Reruntuhan Kota Ephesus yang Megah

Perjalanan hari kedua kami di Turki, dimulai setelah selesai sarapan pagi di hotel. Kurang lebih pukul 7.45 berangkat menggunakan bus dengan supir dan guide lokal. Hari kedua ini rombongan lebih banyak berada dalam bus. Menuju reruntuhan bekas kota Ephesus yang berada di kota Izmir. Dulunya Ephesus merupakan kota pelabuhan. Rombongan harus menempuh perjalanan selama kurang lebih 8 jam dengan menggunakan bus.

Selama perjalanan kami disuguhi dengan pemandangan layaknya gurun. Sekeliling berwarna kuning kering, jarang sekali ada pepohonan di kanan kiri jalan. Digantikan pemandangan pegunungan batu-batu besar. Walau perjalanan 8 jam di dalam bus, tapi tidak terasa lelah. Bahkan keringat pun tidak ada yang keluar. Selain pakai pendingin udara juga didukung suhu di luar yang sejuk. Akan beda sekali rasanya kalau di Indonesia. Jangankan 8 jam, lah 2 jam perjalanan saja sudah terasa lelahnya. Jadi iri sekali. Kecepatan bus yang dipiloti supir berjalan sangat stabil. Jalanan antar kota di Turki semuanya mulus tanpa lubang. Bebas hambatan seperti jalan tol, jarang ada lampu merah walau sesekali melewati perempatan, apalagi pasar tumpah. Semua rapi dan teratur.

Tidak pernah terlihat ada kendaraan yang kebut-kebutan. Delapan jam perjalanan dilalui dengan lancar tanpa macet satu kalipun. Luar biasa dan bisa jadi keajaiban dunia kalau sampai terjadi di Indonesia. Mendekati kota Izmir pemandangan mulai berubah, ada kincir-kincir angin raksasa. Berada di kanan kiri jalan, yang berfungsi sebagai pembangkit listrik tenaga angin.

Disambut dengan taman kota bertuliskan Izmir, saat memasuki kota Izmir. Para turis akan disuguhi dengan kota yang begitu cantik. Perpaduan antara desain kuno dan modern. Izmir merupakan kota terbesar ketiga Turki. Walau berada di bagian wilayah Eropa namun ternyata di kota ini salju tidak turun. Kalaupun turun salju,akan jarang sekali. Sampai di kota Izmir di waktu makan siang, jadilah bus berhenti di restoran Bizim Ev Hanuueli Restaurant and Cafe untuk beristirahat sejenak.

Restaurant sederhana layaknya kedai atau warung makan biasa kalau di Indonesia. Hawa dingin langsung menyeruak dan menusuk kulit begitu turun dari bus. Pengunjung yang datang ke restoran ini pada antre sebelum mendapatkan makanan. Penasaran seperti apa makanan yang disajikan di sini, karena sarapan pagi di hotel makanan yang disediakan sangat tidak cocok dengan lidah orang Indonesia.

Kami pun akhirnya mendapatkan tempat duduk di dalam restoran. Kemudian antre lagi untuk mendapatkan makanan yang bisa dipilih sendiri. Penyajiannya secara perasmanan, dengan berbagai menu yang disediakan. Entah apa saja nama masakan yang disajikan. Ada sayur terong, sayur brokoli, kentang yang cukup familiar dengan lidah kami. Paling istimewa di Bizim Ev Hanuueli Restaurant dengan adanya bakwan goreng. Sayangnya tidak semua orang bisa coba bakwan ini, sekali goreng langsung habis diserbu pengunjung. Padahal rasanya biasa saja 😅.

Sudah masuk waktu Dzuhur saat kami selesai makan siang. Jadi perjalanan selanjutnya menuju masjid, yang ditempuh hanya dalam lima menit. Isabey Camii yang dibangun oleh kesultanan Selçuk pada abad ke-14. Saya jadi teringat sebuah film yang mengisahkan tentang kesultanan Selçuk. Yang menjadi cikal bakal Turki sekarang ini cmiiw. Judul film yang pernah diputar disalah satu stasiun televisi di Indonesia tersebut adalah Kebangkitan Ertuğrul. Sayang saya belum selesai mengikuti keseluruhan filmnya.

Reruntuhan Kota Ephesus yang Megah

Perjalanan menuju reruntuhan kota Ephesus yang megah harus ditahan sebentar. Karena rombongan kami dibawa untuk melihat puncak tertinggi di kota Izmir. Dari puncak inilah pemandangan terbaik kota Izmir bisa didapatkan. Puas dengan berfoto, perjalanan pun dilanjutkan.

Tibalah kami di gerbang masuk reruntuhan kota Ephesus. Setiap pengunjung diwajibkan membeli tiket masuk seharga 40 Lira Turki. Pengunjung yang membawa tas atau barang bawaan harus melewati mesin detektor. Selanjutnya barulah pengunjung diperbolehkan masuk untuk menikmati pemandangan dari reruntuhan kota Ephesus. Walau tinggal reruntuhan, tapi masih meninggalkan sisa-sisa kemegahannya. Batu-batu berukuran besar disusun sedemikian rupa, membentuk bangunan yang begitu besar dan megahnya.

Gerbang istana di reruntuhan kota Ephesus

Mengunjungi reruntuhan kota Ephesus yang megah pada waktu sekarang. Jadi membayangkan tingkat kesulitan dan teknik seperti apa yang digunakan untuk pembangunan kota Ephesus yang megah pada zaman dulunya. Bebatuan yang berukuran besar dapat disusun menjadi bentuk bangunan. Diperindah dengan aneka ukiran yang dipahatkan di atas bebatuannya. Tanpa ada semen untuk menempelkan bebatuan, tidak membutuhkan cat tembok untuk mewarnai dinding. Tetap terlihat keren hanya dengan membayangkan dari reruntuhannya. Selain megah kota Ephesus juga lengkap dengan kolam renang, amphi teater, pasar, tempat pemandian, dan sebagainya. Bagi anda yang senang nyanyi dan ingin mencoba kebolehan. Anda bisa mencoba kemampuan di amphi teater (the great theatre), walau tanpa perlengkapan sound. Dijamin suara anda akan tetap terdengar baik. Rombongan kami bahkan mencoba menyanyikan satu buah lagu. Hasilnya bagus walau tanpa efek apapun 😁.

Bila anda ingin ke reruntuhan kota Ephesus yang megah harus persiapkan fisik untuk berjalan dan ingat membawa payung. Karena perubahan cuaca di sini sangat cepat (pengalaman rombongan kami). Saat baru masuk reruntuhan kota, matahari bersinar dengan teriknya. Walau begitu hawa dingin tetap terasa, jadi panas tidak terlalu terasa menyengat. Belum selesai seluruh reruntuhan kota Ephesus yang megah kami jelajahi, tiba-tiba hujan turun. Tidak lama dan tidak terlalu lebat, tapi cukup membuat basah jalan setapak yang kami lalui. Perlu kehati-hatian saat berjalan setelah hujan di reruntuhan kota Ephesus. Karena lantai terbuat dari marmer yang halus, jadi cukup licin di beberapa bagian. Luar biasa dan salut untuk para arsitek dan tukang batu pembuat kota Ephesus yang megah.

6 thoughts on “Reruntuhan Kota Ephesus yang Megah

  1. Suka banget artikelnya. Traveling ke tempat-tempat bersejarah begini yang sy suka. Selain menambah wawasan, juga jadi pengingat diri bahwa banyak peradaban yang menghilang, baik karena faktor alam atau faktor manusianya itu sendiri.

Leave a Reply to Fanny F Nila Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>