Reuni Akbar 212 Memang Ajang Reuni Sesungguhnya

Peserta reuni akbar 212 di Monas 2018

Sudah mulai adem badan ini, setelah sebelumnya kepanasan dan kegerahan. Baru pulang dari Monas jelang dzuhur, sampai rumah tidak kuat langsung sholat. Khawatir nanti tumit pecah-pecah kulitnya. Jadi sebelum membut postingan ini ngadem dulu di kamar anak.

Iya, hari ini saya ikut datang ke acara reuni akbar 212 di Monas. Acara pagi hingga sore hari tadi merupakan reunian yang kedua yang diselenggarakan oleh umat Islam. Alhamdulillah acaranya lancar dan sukses, mulai dari Sabtu malam sampai Ahad. Berduyun-duyun umat Islam datang dari segala penjuru Indonesia bahkan dari luar negeri. Dengan satu tujuan untuk berkumpul, bereuni, dan merapatkan barisan. Peserta yang hadir reunian bukan hanya sesama muslim tapi juga seluruh elemen masyarakat. Yang begitu cinta dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tahun ini adalah reunian 212 di Monas yang kedua yang saya ikut serta di dalamnya. Awalnya saya berkata akan pergi dengan suami. Sayangnya beliau malah pergi dengan temannya dini hari tadi. Jadilah belum punya teman seperjalanan untuk datang ke reuni akbar 212 di Monas. Sebenarnya ada saudara yang mengajak untuk berangkat bareng dan janjian sejak hari Jumat. Saya pun sudah menyanggupi untuk pergi berdua. Sayangnya beliau merubah rencana di hari Sabtu. Mengajak serta berangkat bersama dengan pegawainya.

Tidak ingin merusak suasana saya pun mencari teman pergi sendiri. Baru tadi pagi, pukul 5.30 selepas sholat Subuh saya mencari. Alhamdulillah, mendapatkan teman untuk pergi bersama mbak Lis. Berdua kami memulai perjalanan menuju Monas pada pukul 6 pagi. Menggunakan motor beat saya memboncengkan mbak Lis untuk hadir ke reuni akbar 212 di Monas 2018. Bismillah, semoga aman dan sukses acaranya. Saya memilih melewati jalan Proklamasi, Cikini, Gondangdia, patung pak tani, Monas. Belum sampai yang dituju, saya harus mencari jalan alternatif saat di Gondangdia. Karena jalanan sudah penuh kendaraan dan macet tak terhindarkan.

Lautan massa peserta reuni 212 di bawah jalan kereta dekat St. Gambir

Akhirnya saya memilih parkir motor di masjid Cut Mutia. Sekaligus menjadi pengalaman pertama saya memasuki masjid ini. Pukul 7 dari masjid Cut Mutia, kami pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Melalui jalan kecil hingga sampai di patung pak tani. Dari sini pejalan kaki pun macet dan harus berjalan dengan sangat lambat. Harus sabar dan pelan-pelan. Karena lautan manusia sudah datang memenuhi kawasan Monas dan sekitarnya. Alhamdulillah, kami berhasil sampai juga di Monas pukul 8.13. Ternyata satu jam kami harus berjalan kaki dari masjid Cut Mutia ke Monas. Luar biasa 😊.

Reuni Akbar 212 di Monas 2018

Kalau melihat pengalaman saya kali ini, kemungkinan peserta yang hadir pada reuni akbar 212 di Monas 2018 lebih banyak. Dibandingkan dengan reuni yang pertama ataupun aksi 212 nya sendiri. Karena akses untuk berjalan kaki saja kali ini cukup susah dan tidak leluasa bergerak. Sementara dua acara sebelumnya masih leluasa untuk bergerak dan berjalan. Untuk masuk ke halaman Monas pun kami harus berjuang lagi. Karena ada terdengar isu yang di sini aksi tandingan. Tau dong ya siapa yang menggagas akan mengadakan aksi tandingan. Itu loh mantan salah satu pengacara Habib Rizieq. Jadi kami sempat bingung, karena harus lewat gerbang yang mana untuk masuk.

Antusias umat Islam untuk menghadiri reuni akbar 212

Alhamdulillah, akhirnya bisa melewati pagar gerbang masuk kawasan Monas. Tapi perjuangan belum selesai, karena untuk mendapatkan tempat untuk duduk pun kami masih harus antre. Antrean untuk masuk masih panjang. Karena khawatir kelelahan dan tidak tahu apakah di depan pun akan mendapat tempat. Akhirnya saya dan mbak Lis memutuskan untuk menyempil diantara peserta yang sudah lebih dulu duduk. Itupun karena saya melihat memang masih ada area kosong yang cukup untuk dua orang. Kami pun membuka sepatu dan permisi-permisi, saat melewati para peserta yang sudah duduk. Mereka pun mempersilakan kami lewati dan terinjak alas duduknya.

Ketika tiba di area yang masih kosong, kami segera permisi kepada dua ibu yang ada. Tidak disangka kami diajak untuk bergabung dengan mereka di alas duduknya. Alhamdulillah. Ajeg duduk dan sudah mengucapkan terima kasih, kami pun berbasa-basi sebentar dengan ibu yang sudah memberikan tempatnya pada kami. Ibu pertama yang saya tanya sudah hadir di tempat itu sejak pukul 3 pagi dari Sentiong (daerah Senen). Masyaallah malu saya, karena kalah cepat datangnya. Sementara ibu yang satunya datang dari Solo sendirian. Luar biasa, hanya kecintaan terhadap agama yang bisa menggerakkan hati seseorang. Untuk datang dari jauh dan dengan biaya sendiri. Kedua ibu yang usianya sudah tidak muda lagi itu sepertinya bersaudara. Karena belum lama kami duduk, ibu yang tinggal di Sentiong mencolek saya. Untuk pamit akan pulang, karena ibu yang tinggal di Solo akan segera pulang kembali ke Solo. Selanjutnya berpesan pada saya: “alasnya dipakai saja, nanti kalau sudah selesai boleh diambil bawa pulang atau ditinggal di sini saja ya.” Kami pun mengucapkan terima kasih dan mendoakan supaya perjalanan keduanya aman dan selamat sampai tujuan.

Subhanallah, sudah dimudahkan untuk berbagi alas malah dikasih juga untuk dibawa pulang. Beginilah indahnya persaudaraan dalam Islam. Kalau hati dan pikirannya motor tidak akan pernah tahu dan bisa merasakan keindahannya Islam. Akhirnya kedua ibu itu pulang, sementara saya fab mbak Lis masih tetap tinggal di Monas. Untuk menyimak tausiyah dari para pembicara, yang terdengar samar dari pengeras suara. Pertama terdengar adalah suara Gubernur DKI Jakarta. Yang mempersilakan umat Islam menggunakan Monas untuk kegiatan yang baik. Terbukti selama ini umat selalu menjaga kebersihan setelah mengadakan acara. Pak Anies Baswedan pun mengklarifikasi tentang suara palsu mengatasnamakan dirinya yang semalam beredar di aplikasi WA. Bahwa suara itu bukanlah suara dirinya. Isi suara palsu itu menginstruksikan kepada para peserta untuk membawa KTP atau ID apabila ingin ke Monas. Saya pun sempat mendapatkan kiriman suara palsu itu dari teman.

Kedua yang dihadirkan adalah calon presiden nomor urut 2. Siapa lagi kalau bukan Prabowo Subianto. Yang mengucapkan “bangga dengan umat Islam di Indonesia dan bangga kalau dirinya adalah muslim di Indonesia. Allahu Akbar, Merdeka merdeka merdeka!” Doa saya, semoga pilihan para ulama dan umat Islam tidak salah. Untuk mencalonkan Prabowo sebagai Presiden Republik Indonesia. Semoga tahun depan keinginan sebagian besar rakyat untuk 2019 ganti presiden terwujud. Aamiin. Pembicara silih berganti mengisi taujih untuk para peserta reuni. Sayangnya suara semakin tidak jelas terdengar. Untuk kali ini pengeras suara sepertinya tidak sebaik dua acara 212 sebelumya. Secara keseluruhan penyelenggaraan acara reuni akbar 212 di Monas 2018 lancar, aman, dan sukses. Alhamdulillah.

Reuni Akbar 212 Memang Ajang Reuni Sesungguhnya

Reuni akbar 212 memang ajang reuni sesungguhnya dengan teman, saudara, dan kerabat. Saya dan mbak Lis mengalaminya sendiri. Beberapa kali mbak Lis malah bertemu dengan teman-temannya. Saling sapa dan berjabat tangan, ah indahnya. Begitupun dengan saya, alhamdulillah mendapatkan kesempatan juga untuk berjumpa dengan saudara. Kakak, begitu biasa saya menyapa Rahmi Dahnan, seorang psikolog yang pernah menjadi narasumber untuk rubrik psikolog majalah anida beberapa tahun yang lalu. Kami pun berkesempatan untuk mengabadikan reunian ini dengan berfoto. Kebetulan ada yang menawari diri untuk memoto kami berdua, rezeki. Kak Rahmi satu rombongan bus dengan warga komplek tempat tinggalnya. Sudah sampai di Monas sejak pukul 7 pagi, berangkat ba’da sholat subuh dari perumahan Cileungsi Indah. Sayang perjumpaan kami tidak lama, tapi cukup menjadi obat kangen.

Saya dan mbak Lis tidak ikut acara sampai selesai dan memutuskan untuk pulang. Karena saya khawatir terlalu lama meninggal anak di rumah. Walau mereka aman di rumah bersama eyangnya. Tapi tadi salah satunya berpesan “bunda perginya jangan lama-lama ya.” Perjuangan untuk sampai ke masjid Cut Mutia pun sama sulitnya. Kurang lebih waktu yang dibutuhkan pun sama, yaitu satu jam. Cuma kali ini di bawah sinar matahari yang sangat terik dan menyengat 😅. Teman saya sampai kelelahan dan keleyengan. Karena tidak sarapan sejak pagi tadi. Perjalanan kami sempat terhenti dua kali, tapi hanya sebentar. Pertama untuk mempersilakan mbak Lis minum segelas air mineral. Yang tadi sempat kami ambil dari kardus yang sengaja diletakan oleh seseorang untuk bersedekah kepada para peserta reuni akbar 212 di Monas 2018. Yang kedua untuk minum segelas sirup yang disediakan secara sukarela oleh warga di sekitar masjid Cut Mutia.

Kami langsung melanjutkan perjalanan pulang setelah mengambil motor di parkiran masjid. Untuk menghindari kemacetan yang lebih parah. Alhamdulillah, perjalanan kami melewati jalan Teuku Umar lancar. Kali ini perjalanan terhenti lagi, menepi untuk membeli bakso. Karena melihat mbak Lis sudah kelaperan. Pilihan jatuh ke bakso di pinggiran rel kereta api di Kayumanis. Hajat sudah terpenuhi, barulah kami melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.

2 thoughts on “Reuni Akbar 212 Memang Ajang Reuni Sesungguhnya

Leave a Reply to admin Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>