Perjalanan Hari Pertama ke Busra, Turki

Tepat hari ini tidak terasa sudah dua pekan berlalu sejak kepulangan saya dan rombongan jalan-jalan ke Turki 2018. Rasa tidak percaya dan senangnya masih terasa sampai hari ketika tulisan ini dibuat. Semoga dengan ditulis kenangan ini akan abadi. Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, pengalaman jalan-jalan ke Turki 2018 akan saya buat menjadi beberapa tulisan. Yang kedua ini cerita jelang keberangkatan ke bandara Soetta dan perjalanan hari pertama ke Busra, Turki

Drama Tabrakan Motor Jelang Keberangkatan ke Turki

Dua jam jelang berangkat ke bandara, saya masih sempat mengajak nona kecil naik motor. Menuju penjual es yang berada di pasar jangkrik. Tapi belum sampai tempat tujuan, kecelakaan tidak dapat dihindarkan. Seingat saya, waktu mengendarai motor tidak terlalu ngebut. Hanya kencang sedikit, mengimbangi jalanan yang agak menanjak.

Jalanan memang cukup sepi dan lagi asyik melaju, tiba-tiba dari mulut gang yang tertutup mobil parkir. Muncul motor yang dikendarai seorang ibu bersama anaknya. Kagetlah saya, tanpa bisa menghindari motor yang tiba-tiba muncul itu. Walau masih sempat mengerem tapi tabrakan tidak bisa terhindarkan. Innalillahi, kami tabrakan. Saya menduga ibu itu dari dalam gang ingin menyebrang ke gang di depannya. Tanpa berhenti untuk melihat situasi. Sementara saya sendiri tidak melihat karena tertutup mobil yang terparkir di bibir gang. Entahlah, kejadiannya cepat sekali.

Kami akhirnya sama-sama terjatuh. Saya dan nona kecil terlempar dari motor, tapi gimana posisi jatuhnya tidak ingat hingga hari ini. Saya langsung bangun dari posisi tengkurap karena teringat nona kecil. Dia pun ikut terjatuh dan jilbabnya kotor kena debu jalanan. Tidak menangis saat saya tanya dan periksa badannya, ada yang sakit atau terluka. Nona kecil hanya menggeleng. Tapi terlihat celananya robek di bagian dengkul dan terlihat ada luka kecil. Tidak lama kemudian, tiba-tiba, nona kecil mulai bicara seperti orang mengiggau. Yang diucapkan hanya: “bunda bunda bunda bunda bunda” dengan ritme cepat dan suara yang bergetar ingin menangis.

Rupanya kakak shock karena efek terjatuh. Langsung saya peluk, elus, dan meminta maaf untuk menenangkannya. Alhamdulillah dia mulai tenang dan tidak menangis. Tidak jauh dari kami berdua ibu dan anak lelakinya yang berumur kira-kira 4-5 tahun. Kondisinya juga sama tidak beruntungnya dengan kami. Anaknya terluka di bagian tulang pipi. Saya hanya mengucapkan permintaan maaf kepada ibu dan anaknya. Kemudian kami tetap melanjutkan perjalanan ke arah pasar jangkrik. Karena saat ditanya, nona kecil tetap ingin membeli es. Hanya ada perubahan, yang awalnya ingin makan di sana. Sekarang esnya dibawa pulang.

Sesampainya di rumah, saya langsung memeriksa ulang kondisi luka kakak. Kemudian mengobatinya dengan betadine. Sementara saya sendiri ternyata ada satu luka, seperti gompal agak dalam kulitnya. Lukanya mulai terasa perih dan badan juga mulai tidak enak. Mencoba untuk mengabaikan dengan mandi dan bersiap untuk berangkat ke bandara. Tidak sempat untuk diurut, nanti saja setelah pulang dari jalan-jalan ke Turki. Berharap semua akan baik-baik saja. Saat pamit di bandara, saya sempat pesan ke suami untuk mengurut anaknya yang tadi ikut jatuh.

Ternyata pilihan tidak langsung diurut badannya setelah jatuh adalah salah. Rasa sakit di badan yang tadi saya abaikan ternyata selama di pesawat makin terasa sakit. Sambil duduk merasakan sakit di sekujur tubuh, amat ngilu. Duduk begini sakit begitu juga sakit, mencoba untuk tidur supaya tidak terasa sakit. Tapi tetap saja tidur pun terbangun berkali-kali karena nyut-nyutan. Cuma bisa meringis menahan sakit sepanjang perjalanan. Sementara tetangga sebelah bisa tidur dengan nyaman bahkan tidak sadar kalau saya sempat ke toilet ­čśŐ. Jelang pagi rasa ngilu dan nyut-nyutan yang saya usahakan abaikan, mulai berkurang. Tapi sekarang lukanya berubah jadi perih dan sakit bila tersenggol.

Alhamdulillah, pesawat berhasil mendarat dengan baik. Kami telah tiba di Turki. Bandara internasional Atat├╝rk yang berada di Istanbul, menjadi saksi untuk pertama kalinya saya menginjakan kaki di Turki. Di tanggal 30 September 2018 setelah melalui penerbagan selama 10 jam di dalam pesawat Turkish Airlines. Dari Jakarta tanggal 29 September tinggal landas pukul 21.00 WIB dan mendarat di Istanbul pukul 09.00 WIB. Ada selisih 4 jam dengan waktu di Indonesia lebih dulu.

Antrean di Imigrasi bandara Atat├╝rkBandara internasional Atat├╝rk merupakan salah satu bandara yang cukup ramai di dunia. Sudah masuk waktu Subuh ketika tiba, sebelum melanjutkan perjalanan. Beberapa dari kami yang tidak berhalangan menunaikan sholat terlebih dulu di mescit (=masjid) bandara. Kalau di Indonesia mescit dibilang musholla, karena ukurannya yang kecil. Setelah selesai semua rombongan pun mulai mencari koper dan bawaan masing-masing. Rombongan jalan-jalan ke Turki 2018 sudah di jemput oleh guide lokal bernama Derya. Di Istanbul kami disambut dingin dan mendung dengan suhu 20┬░C saat berjalan menuju bus. Bahkan hujan turun satu dua tetes, Alhamdulillah tidak jadi besar hujannya.

Sejarah Singkat Turki

Turki yang beribukota Istanbul, berada di dua benua, 97% berada di Asia dan 3% di Eropa. Antara bagian Turki yang berada di Asia dan Eropa hanya dipisahkan oleh sebuah selat yang bernama Boshporus. Selat Boshporus sendiri merupakan penghubung antara laut hitam dan laut Marmara. Mayoritas 99% penduduknya beragama Islam, sementara 1% sisanya beragama Kristen dan Yahudi.

Dahulu ibukota Turki adalah Ankara, namun saat pemerintahan Kemal Pasha dipindahkan ke Istanbul. Saat ini populasinya berjumlah 80 juta jiwa, di mana 15 juta tinggal di Istanbul. 60% perempuan Turki sudah menggunakan jilbab. Oh iya, seluruh masjid di sini dibiayai oleh pemerintah termasuk gaji untuk imamnya. Di mana satu masjid satu imam

Perjalanan Hari Pertama ke Busra, Turki

Dari bandara Atatürk rombongan menuju tempat makan untuk sarapan pagi. Perjalanan hari pertama ke Busra, Turki. Di Busra ada beberapa tempat yang akan dikunjungi. Menuju ke Busra  kami melewati beberapa tempat menarik, yang nantinya ada yang akan dikunjungi. Pertama kami melewati laut Marmara dan laut hitam dari atas jembatan Boshporus. Kedua, lewat teluk tanduk emas yang memisahkan kota tua dan kota baru. Ketiga, lewat jembatan terpanjang ke-4 di dunia bernama jembatan Osman Gazi yang baru didirikan kurang lebih 4 tahun yang lalu. Kelima, melewati reruntuhan benteng Theodosius (Konstantinopol) dengan panjang 23 km. Merupakan benteng terpanjang kedua di dunia setelah tembok Cina.

Sampailah rombongan ditujuan pertama, yaitu untuk sarapan pagi. Saya tidak sempat melihat daftar menu apa saja yang dijual di Warung Nusantara. Menurut pegawainya yang WNI rumah makan ini pemiliknya adalah warga negara Indonesia yang bersuamikan warga negara Turki. Menu yang disediakan untuk kami adalah nasi uduk dengan lauk ayam dan telur goreng. Dengan minum teh hangat, sementara kalau minta air putih diharuskan membayar sebanyak 5 Lira. Sudah kenyang perjalanan pun dilanjutkan ke masjid agung Ulu Cami di kota Busra.

Masjid Ulu Cami adalah masjid dengan 20 kubah dan 2 menara. Pengunjung akan disuguhi berbagai ukuran kaligrafi yang sangat indah di dalamnya. Ada sebanyak 192 kaligrafi yang dibuat oleh 92 orang seniman yang masih terawat dengan baik hingga kini. Sejarah singkat berdirinya masjid yang memiliki luas kurang lebih 2500 meter. Adalah karena janji Sultan kepada rakyatnya pada saat berlangsungnya perang. Kalau memenangkan perang maka Sultan akan mendirikan 20 unit masjid. Tapi karena kondisi ekonomi sedang sulit dan atas saran dari para ulama. Maka cukup dibuat 1 unit masjid dengan 20 kubah. Banyaknya kubah sebagai simbol dari janji Sultan.

Saat pertama memasuki masjid ini, hawa dingin langsung terasa, tapi tanpa menggunakan alat pendingin ruangan. Mungkin karena bangunannya tinggi jadi sirkulasi udara jadi baik dan membuat dingin. Selanjutnya pengunjung harus melepaskan alas kakinya bila inging menjelajahi seluruh masjid. Sejak awal masuk, pengunjung akan disuguhi hiasan kaligrafi yang indah di seluruh bagian masjid. Bila ingin mendirikan sholat di masjid ini juga dipersilakan. Rombongan kami tidak sholat di masjid ini.

Ye┼čil Cami

Pintu masuk Ye┼čil CamiPerjalanan dilanjutkan ke Green Mosque (Ye┼čil Cami) yang lebih dikenal dengan masjid Sultan Mehmed dan makam hijau (Green Tomb). Letaknya tidak jauh dari masjid Ulu Cami. Jadi Ye┼čil Cami berada dalam satu komplek besar. Saling bersebelahan dengan makam. Sebelum masuk ke dalam masji (cami) rombongan kami makan terlebih dulu di tempat yang bernama Me┼čhur Bursa Kebap├žisi. Letaknya bersebelahan dengan Ye┼čil Cami. Masih di dalam komplek Green Mosque (Ye┼čil Cami), terdapat makamnya kakek dari Al-Fatih yang berada di dalam makam hijau (Green Tomb). Tahu dong siapa Al-Fatih? Beliau adalah pejuang┬ádan pahlawan besar Islam pembebas Kostantinopol.

Sebagai informasi, sebelum berangkat ke Turki, saya sempat berselancar mencari tahu tentang Green Mosque (Ye┼čil Cami). Ditunjukanlah gambar oleh simbah google, tampak gedung berwarna biru (kalau menurut saya). Yang ternyata setelah setelah melihat sendiri jadi tahu kalau yang ditunjukan google dan disebut sebagai Green Mosque (Ye┼čil Cami)┬ásebenarnya adalah gedung tempat makam kakeknya Al-Fatih. Yaitu Green Tomb bukannya┬áGreen Mosque (Ye┼čil Cami).

Masih berada di satu komplek kami masuk ke Silk House. Aneka bahan dari sutra dan souvenir bisa dibeli oleh anda pengunjung yang memiliki banyak uang.IMG20180930141149

Aneka bahan sutraSetelah puas hanya melihat-lihat (bagi saya), akhirnya rombongan kami melanjutkan perjalanan menuju tempat istirahat. Di hari pertama kami menginap di hotel Ramada di kota Busra. Alhamdulillah, perjalanan hari pertama ke Busra, Turki ini dilalui dengan baik. Kondisi saya pun sehat secara keseluruhan, hanya tangan kiri yang terluka tidak bisa diangkat ke atas.

2 thoughts on “Perjalanan Hari Pertama ke Busra, Turki

Leave a Reply to Fidah Shah Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>