Medali Pencapaian Pertama Ikut Lomba Sepeda Virtual

Medali pencapaian ikut lomba sepeda virtual jarak 341,14 km

Alhamdulillah, yang ditunggu-tunggu sejak sepekan lalu datang juga. Tadi siang jelang adzan sholat Jumat. Petugas pengirim paket mengantarkannya selamat sampai ke alamat rumah. Bentuknya kotak kecil layaknya sepucuk surat, cantik dan unik kemasannya. Saat dibuka, sebuah medali pencapaian pertama ikut lomba sepeda virtual ada di tangan. Atas jarak tempuh bersepeda yang berhasil dicapai, yaitu 341,14 kilometer. Nyaris 350 kilometer 😥. 

Ceritanya bermula dari beberapa bulan yang lalu. Di awal ketika masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tahap pertama diberlakukan. Seorang anggota whatsapp group (WaG) yang saya ikuti, menceritakan bahwa dia baru saja menyelesaikan lomba lari virtual. Kala itu hanya terbesit dalam pikiran, pertanyaan-pertanyaan. Memang ada ya lomba lari virtual? Maksudnya apa dan bagaimana? Tapi pertanyaan tersebut berlalu begitu saja. Hampir terlupakan karena berlalunya waktu. Namun ternyata pertanyaan tersebut tidak berhenti di situ. 

Beberapa bulan berselang dan telah memasuki masa PSBB Transisi. Tepatnya pada tanggal 23 Juli 2020, saya berhasil mendapatkan sedikit pencerahan. Dari  whatsapp group ekstrakurikuler dari sekolah anak-anak. Isinya tentu saja nomor ponsel para orangtua dan walinya. Guru olahraga mengirimkan dua selebaran elektronik. Satu selebaran berisi informasi kegiatan lari virtual untuk jarak 5 km dan 10 km. Selebaran berikutnya berisi informasi sepeda virtual untuk jarak 10 km dan 20 km. Keduanya diselenggarakan secara gratisan tanpa biaya. Dilihat dari penulisan wara (copywriting), tujuan penyelenggaranya adalah untuk membahagiakan peserta. Berkat dua selebaran itulah saya jadi tahu maksud lari dan sepeda virtual. Tapi saat itu masih belum tergerak untuk mengikuti salah satu kegiatannya. 

Memang tidak pernah ada sesuatu yang kebetulan dalam hidup ini. Mulai dari yang remeh temeh hingga urusan yang penting. Begitupun dengan kegiatan sepeda virtual ini. Seolah-olah alam menunjuk dan menggerakkan ke arah kegiatan itu. Karena jadi sering melihat selebaran semacamnya. Sampai saya akhirnya tergoda untuk ikutan salah satu, dari dua pilihan. Lari atau sepeda virtual. Berhubung sekarang ini sedang ngetren lagi sepeda di mana-mana dan tidak kuat kalau disuruh lari. Pilihan jatuh ke lomba sepeda virtual. 

Ikut Lomba Sepeda Virtual

Iya betul, saya memang ikut lomba sepeda virtual. Disebut lomba, karena dalam lomba harus ada yang kalah dan menang. Dalam lomba virtual, walau para peserta tidak saling ketemu, tidak bisa melihat berapa banyak lawannya. Tetap peserta akan mendapatkan medali kemenangan. Para peserta memang diharuskan berusaha menjadi pemenang. Karena telah berhasil mengalahkan lawan yang sangat tangguh. Siapa lagi kalau bukan lawannya, kalau bukan diri sendiri. Asal tahu saja mengalahkan diri sendiri bukanlah perkara mudah. Ini serius loh, berat sekali untuk mengalahkan diri sendiri. 

Kemalasan dan rasa bosan adalah lawan-lawan yang tidak kentara. Adanya di dalam diri kita masing-masing. Lawan tidak kentara inilah yang wajib kita tundukan. Sebagai peserta lomba virtual, supaya keluar jadi pemenang. Para pemenang dalam semua lomba virtual disebut finisher. Yaitu orang yang berhasil mencapai garis akhir. Berhak mendapatkan medali pencapaian. Karena berhasil mencapai garis akhir. 

Proses Lomba Sepeda Virtual

Sebelum mendaftar, saya mengajak saudara untuk ikut serta dalam lomba sepeda virtual, sekalian minta untuk dibayari 😅. Biar semakin ramai menjalani lomba virtual tentu menambah semangat. Hingga menyelesaikan lomba hingga garis akhir dalam waktu yang sudah ditentukan. Supaya disebut sebagai peserta, saya mendaftarkan diri secara daring. Setelah memilih akan ikut lomba sepeda virtual dan membayar sejumlah uang pendaftaran. Barulah proses lomba sepeda virtual dimulai, yaitu gowes sepeda. Oh iya, uang pendaftaran yang harus ditransfer pun berbeda jumlahnya. Kalau hanya ingin mendapatkan medali, tiap peserta membayar sebesar Rp119.000,00. Pendaftaran bervariasi ya, ada yang lebih murah atau lebih mahal lagi. Bila ingin memiliki jersey untuk menambah semangat saat menjalani lomba. Tentu ada harga yang harus dibayarkan lagi, sebesar Rp141.000,00. 

Ramadhan Mencerahkan dan Save Kangaroo

Pilihan lomba sepeda virtual sangat banyak, tergantung tema dan penyelenggaranya. Diantara tema yang ada, yaitu Indonesia Merdeka, New Normal, Ride to fight Covid-19, Gajah Sumatera, Ramadhan Mencerahkan, Save Kangaroo, dan lain-lain. Selain itu pilihan jarak tempuh pun bervariasi. Mulai dari jarak 25 km, 50 km, 100 km, 150 km, 300 km, dan 600 km untuk lomba sepeda virtual. Beda lagi untuk jarak tempuh lari virtual, yaitu 5 km, 10 km, 25 km, 50 km, 100 km, dan 200 km. Belum lagi bentuk medalinya yang bagus-bagus, dapat menambah semangat peserta. Terutama bagi pemula seperti kami yang baru pertama kali ikut serta dalam lomba sepeda virtual. Terus terang bentuk dari medali menjadi alasan pertama, saat memilih tema dan penyelenggara lomba. Saya memilih tema lomba Ramadhan Mencerahkan, dengan jarak tempuh yang harus ditaklukan sepanjang 50 kilometer. Sementara Save Kangaroo menjadi pilihan saudara dengan jarak tempuh sepanjang 150 kilometer.  

Gowes Sepeda Virtual

Walau namanya gowes sepeda virtual, tapi pada kenyataannya para peserta tetap harus benar-benar menjalani gowes. Bisa dilakukan menggunakan sepeda statis ataupun sepeda sungguhan di jalan. Jarak lomba yang sudah dipilih harus diselesaikan dalam waktu satu bulan, supaya berhasil mendapatkan medali pencapaian. Bila tidak berhasil diselesaikan, tentu saja medali tidak akan didapatkan. Kebetulan sekali gowes sepeda bukanlah hal baru bagi saya. Jadi tidak terlalu sulit untuk dijalani. Pertama kali gowes sepeda virtual dalam rangka lomba Ramadhan Mencerahkan. Dilakukan pada tanggal 10 Agustus 2020, pada pukul 08.45 pagi dengan tujuan Jl. Mahoni, Kayu Putih. Dengan waktu tempuh 22 menit 28 detik, berhasil gowes dengan jarak sejauh 6,16 kilometer. Lumayan sebagai pemompa semangat, mengawali gowes sepeda virtual. 

Jangan Lupa Gunakan Strava

Supaya penyelenggara tahu dan bukti para peserta memang menjalani lomba virtual. Wajib hukumnya untuk memasang aplikasi strava di ponsel masing-masing. Jarak pencapaian setiap kali gowes akan tercatat di strava dan dapat disetorkan kepada penyelenggara. Cara penyetoran jarak yang berhasil ditempuh, bisa dilakukan secara manual atau otomatis. Tergantung kesiapan dari penyelenggara. Cara manual dengan mengirimkan tangkapan layar strava dari ponsel. Bila penyelenggara sudah memiliki aplikasi sendiri dan sudah terhubung dengan akun peserta di strava. Maka jarak yang berhasil ditempuh akan otomatis tercatat di aplikasi milik penyelenggara. Jadi sebelum gowes jangan lupa gunakan strava, supaya jarak yang berhasil ditempuh tercatat. Saya sendiri pernah punya pengalaman dua atau tiga kali, lupa untuk menggunakan strava. Rasanya tuh gimana gitu. 

Keluar rumah langsung saja gowes, tanpa menggunakan strava. Pernah juga di tengah jalan ponsel mati karena kehabisan daya, jadi jarak tempuh yang dicatatkan tidak sesuai dengan yang sebenarnya berhasil dilalui. Jarak yang tidak tercatat lumayan sekali terlupa menggunakan strava. Ada yang 2 km ada yang 5 kilometer tidak tercatat, terjauh dan paling parah adalah 12 kilometer. Kejadian pada tanggal 21 Agustus 2020 pukul 06.45, pagi itu hanya ditemani oleh nona dan gadis kecil. Rute tempuh dari rumah lewat stasiun Manggarai, Pasar Jangkrik, Pasar Enjo, Pasar Induk Beras Cipinang, RS. Persahabatan. 

Kebetulan saat mendekati RS. Persahabatan, gadis kecil minta istirahat untuk minum. Sambil istirahat dan menunggu anak-anak minum, mengecek sudah berapa kilometer. Baru tersadar kalau belum menggunakan strava untuk mencatat. Sesampainya di rumah tercatat 19,99 kilometer yang berhasil ditempuh. Karena mengejar target, sengaja pagi itu setelah mengantarkan anak-anak pulang, saya melanjutkan gowes sendiri. Penasaran berapa jarak yang hilang karena tidak tercatat, diulang gowes dengan rute sama pada keesokan harinya. Ternyata yang lupa gunakan strava sejauh 12 kilometer. Jadi sebenarnya, hari itu saya berhasil gowes sejauh 31 kilometer lebih. Sebuah rekor pribadi, mendapatkan pencapaian terjauh dalam satu hari. 

Merubah Target Jarak Tempuh

Alhamdulillah, dalam waktu satu bulan akhirnya berhasil menyelesaikan lomba. Dari awal mendaftar lomba sepeda virtual dengan tema Ramadhan Mencerahkan target jarak tempuh 50 kilometer. Berhasil dilalui hanya dalam waktu empat hari saja, pada tanggal 14 Agustus 2020 target tercapai. Saudara yang mengambil jarak 150 kilometer belum tercapai targetnya, meminta saya untuk mengubah target jarak tempuh. Saya pun menghubungi penyelenggara, untuk merubah target jarak tempuh lomba sepeda virtual. Untungnya masih bisa diubah hingga 150 kilometer. Bahkan bisa dilanjutkan terus hingga sekuatnya bisa 300 kilometer atau 600 kilometer. Pilihan jatuh pada target jarak 150 kilometer pertama. Alhamdulillah target pun terpenuhi hanya dalam waktu singkat, yaitu 6 hari saja dari tanggal 15 Agustus 2020 berhasil mencapai target.

Medali Pencapaian Pertama Ikut Lomba Sepeda Virtual

Senangnya, Jumat kemarin berhasil mendapatkan medali pencapaian pertama ikut lomba sepeda virtual. Dengan tema Ramadhan Mencerahkan, target jarak tempuh 300 kilometer. Waktu satu bulan yang diberikan, sebenarnya waktu yang lebih dari cukup untuk menyelesaikannya. Saya saja hanya dalam waktu sepuluh hari berhasil mencapai target 150 kilometer. Itupun diselingi dengan tidak gowes setiap hari karena tidak enak badan. Berarti di atas kertas hitung-hitungannya, untuk target 300 kilometer bisa dicapai dalam waktu dua puluh hari. Alhamdulillah saya berhasil melampaui target 300 kilometer, yaitu 341,14 kilometer. Kurang 8,86 kilometer dari 350 kilometer target pribadi yang ingin dicapai.

Penyebabnya adalah badan yang selama satu bulan kemarin kurang fit. Jadinya sering sekali tidak gowes berhari-hari. Begitulah kondisinya, di tengah-tengah pemberlakuan PSBB di masa virus korona yang masih mengintai siapapun yang lengah. Saya mencoba menjaga kesehatan dan kewarasan, salah satunya dengan berolahraga mengikuti lomba sepeda virtual. Bagaimana dengan anda? 

Gowes Pagi ke Velodrome

Pagi tadi seusai sholat Subuh, kami sekeluarga pun bersiap-siap. Gowes lagi dengan anggota tim komplit. Ayah, bunda, kakak pertama, kakak kedua, dan adek. Masing-masing menggunakan sepedanya sendiri. Kecuali adek yang masih harus dibonceng. Sebenarnya anak lima tahun itu sudah bisa gowes sepeda sendiri. Hanya saja masih geyal-geyol dan belum mengerti bahayanya gowes di jalan. Demi keamanan, tetap dibonceng. Walau dia merengek minta gowes sendiri. 

Seperti beberapa pekan yang sudah kami lalui, gowes bersama ini tanpa rencana. Padahal sudah dari semalam janjian untuk gowes. Tapi jarang sekali menetapkan tujuan akan gowes ke mana. Kecuali saat ingin gowes ke Monas beberapa pekan yang lalu. Memang sudah direncanakan sejak malam. Bahkan sudah sempat diobrolkan sejak beberapa hari sebelumnya dengan anak-anak. Gowes pagi tadi pun sama, yang penting keluar rumah saja dulu. 

Kami gowes pun harus mematuhi protokol kesehatan. Menggunakan masker adalah kewajiban saat melangkahkan kaki keluar rumah. Penyanitasi tangan tidak ketinggalan, selalu menggantung di sepeda. Tidak lupa, botol berisi air untuk minum pun harus selalu dibawa. Setelah lengkap, kami pun mengawali gowes dengan membaca doa. Ini penting sekali, karena memohon perlindungan saat di perjalanan. Tahu sendiri kan, gimana kondisi jalan di Jakarta. Belum lagi perilaku dari para pengendara kendaraan bermotor. Tidak punya aturannya sama sekali. 

Rute gowes dari rumah langsung menuju jalan Ahmad Yani. Kami jalan berurutan, saya yang memimpin. Diikuti kakak pertama, kakak kedua, dan terakhir adalah suami. Pertimbangan saya yang berada di depan, karena ada adek yang bonceng. Jadi harus ada orang yang berada di belakang. Untuk memberitahukan, kalau-kalau adek duduknya miring, kakinya terlalu mepet ke ban, atau mengantuk. Mendekati perempatan lampu merah Rawamangun, saya menghentikan laju sepeda. Bertanya ke suami dan anak-anak, ke mana tujuan gowes kali ini. Saya dan suami berjarak tiga sepeda, belum lagi menggunakan masker. Membuat pembicaraan harus sedikit berteriak. Ditambah bantuan isyarat tangan supaya jelas. 

Suami mengisyaratkan tangannya ke arah kanan. Itu berarti kami akan menuju ke arah jalan Pemuda. Kondisi lalu lintas belum terlalu ramai, tapi kendaraan sudah banyak juga yang melintas. Bahkan kalau masih pagi, banyak yang sembarangan. Mulai dari melanggar lampu lalu lintas, melaju dengan kecepatan tinggi. Membuat jeri untuk melintas dengan menggunakan sepeda. Apalagi dengan anak-anak yang masih berusia di bawah 12 tahun. Kami pun menunggu di depan SPBU setelah lampu lalu lintas. Saat lampu berwarna merah untuk kendaraan yang melintas di jalan Jend. Ahmad Yani. Barulah kami berani menyeberang, menuju lampu merah berikutnya. Yang berada di perempatan jalan Pemuda. 

Gowes Pagi ke Velodrome

Berhasil menyeberang ke jalan Pemuda perjalanan diteruskan, menuju arah Pulogadung. Mendekati Velodrome kami pun sempat berhenti, untuk berembug kembali. Tidak jauh dari replika peti mati lengkap dengan jenazah di atasnya. Diputuskanlah akan gowes pagi ke Velodrome. Dengan catatan, kalau tidak antrean saat memasukinya. Untuk menghindari berkumpul dengan banyak orang dalam satu waktu. Gowes pun dilanjutkan kembali menuju Velodrome. Tinggal belok kiri saja di perempatan. Belum terlalu antre untuk memasuki kawasan saat rombongan kami tiba. 

Pertama Kali Memasuki Kawasan Velodrome 

Ini merupakan kesempatan pertama kali memasuki kawasan Velodrome bagi saya. Setelah dibangun dalam rangka perhelatan Asian Games di Indonesia. Pada tahun 2018 yang lalu, supaya berstandar internasional. Sementara suami dan anak-anak sudah pernah sebelumnya. Kawasan Velodrome sudah tidak asing lagi bagi saya. Dahulu Velodrome merupakan gelanggang olahraga yang berada di Rawamangun. Di dalamnya tersedia kolam renang. Saat masih duduk di sekolah dasar. Pelajaran olahraga renang, diajarkannya di kolam renang Velodrome. Kini namanya berubah menjadi Jakarta International Velodrome. 

Protokol Kesehatan Diterapkan

Protokol kesehatan diterapkan saat memasuki gerbang kawasan Velodrome. Ada petugas yang memeriksa suhu semua orang yang akan melewati gerbang. Selanjutnya diperintahkan untuk mencuci tangan. Menggunakan sabun dan air bersih yang mengalir dari kran. Sudah disediakan wastafel di kanan dan kiri gerbang. Bagi yang membawa penyatisi tangan sendiri, diperbolehkan tidak cuci tangan dengan air. Termasuk kami yang malas antre cuci tangan dengan air kran. Tetap membersihkan tangan, menggunakan cairan penyanitasi tangan sendiri.

Velodrome dan Asian Games

Selesai membersihkan tangan, langsung diarahkan oleh petugas untuk ke jalur sepeda. Tapi kami minta izin untuk berfoto di depan arena stadion Velodrome. Tentu saja kesempatan masuk ke kawasan ini untuk pertama kalinya. Jangan sampai melewatkan sesi foto 😅. Dengan latar belakang arena Jakarta International Velodrome. Sebagai bentuk kebanggan tersendiri. Indonesia memiliki arena sepeda bertaraf internasional. Sudah dipakai dalam ajang bergengsi pula. Apalagi kalau bukan Asian Games 2018 ke-18, yang diselenggarakan di Jakarta dan Palembang. Velodrome dan Asian Games memang tidak bisa dipisahkan. Menjadi sejarah, di mana Velodrome dijadikan arena bersepeda bertaraf internasional. Ajang olahraga bergengsi ini, menjadi salah satu prestasi yang patut dibanggakan oleh kita bangsa Indonesia. 

Fasilitas untuk Pengunjung

Sayangnya, para pengunjung Velodrome tidak diizinkan untuk masuk dan mencoba trek sepedanya. Bisa hancur dalam waktu singkat kalau sampai diizinkan untuk umum 😅. Tahu sendirikan bagaimana perilaku dari bangsa ini. Jadi rombongan kami dan pengunjung lainnya hanya diperbolehkan untuk mengitari arena balap sepeda dari luar. Selain itu pengunjung dapat mempergunakan fasilitas untuk pengunjung lainnya yang disediakan. Ada lapangan basket, trek untuk lari, joging, atau jalan. Para goweser yang lelah bisa juga memarkirkan sepedanya di tempat parkir khusus sepeda. Untuk kenyamanan pengunjung, selain toilet juga disediakan mushollah. Lengkap dengan tempat berwudhunya bagi umat muslim. Buat anda yang ingin melihat dari dekat Velodrome. Langsung saja datang, jangan khawatir dikenai biaya. Karena semuanya gratis untuk umum. 

Tiga kali putaran saja kami mencoba mengitari Velodrome. Ternyata, semakin siang, pengunjung yang ingin masuk semakin banyak. Berarti akan semakin banyak orang yang akan berkumpul. Demi keamanan, kami memutuskan untuk segera keluar. Menghindari kumpulan banyak orang yang ingin berolahraga. Setelah berada di luar gerbang, terlihat antrean pengunjung yang ingin memasuki kawasan Jakarta International Velodrome. Gowes dilanjutkan menuju jalan Bangunan, sempat berhenti sebentar untuk membeli kelapa muda. Melewati jalan H. Ten dan menyeberang menuju jalan Pramuka. Sebenarnya saya masih ingin melanjutkan perjalanan sampai ke Matraman. Sebelum pulang ke rumah, sayangnya gadis kecil sudah kelelahan. 

Perjalanan terpaksa dipangkas, rombongan belok masuk ke jalan Kayumanis. Menyusuri sepanjang rel kereta, sebelum belok lagi menuju rumah. Gowes Ahad pagi ternyata hanya berhasil menempuh jarak 13,84 kilometer saja. Dari target jarak 20 kilometer yang ingin dicapai. Biasanya kalau belum mencapai target 20 kilometer saya akan melanjutkan gowes sendiri. Kali ini tidak dilakukan, mengingat masih memboncengkan putri kecil yang terkantuk-kantuk di belakang sepeda. Mulai di jalan Pramuka dia sudah mulai mengantuk, karena tertiup angin pagi yang sejuk. Sesampainya di rumah langsung segar kembali. Minta izin supaya diperbolehkan main sepeda sendiri 😅.