?” eh, penjual menjawab dengan ketus. Padahal wajar saja kan sebagai calon pembeli bertanya harga. Sebagai pembicaraan awal supaya terjadi transaksi jual beli. Ada pula yang menghalau pembeli agar tidak pegang-pegang dagangannya. Jangan berharap diberitahu dengan senyuman. Yang ada ketus dan jutek kasih tahunya. 

Menganggap calon pembeli tidak mampu membeli dagangannya

Pandangan mata seseorang, seringkali mengandung banyak arti. Termasuk rasa suka dan tidak suka, meremehkan, menghina dan menghargai. Begitu pula dengan pandangan mata dari penjual kepada calon pembelinya. Sebagai pembeli bisa juga merasakan dan mengartikan pandangan mata tersebut. Ada loh penjual yang memandang remeh calon pembelinya. Seakan-akan tidak mempunyai uang dan tidak mampu membeli dagangannya. Biasanya pandangan mata ini, mengikuti sikap ketus dan jutek dari penjual. Ada pula sikap ini yang betul-betul terlihat jedanya. Karena pelayan yang diberikan kepada calon pembeli satu dengan calon pembeli lainnya terlihat bedanya. Kalau kepada pembeli satu tidak ramah, sedikit ketus, ogah-ogahan. Sementara kepada pembeli lainnya sangat ramah dan banyak dihiasi dengan senyuman. Hmmm, kok bisa penjual bermuka dua seperti itu dalam waktu bersamaan.

Membuat Calon Pembeli Menunggu

Nah, untuk yang satu ini belum lama saya merasakannya. Tepatnya sehari sebelum lebaran Idul Adha kemarin. Ceritanya, saya bersama saudara mencari bebek di pasar, di daerah Pulogadung. Kami datangi salah satu penjual bebek. Sejak awal bertanya tentang bebek, penjualnya masih asyik dengan pekerjaannya menyelesaikan pesanan. Hanya diberitahu harga bebeknya ada yang seharga 50 ribu, 65 ribu, dan 70 ribu. Ketika diminta diambilkan salah satu bebek untuk dilihat. Penjualnya menjawab, sebentar ini tanggung. Selesaikan pesanan ini dulu ya. Dengan sabar kami bersedia menunggu. Tapi, setelah ibu penjual itu selesai mengerjakan pesanannya. Kami masih juga belum dilayani. Saat itu kami coba untuk menawar dan masih meminta untuk diambilkan salah satu bebek dagangannya. Tapi tawaran kami tidak diluluskan. Kami pun setuju dengan harga yang diberikan oleh penjual dan ingin membeli 6 ekor bebek. Sayangnya si ibu penjual malah mengatakan, “tunggu sebentar ya, saya masih mau hitung-hitungan dulu. Sudah ditunggu karena mau bayar ke orang itu di sana.” Sambil mencari bangku panjang dan posisi nyaman untuk duduk. Dengan santainya duduk dengan kaki dinaikan ke atas bangku. Hingga terlihat jari jemari kakinya berubah warna menjadi lebih putih. Akibat terlalu lama terendam air.

Sementara kami masih tetap disuruhnya menunggu dan dibiarkan saja. Bebek yang kami minta untuk diperlihatkan pun tidak diambilkan. Si ibu penjual malah sudah asyik menulis angka dan hitungan di sebuah buku dan kertas. Saya dan saudara tidak bisa berkata-kata lagi, hanya berpandang-pandangan. Masih juga sabar menunggu 🤔😅. Setelah saya meminta lagi diambilkan bebek yang ingin kami beli. Namun tetap tidak diambilkan, jelas saja kami tidak sabar dan merasa dianggap hanya sebagai patung. Dengan alasan bertanya di mana masjid untuk sholat. Kami pun pergi meninggalkan penjual itu dan tidak pernah kembali lagi sampai hari ini. Bisa-bisanya si ibu penjual bebek membuat kami menunggu begitu lama. Menganggap kami bagaikan pengemis, padahal ingin membeli 6 ekor bebek jualannya.

Melakukan Aktivitas Lain

Kalau yang ini setali tiga uang dengan poin sebelumnya. Penjual melakukan aktivitas lainnya, membuat calon pembeli harus menunggu. Ada saja yang dilakukannya, entah tiba-tiba mengangkat telepon dan mengobrol. Kalau mengangkat telepon untuk memberitahukan orang di ujung telepon sana. Untuk menyudahi dan akan ditelepon balik. Sebagai pembeli biasanya masih bisa memaklumi. Lain halnya kalau justru ngobrol semaunya, tentu saja membuat calon pembeli jadi kesal. 

Melayani Pembeli Lain 

Pengalaman tidak enak ini saya alami saat membeli buah kelapa muda. Datang sebagai pembeli kedua. Pembeli pertama sedang dilayani pembelian buah kelapa hijau dan es kelapanya. Saya pun menunggu hingga pembeli pertama dilayani. Giliran saya dilayani dan penjualnya sedang membelah kelapa. Datanglah pembeli lain, eh si penjual melayani pembeli barunya itu. Buah kelapa yang sudah dibelah itu diletakan dan ditinggalkan begitu saja. Tentu saja saya meradang dan protes, “Bang jangan melayani yang lainnya dulu dong. Selesaikan dulu pesanan saya. Biar saja yang baru datang menunggu.” Si abang menjawab apa, tapi saya sudah malas mendengarkannya. Untungnya saat menyerahkan pesanan saya, si abang tukang es kelapa meminta maaf. Tapi saya tidak menjawabnya, hanya mengucapkan terima kasih untuk pesanan yang sudah diserahkan.

Ngedumel Tentang Harga

Akad jual beli sudah dilakukan, penjual sudah memberikan harga dan calon pembeli sudah setuju dengan harganya. Tiba saat membungkus dagangannya, penjual ngedumel. Kalau harga yang diberikan kemurahan dan penjual merasa rugi. Contoh lain saat tawar menawar tarif bajaj. Calon penumpang dan supir sudah menyepakati tarif di awal, untuk tujuan tertentu. Kesepakatan biasanya dilakukan sebelum penumpang naik bajaj. Tapi di tengah perjalanan, ada saja supir bajaj yang ngedumel. Merasa tarif yang diberikan terlalu murah. Sementara dia merasa rugi karena harus mengantar ke tujuan yang terlalu jauh. Akibatnya penumpang bisa ditembak oleh supir. Untuk memberikan uang lebih yang tidak ada dalam kesepakatan awal. Atau supir tidak berani meminta uang lebih, tapi mengemudikan bajajnya dengan ugal-ugalan.

Sepertinya semua sikap penjual yang kurang baik kepada calon pembelinya, sudah pernah saya alami. Kalau masih bisa diterima ya diamkan saja. Tapi kalau sudah keterlaluan, tentu saja saya tinggal pergi. Caranya dengan menawar sadis, yang pasti tidak akan diberikan. Atau langsung saja pergi meninggalkan si penjual. Alasannya untuk memberi pelajaran kepada si penjual. Kalau mereka harus melayani sepenuh hati. Gimana, apakah anda pernah mengalami sikap penjual yang kurang baik kepada calon pembelinya? Kalau pernah mengalaminya, apa yang anda lakukan? 

Mudahnya Isi Saldo GoPay Lewat Abang Gojek

Sore-sore di rumah, sambil tunggu nona dan gadis kecil pulang dari eskul berenang. Kok tiba-tiba ada keinginan untuk jajan yang segar-segar. Tapi kalau keluar rumah, khawatir nanti anak-anak pulang dan mendapati rumah kosong. Ini bukan alasan karena malas gerak untuk keluar rumah ya . Sekarang ini di era milenium, kita sebagai manusia sangat dimudahkan oleh teknologi. Malas gerak pun, asalkan pegang ponsel pintar. Mau jajan atau makan apa saja bisa diwujudkan, asalkan ada uangnya saja.

Aplikasi Gojek

Saya pun mencari ponsel dan buka aplikasi Gojek. Apalagi kalau bukan langsung buka menu gofood. Anda sudah paham kan, gofood itu apa? Itu loh, aplikasi yang bisa digunakan untuk pesan dan beli makanan atau minuman di toko yang kita inginkan. Saya sendiri sudah beberapa kali menggunakan aplikasi gofood ini. Tertular oleh beberapa teman yang memang sering menggunakannya. Jadi ketagihan . Karena awalnya memang ingin makan yang segar-segar. Maka rujak jadi pilihan pertama yang saya cari pada kolom pencarian. Toko yang menjual rujak sudah terpilih. Sayangnya saat ingin memilih rujak untuk dipesan. Dari sistem terlihat tidak ada menu apapun yang dapat dipilih dari toko itu. Malah disarankan untuk mencari dari toko lain atau pilih menu lainnya. Hilang sudah selera makan rujak segar. Saya pun mengalihkan pilihan pada minuman. Pilihannya adalah minuman yang saat ini sedang kekinian. Menjadi pesanan untuk dimasukan ke keranjang belanja. Selanjutnya pesanan pun diproses oleh aplikasi.

Tidak pakai lama, ada notifikasi kalau supir gofood yang akan membelikan pesanan saya sudah didapat. Tertera pula di aplikasi jenis belanjaan, diskon, biaya antar, berapa yang harus dibayar (baik total maupun kekurangannya), dan metode pembayaran. Dari total belanja minuman kekinian yang dipesan sebesar 33 ribu. Saya mendapatkan potongan harga 8 ribu dari voucher. Ini yang saya suka dari GoPay, sering ada diskonnya. Total yang harus dibayar setelah diskon dan ditambah biaya antar sebesar 2 ribu menjadi 27 ribu. Bila saldo GoPay ada, metode pembayaran yang terpilih secara otomatis adalah menggunakan GoPay. Tapi karena saldo GoPay yang tersisa hanya tinggal 24 ribu. Jadi masih ada kekurangan 3 ribu yang harus saya bayar tunai kepada abang Gojek.

Oh iya dari tadi saya menyebut istilah Gojek, gofood, dan GoPay. Mungkin dari anda ada yang belum mengenal istilah tersebut (apa iya, hari gini ada yang belum kenal ya?). Baiklah, untuk berjaga-jaga kalau masih ada yang belum kenal. Yuk kenalan biar paham, suka, dan sayang. Gojek adalah nama dari sebuah aplikasi ojek daring asli karya anak Indonesia. Saat ini Gojek sudah berkembang maju dan menjadi perusahaan decacorn yang membanggakan. Di dalam aplikasi Gojek tersebut ada beberapa layanan yang diberikan untuk para pelanggannya. Seperti GoRide, GoCar, GoFood, GoSend, GoBox, GoTix, dan sebagainya. Keseluruhan ada 27 layanan tersedia dalam aplikasi gojek yang akan siap melayani anda setiap harinya.

Berikutnya, GoPay adalah alat pembayaran elektronik. Kalau menurut saya pribadi, GoPay bisa jadi dompet elektronik, karena uang kita tersimpan dengan aman di sana. Di kemudian hari dapat digunakan untuk bertransaksi. GoPay disediakan bagi anda pemakai aplikasi dan layanan Gojek. Dengan GoPay tidak perlu lagi bayar layanan dari Gojek dengan tunai. Cukup isi saldo GoPay anda, maka semua urusan bayar membayar beres. Selain untuk bayar semua layanan yang ada di aplikasi Gojek, GoPay bisa juga digunakan membayar di toko (usaha) lain yang sudah bekerjasama dengan GoPay. Biasanya di depan toko yang sudah menjadi merchant akan ada tanda berupa sticker atau banner yang bertuliskan GoPay. Jangan lupa akan ada diskon bagi anda yang berbelanja di merchant menggunakan GoPay. Cara melakukan pembayaran dengan GoPay di merchant pun sangat mudah. Anda tinggal dekatkan ponsel pintar ke tanda terima pembelian. Cari barcode yang ada, kemudian di scan. Setelah diproses oleh sistem, dalam waktu singkat saldo GoPay yang tersedia akan berkurang. Itu menandakan pembayaran sudah berhasil dilakukan.

Kembali lagi ke pengalaman saya saat beberapa kali pesan makanan atau minuman dengan gofood. Biasanya si abang gojek akan menghubungi calon pembeli, melalui pesan tulis atau telepon atau kombinasi keduanya. Mungkin ingin memastikan orang yang memesan memang ada dan bukannya pesanan fiktif. Dihubungi untuk bertanya mengenai makanan atau minuman yang akan dibeli, sesuai aplikasi atau tidak. Ada pula yang bertanya kebenaran alamat pengantaran. Setelah ditelepon, pernah juga dikirimi pesan oleh abang gojek. Yang menawarkan pengisian saldo GoPay. Kebetulan setelah melakukan pembelian minuman kekinian tadi, saldo GoPay saya menjadi kosong alias nol. Saya pun menunggu tawaran itu. Sayangnya sampai pesanan tiba dan diterima, tidak ada penawaran yang diharapkan . Akhirnya saya sendiri yang bertanya ke abang gojek, “apa bisa mengisikan saldo gopay?”

Mudahnya Isi Saldo GoPay Lewat Abang Gojek

Abang gojek mengiyakan pertanyaan dan langsung memproses permintaan topup GoPay. Hanya dengan mengetukkan beberapa kali di ponsel pintarnya. Dalam hitungan detik, isi saldo GoPay saya sudah bertambah. Selanjutnya tinggal memberikan uang sebagai pengganti topup GoPay ke abang gojek. Mudahnya isi saldo GoPay lewat abang gojek, menjadi pengalaman baru buat saya. Karena selama ini kalau topup GoPay biasanya diisikan, melalui ATM, dan pernah juga melalui mobile banking.

Abang gojek sedang isi saldo GoPay pelanggan

Selain tiga cara yang sudah pernah saya coba di atas, masih ada lima cara lain yang bisa dicoba. Kesemuanya ada delapan cara topup GoPay yang bisa dipilih oleh anda pengguna gojek, yakni:

  1. Supir Gojek
    Mudahnya isi saldo GoPay lewat abang gojek seperti yang sudah diceritakan di atas
  2. Minimart dan pegadaian
    Anda tinggal datang ke minimart terdekat dan minta ke kasir untuk melakukan topup GoPay
  3. Mobile banking
    Bila ingin topup GoPay dengan mobile banking. Anda tinggal ambil ponsel pintar, lalu masuk ke aplikasi mobile banking. Berikut ini langkah topup GoPay dengan mobile banking dari salah satu bank. Pilih menu bayar>buat pembayaran baru>multipayment>isikan penyedia jasa: GoPay customer>masukan nomor ponsel yang terdaftar di aplikasi Gojek. Jangan lupa isikan jumlah topup yang diinginkan. Saldo GoPay pun langsung terisi otomatis. Langkah yang dilalui untuk tiap bank akan ada perbedaan sedikit
  4. Internet banking
  5. SMS banking
  6. Anjungan Tunai Mandiri (ATM)
  7. BCA one click
  8. Lainnya.

Panduan kedelapan cara topup GoPay bisa anda temukan dan baca di aplikasi Gojek. Setelah berada di dalam aplikasi anda tinggal cari menu topup. Di dalamnya akan ada panduan lebih lanjut dan rinci. Dengan panduan tersebut diharapkan para pelanggan Gojek yang ingin topup saldo GoPay bisa dengan mudah mengikutinya. Dari semua cara yang ada, kalau buat saya pribadi lebih enak topup GoPay lewat abang gojek. Alasannya: tidak dikenai biaya tambahan dan membantu abang gojek dapat poin. Mudahnya isi saldo GoPay lewat abang gojek menjadi yang paling saya rekomendasikan untuk anda.

Pengalaman Naik Mobet Pertama Kali

Tinggal di Jakarta sedari lahir hingga sekarang, sudah banyak sekali perubahan-perubahan yang terjadi di ibukota. Mulai dari infrastruktur, transportasi umum, pelayanan umum, dan sebagainya. Semua tentu untuk kebaikan dan kebahagiaan warga ibukota khususnya.

Transportasi umum dari waktu ke waktu pun banyak mengalami perubahan. Mari kita tengok ke belakang saat tahun 80-an. Di Jakarta masih banyak berseliweran jenis angkutan umum berikut: bemo, bajaj merah, mobet, oplet, metromini, kopaja, mikrolet, dan bus dengan bentuk berbeda dari yang ada akhir-akhir ini. Tiga jenis angkutan yang disebut di awal keberadaannya sekarang ini sudah mulai jarang, berubah, dan menghilang.

Bemo, beberapa tahun lalu keberadaannya masih ada. Kalau anda berada di daerah Benhil (Bendungan Hilir) pasti akan sering melihatnya. Di daerah timur Jakarta, bemo bisa anda temui di terminal Manggarai. Saya lupa, apakah pernah naik bemo waktu kecil. Seingat saya, pernah diajak ibu naik bemo. Entah di mana dan tujuan ke mana. Sangking ingin merasakannya kembali, pernah sengaja mencoba naik bemo sendirian. Naik dari terminal Manggarai lalu turun di sekitar Matraman. Rute bemo hanya pendek saja, dari terminal Manggarai lewat Proklamasi, belok menuju RS. Cipto Mangunkusumo. Belok ke kanan melewati RS. Caroleus lanjut melewati perempatan Matraman menuju jalan tambak. Hingga terus melewati terowongan viaduct dan terakhir di terminal Manggarai. Tapi seiring adanya transjakarta, perlahan-lahan keberadaan bemo sepertinya sudah mulai menghilang.

Nasib oplet, malah sudah lebih dulu menghilang. Bahkan sejak tahun 80-an pun, oplet sudah jarang sekali beroperasi di Jakarta. Dulu, saya masih bisa merasakan naik oplet di daerah perempatan kampung rambutan sampai lampu merah Cibubur. Seingat saya tidak sampai 10 kali merasakan naik oplet. Kini oplet terkenal lagi, dengan dipakainya sebagai kendaraan untuk syuting film Catatan si Doel.

Bajaj merah begitu saya menyebutnya beberapa tahun terakhir. Akibat adanya saingan dari bajaj ini, yaitu bajaj BBG (bahan bakar gas) yang berwarna biru. Kedua jenis bajaj tersebut pernah mengaspal di jalan ibukota secara bersama-sama. Karena menunggu masa peremajaan atau peralihan dari bajaj merah yang menggunakan bahan bakat bensin ke bajaj BBG. Bajaj merah merupakan angkutan termewah bagi saya saat kuliah dulu, karena harganya masih bisa terjangkau. Walau begitu saya masih sangat jarang naik bajaj dengan uang sendiri, sayang uangnya kalau harus naik bajaj setiap hari. Lebih baik naik angkutan umum lainnya, seperti bus, metromini, atau mikrolet.

Seperti bemo dan oplet, bajaj merah pun saat ini sangat sulit ditemui di jalanan Jakarta. Karena sudah hampir seluruhnya tergantikan oleh bajaj BBG. Walaupun satu dua bajaj merah melintas di aspal, mungkin karena pemiliknya masih sayang untuk meremajakan atau menghancurkan bajaj miliknya. Bisa jadi malah dijadikan kenang-kenangan atau koleksi pribadi, siapa yang tahu? 😊.

Tahukah anda apa itu mobet? Mobil becak, lebih dikenal dengan panggilan mobet. Sama seperti bemo, oplet, dan bajaj merah, mobet adalah kendaraan beroda tiga yang digunakan sebagai angkutan umum. Bentuknya seperti becak, hanya ada beberapa perbedaan. Kalau becak pakai tenaga betis supir supaya jalan sedangkan mobet pakai mesin motor. Becak, supirnya di belakang penumpang sementara mobet, supir memunggungi penumpang.

Sejak saya kecil hanya bisa melihat mobet, baik dari televisi maupun secara langsung saat berpapasan di jalan. Namun belum pernah merasakan naik mobet seperti apa. Hanya membayangkan, lucu kali ya naik mobet yang sudah jadul seperti itu. Jadi cuma bisa penasaran sampai kemarin😅. Iya sampai kemarin, karena rasa penasaran saya terbayarkan sudah.

Pengalaman Naik Mobet Pertama Kali

Kemarin sore menjadi pengalaman naik mobet pertama kali untuk saya. Sampai-sampai norak, saking inginnya saya mengabadikan momen itu. Saya berswa foto saat berada di dalamnya, tidak ketinggalan mobetnya pun ikut diambil gambarnya. Kebetulan kemarin siang saya sudah berada di daerah Senen, Jakarta Pusat. Setelah mencetak tiket kereta api bengawan untuk ibu yang ingin menghadiri hajatan adiknya. Dari stasiun Senen, saya yang diantar dan ditemani Unda pergi ke Poncol untuk suatu keperluan.

Mobet

Tahu sendirikan, kalau Poncol daerah yang sangat padat. Kalau ingin wira wiri di sana menggunakan mobil, sangatlah sulit. Jalan yang sempit ditambah berbagai kios dipadati oleh calon pembeli. Tidak memungkinkan mobil bisa mondar mandir dengan lancar. Motor saja perlu antri dan kesabaran kalau ingin lewat, apalagi mobil. Mengingat suasana seperti itu, kami memilih memarkirkan mobil dan mulai menggunakan mobet untuk mondar mandir. Lebih cepat dan mudah, dibandingkan harus menggunakan mobil. Repot macet dan susah parkir.

Ternyata mau naik mobet di Poncol, tidak mudah juga. Karena jumlah mobet yang beroperasi tidak banyak, jadi kami harus menunggu dulu berapa menit. Kami menyetop mobet yang ternyata ingin mengantar barang ke suatu tempat. Tapi supirnya bersedia mengantar kami lebih dulu. Ya sudah kami naik, dengan tarif 7000 ribu untuk jarak kurang lebih 1 kilometer. Mahal juga ya, batin saya 😁. Baru duduk kami langsung berswa foto.

Sayangnya, pengalaman naik mobet pertama kali ini kurang asik. Karena mobetnya bersuara sangat berisik, jalannya tidak mulus, dan maaf kurang bagus 😅. Jadi, saya menolak saat Unda meminta si abang untuk menunggu. Setelah urusan selesai, kami harus menunggu lebih lama dari saat berangkat. Membuat saya diprotes oleh Unda: “tuh kan lama, tadi sih disuruh abangnya nunggu tidak mau”. Karena tidak sabar, akhirnya kami jalan sedikit, alhamdulillah tidak lama. Satu mobet kosong terlihat dari jauh, kami berhentikan saat mendekat.

Pak Adim, supir mobet di poncol

Mobet yang kali ini kami tumpangi kondisinya lebih bagus dibanding yang pertama. Menjadi penawar dari pengalaman naik mobet pertama kali tadi. Saya cukup senang karenanya, ditambah lagi supirnya enak untuk ditanya-tanya. Pak Adim, nama supir mobet yang membawa kami ke tempat tujuan. Belum terlalu tua usianya, sepertinya baru lewat usia 45 tahunan. Sehari-hari mangkal di sebuah sekolahan, karena di sini bisa mendapatkan penumpang paling banyak. Untuk penumpang anak sekolah dikenai tarif 5 ribu. Setelah bubaran sekolah, maka jumlah penumpang sudah sedikit dan jarang.

Tarif untuk sekali antar penumpang bervariasi, antara 7 ribu sampai 10 ribu. Tergantung jarak jauh dan dekatnya. Rute yang dilayani mulai dari terminal atau stasiun pasar senen, Kemayoran, area PRJ, dan Sunter. Dengan tarif seperti itu pak Adim bisa membawa pendapatan kotor 100 ribu per hari. Baru bisa dibawa pulang sebesar 40 sampai 45 ribu, setelah dipotong untuk bensin, makan, dan setoran kepada pemilik mobet sebesar 20 ribu per hari.

Aktivitas yang Dilakukan Peserta Saat Rapat

Aktivitas yang dilakukan peserta saat rapat

Sudah hari Senin lagi, alhamdulilah masih diberi kesehatan sehingga bisa beraktivitas. Bagi yang bukan pekerja di kantoran mungkin masih bisa santai-santai di pagi hari. Belum tentu juga ya, buat para emak-emak tangguh yang harus menyiapkan segala keperluan keluarganya, justru pagi hari adalah jam terepot 😁. Kalau pekerja kantoran atau yang beraktivitas di luar rumah lainnya (blogger, pengusaha, mahasiswa, pelajar, dsb.) mungkin ada yang sudah direpotkan dengan rapat di pagi hari. Bicara soal rapat, saya pribadi jarang ikut rapat dan jujur kalau bisa menghindar, lebih baik menghindarinya. Dari beberapa kali rapat yang saya pernah ikuti, saya sempat mengintip kalau tidak mau dibilang melihat aktivitas para pesertanya.

Aktivitas yang Dilakukan Peserta Saat Rapat

Saya menemukan kalau di dalam rapat, ada peserta yang wujudnya ada, tapi ternyata belum tentu pikiran dan jiwanya ada di tempat. Ada tujuh aktivitas yang dilakukan peserta saat rapat yang berhasil saya tangkap, antara lain yaitu:

1. Berbicara (ngobrol) dengan peserta lainnya: ini paling sering dilakukan. Sedikit saja pembahasan dalam rapat menyimpang maka akan menjadi obrolan yang tidak selesai untuk dibahas sendiri. Bahkan ada peserta yang tanpa ada pemicu, sudah asyik ngobrol sendiri. Sampai-sampai obrolannya membuat gaduh rapat dan mendapat teguran dari peserta lainnya atau pemimpin rapat

2. Membuka media sosial: zaman sekarang saingan terbesar dari para pemimpin rapat adalah media sosial. Sulit sekali melarang peserta untuk tidak melakukan aktivitas dengan ponselnya. Media sosial yang dibuka bisa bermacam-macam, tidak terbatas pada satu jenis platform (aplikasi). Semua menjadi ahli menundukkan kepala di meja rapat

3. Berselancar di dunia maya: ini hampir sama dengan nomor dua. Namun bisa lebih banyak variasinya. Terlebih bagi peserta rapat yang membawa laptop sendiri. Dapat dengan leluasa membuka berbagai macam situs yang diinginkan. Baik itu yang berhubungan dengan materi rapat yang dibawakan. Bisa juga yang sama sekali tidak ada hubungannya

4. Bermain game: dapat dilakukan baik dengan menggunakan ponsel maupun dengan laptopnya. Tapi yang lebih sering dengan menggunakan ponsel. Mengingat ukuran yang kecil jadi kemungkinan ketahuannya kecil

5. Mendengarkan musik: bisa dilakukan dengan menggunakan ponsel yang terhubung dengan headset. Selain musik tentu saja film juga bisa diputar dan ditonton saat rapat berlangsung

6. Mengerjakan pekerjaan lainnya: saat rapat berlangsung ada saja pekerjaan yang kejar tayang. Untuk menyelesaikan pekerjaan yang kena deadline, akhirnya dikerjakan juga saat menghadiri rapat

7. Keluar masuk ruang rapat: berbagai alasan dapat dibuat oleh peserta rapat demi mendapatkan kesempatan untuk dapat keluar dan masuk lagi ke dalam ruangan. Alasan yang dibuat bisa: ke kamar mandi (BAK, BAB), cuci muka, dan sebagainya.

Sesekali sebagai pengusir kantuk saat rapat, urutan nomor satu dari aktivitas di atas bisa dilakukan. Tentu saja hanya sebentar saja dan melihat kondisi. Jangan sampai kelewatan dan berlebihan. Ngobrolnya pun hanya sebatas mengucapkan: “ngantuk nih, mau cuci muka dulu”. Kalau lebih dari itu tentu saja tidak pernah saya sarankan.

Nah bagi anda yang menjadi pimpinan rapat harus ekstra sabar menghadapi peserta sekarang ini. Karena mereka sudah terpapar dengan yang namanya teknologi, baik itu laptop maupun ponsel. Sementara bagi anda peserta rapat, ayo jujur mana yang pernah anda lakukan? Kalau belum pernah sama sekali melakukan salah satu dari ketujuh aktivitas yang dilakukan peserta saat rapat di atas, berarti anda adalah peserta rapat paling keren. Anda bisa berbagi tips kepada saya dan juga pembaca blog ini di kolom komentar. Tips bagaimana menjadi peserta rapat yang paling keren 😊.

Mbak Jar, Asisten Baru di Rumah

Mbak Jar, Asisten di rumahAlhamdulillah, akhirnya kami sekeluarga mendapatkan asisten lagi. Setelah tiga tahun berlalu tanpa seorang asisten yang tinggal di rumah. Hanya dibantu mbak yang cuci gosok saja. Itu pun sudah lima orang berganti-ganti.

Sulitnya mendapatkan asisten banyak dirasakan oleh para keluarga, beragam alasannya. Dari gaji yang diminta terlalu tinggi sampai dengan tidak betah. Alasan yang terakhir tidak bisa diprediksi yang menjadi penyebab dari tidak betahnya sang asisten karena apa. Bisa dari dua pihak, baik dari asistennya ada juga dari pihak yang membutuhkan asisten.

Awal pertemuan dengan mbak, berawal dari pertanyaan seorang teman saat kami duduk bersebelahan di bis. Berlanjut menjadi sebuah curcol saya yang kesulitan belum juga mendapatkan seorang pun asisten yang menginap. Entah karena kasihan atau bagaimana akhirnya teman saya itu memberikan nomor telepon mbak yang akan menjadi calon asisten di rumah. Agar dapat segera saya hubungi. Teman saya menceritakan sedikit kalau calon asisten di rumah yang ditawarkan kepada saya itu pernah bekerja di rumah adiknya. Mbak Jar, begitu teman saya dan keluarganya memanggilnya.

Mbak Jar, Asisten Baru di Rumah

Berhubung adik teman saya itu sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya dan anak-anaknya sudah mulai besar-besar. Jadilah mbak Jar diberhentikan. Karena sudah mengetahui bagaimana mbak Jar, akhirnya diberikan infonya kepada saya. Calon asisten tidak langsung saya hubungi, karena saya lupa. Baru pada tanggal 19 September saya meneleponnya, itu pun saat saya berada di atas taksi menuju rumah mertua di Pondok Ranggon. Di ujung telepon sana mbak Jar, calon asisten di rumah menerima dengan baik telepon saya dan terjadilah obrolan singkat.

Setelah obrolan singkat dan kesepakatan gaji, hubungan telepon dikhiri dengan kesepakatan mbak Jar akan datang ke rumah kami. Saya pun meminta mbak Jar, calon asisten di rumah menghubungi saya bila sudah akan berangkat. Memintanya untuk memberikan info akan menggunakan moda transportasi apa, kapan berangkat dan perkiraan sampai di Jakarta. Harap-harap cemas masih dirasakan sampai benar-benar mbak Jar ada di depan mata. Tetap berdoa agar benar-benar datang ke Jakarta dan mulai menjadi asisten di rumah.

Rabu pagi saya menjemput mbak Jar ke stasiun kereta api Pasar Senen. Setelah mendapatkan kabar melalui sms kalau mbak asisten telah berada di kereta api tujuan Jakarta. Pukul setengah sebelas siang, pertama kalinya kami berjumpa dan berjabat tangan. Selanjutnya kami berada dalam kendaraan yang sama dengan tujuan pulang ke rumah. Alhamdulillah akhirnya kami kedatangan anggota keluarga baru, yaitu mbak Jar, asisten baru di rumah. Semoga betah ya mbak berada di lingkungan keluarga kami dan mohon bantuannya.

Idris Manusia Batu

Kumpul dengan temanJalan-jalan secara sepontan tidak kalah mengasyikannya dengan yang sudah direncanakan. Bahkan bisa lebih asyik dan banyak menemukan kejutan-kejutan menyenangkan yang tidak terduga sebelumnya. Saya mengalaminya sendiri, pergi tanpa perencanaan yang ribet. Hanya iseng-iseng mengajak teman. Langsung disanggupi dengan kalimat “besok ya” akhirnya pergi juga. Kejutan yang didapat dari hasil jalan-jalan siang adalah bisa ngobrol dengan seseorang. Kegitan ngobrol itu belum tentu berhasil kalau perginya direncanakan jauh hari sebelumnya.

Ceritanya begini, pas menuju mobil yang saya parkirkan di kantor Pajak. Saya melihat di salah satu pintu, ada tiga orang sedang duduk sambil ngobrol. Entah apa yang diobrolkan oleh mereka. Yang jelas saya melihat ada yang menarik di antara mereka. Yaitu tulisan di lembaran kertas  yang telah dilaminating, sepeda ontel, dan pakaian yang dipakai oleh seorang yang sedang duduk itu.

Manusia batu pejuang 45 boleh foto bersamaBerhubung saya senang memoto, langsung saja berhenti sejenak dan langsung foto ketiganya. Selanjutnya saya membaca tulisan yang ada di antara mereka bertiga. Belum selesai membaca, orang yang memakai baju ‘aneh’ berdiri dan langsung menawarkan diri, dengan kalimat “Boleh kok foto bareng.” Awalnya saya kaget juga ditawari seperti itu. Tawaran itu langsung saya setujui juga. Beberapa detik kemudian orang berbaju ‘aneh’ itu berkata lagi “tapi saya belum berhias.” Saya jawab “Ah, tidak apa-apa nanti kelamaan.”

Bisa dibayangkan apa yang kami lakukan selanjutnya. Betul sekali, kami berfoto-foto ria. Tapi seperti biasa saya lebih banyak memoto dibanding difoto. Tentu saja yang menjadi obyek fotonya teman saya dan orang berpakaian ‘aneh’ beserta ontelnya. Sudah penasarankah siapa orang yang berpakaian ‘aneh’ yang melayani kami berfoto bersama?

Idris Manusia Batu

Dialah Idris Manusia Batu. Mas Idris begitu saya memanggilnya adalah orang yang berpakaian ‘aneh’. Tentu saja dengan sengaja mas Idris memilih kostum berwarna campuran (gradasi) hitam, coklat, dan abu-abu. Warna dipilih agar menyerupai perunggu atau besi. Agar tampak alami layaknya warna batu atau patung. Pakaian ‘aneh’ yang dipilihnya itu dipakai setiap hari. Sebagai kostum untuk mencari uang dengan cara menjadi manusia batu. Selain kostum mas Idris juga melengkapinya dengan properti lainnya. Yaitu sepeda ontel, bivaks (seperti peci), dan senjata. Properti yang disebut terakhir tentu saja bukan senjata sesungguhnya. Hanya kayu bekas peti kemas yang dibentuk menyerupai senjata.

Idris manusia batu

Menurut pengakuan sehari-harinya Idris Manusia Batu berdiri di depan Museum Keramik. Pada hari kerja, jam operasinya dari pukul 14.00 hingga 18.00 sementara akhir pekan sejak pukul 09.00 hingga 18.00. Mas Idris Manusia Batu sangat ramah dan enak diajak ngobrol. Mungkin lebih tepatnya saya tanya-tanya. Mulai dari di mana tinggal hingga akhirnya berapa penghasilannya. Semua dilayani dan dijawab dengan baik olehnya. Padahal mas Idris ini sudah terkenal, karena sudah menjadi artis. Wajahnya sudah sering masuk televisi sebagai bintang iklan dan pernah juga di wawancarai. Bahkan pernah memenangkan penghargaan sebagai manusia batu. Yang terakhir pada perlombaan yang diadakan di Bogor. Memenangkan dan membawa pulang sebuah sepeda motor. Dari lomba berdiri dengan posisi menghormat ke bendera. Selama 8 jam, yang pada awalnya lomba berdiri sambil hormat bendera selama 17 jam. Dipersingkat karena sudah banyak yang gugur belum sampai waktu yang ditentukan. Hanya Idris Manusia Batu saja yang dapat bertahan.

Kisah hidup Idris Manusia Batu bisa menjadi pelajaran dan inspirasi bagi siapa saja. Awalnya mas Idris adalah seorang pedagang di kawasan toko tua. Tepatnya pedagang keliling di sekitar Museum Fatahillah. Adanya tuntutan dari kebutuhan hidup yang semakin tinggi. Membuat mas Idris berpikir, bagaimana caranya agar bisa mendapatkan penghasilan yang lebih. Agar dapat mencukupi segala kebutuhan hidupnya dengan seorang istri dan seorang anak laki-lakinya.

Akhirnya ketemulah ide kreatif yang diwujudkan hingga menjadi profesinya lima tahun belakangan. Ide kreatif itu muncul dari melihat banyaknya orang yang lalu lalang sambil berfoto-foto. Baik selfie maupun welfie di sekitar Museum Fatahillah. Ide kreatif itu adalah menjadi manusia batu. Pada awalnya saat beralih profesi, sempat bimbang. Mas Idris memikirkannya selama 3 hari sampai akhirnya yakin dengan pilihannya. Akhirnya memulai profesi barunya menjadi manusia batu.

Berhias untuk menjadi manusia batu

Kemunculannya pertama kali di depan publik dengan menggunakan properti bekas. Dengan menggunakan pakaian bekas entah dari mana kemudian di cat hitam. Tidak hanya itu, mas Idris rela wajahnya di cat tembok dengan warna hitam. Kebayang dong rasanya wajah di cat, pastinya tidak nyaman. Pengecatan wajah itu dilakoninya selama 3 bulan. Sampai ada sekelompok mahasiswa dari Yogyakarta yang dengan baik hatinya menyarankan menggunakan kosmetik. Mahasiswa itu bahkan menuliskan nama toko dan alamatnya serta kosmetik apa saja yang harus dibeli. Sejak saat itu hingga sekarang mas Idris putus hubungan dengan cat tembok dan menggantinya dengan kosmetik.

Untuk properti seperti senjata yang kini menggunakan kayu bekas peti kemas. Dulu hanya menggunakan senjata mainan anak terbuat dari plastik. Jadi tidak tampak alami dan tidak seperti senjata. Mas Idris tetap memulai aksinya tanpa menunggu semuanya mejadi sempurna. Ini salah satu karakteristik dari orang yang sukses. Kesempurnaan akan dicapai seiring dengan perbaikan-perbaikan yang dilakukan sesuai berjalannya waktu.

Perubahan Penghasilan

Idris Manusia Batu begitu sumringah saat saya dengan hati-hati bertanya soal penghasilan. Dengan senang hati bercerita, sebagai penyemangat bagi dirinya sendiri juga orang lain. Begitu alasannya saat ingin berbagi cerita tentang kesuksesannya saat ini. Mas Idris mengawali dengan penghasilan saat masih sebagai pedagang keliling. Penghasilannya selama sebulan berkeliling untuk jualan saat itu, kini bisa didapatkannya hanya dalam hitungan 3 hari saja. Bayangkan suatu lompatan penghasilan yang luar biasa sekali. Bahkan saya sampai takjub mendengarkan ceritanya.

Rata-rata di hari kerja Idris Manusia Batu penghasilannya sebesar minimal 300 ribu sudah bersih. Di akhir pekan tentu saja penghasilannya melesat jauh. Minimal 1 juta rupiah bisa didapatkan di hari Sabtu dan Ahad. Itu penghasilan rutinnya sementara yang tidak rutin tentu akan berkali lipat yang dikumpulkannya. Tawaran iklan, menjadi pengisi suatu acara di perusahaan, memenangkan lomba, dan lainnya. Tak putus-putus Idris Manusia Batu mengucapkan Alhamdulillah saat bercerita kepada saya. Sebagai rasa syukurnya kepada Sang Maha Baik dan Pemberi Rezeki. Berkah, begitulah yang dirasakannya. Terlebih mas Idris kini mampu membiayai dua adiknya untuk kuliah. Kebanggan dari anak semata wayangnya atas profesi ayahnya juga menambah kebahagiaan dirinya. Juga penyemangat kerja bagi mas Idris dalam menjalani profesinya. Berdiri berjam-jam bercucuran keringat di tengah teriknya matahari.

Terima kasih atas kesempatan berbagi ceritanya ya mas.