Medali Pencapaian Pertama Ikut Lomba Sepeda Virtual

Medali pencapaian ikut lomba sepeda virtual jarak 341,14 km

Alhamdulillah, yang ditunggu-tunggu sejak sepekan lalu datang juga. Tadi siang jelang adzan sholat Jumat. Petugas pengirim paket mengantarkannya selamat sampai ke alamat rumah. Bentuknya kotak kecil layaknya sepucuk surat, cantik dan unik kemasannya. Saat dibuka, sebuah medali pencapaian pertama ikut lomba sepeda virtual ada di tangan. Atas jarak tempuh bersepeda yang berhasil dicapai, yaitu 341,14 kilometer. Nyaris 350 kilometer 😥. 

Ceritanya bermula dari beberapa bulan yang lalu. Di awal ketika masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tahap pertama diberlakukan. Seorang anggota whatsapp group (WaG) yang saya ikuti, menceritakan bahwa dia baru saja menyelesaikan lomba lari virtual. Kala itu hanya terbesit dalam pikiran, pertanyaan-pertanyaan. Memang ada ya lomba lari virtual? Maksudnya apa dan bagaimana? Tapi pertanyaan tersebut berlalu begitu saja. Hampir terlupakan karena berlalunya waktu. Namun ternyata pertanyaan tersebut tidak berhenti di situ. 

Beberapa bulan berselang dan telah memasuki masa PSBB Transisi. Tepatnya pada tanggal 23 Juli 2020, saya berhasil mendapatkan sedikit pencerahan. Dari  whatsapp group ekstrakurikuler dari sekolah anak-anak. Isinya tentu saja nomor ponsel para orangtua dan walinya. Guru olahraga mengirimkan dua selebaran elektronik. Satu selebaran berisi informasi kegiatan lari virtual untuk jarak 5 km dan 10 km. Selebaran berikutnya berisi informasi sepeda virtual untuk jarak 10 km dan 20 km. Keduanya diselenggarakan secara gratisan tanpa biaya. Dilihat dari penulisan wara (copywriting), tujuan penyelenggaranya adalah untuk membahagiakan peserta. Berkat dua selebaran itulah saya jadi tahu maksud lari dan sepeda virtual. Tapi saat itu masih belum tergerak untuk mengikuti salah satu kegiatannya. 

Memang tidak pernah ada sesuatu yang kebetulan dalam hidup ini. Mulai dari yang remeh temeh hingga urusan yang penting. Begitupun dengan kegiatan sepeda virtual ini. Seolah-olah alam menunjuk dan menggerakkan ke arah kegiatan itu. Karena jadi sering melihat selebaran semacamnya. Sampai saya akhirnya tergoda untuk ikutan salah satu, dari dua pilihan. Lari atau sepeda virtual. Berhubung sekarang ini sedang ngetren lagi sepeda di mana-mana dan tidak kuat kalau disuruh lari. Pilihan jatuh ke lomba sepeda virtual. 

Ikut Lomba Sepeda Virtual

Iya betul, saya memang ikut lomba sepeda virtual. Disebut lomba, karena dalam lomba harus ada yang kalah dan menang. Dalam lomba virtual, walau para peserta tidak saling ketemu, tidak bisa melihat berapa banyak lawannya. Tetap peserta akan mendapatkan medali kemenangan. Para peserta memang diharuskan berusaha menjadi pemenang. Karena telah berhasil mengalahkan lawan yang sangat tangguh. Siapa lagi kalau bukan lawannya, kalau bukan diri sendiri. Asal tahu saja mengalahkan diri sendiri bukanlah perkara mudah. Ini serius loh, berat sekali untuk mengalahkan diri sendiri. 

Kemalasan dan rasa bosan adalah lawan-lawan yang tidak kentara. Adanya di dalam diri kita masing-masing. Lawan tidak kentara inilah yang wajib kita tundukan. Sebagai peserta lomba virtual, supaya keluar jadi pemenang. Para pemenang dalam semua lomba virtual disebut finisher. Yaitu orang yang berhasil mencapai garis akhir. Berhak mendapatkan medali pencapaian. Karena berhasil mencapai garis akhir. 

Proses Lomba Sepeda Virtual

Sebelum mendaftar, saya mengajak saudara untuk ikut serta dalam lomba sepeda virtual, sekalian minta untuk dibayari 😅. Biar semakin ramai menjalani lomba virtual tentu menambah semangat. Hingga menyelesaikan lomba hingga garis akhir dalam waktu yang sudah ditentukan. Supaya disebut sebagai peserta, saya mendaftarkan diri secara daring. Setelah memilih akan ikut lomba sepeda virtual dan membayar sejumlah uang pendaftaran. Barulah proses lomba sepeda virtual dimulai, yaitu gowes sepeda. Oh iya, uang pendaftaran yang harus ditransfer pun berbeda jumlahnya. Kalau hanya ingin mendapatkan medali, tiap peserta membayar sebesar Rp119.000,00. Pendaftaran bervariasi ya, ada yang lebih murah atau lebih mahal lagi. Bila ingin memiliki jersey untuk menambah semangat saat menjalani lomba. Tentu ada harga yang harus dibayarkan lagi, sebesar Rp141.000,00. 

Ramadhan Mencerahkan dan Save Kangaroo

Pilihan lomba sepeda virtual sangat banyak, tergantung tema dan penyelenggaranya. Diantara tema yang ada, yaitu Indonesia Merdeka, New Normal, Ride to fight Covid-19, Gajah Sumatera, Ramadhan Mencerahkan, Save Kangaroo, dan lain-lain. Selain itu pilihan jarak tempuh pun bervariasi. Mulai dari jarak 25 km, 50 km, 100 km, 150 km, 300 km, dan 600 km untuk lomba sepeda virtual. Beda lagi untuk jarak tempuh lari virtual, yaitu 5 km, 10 km, 25 km, 50 km, 100 km, dan 200 km. Belum lagi bentuk medalinya yang bagus-bagus, dapat menambah semangat peserta. Terutama bagi pemula seperti kami yang baru pertama kali ikut serta dalam lomba sepeda virtual. Terus terang bentuk dari medali menjadi alasan pertama, saat memilih tema dan penyelenggara lomba. Saya memilih tema lomba Ramadhan Mencerahkan, dengan jarak tempuh yang harus ditaklukan sepanjang 50 kilometer. Sementara Save Kangaroo menjadi pilihan saudara dengan jarak tempuh sepanjang 150 kilometer.  

Gowes Sepeda Virtual

Walau namanya gowes sepeda virtual, tapi pada kenyataannya para peserta tetap harus benar-benar menjalani gowes. Bisa dilakukan menggunakan sepeda statis ataupun sepeda sungguhan di jalan. Jarak lomba yang sudah dipilih harus diselesaikan dalam waktu satu bulan, supaya berhasil mendapatkan medali pencapaian. Bila tidak berhasil diselesaikan, tentu saja medali tidak akan didapatkan. Kebetulan sekali gowes sepeda bukanlah hal baru bagi saya. Jadi tidak terlalu sulit untuk dijalani. Pertama kali gowes sepeda virtual dalam rangka lomba Ramadhan Mencerahkan. Dilakukan pada tanggal 10 Agustus 2020, pada pukul 08.45 pagi dengan tujuan Jl. Mahoni, Kayu Putih. Dengan waktu tempuh 22 menit 28 detik, berhasil gowes dengan jarak sejauh 6,16 kilometer. Lumayan sebagai pemompa semangat, mengawali gowes sepeda virtual. 

Jangan Lupa Gunakan Strava

Supaya penyelenggara tahu dan bukti para peserta memang menjalani lomba virtual. Wajib hukumnya untuk memasang aplikasi strava di ponsel masing-masing. Jarak pencapaian setiap kali gowes akan tercatat di strava dan dapat disetorkan kepada penyelenggara. Cara penyetoran jarak yang berhasil ditempuh, bisa dilakukan secara manual atau otomatis. Tergantung kesiapan dari penyelenggara. Cara manual dengan mengirimkan tangkapan layar strava dari ponsel. Bila penyelenggara sudah memiliki aplikasi sendiri dan sudah terhubung dengan akun peserta di strava. Maka jarak yang berhasil ditempuh akan otomatis tercatat di aplikasi milik penyelenggara. Jadi sebelum gowes jangan lupa gunakan strava, supaya jarak yang berhasil ditempuh tercatat. Saya sendiri pernah punya pengalaman dua atau tiga kali, lupa untuk menggunakan strava. Rasanya tuh gimana gitu. 

Keluar rumah langsung saja gowes, tanpa menggunakan strava. Pernah juga di tengah jalan ponsel mati karena kehabisan daya, jadi jarak tempuh yang dicatatkan tidak sesuai dengan yang sebenarnya berhasil dilalui. Jarak yang tidak tercatat lumayan sekali terlupa menggunakan strava. Ada yang 2 km ada yang 5 kilometer tidak tercatat, terjauh dan paling parah adalah 12 kilometer. Kejadian pada tanggal 21 Agustus 2020 pukul 06.45, pagi itu hanya ditemani oleh nona dan gadis kecil. Rute tempuh dari rumah lewat stasiun Manggarai, Pasar Jangkrik, Pasar Enjo, Pasar Induk Beras Cipinang, RS. Persahabatan. 

Kebetulan saat mendekati RS. Persahabatan, gadis kecil minta istirahat untuk minum. Sambil istirahat dan menunggu anak-anak minum, mengecek sudah berapa kilometer. Baru tersadar kalau belum menggunakan strava untuk mencatat. Sesampainya di rumah tercatat 19,99 kilometer yang berhasil ditempuh. Karena mengejar target, sengaja pagi itu setelah mengantarkan anak-anak pulang, saya melanjutkan gowes sendiri. Penasaran berapa jarak yang hilang karena tidak tercatat, diulang gowes dengan rute sama pada keesokan harinya. Ternyata yang lupa gunakan strava sejauh 12 kilometer. Jadi sebenarnya, hari itu saya berhasil gowes sejauh 31 kilometer lebih. Sebuah rekor pribadi, mendapatkan pencapaian terjauh dalam satu hari. 

Merubah Target Jarak Tempuh

Alhamdulillah, dalam waktu satu bulan akhirnya berhasil menyelesaikan lomba. Dari awal mendaftar lomba sepeda virtual dengan tema Ramadhan Mencerahkan target jarak tempuh 50 kilometer. Berhasil dilalui hanya dalam waktu empat hari saja, pada tanggal 14 Agustus 2020 target tercapai. Saudara yang mengambil jarak 150 kilometer belum tercapai targetnya, meminta saya untuk mengubah target jarak tempuh. Saya pun menghubungi penyelenggara, untuk merubah target jarak tempuh lomba sepeda virtual. Untungnya masih bisa diubah hingga 150 kilometer. Bahkan bisa dilanjutkan terus hingga sekuatnya bisa 300 kilometer atau 600 kilometer. Pilihan jatuh pada target jarak 150 kilometer pertama. Alhamdulillah target pun terpenuhi hanya dalam waktu singkat, yaitu 6 hari saja dari tanggal 15 Agustus 2020 berhasil mencapai target.

Medali Pencapaian Pertama Ikut Lomba Sepeda Virtual

Senangnya, Jumat kemarin berhasil mendapatkan medali pencapaian pertama ikut lomba sepeda virtual. Dengan tema Ramadhan Mencerahkan, target jarak tempuh 300 kilometer. Waktu satu bulan yang diberikan, sebenarnya waktu yang lebih dari cukup untuk menyelesaikannya. Saya saja hanya dalam waktu sepuluh hari berhasil mencapai target 150 kilometer. Itupun diselingi dengan tidak gowes setiap hari karena tidak enak badan. Berarti di atas kertas hitung-hitungannya, untuk target 300 kilometer bisa dicapai dalam waktu dua puluh hari. Alhamdulillah saya berhasil melampaui target 300 kilometer, yaitu 341,14 kilometer. Kurang 8,86 kilometer dari 350 kilometer target pribadi yang ingin dicapai.

Penyebabnya adalah badan yang selama satu bulan kemarin kurang fit. Jadinya sering sekali tidak gowes berhari-hari. Begitulah kondisinya, di tengah-tengah pemberlakuan PSBB di masa virus korona yang masih mengintai siapapun yang lengah. Saya mencoba menjaga kesehatan dan kewarasan, salah satunya dengan berolahraga mengikuti lomba sepeda virtual. Bagaimana dengan anda? 

Gowes Pagi ke Velodrome

Pagi tadi seusai sholat Subuh, kami sekeluarga pun bersiap-siap. Gowes lagi dengan anggota tim komplit. Ayah, bunda, kakak pertama, kakak kedua, dan adek. Masing-masing menggunakan sepedanya sendiri. Kecuali adek yang masih harus dibonceng. Sebenarnya anak lima tahun itu sudah bisa gowes sepeda sendiri. Hanya saja masih geyal-geyol dan belum mengerti bahayanya gowes di jalan. Demi keamanan, tetap dibonceng. Walau dia merengek minta gowes sendiri. 

Seperti beberapa pekan yang sudah kami lalui, gowes bersama ini tanpa rencana. Padahal sudah dari semalam janjian untuk gowes. Tapi jarang sekali menetapkan tujuan akan gowes ke mana. Kecuali saat ingin gowes ke Monas beberapa pekan yang lalu. Memang sudah direncanakan sejak malam. Bahkan sudah sempat diobrolkan sejak beberapa hari sebelumnya dengan anak-anak. Gowes pagi tadi pun sama, yang penting keluar rumah saja dulu. 

Kami gowes pun harus mematuhi protokol kesehatan. Menggunakan masker adalah kewajiban saat melangkahkan kaki keluar rumah. Penyanitasi tangan tidak ketinggalan, selalu menggantung di sepeda. Tidak lupa, botol berisi air untuk minum pun harus selalu dibawa. Setelah lengkap, kami pun mengawali gowes dengan membaca doa. Ini penting sekali, karena memohon perlindungan saat di perjalanan. Tahu sendiri kan, gimana kondisi jalan di Jakarta. Belum lagi perilaku dari para pengendara kendaraan bermotor. Tidak punya aturannya sama sekali. 

Rute gowes dari rumah langsung menuju jalan Ahmad Yani. Kami jalan berurutan, saya yang memimpin. Diikuti kakak pertama, kakak kedua, dan terakhir adalah suami. Pertimbangan saya yang berada di depan, karena ada adek yang bonceng. Jadi harus ada orang yang berada di belakang. Untuk memberitahukan, kalau-kalau adek duduknya miring, kakinya terlalu mepet ke ban, atau mengantuk. Mendekati perempatan lampu merah Rawamangun, saya menghentikan laju sepeda. Bertanya ke suami dan anak-anak, ke mana tujuan gowes kali ini. Saya dan suami berjarak tiga sepeda, belum lagi menggunakan masker. Membuat pembicaraan harus sedikit berteriak. Ditambah bantuan isyarat tangan supaya jelas. 

Suami mengisyaratkan tangannya ke arah kanan. Itu berarti kami akan menuju ke arah jalan Pemuda. Kondisi lalu lintas belum terlalu ramai, tapi kendaraan sudah banyak juga yang melintas. Bahkan kalau masih pagi, banyak yang sembarangan. Mulai dari melanggar lampu lalu lintas, melaju dengan kecepatan tinggi. Membuat jeri untuk melintas dengan menggunakan sepeda. Apalagi dengan anak-anak yang masih berusia di bawah 12 tahun. Kami pun menunggu di depan SPBU setelah lampu lalu lintas. Saat lampu berwarna merah untuk kendaraan yang melintas di jalan Jend. Ahmad Yani. Barulah kami berani menyeberang, menuju lampu merah berikutnya. Yang berada di perempatan jalan Pemuda. 

Gowes Pagi ke Velodrome

Berhasil menyeberang ke jalan Pemuda perjalanan diteruskan, menuju arah Pulogadung. Mendekati Velodrome kami pun sempat berhenti, untuk berembug kembali. Tidak jauh dari replika peti mati lengkap dengan jenazah di atasnya. Diputuskanlah akan gowes pagi ke Velodrome. Dengan catatan, kalau tidak antrean saat memasukinya. Untuk menghindari berkumpul dengan banyak orang dalam satu waktu. Gowes pun dilanjutkan kembali menuju Velodrome. Tinggal belok kiri saja di perempatan. Belum terlalu antre untuk memasuki kawasan saat rombongan kami tiba. 

Pertama Kali Memasuki Kawasan Velodrome 

Ini merupakan kesempatan pertama kali memasuki kawasan Velodrome bagi saya. Setelah dibangun dalam rangka perhelatan Asian Games di Indonesia. Pada tahun 2018 yang lalu, supaya berstandar internasional. Sementara suami dan anak-anak sudah pernah sebelumnya. Kawasan Velodrome sudah tidak asing lagi bagi saya. Dahulu Velodrome merupakan gelanggang olahraga yang berada di Rawamangun. Di dalamnya tersedia kolam renang. Saat masih duduk di sekolah dasar. Pelajaran olahraga renang, diajarkannya di kolam renang Velodrome. Kini namanya berubah menjadi Jakarta International Velodrome. 

Protokol Kesehatan Diterapkan

Protokol kesehatan diterapkan saat memasuki gerbang kawasan Velodrome. Ada petugas yang memeriksa suhu semua orang yang akan melewati gerbang. Selanjutnya diperintahkan untuk mencuci tangan. Menggunakan sabun dan air bersih yang mengalir dari kran. Sudah disediakan wastafel di kanan dan kiri gerbang. Bagi yang membawa penyatisi tangan sendiri, diperbolehkan tidak cuci tangan dengan air. Termasuk kami yang malas antre cuci tangan dengan air kran. Tetap membersihkan tangan, menggunakan cairan penyanitasi tangan sendiri.

Velodrome dan Asian Games

Selesai membersihkan tangan, langsung diarahkan oleh petugas untuk ke jalur sepeda. Tapi kami minta izin untuk berfoto di depan arena stadion Velodrome. Tentu saja kesempatan masuk ke kawasan ini untuk pertama kalinya. Jangan sampai melewatkan sesi foto 😅. Dengan latar belakang arena Jakarta International Velodrome. Sebagai bentuk kebanggan tersendiri. Indonesia memiliki arena sepeda bertaraf internasional. Sudah dipakai dalam ajang bergengsi pula. Apalagi kalau bukan Asian Games 2018 ke-18, yang diselenggarakan di Jakarta dan Palembang. Velodrome dan Asian Games memang tidak bisa dipisahkan. Menjadi sejarah, di mana Velodrome dijadikan arena bersepeda bertaraf internasional. Ajang olahraga bergengsi ini, menjadi salah satu prestasi yang patut dibanggakan oleh kita bangsa Indonesia. 

Fasilitas untuk Pengunjung

Sayangnya, para pengunjung Velodrome tidak diizinkan untuk masuk dan mencoba trek sepedanya. Bisa hancur dalam waktu singkat kalau sampai diizinkan untuk umum 😅. Tahu sendirikan bagaimana perilaku dari bangsa ini. Jadi rombongan kami dan pengunjung lainnya hanya diperbolehkan untuk mengitari arena balap sepeda dari luar. Selain itu pengunjung dapat mempergunakan fasilitas untuk pengunjung lainnya yang disediakan. Ada lapangan basket, trek untuk lari, joging, atau jalan. Para goweser yang lelah bisa juga memarkirkan sepedanya di tempat parkir khusus sepeda. Untuk kenyamanan pengunjung, selain toilet juga disediakan mushollah. Lengkap dengan tempat berwudhunya bagi umat muslim. Buat anda yang ingin melihat dari dekat Velodrome. Langsung saja datang, jangan khawatir dikenai biaya. Karena semuanya gratis untuk umum. 

Tiga kali putaran saja kami mencoba mengitari Velodrome. Ternyata, semakin siang, pengunjung yang ingin masuk semakin banyak. Berarti akan semakin banyak orang yang akan berkumpul. Demi keamanan, kami memutuskan untuk segera keluar. Menghindari kumpulan banyak orang yang ingin berolahraga. Setelah berada di luar gerbang, terlihat antrean pengunjung yang ingin memasuki kawasan Jakarta International Velodrome. Gowes dilanjutkan menuju jalan Bangunan, sempat berhenti sebentar untuk membeli kelapa muda. Melewati jalan H. Ten dan menyeberang menuju jalan Pramuka. Sebenarnya saya masih ingin melanjutkan perjalanan sampai ke Matraman. Sebelum pulang ke rumah, sayangnya gadis kecil sudah kelelahan. 

Perjalanan terpaksa dipangkas, rombongan belok masuk ke jalan Kayumanis. Menyusuri sepanjang rel kereta, sebelum belok lagi menuju rumah. Gowes Ahad pagi ternyata hanya berhasil menempuh jarak 13,84 kilometer saja. Dari target jarak 20 kilometer yang ingin dicapai. Biasanya kalau belum mencapai target 20 kilometer saya akan melanjutkan gowes sendiri. Kali ini tidak dilakukan, mengingat masih memboncengkan putri kecil yang terkantuk-kantuk di belakang sepeda. Mulai di jalan Pramuka dia sudah mulai mengantuk, karena tertiup angin pagi yang sejuk. Sesampainya di rumah langsung segar kembali. Minta izin supaya diperbolehkan main sepeda sendiri 😅.

Di Balik Layar Wisuda Virtual

Di tulisan yang sudah tayang pada kiriman sebelumnya, ini dia bedanya pelajar angkatan tahun 2019/2020 dengan sebelumnya. Salah satunya adalah dalam penyelenggaraan wisuda. Untuk tahun ini semua kegiatan wisuda dilakukan secara virtual. Ada rasa sedih yang datang begitu saja, saat mendengar akan ada wisuda virtual. Semua itu dilakukan untuk keselamatan semua orang. Daripada tidak dilakukan wisuda sama sekali, pastinya akan menambah kesedihan. 

Kalau kita tengok sepuluh atau belasan tahun di belakang. Acara wisuda hanya dilakukan oleh para mahasiswa yang telah menyelesaikan kuliahnya. Coba lihat sekarang, acara wisuda sudah dilakukan mulai dari tingkat PAUD. Entah siapa yang mempopulerkannya. Mungkin awalnya, si pencetus ide wisuda anak PAUD. Hanya sebatas lucu-lucuan saja. Tapi ternyata disukai dan dapat diterima oleh banyak orang, karena menghibur. Belum lagi, pada penyelenggaraan wisuda ada nilai ekonomisnya. Dalam arti bisa dijual dan menguntungkan. Bagaimana tidak? Setiap kali ada acara wisuda banyak sekali yang harus disiapkan. Seperti baju toga lengkap, salon, kostum, foto studio, tempat, dekorasi, makanan dan minuman, percetakan, penyelenggara acara, dan sebagainya. Dari persiapan itu semua, ada perputaran uangnya. Dengan nilai yang cukup lumayan, bahkan fantastis. Tergantung konsep acara yang dibuat oleh panitia. Obrolan tentang wisuda di masa pandemi virus korona, tentu tidak jauh-jauh dari wisuda virtual. 

Di Balik Layar Wisuda Virtual SIT Permata Bunda

Sudah tentu terasa bedanya, di wisuda virtual semua terlihat lebih sederhana. Terlihat jelas seremonialnya, karena hiburannya sedikit dan tidak seseru kalau wisuda langsung. Walau begitu, tetap saja ada yang perlu dipersiapkan di balik layar wisuda virtual. Ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan. Seperti terlihat di saat mengikuti geladi bersih yang dilakukan melalui aplikasi pertemuan. Tinggal terhubung jaringan internet dan masuk menggunakan aplikasi pertemuan melalui video. Dalam mempersiapkan wisuda virtual, pihak sekolah memiliki dua pilihan. Pertama, menyelenggarakan dan mempersiapkan sendiri wisuda virtualnya. Atau kedua, menggunakan jasa penyelenggara acara. Pilihannya sangat tergantung dari kemampuan sumber daya dari sekolah, dalam mengelola wisuda virtual. Selain itu, kembali lagi balik ke masalah dana dan anggaran yang disediakan.  

Dibalik layar wisuda virtual SIT Permata Bunda

Pelepasan siswa-siswi SIT Permata Bunda kali ini diselenggarakan secara virtual. Tunggu sebentar, kenapa sekarang istilahnya diganti pakai wisuda virtual ya? Mungkin pihak sekolah bingung, mau pakai istilah yang mana. Pelepasan virtual atau wisuda virtual. Biasanya untuk penyelenggaraan wisuda, pihak sekolah menggunakan sebutan pelepasan. Kali ini mungkin dibuat sama dengan yang lainnya, jadi disebut wisuda virtual. Tapi kok kalau dilihat di akun media sosialnya, pihak sekolah atau adminnya. Tidak menggunakan satu istilah, di video pertama menggunakan istilah pelepasan. Di video berikutnya menggunakan istilah wisuda. Ini membuat bingung dan tidak selaras. Seharusnya sih tidak perlu mengekor yang lain. Kalau dari awal menggunakan istilah pelepasan, ya terus sampai kiamat menggunakan pelepasan. Dengan menggunakan satu istilah, menurut saya malah menguatkan penjenamaan (branding) dari sekolah. Kalau pelepasan itu istilah yang digunakan oleh SIT Permata Bunda untuk wisuda siswa-siswinya. Beda dari yang lain itu keren. Baiklah semoga bisa jadi pembelajaran buat saya dan juga anda, dalam hal ingin menguatkan jenama (merek = brand). 

Karena tidak ada kekonsistenan dalam penggunaan istilah pelepasan yang digunakan pada tahun ini. Maka di tulisan ini, saya menggunakan istilah wisuda virtual SIT Permata Bunda. Sepengetahuan saya, proses persiapannya tidak terlalu lama, kurang lebih hanya sebulan. Mulai dari dihubungi oleh penyelenggara acara sampai dengan hari pelaksanaan wisuda virtualnya, pada Ahad 28 Juni 2020. Ada beberapa kegiatan yang dipersiapkan di balik layar wisuda virtual SIT Permata Bunda. Sama seperti acara pelepasan di dunia nyata, wisuda virtual juga butuh kerja sama dari orangtua. Tidak hanya siswa dan sekolah yang terlibat, tapi ada banyak pihak yang terlibat. 

Pengisi Acara

Di balik layar wisuda virtual SIT Permata Bunda, ada beberapa kegiatan yang perlu dipersiapkan, antara lain pengisi acara. Sama seperti biasanya, pengisi acara ditampilkan sebagai hiburan. Serta unjuk kebolehan dari adik-adik kelas. Mulai dari tingkat taman bermain, taman kanak-kanak, sampai sekolah dasar.  Bedanya kali ini para pengisi acara, mengisi acara di wisuda virtual dari rumah. Karena tidak bertemu langsung, maka pengisi acara melakukan rekaman di rumah masing-masing. Tergantung dapat tugas mengisi acara apa. Ada yang menyanyi, menari, bermain piano, membaca puisi, dan sebagainya. Ada peran orangtua membantu, mengarahkan dan merekam akting anak sampai menjadi video. Dari rekaman masing-masing anak, barulah pihak sekolah mengolah dan mengkompilasinya menjadi satu video secara utuh. Eh, bukan tugas sekolah tapi sudah menjadi tugas dari penyelenggara acara. Selanjutnya baru ditampilkan saat wisuda virtual sedang berlangsung. 

Pihak sekolah melalui gurunya, memberikan petunjuk berupa video sebagai contoh gerakan. Serta lirik dari lagu yang harus dinyanyikan sambil menari. Untuk Putri Kecil yang masih duduk di TK-A, mendapatkan dua tugas bernyanyi dan menari. Diiringi lagu Aku Bangga jadi Anak Indonesia dan Bismillah (Nisa Sabyan). Putri Kecil senangnya bukan main, saat mendapatkan tugas dan tahu kalau akan direkam. Kebetulan untuk lagu Bismillah sudah 80 persen sudah hafal. Karena sering bernyanyi bersama kakak-kakaknya. Tinggal melancarkan lagi dan menghafalkan lagu yang satunya lagi. Hanya butuh dua hari untuk latihan menghafal lagu dan gerak tarinya. Saya minta bantuan Nona Kecil dan Gadis Kecil untuk membimbing adiknya menghafalkan. 

Rekaman dilakukan malam hari dengan kostum yang sudah ditentukan. Untungnya sudah ada di rumah dan tidak perlu sewa atau beli kostum. Hanya menggunakan Atasan warna merah dan jilbab putih saat menyanyi dan menarikan lagu Aku Bangga Jadi Anak Indonesia. Untuk lagu Bismillah, menggunakan gamis putih dilengkapi dengan jilbab merah. Namanya juga anak-anak, saya masih harus mengambil hatinya supaya tidak mutung saat direkam. Alhamdulillah, kegiatan rekam merekam lancar. Walau harus dua kali perekaman untuk masing-masing lagu, adek masih mau melakukannya. 

Cara merekamnya tentu saja menggunakan kamera ponsel. Berhubung Putri Kecil masih belum hafal semua gerakannya. Saya menyiapkan laptop untuk memutar video contoh gerakan yang diperagakan oleh guru-gurunya. Bantuan dari Nona Kecil dan Gadis Kecil cukup besar. Selain membantu menghafal lagu dan gerakan tari, mereka juga ikut berakting menari. Masing-masing berada di posisi depan dan samping adiknya. Tujuannya untuk menyemangati, membuat berani, dan menumbuhkan percaya diri Putri Kecil. Setelah masing-masing sudah siap dan berada di posisinya. Selesai diberi aba-aba, Putri Kecil langsung bernyanyi dan bergaya mengikuti video yang diputar. Saya pun segera merekam aktingnya. 

Wisudawan 

Jauh hari sebelum pandemi virus korona, panitia dan orangtua acara wisuda biasanya sudah mulai bergerak. Menyiapkan apa saja yang perlu dilakukan untuk buku tahunan dan wisuda. Dua kegiatan tersebut tidak dapat dipisahkan. Tahun ini mungkin hanya bisa mempersiapkan buku tahunan. Maksudnya untuk foto-foto dan perekaman video, entahlah tergantung panitia masing-masing sih. Apakah sudah sempat melakukannya jauh hari sebelum pandemi atau belum. Kalau belum, maka nasibnya akan sama seperti wisuda. Biasanya para wisudawan akan dipersiapkan dengan berbagai macam kostum, tergantung pilihan dari pihak sekolah dan panitianya. Ada sekolah yang meminjamkan kostum wisuda, karena sudah memilikinya sendiri ada yang sewa. 

Kali ini para wisudawan tetap berada di rumah untuk melakukan seremoni wisuda. Hanya beberapa siswa saja yang hadir ke sekolah sebagai perwakilan. Yang menggunakan kostum lengkap untuk acara wisuda. Walau wisuda virtual, tetap ada pengalungan medali dan tanda kelulusan kepada seluruh siswa. Bedanya perwakilan wisudawan yang hadir di sekolah dikalungkan oleh Direktur dan Kepala Sekolah. Sementara untuk wisudawan lainnya, yang mengikuti seremoni wisuda dari rumah. Dikalungkan medali dan tanda kelulusan oleh orangtuanya masing-masing. 

Penyelenggara Acara

Di balik layar wisuda virtual SIT Permata Bunda, ada pihak penyelenggara acara yang digunakan jasanya. Untuk membantu kelancaran proses acara wisuda virtual. Bagi anda yang ingin menggunakan jasa penyelenggara acara seperti ini harus benar-benar diperhatikan ya. Dari pengalaman wisuda virtual kemarin ada beberapa hal yang membuat kecewa. Diantaranya adalah dalam pembuatan kelengkapan wisuda. Tidak seperti yang diharapkan kualitasnya. Masalah desain dan penggunaan musik. Desain memang masalah selera, tapi kalau sudah menggunakan jasa penyelenggara acara. Harapannya adalah mendapatkan desain yang bagus dan melebihi harapan. Jangan sampai desain yang diberikan oleh penyelenggara jasa tidak sesuai selera. Karena biasa saja, kalau tidak mau dibilang jelek. Belum lagi masalah musik yang digunakan. Ini harus diingatkan benar-benar, jangan sampai menggunakan musik yang melanggar hak cipta.

Perlu Tidak Sih Ikut Rapid Test?

Sehat yuk sehat. Semoga kita semua dalam keadaan sehat. Sekarang sudah mulai memasuki masa peralihan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Tetap harus waspada ya, bila ingin melakukan aktivitas di luar rumah. Sebisa mungkin mengurangi kegiatan ke luar. Apalagi sampai melakukan kegiatan berkumpul dengan orang banyak. Lebih baik jangan dulu. Tapi mau gimana ya, susah juga kalau harus di rumah terus. Kegiatan banyak yang tertunda dan batal. Roda perekonomian tidak jalan. 

Satu-satunya jalan adalah selalu waspada. Di manapun dan kapan pun. Jangan pernah meremehkan apalagi sampai mengabaikan pandemi virus covid-19 ini. Bagi anda yang ingin keluar rumah harus selalu melakukan protokol kesehatan. Ribet, iya begitu deh. Tapi sebenarnya tidak ribet sih. Buat anda yang sudah bersihan, melakukan protokol kesehatan biasa saja. Nah, buat anda yang selama ini agak jorok. Perlu sedikit usaha, pasti akan terbiasa juga pada akhirnya. 

Gunakan Masker

Selama masih dalam kondisi pandemi, keluar rumah harus pakai masker. Walau keluar hanya untuk beli gula ke warung tetangga. Jangan sekali-kali tidak memakai masker. Selain nanti akan dikenakan sanksi sosial oleh Satpol PP. Menggunakan masker sebagai antisipasi supaya tidak terkena cipratan liur dari orang lain.

Cuci Tangan

Sediakan sabun di depan pagar rumah atau di depan pintu, bila memungkinkan. Jadi memudahkan siapapun yang ingin masuk ke rumah sudah mencuci tangannya. Sebelum pandemi, kegiatan cuci tangan setelah dari bepergian. Sudah menjadi kebiasaan di keluarga kami. Tapi biasanya tidak menggunakan sabun. Kini kebiasaan menjadi berubah sedikit. Cuci tangannya harus menggunakan sabun. Dalam perjalanan sebaiknya bawalah penyanitasi tangan. Bisa juga diganti dengan tisu basah. Untuk yang satu ini, masih  menjadi pekerjaan rumah buat saya. Karena sering lupa untuk membawanya. 

Mandi Bersih

Tidak cukup dengan cuci tangan. Baiknya langsung mandi bersih. Termasuk di dalamnya, rambut dicuci menggunakan sampo. Sebelum bercengkrama dengan keluarga di rumah. Apalagi sampai duduk lebih dulu. Nah, untuk yang satu ini saya pernah kena marah 😁. Karena habis pergi tidak langsung mandi bersih. Di sinilah perlunya saling mengingatkan dan saling menjaga.

Tidak Keluar Rumah 

Seperti sudah saya tuliskan di atas, sebaiknya mengurangi kegiatan di luar rumah. Tidak keluar rumah bila sedang sakit, menjadi tindakan yang bijak untuk dilakukan. Sebab saat sakit, berarti tubuh kita sedang rendah atau tidak memiliki imunitas. Kondisi tersebut akan memudahkan berbagai bibit penyakit untuk mendekat. Termasuk salah satunya virus korona.

Perlu Tidak Sih Ikut Rapid Test

Perlu tidak sih ikut rapid test? Apalagi sekarang lagi ramai dibicarakan. Eits tunggu dulu, jangan suka latah ikut-ikutan. Tidak semua orang perlu melakukan rapid test (tes cepat). Tes dilakukan sebagai upaya pencegahan dari kemungkinan tertular. Hanya orang yang beresiko tertular yang harus melakukan tes. Yaitu yang pernah kontak langsung dengan penderita sakit akibat virus korona. Pernah berkunjung ke negara yang memiliki penularan covid-19 tinggi. Atau memiliki gejala penyakit seperti demam tinggi dan mengalami gangguan pada sistem pernafasannya. Kalau anda memiliki dana berlebih tidak dilarang melakukan rapid test. Hitung-hitung membantu upaya pemerintah menekan peningkatan penularan virus korona. 

Sekarang sudah banyak rumah sakit yang memberikan pelayanan rapid test. Bila tidak ingin antre di rumah sakit. Anda dapat menggunakan aplikasi Halodoc, untuk membuat janji melakukan rapid test. Beberapa rumah sakit sudah bekerja sama dengan Halodoc. Jadi anda akan lebih mudah memilih rumah sakit langganan yang akan dituju. Halodoc adalah satu aplikasi kesehatan yang akan membantu kebutuhan anda. Dalam mengakses layanan kesehatan. Baik layanan untuk ke dokter, rumah sakit, atau apotik. Jangan khawatir tentang kerahasiaan, pastinya sistem Halodoc akan menjaganya dengan baik. 

Paling penting dari semua tindakan pencegahan supaya tidak tertular virus korona adalah dengan menjaga kesehatan kita dan keluarga. Salah satunya dengan berolahraga. Tapi kalimat terakhir itu pengingat buat saya juga. Karena termasuk orang yang malas bergerak. Baru satu kali berolahraga, semenjak adanya pandemi virus korona. Yaitu jalan santai berdua suami, lumayan jaraknya 5,7 kilometer. Masih punya mimpi untuk bisa gowes sepeda lagi bersama anak-anak. Jangan lupa untuk terus saling mengingatkan dan saling menjaga.

5 Manfaat Bersepeda Bagi Tubuh

Kalau ada yang tanya kapan terakhir kali olahraga? pasti saya jawab pekan lalu. Tapi jangan dibayangkan kalau olahraga yang saya lakukan adalah olahraga berat. Eits sebentar, mau meluruskan dulu nih. Yang menjadi olahraga berat versi saya, semisal: lari dan senam aerobik. Karena kedua olahraga tersebut sama sekali tidak sanggup saya lakukan. Bisa-bisa pingsan duluan 😁. Lari jelas, nafas tidak kuat. Kalau aerobik, saya tidak sanggup mengikuti gerakannya. Makanya daripada menghindari, jadi saya pilih saja jenis olahraga yang pas di hati. Pilihannya jatuh pada bersepeda. Sudah sejak kecil, bersepeda menjadi kegemaran saya. Sejak SD sering bermain dengan sepeda pinjaman milik tetangga ataupun kakak sepupu. Nasib, tidak pernah dibelikan sepeda oleh ibu. 

Hingga sekarang saya masih senang bersepeda. Walau tidak rutin, tapi pernah bersepeda. Yang dekat-dekat selain jalan kaki, saya lakukan dengan bersepeda. Dilakukan bersama anak-anak dan juga teman. Catatan terbaik dan terjauh bersepeda kami baru sampai monas. Dua tahun lalu, saya, seorang teman, nona, dan gadis kecil menuju puncak tugu monas dengan gowes sepeda. Bisa mengajak anak-anak bersepeda sampai monas prestasi tersendiri buat saya. Tahu sendirikan jalanan ibukota seperti apa ramai dan padatnya. Itu pun tidak tiba-tiba langsung ke monas dengan sepeda. Bisa gempor anak-anak. Perlu ada pengenalan dan latihan bersepeda dulu. Beberapa kali saya ajak bersepeda dengan rute yang pendek. Sependek-pendeknya kurang lebih 5 kilometer, terus diulang. Sampai anak-anak merasa senang, menikmati, dan sudah mulai kuat. Barulah saya berani memberi tantangan lebih kepada mereka.

Manfaat Bersepeda

Pilihan saya untuk berolahraga sepeda ternyata tidak salah. Selain karena olahraga yang murah, mudah, dan bugar, berikut ini beberapa manfaat bersepeda bagi tubuh yang bisa anda rasakan:

Menjaga Berat Badan 

Bermanfaat nih buat anda yang saat ini sedang melaksanakan program diet. Dengan olahraga yang bisa dilakukan dengan santai, yaitu bersepeda. Bersepeda termasuk salah satu jenis olahraga kardio. Maksudnya olahraga yang dapat meningkatkan detak jantung yang tersusun dari otot-otot. Otot jantung yang kuat dapat mempermudah pembuluh darah mengalirkan darah. Sehingga oksigen yang dialirkan ke dalam sel-sel otot lebih banyak. Yang memungkinkan sel untuk membakar lemak lebih banyak. Gimana, tertarik untuk bersepeda?

Meningkatkan kekuatan Otot, Sendi, dan Tulang

Lutut, pergelangan kaki, pergelangan tangan, sikut adalah beberapa sendi yang ikut bergerak saat bersepeda. Dengan sering bersepeda maka sendi dan otot tersebut dapat menjadi lebih terlatih dan kuat. Bersepeda juga sebagai latihan ringan bagi lansia yang sering bermasalah dengan tulang

Menumbuhkan jalinan pertemanan

Tidak terhitung banyaknya komunitas bersepeda, salah satunya adalah komunitas sepeda ontel. Yang beberapa tahun belakangan menjadi marak setelah sepeda ontel mulai dipopulerkan lagi. Ikut dalam komunitas maka akan menumbuhkan jalinan pertemanan dari orang-orang yang memiliki hobi yang sama

Menambah keakraban dengan keluarga

Bagi anda yang sibuk dan jarang ketemu keluarga bahkan untuk olahraga. Kegiatan bersepeda bersama anak dan keluarga sangat bermanfaat. Selain untuk kesehatan, tentu dapat mengakrabkan hubungan. Baik dengan anak, istri, atau suami. Anak-anak akan sangat senang bersepeda dengan ayah atau bundanya. Awas mereka jadi ketagihan

Meningkatkan kemampuan seks

Menurut ahli urologi, dengan bersepeda akan meningkatkan kemampuan seks seseorang. Mengingat semua otot yang dipergunakan saat bersepeda, juga otot yang sama dipergunakan saat melakukan hubungan seks

Walau tidak pernah dibelikan sepeda, tapi saya tetap bisa mengendarai sepeda. Kalau diingat lagi, proses belajarnya pun lumayan unik. Saking kepinginnya bisa mengendarai sepeda sendiri. Sepeda yang suka dipakai om di rumah, sering saya tuntun-tuntun. Kebiasaan menuntun sepeda sepertinya dimulai kelas 1 SD, kalau tidak salah mengingat. Padahal sepeda yang ibu belikan untuk adiknya itu cukup besar ukurannya. Yup, sepeda ontel yang sering saya tuntun di lapangan atau di jalan. Kebayangkan, kalau lebih besar sepedanya daripada orang yang menuntunnya. Masih kecil, saya jadi belum paham kenapa ibu membelikan sepeda ontel buat om. Mungkin saat itu, tahun 80-an awal, sepeda ontel masih banyak dipergunakan di Jakarta. Atau memang di zaman itu belum keluar model lainnya seperti BMX atau sepeda balap. 

Belajar Mengendarai Sepeda

Menuntun sepeda, menjadi awal proses belajar mengendarai sepeda yang saya lakukan. Sampai dengan kelas 3 barulah saya belajar mengendarai sepeda sesungguhnya. Masih tetap dengan meminjam sepeda milik tetangga. Itupun belajarnya diam-diam, tanpa sepengetahun ibu. Diajari oleh teman atau om sendiri. Proses belajarnya tentu ada jatuh bangunnya. Masih belum lancar, jadi sempat kecebur got sebanyak 3 kali, hingga lancar benar-benar. Pertama, karena memang belum bisa sama sekali. Baru tahap belajar. Benar-benar kecebur got sampai basah. 

Kedua, saat masih belum lancar tapi sudah berani boncengin teman, si pemilik sepeda. Akibat menghindari mobil yang datang dari arah berlawanan. Sementara saya masih bingung bagaimana cara menggunakan rem untuk berhenti 😂. Tidak sampai kecebur di got, karena terganjal oleh tembok yang tertabrak. Hasilnya bibir bagian atas jontor, terbentur tembok. Saya tidak ingat apakah ada kerusakan pada sepeda dan bagaimana penyelesaiannya. 

Kecebur got yang terakhir yang terparah. Pada saat itu, sebenarnya saya sudah mulai lancar. Entah kenapa, saat tikungan saya bisa nyemplung di got. Celakanya, saya nyebur di got yang dalam sekali untuk ukuran tubuh anak kelas 3 SD. Alhasil, dari ujung kepala sampai kaki semua basah kena air got. Tau sendiri dong air got yang ada di Jakarta seperti apa. Air sedikit berlumpur, berwarna hitam pekat, dan sudah pasti berbau. Kejadian rincinya saya tidak ingat, apakah naik sepeda sendiri, memboncengi teman, atau bagaimana. Siapa yang menolong saya keluar dari got dan bagaimana kondisi sepeda milik teman. 

Dari 3 kejadian kecebur got saat belajar mengendarai sepeda. Sampai saat ini saya tidak ingat kalau pernah dimarahi ibu. Atas apa yang saya perbuat untuk bisa mengendarai sepeda. Tidak tahu juga, apakah ada ganti rugi yang harus ibu berikan. Kepada tetangga yang sepedanya saya pinjam. Yang jelas, biarpun sudah beberapa kali “kecelakaan” dengan sepedanya. Tetap saja kalau meminjam lagi selalu diberi dan dipinjamkan. Hubungan antar dua keluarga sebagai tetangga juga tetap baik. Sampai mereka pindah rumah ke Lampung. Terima kasih ya bude dan pakde sudah mengizinkan saya pakai sepedanya. 

Incoming search terms:

  • anak kecil main sepeda kecebur got

Manasik Haji Siswa TK se Jakarta Timur

Sudah hari Jumat saja, semoga kita semua mendapatkan keberkahan di hari ini, Aamiin. Senin kemarin tanggal 14 Oktober 2019 saya berkesempatan ikut mengantar rombongan anak-anak taman kanak kanak. Ke Asrama Haji di Pondok Gede untuk mengikuti rangkaian acara manasik haji siswa TK se Jakarta Timur. Kebetulan sekali kali ini bisa ikutan. Karena biasanya kalau ada kegiatan apapun di sekolah anak, orangtuanya tidak diperkenankan ikut. Senin kemarin, dimintai tolong untuk menjadi supir mengantar sampai ke Asrama Haji, jadi saya ikut. Lumayan bayarannya 😅😅.

Hari Kamis atau Jumat pekan sebelumnya ada pemberitahuan di grup kelas, kalau seluruh murid TK A dan B akan mengikuti acara manasik haji. Di pengumuman ditulis harus kumpul di sekolah pukul 05.00 pagi. Beneran deh itu pengumuman, bikin deg degan. Sanksi juga sih apa iya anak-anak TK bisa disuruh kumpul jam 05.00 pagi hehe. Soalnya adek termasuk yang agak sulit dibangunkan dan mandi pagi-pagi. Makanya saya sudah sosialisasikan soal keberangkatan pagi ini ke anaknya langsung. Sekaligus memintanya untuk bangun pagi pukul 04.00 untuk persiapan di hari Senin. Alhamdulillah adek mengerti dan mau bekerja sama.

Betul saja di Senin pagi kurang lebih pukul 04.00 adek sudah saya bangunkan untuk bersiap-siap. Pada awalnya sih seperti biasanya, ada rengekan dan penolakan. Tapi saat dibilang “kan adek mau manasik haji…” dia mau mengerti dan bisa bekerja sama. Mandi pagi tanpa air hangat dan memakai baju seragam hari Jumatnya yang kebetulan berwarna putih putih. Selesai sarapan pagi dan berkemas, pukul 05.10 diantar suami kami pun segera menuju sekolah. Agak telat kalau sesuai pengumuman. Ternyata saat sampai di sekolah adek menjadi murid yang pertama kali datang. Yeay adek keren.

Adek ikut dalam rombongan mobil yang diberangkatkan pertama kali pada pukul 05.40 bersama teman-teman dan gurunya. Keseluruhan ada empat mobil yang membawa rombongan anak anak TKIT sekolah Permata Bunda. Rombongan sampai sekitar pukul 06.50 pagi di Asrama Haji Pondok Gede. Dari parkiran anak-anak yang sudah siap dengan pakaian ihromnya dibariskan untuk memasuki area manasik. Sudah banyak juga peserta dari sekolah taman kanak kanak lainnya. Semua peserta, pembimbing (guru), dan pengantar (orangtua) manasik haji siswa TK di Pondok Gede. Diwajibkan menggunakan tanda pengenal yang sudah ditentukan dan pakaian serba putih. Dijamin tidak diperbolehkan masuk, bila ada yang menggunakan warna lain.

Dari termpat parkir menuju tempat penyelenggaraan manasik, terlihat panitianya kurang sigap menyambut para peserta cilik dan gurunya. Tidak ada petunjuk harus kemana dan melalui mananya. Hanya ada beberapa petugas tapi itupun tidak mengarahkan kemana arahnya. Kami hanya disuruh masuk saja dan mengikuti arus peserta yang lainnya. Saya yang baru pertama kali ikut kegiatan manasik haji untuk anak, jadi sedikit bingung 😁. Tapi mau gimana lagi, ya ikuti arus saja ke mana jalannya.

Manasik Haji Siswa TK se Jakarta Timur

Ternyata kami menuju sebuah masjid, tapi saya kok tidak melihat nama masjidnya ya. Tidak ngeh sepertinya, karena asik membantu ibu guru mengabadikan kegiatan anak-anak. Masjid yang bernama Al-Mabrur menjadi area manasik haji siswa TK se Jakarta Timur. Peserta manasik haji masih harus mengantre di depan area masjid, karena acara manasik ini belum resmi dibuka. Setelah seremoni peresmian acara, maka masing-masing rombongan TK yang dianggap satu keloter jamaah. Mulai memasuki halaman masjid yang begitu luas. Setiap sekolah akan diberikan bendera kecil berwarna hijau yang bertuliskan nomor keloternya. Rombongan siswa sekolah Islam terpadu Permata Bunda mendapat nomor keloter 15.

Manasik haji siswa TK se Jakarta Timur

Ternyata acara manasik haji ini diberikan penilaian oleh panitia, entah apakah dilombakan atau tidak. Dimulai dari tenda yang digunakan sebagai tempat seremoni peresmian acara. Tiap barisan dicatat asal sekolahnya dan diminta untuk berbaris yang rapi. Selanjutnya proses manasik haji dimulai. Layaknya jemaah haji sungguhan, para peserta yang sudah mengenakan kain ihrom dari rumah melewati padang Arofah menuju masjid Al-Mabrur yang dianggap sebagai Masjidil Haram. Di dalam masjid rombongan anak anak ini dipisahkan shafnya, muslim berada di barisan kiri sementara muslimah berada di barisan kanan. Setelah rapi duduk semua, mereka kemudian dibimbing untuk melakukan sholat Subuh (ceritanya masih waktu Subuh). Dipimpin oleh seorang imam, anak-anak peserta manasik menjadi makmumnya. Mengikuti gerakan imam sesuai urutan sholat Subuh dalam shaf shafnya. Saking banyaknya rombongan peserta, kegiatan sholat Subuh harus dibagi menjadi beberapa kali penyelenggaraan. Karena masjid tidak menampung jumlah jamaah manasik haji siswa TK se Jakarta Timur.

Sholat Subuh berjamaah di Masjid Al Mabrur

Informasi bagi para guru dan orangtua yang akan mengikuti manasik haji siswa TK di Pondok Gede, sebaiknya siapkan kantong plastik. Berfungsi untuk menyimpan sepatu atau sendal anak-anak saat memasuki masjid, supaya tidak tertukar atau berebutan saat keluar.

Melempar jumroh manasik haji siswa TK

Selesai sholat, jamaah manasik haji kemudian diarahkan untuk melempar jumroh. Tentunya batu kecil yang digunakan bukan sungguhan, melainkan bola-bola kecil terbuat dari kertas koran. Yang sudah dihancurkan dengan air dan sedikit sagu supaya melekat saat dibentuk. Jamaah kecil peserta manasik pun dengan semangat mengikuti arahan untuk melemparkan kerikil kerikil kecil itu. Selesai melempar jumroh, giliran yang ditunggu tunggu oleh para jamaah. Baik yang baru belajar maupun para jemaah haji sungguhan, yaitu melihat ka’bah dan memutarinya sebanyak 7 kali. Karena ini baru belajar, maka tawaf mengelilingi replika ka’bahnya pun hanya satu kali saja, itupun harus antre. Para jemaah manasik haji siswa TK pun sempat melakukan doa di depan makam Ibrahim dipandu oleh seorang petugas.

Jalur sa'i manasik haji siswa TK

Jemaah manasik haji dari SIT Permata Bunda pun melanjutkan perjalanannya ke bukit shafa dan Marwa. Dari bukit Shafa menuju ke bukit Marwa anak-anak pun diajarkan gerakan sa’i. Yaitu berlari lari kecil di dalam sebuah jalur khusus sa’i, layaknya di tanah haram Mekah. Selesai mendaki replika bukit marwah tidak lupa seluruh jamaah manasik haji melakukan tahalul, yaitu memotong sedikit rambutnya. Dengan dilakukan tahalul, maka selesai sudah rangkaian acara manasik haji yang diikuti oleh anak-anak sekolah Permata Bunda. Keseluruhan kegiatan ini menghabiskan waktu tiga jam lamanya, yaitu mulai pukul 07.00 selesai pukul 10.00 pagi.

Kesan mengikuti acara manasik haji siswa TKIT Permata Bunda adalah rame, lucu, dan gemesin. Ternyata anak-anak itu kalau tidak ada orangtuanya mandiri loh. Hanya dengan gurunya saja nurut dan mau mengikuti semua arahan. Ya ada juga sih anak yang tidak bisa diam dan heboh sendiri. Pokoknya semangat belajar dan mengenal ajaran agamamu ya nak.

Suasana di Asrama Haji Pondok Gede saat ada manasik haji siswa TK, terlihat mirip dengan yang sesungguhnya. Selesai para jamaah mengikuti manasik akan disambut oleh para pedagang. Jadi bagi para orangtua yang ikut siap-siap anaknya minta jajan ya 😁. Ada yang membuka foto studio dengan replika unta. Sekali foto menaiki unta akan dikenai biaya 25 ribu rupiah, hasil cetakan foto bisa langsung jadi. Dapat diambil di tempat terpisah, menuju pintu keluar. Selain sebagai aksesoris foto, unta dalam bentuk boneka dengan berbagai ukuran juga ada dijual. Pedagang kurma, kacang arab, dan kismis pun banyak yang mencoba peruntungannya berdagang di area Asrama Haji Pondok Gede. Kalau di tempat perkir jangan ditanya, akan lebih banyak ditemui pedagang dengan aneka jualannya. 

Gerai foto dengan unta

Pedagang kurma, kacang arab, dan kismis di manasik haji siswa TK