Pengalaman Naik Mobet Pertama Kali

Tinggal di Jakarta sedari lahir hingga sekarang, sudah banyak sekali perubahan-perubahan yang terjadi di ibukota. Mulai dari infrastruktur, transportasi umum, pelayanan umum, dan sebagainya. Semua tentu untuk kebaikan dan kebahagiaan warga ibukota khususnya.

Transportasi umum dari waktu ke waktu pun banyak mengalami perubahan. Mari kita tengok ke belakang saat tahun 80-an. Di Jakarta masih banyak berseliweran jenis angkutan umum berikut: bemo, bajaj merah, mobet, oplet, metromini, kopaja, mikrolet, dan bus dengan bentuk berbeda dari yang ada akhir-akhir ini. Tiga jenis angkutan yang disebut di awal keberadaannya sekarang ini sudah mulai jarang, berubah, dan menghilang.

Bemo, beberapa tahun lalu keberadaannya masih ada. Kalau anda berada di daerah Benhil (Bendungan Hilir) pasti akan sering melihatnya. Di daerah timur Jakarta, bemo bisa anda temui di terminal Manggarai. Saya lupa, apakah pernah naik bemo waktu kecil. Seingat saya, pernah diajak ibu naik bemo. Entah di mana dan tujuan ke mana. Sangking ingin merasakannya kembali, pernah sengaja mencoba naik bemo sendirian. Naik dari terminal Manggarai lalu turun di sekitar Matraman. Rute bemo hanya pendek saja, dari terminal Manggarai lewat Proklamasi, belok menuju RS. Cipto Mangunkusumo. Belok ke kanan melewati RS. Caroleus lanjut melewati perempatan Matraman menuju jalan tambak. Hingga terus melewati terowongan viaduct dan terakhir di terminal Manggarai. Tapi seiring adanya transjakarta, perlahan-lahan keberadaan bemo sepertinya sudah mulai menghilang.

Nasib oplet, malah sudah lebih dulu menghilang. Bahkan sejak tahun 80-an pun, oplet sudah jarang sekali beroperasi di Jakarta. Dulu, saya masih bisa merasakan naik oplet di daerah perempatan kampung rambutan sampai lampu merah Cibubur. Seingat saya tidak sampai 10 kali merasakan naik oplet. Kini oplet terkenal lagi, dengan dipakainya sebagai kendaraan untuk syuting film Catatan si Doel.

Bajaj merah begitu saya menyebutnya beberapa tahun terakhir. Akibat adanya saingan dari bajaj ini, yaitu bajaj BBG (bahan bakar gas) yang berwarna biru. Kedua jenis bajaj tersebut pernah mengaspal di jalan ibukota secara bersama-sama. Karena menunggu masa peremajaan atau peralihan dari bajaj merah yang menggunakan bahan bakat bensin ke bajaj BBG. Bajaj merah merupakan angkutan termewah bagi saya saat kuliah dulu, karena harganya masih bisa terjangkau. Walau begitu saya masih sangat jarang naik bajaj dengan uang sendiri, sayang uangnya kalau harus naik bajaj setiap hari. Lebih baik naik angkutan umum lainnya, seperti bus, metromini, atau mikrolet.

Seperti bemo dan oplet, bajaj merah pun saat ini sangat sulit ditemui di jalanan Jakarta. Karena sudah hampir seluruhnya tergantikan oleh bajaj BBG. Walaupun satu dua bajaj merah melintas di aspal, mungkin karena pemiliknya masih sayang untuk meremajakan atau menghancurkan bajaj miliknya. Bisa jadi malah dijadikan kenang-kenangan atau koleksi pribadi, siapa yang tahu? 😊.

Tahukah anda apa itu mobet? Mobil becak, lebih dikenal dengan panggilan mobet. Sama seperti bemo, oplet, dan bajaj merah, mobet adalah kendaraan beroda tiga yang digunakan sebagai angkutan umum. Bentuknya seperti becak, hanya ada beberapa perbedaan. Kalau becak pakai tenaga betis supir supaya jalan sedangkan mobet pakai mesin motor. Becak, supirnya di belakang penumpang sementara mobet, supir memunggungi penumpang.

Sejak saya kecil hanya bisa melihat mobet, baik dari televisi maupun secara langsung saat berpapasan di jalan. Namun belum pernah merasakan naik mobet seperti apa. Hanya membayangkan, lucu kali ya naik mobet yang sudah jadul seperti itu. Jadi cuma bisa penasaran sampai kemarin😅. Iya sampai kemarin, karena rasa penasaran saya terbayarkan sudah.

Pengalaman Naik Mobet Pertama Kali

Kemarin sore menjadi pengalaman naik mobet pertama kali untuk saya. Sampai-sampai norak, saking inginnya saya mengabadikan momen itu. Saya berswa foto saat berada di dalamnya, tidak ketinggalan mobetnya pun ikut diambil gambarnya. Kebetulan kemarin siang saya sudah berada di daerah Senen, Jakarta Pusat. Setelah mencetak tiket kereta api bengawan untuk ibu yang ingin menghadiri hajatan adiknya. Dari stasiun Senen, saya yang diantar dan ditemani Unda pergi ke Poncol untuk suatu keperluan.

Mobet

Tahu sendirikan, kalau Poncol daerah yang sangat padat. Kalau ingin wira wiri di sana menggunakan mobil, sangatlah sulit. Jalan yang sempit ditambah berbagai kios dipadati oleh calon pembeli. Tidak memungkinkan mobil bisa mondar mandir dengan lancar. Motor saja perlu antri dan kesabaran kalau ingin lewat, apalagi mobil. Mengingat suasana seperti itu, kami memilih memarkirkan mobil dan mulai menggunakan mobet untuk mondar mandir. Lebih cepat dan mudah, dibandingkan harus menggunakan mobil. Repot macet dan susah parkir.

Ternyata mau naik mobet di Poncol, tidak mudah juga. Karena jumlah mobet yang beroperasi tidak banyak, jadi kami harus menunggu dulu berapa menit. Kami menyetop mobet yang ternyata ingin mengantar barang ke suatu tempat. Tapi supirnya bersedia mengantar kami lebih dulu. Ya sudah kami naik, dengan tarif 7000 ribu untuk jarak kurang lebih 1 kilometer. Mahal juga ya, batin saya 😁. Baru duduk kami langsung berswa foto.

Sayangnya, pengalaman naik mobet pertama kali ini kurang asik. Karena mobetnya bersuara sangat berisik, jalannya tidak mulus, dan maaf kurang bagus 😅. Jadi, saya menolak saat Unda meminta si abang untuk menunggu. Setelah urusan selesai, kami harus menunggu lebih lama dari saat berangkat. Membuat saya diprotes oleh Unda: “tuh kan lama, tadi sih disuruh abangnya nunggu tidak mau”. Karena tidak sabar, akhirnya kami jalan sedikit, alhamdulillah tidak lama. Satu mobet kosong terlihat dari jauh, kami berhentikan saat mendekat.

Pak Adim, supir mobet di poncol

Mobet yang kali ini kami tumpangi kondisinya lebih bagus dibanding yang pertama. Menjadi penawar dari pengalaman naik mobet pertama kali tadi. Saya cukup senang karenanya, ditambah lagi supirnya enak untuk ditanya-tanya. Pak Adim, nama supir mobet yang membawa kami ke tempat tujuan. Belum terlalu tua usianya, sepertinya baru lewat usia 45 tahunan. Sehari-hari mangkal di sebuah sekolahan, karena di sini bisa mendapatkan penumpang paling banyak. Untuk penumpang anak sekolah dikenai tarif 5 ribu. Setelah bubaran sekolah, maka jumlah penumpang sudah sedikit dan jarang.

Tarif untuk sekali antar penumpang bervariasi, antara 7 ribu sampai 10 ribu. Tergantung jarak jauh dan dekatnya. Rute yang dilayani mulai dari terminal atau stasiun pasar senen, Kemayoran, area PRJ, dan Sunter. Dengan tarif seperti itu pak Adim bisa membawa pendapatan kotor 100 ribu per hari. Baru bisa dibawa pulang sebesar 40 sampai 45 ribu, setelah dipotong untuk bensin, makan, dan setoran kepada pemilik mobet sebesar 20 ribu per hari.

2 thoughts on “Pengalaman Naik Mobet Pertama Kali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>