Pengalaman Norak Naik MRT Jakarta

Pada akhirnya kesampaian juga, saya mencoba sesuatu yang sedang kekinian. Bukan saja bagi warga di Jakarta, tapi se-Indonesia. Bisakah anda menebaknya? Ya, betul. Naik MRT Jakarta, yang memiliki kepanjangan Moda Raya Terpadu. Kalau dalam bahasa inggrisnya disebut dengan Mass Rapid Transit. MRT, mulai beroperasi untuk umum tanggal 24 Maret 2019. Merupakan sebuah prestasi yang patut dibanggakan. Untuk pertama kalinya setelah 73 tahun merdeka, Indonesia memiliki subway (kereta bawah tanah). Seperti di luar negeri sana, keren kan.

Kemarin sore ba’da sholat Ashar kami jalan dari rumah naik angkot. Di mulai dari depan rumah naik mikrolet sampai bypass. Dilanjut dengan transjakarta (tije) dari shelter Bea Cukai menuju Blok M dengan tujuan akhir ke Lebak Bulus. Pukul 16.25 perjalanan kami berlima dimulai. Sayangnya perjalanan ke sana tidak mulus, karena tidak tahu rute dan nomor berapa tije yang harus dinaiki. Padahal sudah tanya-tanya juga ke petugasnya. Ternyata yang ditanya pun tidak hafal rute dan nomor tije menuju Lebak Bulus. Wajar sih ya, saking banyaknya rute. Bisa jadi juga para petugas itu belum pernah mencobanya juga kan?

Sesampainya di Blok M pukul 17.22, sebelum turun kami bertanya ke kondektur. Tije nomor berapa yang menuju ke Lebak Bulus. Sayangnya kondektur busnya tidak tahu. Mau tidak mau, kami turun dari tije dan mulai mencari petugas lainnya yang bisa ditanya. Setelah turun, tidak ada satu pun petugas yang bisa ditemui untuk ditanya. Di sini merasa seperti orang hilang πŸ˜…. Saya pun berinisiatif bertanya ke salah satu kondektur lain yang masih ada di dalam tije yang mulai kosong. Ternyata kami salah turun, kalau ingin menyambung dengan tije lain. Masih harus ke depan lagi, tepatnya turun di area transit untuk para penumpang tije. Kami pun disarankan untuk naik kembali ke tije sebelumnya. Tidak hanya kami berlima yang naik lagi ke tije sebelumnya. Ada beberapa barengannya, sama kebingungannya, karena tidak tahu di mana area transit.

Setelah berada di area transit, kami turun. Di sini pun tidak ada petugas yang bisa ditanya. Suami pun bertanya ke salah satu penumpang yang sedang menunggu. Di mana tije yang menuju ke Lebak Bulus. Kami disarankan untuk kedua lorong berikutnya dan harus turun ke bawah dan naik lagi di lorong yang dikehendaki. Setelah berada di lorong yang ditunjukkan, kami pun bertanya ke salah satu kondektur lagi. Yang kemudian menginformasikan untuk naik tije selanjutnya, tujuan Tosari ke Ciputat. Kami pun diarahkan untuk ikut sembarang tije sampai keluar terminal (tidak di dalam shelter). Benar dugaan saya, kalau perjalanan selanjutnya akan menggunakan bus pengumpan, itu berarti harus bayar lagi. Padahal maunya sih yang langsung saja tidak pakai bus pengumpan. Jadi bisa meminimalisir pengeluaran. Ya begitulah, hitung-hitung sebagai biaya karena ketidaktahuan dan malas mencari informasi.

Pengalaman naik tije dan bus pengumpan kali ini selalu dalam kondisi yang sudah penuh, walau tidak sampai berdesak-desakan. Karena bawa tiga anak, jadilah selalu diberikan tempat duduk oleh penumpang lainnya. Walau mereka tidak duduk di tempat yang dikhususkan untuk penumpang prioritas. Tetap bersedia memberikan jatah duduknya, alhamdulillah. Selain itu biasanya, kondektur akan mengingatkan ke para penumpang. Untuk kesediaannya memberikan tempat duduk kepada penumpang lainnya yang tergolong prioritas. Sudah tahu siapa saja penumpang prioritas? Yaitu orang tua (manula), ibu hamil, anak-anak, dan penyandang difabel.

Adzan Maghrib berkumandang saat berada di dalam bus pengumpan di sekitar Pondok Indah. Tidak lama kemudian pukul 18.11 kami turun, karena tujuan telah sampai. Kemegahan stasiun MRT Jakarta belumlah terlihat dari shelter Lebak Bulus tempat kami turun. Seketika pemandangan langsung berubah, setelah berada di atas. Berasa ada di stasiun di luar negeri sana. Iya, seperti yang di film-film itu. Cakep, luas, bersih, dan megah tentu saja. Mungkin karena masih baru jadi masih terjaga semuanya. Semoga kondisinya akan terus terawat. Terlihat ada area yang disediakan untuk para pedagang. Sayang kami tidak sempat melewatinya. Sementara di bagian tengah ada loket penjualan tiket. Tidak jauh di sebelahnya ada mesin untuk menempelkan tiket tanda masuk dan naik MRT Jakarta yang dijaga oleh petugas.

Suami yang sudah pernah naik MRT Jakarta sebelumnya, lebih bisa membawa diri. Tidak seperti saya yang tiba-tiba menjadi norak, karena mengagumi sesuatu yang baru pertama kali dilihat. Persis layaknya orang udik yang baru datang ke kota besar dengan segala kemewahan yang ditawarkan πŸ˜…. Mohon dimaklumi, karenanya saya menuliskan pengalaman norak naik MRT Jakarta kemarin di blog ini.

Pengalaman Norak Naik MRT Jakarta

Suami juga yang bertanya ke petugas di mana letak masjid atau mushollah yang bisa kami datangi untuk sholat. Posisinya berada di dalam, berarti siapapun anda harus membeli tiket. Karena sudah memasuki area berbayar untuk naik MRT Jakarta. Suami antre di depan loket, sementara saya masih mengambil beberapa foto untuk diabadikan. Setelah membayar tiket naik MRT untuk dua anak, kami pun masuk ke dalam dan langsung naik. Pengalaman norak naik MRT Jakarta pun dimulai. Ke lantai 2 menggunakan tangga jalan, mencari mushollah.

Sesampainya di lantai 2 saya pun terkagum-kagum dengan pemandangan di dalam stasiun MRT di Lebak Bulus ini. Beda sekali dengan stasiun kereta api yang biasanya. Layaknya berada di sebuah kota modern baru gitu deh. Antara rel dan peron dibatasi dengan pagar pembatas dan berpintu yang dioperasikan secara elektronik. Di mana pintu akan terbuka secara otomatis saat MRT tiba dan berhenti di stasiun. Setelah penumpang turun dan naik dengan selamat, maka pintu pagar akan tertutup kembali. MRT pun melanjutkan perjalanannya ke stasiun pemberhentian berikutnya.

Loket penjualan tiket MRT Jakarta
Sudah ada MRT saat kami tiba, yang entah sudah berapa lama terparkir di relnya. Menunggu naik turunnya penumpang. Kedatangan kami pun disambut oleh petugas keamanan yang berjaga. Yang segera menginfokan tujuan akhir MRT, yaitu ke stasiun Bundaran HI dan mempersilakan kami untuk naik. Saya pun segera menolaknya dan mengatakan kepada petugas kalau mau sholat dulu. Sementara suami mencari informasi lagi di mana posisi mushollah. Saya asik bernorak ria dengan memoto sana sini. Kami berlima harus turun lagi, karena ternyata petugas menunjukkan kalau mushollah ada di lantai 1. Untungnya tangga jalan berfungsi dengan baik, jadi turun naik tangga tidak menjadi masalah 😁. Oh iya, anda juga bisa memilih menggunakan elevator untuk naik turun. Sayang kemarin kami tidak sempat mencobanya.

Mushollah yang disediakan berada satu area dengan toilet. Mushollah di sisi kanan, toilet di sisi kiri. Kalau boleh memberi masukan, dari pengalaman norak naik MRT Jakarta kemarin. Mushollah sebaiknya diperluas, karena yang disediakan saat ini sangatlah sempit. Malah lebih luas ukuran toiletnya. Hanya bisa menampung antara 6-8 orang di masing-masing bagian ikhwan dan akhwat. Padahal area stasiun MRT dibuat sangat luas, menurut saya jadi tidak sebanding. Walau sepertinya ada beberapa titik atau posisi mushollah disediakan. Tetap saja tidak dapat menampung para penumpang apabila datang bersamaan dalam satu waktu. Padahal negeri ini mayoritas penduduknya adalah beragama Islam. Tapi sepertinya kurang diperhatikan untuk tempat ibadahnya. Saya sendiri merasa dikejar-kejar saat sholat, karena ditunggu oleh orang lain. Yang juga ingin menunaikan sholat Maghrib.

Selesai sholat Maghrib, kami langsung menuju lantai 2, kalau dihitung sejak berada di area stasiun. Tidak sabar rasanya ingin segera merasakan naik MRT. Kalau anda dalam hati bilang: “segitunya yang mau naik MRT”. Tidak apa, namanya juga ini cerita tentang pengalaman norak naik MRT Jakarta πŸ˜…. Saya, suami, dan adek menggunakan tangga jalan. Sedangkan nona dan gadis kecil menggunakan tangga yang berada di sebelah. Kami sempat berlomba, siapa yang lebih dulu sampai di lantai 2. Anak-anak yang menjadi pemenangnya, karena mereka berlari di tangga.

Sesampainya di atas, kami masih harus menunggu beberapa menit. Sampai MRT datang. Sambil menunggu, saya tidak menyia-nyiakan waktu untuk melihat-lihat dan memfoto. Saat memfoto peron di seberang, sempat ditegur oleh petugas yang berjaga. Bukan karena tidak boleh mengambil foto. Melainkan, saya dilarang menempel di pintu pagar pembatas. Karena dikhawatirkan nanti kesetrum, karena pintunya dialiri listrik. Tidak lama kemudian MRT Jakarta tiba, kami pun segera naik dengan suka cita.

Pagar pembatas peron dan rel MRT Jakarta

Pengalaman norak naik MRT Jakarta, belum selesai di sini. Semakin bertambah norak saat berada di dalam MRT Jakarta. MRT yang datang masih dalam kondisi kosong. Belum ada penumpang, karena stasiun Lebak Bulus adalah stasiun pertama. Kami jadi bebas memilih tempat duduk yang diinginkan. Ternyata posisi tempat duduk MRT sangat mirip dengan commuter line. Kursi ada di sepanjang gerbong dan berhadap-hadapan. Untuk kursi MRT yang kami naiki berwarna biru toska, cantik sekali. Berbeda dengan yang ada di commuter line, kursi di MRT keras dan tidak berbusa. Di bagian bordes (sambungan antar gerbong) dibatasi dengan pintu transparan yang dapat terbuka dan tutup secara otomatis.

Ruangan di dalam gerbong MRT Jakarta
Di atas setiap pintu ada layar kecil yang menunjukan posisi MRT yang kami naiki berada di mana. Serta menunjukan gerbong ke berapa kami berada. Berbeda dengan commuter line, bagian atas tempat duduk MRT tidak tersedia bagasi untuk menaruh barang bawaan. Sisanya, seperti interior dan luasnya ruangan tiap gerbong MRT kurang lebih mirip dengan commuter line.
Kami naik di gerbong kelima dari enam gerbong rangkaian MRT Jakarta. Setelah kami duduk dengan nyaman di masing-masing kursi. MRT pun mulai bergerak meninggalkan stasiun Lebak Bulus. Bersamaan dengan berjalannya MRT, sapaan di pengeras suara mulai terdengar. Menyapa kami para penumpang: “selamat datang…”

Tanpa memperdulikan tatapan penumpang lainnya, untuk mendapatkan pengalaman norak naik MRT Jakarta. Saya mulai beraksi, dengan mengeluarkan kamera yang ada di ponsel. Mengajak suami dan anak-anak untuk berswafoto dari tempat di mana kami duduk. Dilanjutkan dengan memfoto ruang gerbong. Tidak puas dengan hanya foto yang sedikit. Saya pun meminta anak-anak untuk bergaya sambil berdiri di depan pintu MRT Jakarta. Karena saya akan memfoto mereka masing-masing, sebagai kenang-kenangan naik MRT Jakarta.

Tidak mau kalah dengan anak-anak, saya pun minta difoto oleh nona kecil. Bergaya di depan pintu MRT. Saat berdiri hendak bergaya, saya melihat ada petugas yang berjaga di ujung gerbong keempat. Setelah selesai memuaskan diri foto, kami pun duduk tenang di kursi masing-masing. Sambil mendengarkan suara pengumuman yang keluar dari pengeras suara. Tidak sadar, ternyata petugas yang tadi sempat saya lihat di gerbong sebelah. Kini Sudah berada di gerbong kami. Untungnya petugas tidak sampai menegur atas tingkah kami di dalam gerbong πŸ˜…. Jadi saya pun harus menahan diri. Supaya pengalaman norak naik MRT Jakarta yang saya lakukan tidak mengganggu penumpang lain.

Suami saya cuma duduk dan melihat saja polah tingkah istrinya ini. Sambil tersenyum dan mungkin menahan malu πŸ˜…. Tidak itu saja, kami berlima juga pindah tempat duduk, ke kursi di seberangnya. Atas saran dari suami, untuk mempermudah anak-anak melihat pemandangan ke luar jendela. Walau sudah tidak terlalu terlihat, karena hari sudah malam. Pokoknya kami paling heboh se gerbong. Kalau diingat lagi, kemarin malam itu benar-benar hilang urat malunya πŸ™ˆ. Sekarang baru tersadar dan malu sendiri. Pengalaman norak naik MRT Jakarta kemarin malam, benar-benar membuat senyum-senyum sendiri. Bagaimana dengan anda, apakah sudah mencoba naik MRT Jakarta? Apakah norak juga seperti saya? Yuk berbagi cerita di kolom komentar.

51 thoughts on “Pengalaman Norak Naik MRT Jakarta

  • Gpp-lah norak, yang penting sudah nyobain naik MRT hehehe.
    Alhamdulillah ya, dengan kondektur yang mengingatkan, masyarakat jadi belajar lagi memberikan tempat duduk kepada yang benar-benar membutuhkan.

      • Menyenangkan sekali sepertinya Mbak, naik MRT sekeluarga. Sebagaimana ibu mereka, anak-anak sepertinya juga takjub dan mendapatkan pengalaman yang berharga.

        Mudah2an ada MRT juga di kota saya, tapi entah kapan ya

  • mbak kita kan udah merdeka 74 kali, heheh, ralat dong mbak yang ke 46 nya…

    ga apa norak mbak, namanya juga MRT transportasi baru ini memang layak dibanggakan. sayapun kalau ada kesempatan pasti bakalan kayak mbak, hihih

    • Eh iya, mau bilang 73 tahun maksudnya karena belum bulan Agustus. Kenapa kok jadi 46 tahun yaπŸ˜…. Inget Rossi kayaknya. Makasih ya sudah dikoreksi.

      Iya noraknya ampun dehπŸ™ˆ

      • Kalau saya pasti kebingungan saat pertama kali naik MRT ini. Dulu pas busway juga agak drama dikit hehe. Btw kereta bawah tanah pasti seru ya. Kapan-kapan kalau ke Jakarta boleh nih dicoba

  • Selamat Indonesia sudah memiliki MRT, semoga masyarakat menjaga kebersihan dan tidak merusak fasilitas, saya belum coba MRT di Jakarta, tapi sehari hari saya pakai Underground London yang menurut saya sangat nyaman.

  • Akuuuu juga pasti norak niih mba kalo nanti ada kesempatan nyobain MRT di Jakarta, meski beberapa kali pernah naik ini di Singapur. Pasti aku bakal gak kalah excitednya karena Indonesia punya MRT juga looooh. Hahahaha.

    • Iya, sepertinya belum semua warga Jakarta nyoba MRT ini. Jadi ajang wisata transportasi gitu deh kalau nyoba naik MRT hehe. Seru noraknya #ea

    • Iya, sekali ini noraknya. Nanti lagi kalau naik MRT sudah biasa. Mungkin saking senengnya merasakan kalau Indonesia sudah punya MRT

  • Norak yang spontanitas karena banyak temannya… itu tak apa. apalagi teman noraknya sekeluarga. Malah seru!

    Ini adalah seni hidup. Yang lihat sudah lupa, pelaku masih terkenang-kenang.

    • Benar sekali mbak. Yang lihat sudah lupa, pelaku masih terkenang-kenang. Norak sesekali boleh lah ya asal jangan norak terus πŸ™‚

  • Tahun lalu aku ama suami bela-belain khusus dari Bandung memang mo nyoba MRT dong. Bingung aja. Mo tanya malu. Soalnya orang-orang kok kayak cuek udah pede aja lagi. Jadi kami beli kartu. Harusnya kan bisa pakai e-money. Itu kartu kebawa aja sampai Bandung. Padahal bisa dikembalikan yah…
    Sayang cuma sebentar yah. Dari Lebak Bulus, tau-tau udah sampai HI…

    • Wah kalau ini mah super niat banget, sampai bela-belain dari Bandung. Keren mbak. Tapi tidak norak seperti saya kan? hehe

      Kartunya bisa buat kenang-kenangan kalau begitu.

  • Beberapa kali ada tugas ke Jakarta, tapi belum pernah ngerasain naik MRT.
    Kayaknya bisa jadi resolusi di 2020 nih, “kalau ada tugas ke Jakarta, harus menyempatkan diri naik MRT” hehehe

    • Nah, betul. Ajak anak-anak deh, mereka pasti senang. Apalagi nanti mereka bisa cerita-cerita pengalamannya dengan teman sekolah. Waktu pengalaman saya kemarin, banyak juga ortu yang ajak anak sengaja untuk coba MRT ini

    • Pertama kali norak naik MRT nggak apa dong, jangan aja sudah berulang kali naik MRT tetep norak.
      Kan nggak lucu ya….
      Dengan adanya MRT dapat membantu warga nya.
      Tapi, kita harus menjaga fasilitas yang ada di MRT serta selalu menjaga kebersihannya agar penumpang yang lain merasa nyaman

  • Aku malah belum pernah coba naik MRT, setelah baca cerita ini, semoga aku ga ikutan norak ketika pertama kali naik MRT.

    Semoga banyak yang baca nih agar ada antisipasi, bahkan bisa jadi perhatian pihak yang terkait.

  • Saya malah sampai sekarang belum pernah mencoba naik transportasi unggulan Jakarta ini kak. Padahal peresmiannya sudah cukup lama, dan saya sendiri saat pembangunan dan peresmian juga masih berdomisili di Jakarta, tapi entah kenapa tidak ada minat untuk naik MRT.

    • Sampai hari ini belum sampai setahun sih diresmikannya. Kenapa gitu tidak ada minat? Awalnya saya juga merasa biasa saja mas, tapi pas di sana kok ya kebawa juga rasa senang, bangga, dan terakhir malah jadi norak hehe

  • Hahaha, ceritanya sangat menghibur, kalo menurutku si ya kalo mau foto wajar wajar aja kok, aku juga kayanya bakal ngelakuin hal yang sama kalo pertama kali naik MRT.

    • Iya mbak, tidak tahu kenapa kok bisa norak gitu. Padahal awalnya biasa saja kalau ada teman yang cerita sudah nyoba MRT hehe

  • Rupanya saya pun harus meredam minat mengambil foto ketika di stasiun macam begitu. Padahal pengin banget karena bagus arsitekturnya. Tapi saat ada pengalaman norak, jadinya khawatir dibilang norak juga. hihi

  • Yah Mbak… aku sekeluarga pernah malu lho. Bukan MRT sih, tapi KRL Jakarta Bogor. Saat itu ak udah 10 tahun lebih gk naik KRL…kemudian kami asal naik aja, ternyata itu gerbong perempuan.. yang meski gk penuh aku diteriakin ama penumpang d dalamnya.

    Aku kemudian bergegas keluar dong.. eh Istriku panik. Lho kok Ayah keluar.. trs penumpang lain yg br sadar aku gk paham sistemnya.. mereka jd teriak balik.. Pak Naik aja dulu Pak…

    trs kami diminta geser ke gerbong sebelah yg umum. Hahaha.

    • Wah, jadi gagap caranya gitu ya. Terkadang cara atau sistem baru memang bikin kelabakan. Apalagi budaya kita yang senang sekali menjatuhkan orang lain. Seperti contohnya itu. Disalahin dulu, baru deh “ditolongin” gitu πŸ˜…

  • Pengalaman pertama pastinya penuh keseruan dan rasa ingin tahu jadi wajarlah kalau agak norak dikit Mbak, hehe. Saya juga akan begitu kok.

    Bahagianya bangsa Indonesia punya transportasi yang membanggakan. Semoga keberadaannya bisa terus dijaga sebaik mungkin ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.