Sikap Penjual yang Kurang Baik kepada Calon Pembelinya

Bukankah pembeli adalah raja? Jadi wajib bagi penjual untuk melayani pembeli dengan baik. Tahu sendirikan bagaimana raja. Pastinya raja tidak suka dong t8dak diberikan pelayaTapi kenapa ya, masih ada saja penjual yang menyepelekan prinsip itu. Padahal para penjual, pasti pernah juga menjadi pembeli. Setidaknya pernah membeli untuk kebutuhannya pribadi. Maupun untuk dijual kembali sebagai barang dagangannya. Pembeli atau calon pembeli bahkan sampai kesal. Menghadapi sikap penjual yang tidak menghargai calon pembelinya. Kita sebagai calon pembeli, bukannya minta dihargai atau gila hormat. Tapi setidaknya berikanlah pelayanan yang baik kepada pembeli. Supaya merasa puas dan siapa tahu, akan menjadi pelanggan setia di kemudian hari.

Saya sendiri beberapa kali harus mengalami kekecewaan dan tidak jadi membeli. Pindah ke penjual lainnya, karena tidak mendapatkan pelayanan yang baik. Ya namanya pembeli bebas dan sah saja, menentukan mau membeli dari penjual yang mana. Pastinya masih ada penjual lain yang menjual barang yang sama. Namun dengan pelayanan yang ramah dan baik. Berikut ini adalah beberapa sikap penjual yang kurang baik kepada calon pembelinya. 

Berkata Ketus 

Baru saja bertanya, “barang ini berapa harganya?” eh, penjual menjawab dengan ketus. Padahal wajar saja kan sebagai calon pembeli bertanya harga. Sebagai pembicaraan awal supaya terjadi transaksi jual beli. Ada pula yang menghalau pembeli agar tidak pegang-pegang dagangannya. Jangan berharap diberitahu dengan senyuman. Yang ada ketus dan jutek kasih tahunya. 

Menganggap calon pembeli tidak mampu membeli dagangannya

Pandangan mata seseorang, seringkali mengandung banyak arti. Termasuk rasa suka dan tidak suka, meremehkan, menghina dan menghargai. Begitu pula dengan pandangan mata dari penjual kepada calon pembelinya. Sebagai pembeli bisa juga merasakan dan mengartikan pandangan mata tersebut. Ada loh penjual yang memandang remeh calon pembelinya. Seakan-akan tidak mempunyai uang dan tidak mampu membeli dagangannya. Biasanya pandangan mata ini, mengikuti sikap ketus dan jutek dari penjual. Ada pula sikap ini yang betul-betul terlihat jedanya. Karena pelayan yang diberikan kepada calon pembeli satu dengan calon pembeli lainnya terlihat bedanya. Kalau kepada pembeli satu tidak ramah, sedikit ketus, ogah-ogahan. Sementara kepada pembeli lainnya sangat ramah dan banyak dihiasi dengan senyuman. Hmmm, kok bisa penjual bermuka dua seperti itu dalam waktu bersamaan.

Membuat Calon Pembeli Menunggu

Nah, untuk yang satu ini belum lama saya merasakannya. Tepatnya sehari sebelum lebaran Idul Adha kemarin. Ceritanya, saya bersama saudara mencari bebek di pasar, di daerah Pulogadung. Kami datangi salah satu penjual bebek. Sejak awal bertanya tentang bebek, penjualnya masih asyik dengan pekerjaannya menyelesaikan pesanan. Hanya diberitahu harga bebeknya ada yang seharga 50 ribu, 65 ribu, dan 70 ribu. Ketika diminta diambilkan salah satu bebek untuk dilihat. Penjualnya menjawab, sebentar ini tanggung. Selesaikan pesanan ini dulu ya. Dengan sabar kami bersedia menunggu. Tapi, setelah ibu penjual itu selesai mengerjakan pesanannya. Kami masih juga belum dilayani. Saat itu kami coba untuk menawar dan masih meminta untuk diambilkan salah satu bebek dagangannya. Tapi tawaran kami tidak diluluskan. Kami pun setuju dengan harga yang diberikan oleh penjual dan ingin membeli 6 ekor bebek. Sayangnya si ibu penjual malah mengatakan, “tunggu sebentar ya, saya masih mau hitung-hitungan dulu. Sudah ditunggu karena mau bayar ke orang itu di sana.” Sambil mencari bangku panjang dan posisi nyaman untuk duduk. Dengan santainya duduk dengan kaki dinaikan ke atas bangku. Hingga terlihat jari jemari kakinya berubah warna menjadi lebih putih. Akibat terlalu lama terendam air.

Sementara kami masih tetap disuruhnya menunggu dan dibiarkan saja. Bebek yang kami minta untuk diperlihatkan pun tidak diambilkan. Si ibu penjual malah sudah asyik menulis angka dan hitungan di sebuah buku dan kertas. Saya dan saudara tidak bisa berkata-kata lagi, hanya berpandang-pandangan. Masih juga sabar menunggu 🤔😅. Setelah saya meminta lagi diambilkan bebek yang ingin kami beli. Namun tetap tidak diambilkan, jelas saja kami tidak sabar dan merasa dianggap hanya sebagai patung. Dengan alasan bertanya di mana masjid untuk sholat. Kami pun pergi meninggalkan penjual itu dan tidak pernah kembali lagi sampai hari ini. Bisa-bisanya si ibu penjual bebek membuat kami menunggu begitu lama. Menganggap kami bagaikan pengemis, padahal ingin membeli 6 ekor bebek jualannya.

Melakukan Aktivitas Lain

Kalau yang ini setali tiga uang dengan poin sebelumnya. Penjual melakukan aktivitas lainnya, membuat calon pembeli harus menunggu. Ada saja yang dilakukannya, entah tiba-tiba mengangkat telepon dan mengobrol. Kalau mengangkat telepon untuk memberitahukan orang di ujung telepon sana. Untuk menyudahi dan akan ditelepon balik. Sebagai pembeli biasanya masih bisa memaklumi. Lain halnya kalau justru ngobrol semaunya, tentu saja membuat calon pembeli jadi kesal. 

Melayani Pembeli Lain 

Pengalaman tidak enak ini saya alami saat membeli buah kelapa muda. Datang sebagai pembeli kedua. Pembeli pertama sedang dilayani pembelian buah kelapa hijau dan es kelapanya. Saya pun menunggu hingga pembeli pertama dilayani. Giliran saya dilayani dan penjualnya sedang membelah kelapa. Datanglah pembeli lain, eh si penjual melayani pembeli barunya itu. Buah kelapa yang sudah dibelah itu diletakan dan ditinggalkan begitu saja. Tentu saja saya meradang dan protes, “Bang jangan melayani yang lainnya dulu dong. Selesaikan dulu pesanan saya. Biar saja yang baru datang menunggu.” Si abang menjawab apa, tapi saya sudah malas mendengarkannya. Untungnya saat menyerahkan pesanan saya, si abang tukang es kelapa meminta maaf. Tapi saya tidak menjawabnya, hanya mengucapkan terima kasih untuk pesanan yang sudah diserahkan.

Ngedumel Tentang Harga

Akad jual beli sudah dilakukan, penjual sudah memberikan harga dan calon pembeli sudah setuju dengan harganya. Tiba saat membungkus dagangannya, penjual ngedumel. Kalau harga yang diberikan kemurahan dan penjual merasa rugi. Contoh lain saat tawar menawar tarif bajaj. Calon penumpang dan supir sudah menyepakati tarif di awal, untuk tujuan tertentu. Kesepakatan biasanya dilakukan sebelum penumpang naik bajaj. Tapi di tengah perjalanan, ada saja supir bajaj yang ngedumel. Merasa tarif yang diberikan terlalu murah. Sementara dia merasa rugi karena harus mengantar ke tujuan yang terlalu jauh. Akibatnya penumpang bisa ditembak oleh supir. Untuk memberikan uang lebih yang tidak ada dalam kesepakatan awal. Atau supir tidak berani meminta uang lebih, tapi mengemudikan bajajnya dengan ugal-ugalan.

Sepertinya semua sikap penjual yang kurang baik kepada calon pembelinya, sudah pernah saya alami. Kalau masih bisa diterima ya diamkan saja. Tapi kalau sudah keterlaluan, tentu saja saya tinggal pergi. Caranya dengan menawar sadis, yang pasti tidak akan diberikan. Atau langsung saja pergi meninggalkan si penjual. Alasannya untuk memberi pelajaran kepada si penjual. Kalau mereka harus melayani sepenuh hati. Gimana, apakah anda pernah mengalami sikap penjual yang kurang baik kepada calon pembelinya? Kalau pernah mengalaminya, apa yang anda lakukan? 

Catatan Seputar Hari Raya Qurban

Ahay bulan Agustus sudah lewat dan tidak ada satupun tulisan yang tayang di bulan itu. Sekarang sudah masuk awal bulan September, semoga mulai bisa rajin menulis lagi.

Baru saja umat Islam merayakan Hari Raya Qurban atau Idul Adha. Tepatnya pada hari Jumat kemarin. Disebut Hari Raya Qurban, mungkin karena pada hari itu disunnahkan untuk menyembelih hewan qurban. Sebagai salah satu bentuk ketaatan seorang hamba kepada Penciptanya. Alhamdulillah, selama ini saya selalu ada di Indonesia saat Idul Adha. Jadi tidak pernah tahu bagaimana situasi atau kemeriahan umat Islam di negara lain dalam menyambut Hari Raya Qurban :-). Memang sungguh besar karunia Allah kepada umat-Nya. Dengan memberikan dua hari raya, agar dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari keduanya.

Hari Raya Qurban tahun ini jatuh pada hari Jumat, jadi proses penyembelihan hewan qurban tidak serempak dilakukan. Sebagian langsung melaksanakannya setelah selesai sholat Idul Adha. Ada pula yang melaksanakannya pada keesokan harinya, yaitu pada hari Sabtu. Bahkan dilakukan hari Ahad sekarang pun diperbolehkan, yang penting masih termasuk hari Tasyrik (11-23 Dzulhijjah). Tidak serempaknya kegiatan penyembelihan dikarenakan adanya kekhawatiran tidak dapat selesai dalam waktu singkat.

Mengingat biasanya penyembelihan dilakukan di area halaman masjid. Sementara masjidnya akan segera dipergunakan untuk sholat Jumat. Singkatnya waktu yang ada membuat penyembelihan yang dilakukan di area masjid dialihkan menjadi hari Sabtu. Karena selain penyembelihan tentu ada pula beberapa proses yang harus dilalui. Diantaranya menguliti, memotong daging, memotong tulang, menimbang, memasukan ke kantong plastik, dan mendistribusikan daging qurban. Kesemua proses itu dilakukan oleh panitia yang bukan berprofesi sebagai jagal hewan. Tentunya akan membutuhkan waktu yang lebih lama.

Ada beberapa catatan seputar Hari Raya Qurban yang bisa saya ceritakan dalam tulisan kali ini, antara lain:

1. Catatan pertama: Minimal lima belas hari sebelum Idul Adha, biasanya lapak-lapak dadakan yang menjual hewan qurban banyak bermunculan. Lapak-lapak dadakan itu bukan di pasar, melainkan ada dekat dan di tengah-tengah pemukiman warga. Para penjual menyewa tanah-tanah kosong sementara waktu, untuk memajang hewan qurban dagangannya. Selama ini saya sendiri tidak pernah melihat atau mendengar ada warga yang keberatan. Apalagi sampai melakukan demo untuk menentang keberadaan lapak-lapak dadakan itu. Malah yang sering ditemukan, lapak-lapak dadakan dari penjual hewan qurban akhirnya menjadi hiburan tersendiri bagi warga. Utamanya anak-anak, mereka akan berlomba-lomba untuk meminta diantar oleh orangtuanya melihat hewan-hewan qurban yang “dipajang”.

Para penjual ada yang menjual sapi, kambing, dan domba. Jenis sapi yang dijual pun beraneka macam, dari sapi limosine yang berukuran besar, sapi Bali hingga sapi Jawa. Begitu pula jenis kambing atau domba yang dipajang, demi memenuhi kebutuhan pembeli sekaligus calon pequrban. Harga tentunya disesuaikan dengan ukuran dan jenisnya. Ada harga ada rupa, masing-masing penjual memberikan harga yang berbeda. Semua penjual mendapatkan rezeki yang berbeda dari keuntungan penjualan. Berkah tersendiri bagi para penjual hewan qurban saat datangnya Hari Raya Qurban.

2. Catatan kedua: Mendekati hari raya, kurang lebih 2 hari sebelumnya (H-2). Para pequrban sudah mulai mengantarkan hewan-hewan qurban pilihan mereka ke tempat yang menyelenggarakan penyembelihan. Biasanya di masjid-masjid, pengurus yayasan, sekolah, bahkan ada penjual yang juga sekaligus menyediakan jasa pemotongan hewan qurban. Tentunya dengan bekerja sama dengan yayasan atau panti asuhan. Sehingga langsung disalurkan kepada yang berhak mendapatkan daging qurban. Hewan-hewan qurban yang sudah terkumpul akhirnya menjadi tontonan yang menarik tiap tahun bagi anak-anak. Tidak perlu jauh-jauh contohnya, anak saya di rumah pun kalau sore bersama teman-temannya mendatangi masjid. Untuk melihat sapi, kerbau, kambing, atau domba yang diikat di pagar masjid. Mereka pun mencoba keberanian untuk sekedar mendekat kemudian meraba dan mengelus-elus, serta memberikan makan kepada hewan-hewan itu.

IMG20170901172410

Catatan ketiga: Pada saat penyembelihan pun bisa jadi kegiatan menarik bagi anak-anak. Untuk dilihat dan diambil hikmahnya. Tentu peran dari para orangtua sangat penting untuk memberikan penjelasan kepada anak. Di negeri yang mayoritas beragama Islam ini, tiap tahun selalu dimeriahkan dengan proses penyembelihan hewan qurban. Karena begitu banyaknya masjid, minimal dalam satu RW ada satu masjid. Maka hampir di setiap jalan bisa ditemukan masjid yang menyelenggarakan penyembelihan hewan qurban.

Yang perlu dan penting dicatat di sini adalah: selama ini saya belum pernah melihat, mendengar atau menemukan. Darah dari hewan-hewan yang disembelih itu berceceran dan berantakan ke mana-mana. Semua dilakukan dengan baik oleh umat Islam bahkan sangat detail. Termasuk untuk urusan menjaga kebersihan lingkungan agar tidak tercemar dengan darah dari hewan yang sudah disembelih. Jadi kalau ada oknum dari agama lain yang berkomentar buruk bahkan melarang proses penyembelihan hewan qurban yang dilakukan oleh umat Islam. Kok saya rasa oknum itu salah tempat ya.

Berbagai macam cara atau tehnik penyembelihan diterapkan, untuk penyembelihan. Tentunya yang sesuai tuntunan agama Islam. Sekaligus proses setelah hewan qurban disembelih hingga pendistribusiannya. Dicari cara yang efektif dan efisien. Hewan qurban yang sudah disembelih ada yang digantung berjejer untuk kemudian dikuliti. Ada yang satu persatu digantung lalu dikuliti. Semua dilakukan cara yang menurut panitia paling baik dan cepat. Beda-beda cara dan tehnik itu menjadikannya unik. Seperti pada hari Sabtu kemarin, saya sempatkan melihat ke beberapa tempat. Mendapatkan pemandangan yang unik atas hewan qurban yang sudah disembelih. Bisa anda lihat di foto di bawah ini.

IMG20170902090118

Tiap daerah mungkin akan berbeda kemeriahannya dalam menyambut Hari Raya Qurban dan pelaksanaan penyembelihan hewan qurban. Bahkan mungkin hanya ada di Indonesia yang sangat terasa kemeriahannya. Ah, kalau memang benar hanya ada di Indonesia, sungguh saya dan anda sangat beruntung menjadi warga negeri ini. Anda bisa berbagi cerita atau catatan seputar Hari Raya Qurban dengan saya di kolom komentar.

Belum terlambat juga saya dan keluarga mengucapkan: Selamat Hari Raya Idul Adha 1438 H. Semoga amal ibadah atas qurban-qurban kita diterima dan mendapat ridho dari Allah Swt.

Cara Mudah Merebahkan Sapi Qurban Yang Ingin Disembelih

Hewan QurbankuHari raya Idul Adha sudah berberapa hari berlalu. Namun cerita-cerita dan pengalaman yang mungkin ada dan dialami oleh sebagian orang akan terus tersimpan dalam ingatan. Bulan Dzulhijah pun belum lah berganti menjadi bulan Muharram, masih tersisa beberapa hari lagi. Saat postingan ini dibuat yaitu sore hari Senin, tanggal masih menunjukan angka 24 di bulan Dzulhijah 1434H.

Jadi masih di bulan yang sama, kali ini saya ingin membuat postingan tentang bagaimana cara memperlakukan hewan qurban saat ingin disembelih. Mungkin tepatnya bagaimana memperlakukan hewan qurban untuk direbahkan (meminjam istilah yang digunakan oleh Daeng Mudzakkir. Dari beberapa kali saya menjadi panitia pemotongan hewan qurban. Sebagai panita konsumsi :D, masa wanita harus ikut memotong. Tidak mungkinlah, yang ada pingsan duluan saya. Saat melihat dari kejauhan para penjagal hewan qurban itu mempersiapkan hewan qurban untuk di posisi yang dirasa tepat untuk disembelih. Kok terlihat tidak memiliki rasa perikehewanan.

Terutama hewan qurban yang besar seperti sapi atau kerbau yang mendapat perlakuan kasar kalau boleh dibilang. Sapi atau kerbau ini diikat dan ditarik beberapa orang dengan kencang, bagaikan “dikeroyok”. Pengeroyokan itu tidak hanya menyakiti hewan qurbannya bahkan dapat mencelakakan si penjagal atau orang yang mengeroyok. Pernah ada kejadian saat menjadi panitia tiga tahun (seingat saya) yang lalu. Sampai ada kecelakaan dari pihak penjagalnya. Saat mengeroyok sapi untuk direbahkan, jempol si penjagal sampai putus. Karena mendapat perlawanan dari si sapi saat dikeroyok dan ditarik-tarik talinya.

Berdasarkan pengalaman tersebut dan atas dasar ijin dari pemiliknya, saya ingin membagikan sebuah video bagaimana cara mudah merebahkan sapi qurban yang ingin disembelih. Alasan saya ingin ikut menyebarkan video ini adalah, agar para penjagal, panitia penyembelihan qurban dapat belajar. Belajar memperlakukan hewan qurban yang ingin disembelih dengan perikehewanan. Para hewan itu juga memiliki perasaan sepertinya. Buktinya ada beberapa hewan qurban sampai mengeluarkan air mata, melawan atau brontak. Yang menandakan kalau mereka tidak nyaman atau mungkin ketakutan.

Semoga video di atas tersebut dapat membantu. Terima kasih buat Daeng Mudzakkir yang sudah memberikan ijin untuk menyebarkan videonya.

 

 

Selamat Idul Adha 1434H

image

Gema takbir sudah berkumandang sejak Senin malam, selepas Maghrib. Menandakan takbiran untuk menyambut Idul Adha. Hari ini, hari raya Idul Adha 1434H datang, memberi keberkahan dan kegembiraan bagi seluruh umat muslim.

Selamat merayakan Idul Adha 1434H

Pada tahun ini pula saya mengundurkan diri dari kepanitian Idul Adha. Alasannya karena anak kebetulan sempat sakit dan sempat dirawat di rumah sakit. Daripada harus mengecewakan dan mengabaikan amanah yang sudah diberi, terpaksa saya meminta untuk digantikan oleh orang lain sebagai koordinator bidang konsumsi. Alhamdulillah dikabulkan.

Jadi hari ini saya bisa sholat dengan santai bersama keluarga di masjid dekat rumah. Setelah sholat dan memberi makan anak, saya ikut menemani anak untuk melihat-lihat ke beberapa lokasi masjid. Anak-anak memang sudah sejak kemarin meminta untuk melihat kambing atau sapi yang akan dijadikan hewan qurban. Saya masih belum mengabulkan, dengan alasan mereka harus benar-benar istirahat setelah sakit. Tapi tidak tega juga, akhirnya tadi saya dan suami mengabulkan permintaan anak-anak. Ada empat masjid yang sempat kami datangi, pada Idul Qurban 1434H kali ini. Letaknya tentu berdekatan karena masih di satu wilayah Utan Kayu Selatan.

Pertama masjid Al-Ikhwan yang berada di daerah Kelapa Hijau. Lanjut ke masjid Nururrahmah yang berada di Galur Sari. Masjid ketiga yang kami datangi adalah An-Nursiyah, yang juga beradabdi Galur Sari, hanya berbeda RT saja. Terakhir adalah masjid At-Taubah yang berada di daerah Kincir (Kebon Kelapa).

Dari ke empat masjid yang kami kunjungi ternyata membuat puteri-puteri kami takut dan berteriak minta pulang :D. Padahal dari rumah semangat sekali ingin melihat hewan-hewan qurban itu. Jadi hanya sebentar-sebentar saja kunjungan yang dilakukan. Satu hal yang menarik adalah sekarang ini para pekurban banyak atau lebih senang memilih sapi sebagai hewan qurban. Baik yang dilakukan pribadi (keluarga) maupun yang patungan (gabungan).