Pengalaman Melahirkan Dengan Induksi

image

Alhamdulillah, pada Kamis 21 Mei 2015 telah lahir dengan normal. Putri ke-3 kami di rumah bersalin klinik keluarga Yayasan Kusuma Buana. Kebetulan juga sudah lama tidak membuat postingan di blog ini. Jadi pagi ini akan diisi dengan postingan tentang kelahiran putri ke-3 kami.

Sebelumnya memang saya sudah pernah membuat postingan, tentang beberapa hal yang dirasakan saat  hamil. Tapi lain rasanya kalau menuliskan tentang pengalaman melahirkan. Alhamdulillah rezeki, sejak anak pertama sampai dengan ketiga, saya dapat melahirkan dengan normal. Saya bilang rezeki karena tidak semua ibu hamil dapat melahirkan dengan normal. Entah karena ada masalah dengan kesehatannya, keinginan tidak melahirkan normal atau (maaf) ada oknum dokter yang mudah sekali memerintahkan untuk operasi caesar kepada pasiennya.

Pengalaman melahirkan anak ketiga kali ini walau secara normal. Tapi harus merasakan apa itu diinduksi. Selama ini hanya dengar saja pengalaman dari saudara atau teman yang sudah pernah merasakannya. Jadi ya ini pengalaman melahirkan dengan induksi pertama kalinya buat saya. Mungkin kalau sabar sedikit lagi, tidak perlu ada proses diinduksi. Hanya mundur beberapa hari lagi untuk melahirkannya. Meminjam istilah seseorang yang saya sayangi–sudah takdirnya–harus merasakan induksi saat melahirkan.

Mari mundur ke hari Rabu tanggal 20 Mei 2015 yang lalu. Saya mendatangi rumah bersalin, tempat selama kehamilan saya periksa kehamilan. Tentunya untuk mengecek kondisi kehamilan saya. Sudah sore saat itu kurang lebih jelang pukul 5. Antrian sudah cukup banyak, saya sendiri mendapatkan nomor urut 20. Walau sebelumnya sudah mendaftarkan diri melalui telepon terlebih dulu. Menunggu giliran dipanggil sudah pasti, bersama dengan bumil lainnya. Yang juga ingin memeriksakan kehamilannya. Hanya dengan ditemani hp android, saya menunggu giliran diperiksa dengan sabar.

Tiba giliran saya menemui dokter Ika untuk konsultasi. Mulailah kandungan di USG, sambil konsultasi kenapa belum juga lahir. Saya pun menerangkan kalau sampai hari ini tidak ada kontraksi atau mules tanda-tanda adanya pembukaan. Dokter Ika pun menerangkan masih dalam kondisi baik bayinya, air ketuban masih bagus dan banyak, bayi terlilit satu kali plasenta. Alasan kenapa belum juga lahir, tidak diketahui. Kalau sesuai dengan Hari Perkiraan Lahir (HPL) harusnya saya sudah melahirkan pada tanggal 17 Mei. Berarti hari ini sudah mundur 3 hari dari perkiraan lahirnya.

Dokter pun melanjutkan kalau melahirkannya mundur sepekan dari HPL itu masih aman. Terserah apakah akan tetap menunggu hingga sepekan melewati HPL atau sekarang juga diambil tindakan. Yaitu dilakukan induksi. Saya pun meminta saran yang terbaik mana yang harus dilakukan. Jawabannya hanya: “Akan sama saja apakah akan dilakukan sekarang atau ditunggu hingga sepekan.” Oleh dokter Ika keputusan diserahkan kepada saya seluruhnya. Saya pun berpikir cepat dengan berbagai pertimbangan. Yaitu saat ini saya dalam kondisi sehat dan kuat, bayi dalam lilitan, sekarang atau ditunggu hingga genap sepekan akan sama saja, ingin melahirkan normal.

Baiklah dengan beberapa pertimbangan tadi saya pun memutuskan sendiri, kalau saya setuju dilakukan tindakan sore itu juga. Berarti saya menyetujui untuk dilakukan induksi. Harusnya dalam kondisi seperti ini, bersama suami memutuskannya. Berhubung saya periksanya sendiri dan suami masih di kantor, jadilah memutuskan sendiri. Dokter pun langsung melakukan pemeriksaan dalam. Sambil menunggu perawat menyiapkan peralatan yang akan dipasang. Selanjutnya dokter menginformasikan kalau sudah ada pembukaan satu.

Terus terang saya tidak mengetahui tindakan induksi itu seperti apa. Ternyata setelah mengalaminya sendiri baru tahu kalau pengalaman melahirkan dengan induksi ada 2 kali proses. Sambil dilanjutkan ceritanya dulu ya, nanti juga akan ketahuan apa saja prosesnya. Setelah peralatan disiapkan oleh perawat, dokter pun melanjutkan kerjanya.  Memasangkan balon di tempat nantinya menjadi jalan melahirkan. Kalau ditanya rasanya, lumayanlah bisa membuat mengernyitkan dahi dan meringis. “Sudah,” kata dokter. Saya diperbolehkan pulang dan bersiap-siap, kemudian kembali lagi setelah Isya. Sambil melangkah keluar ruangan praktek dokter menuju pintu keluar rumah bersalin, sayup-sayup terdengar adzan Maghrib berkumandang.

Segera saya menghubungi suami dengan aplikasi wa. Memintanya untuk segera pulang dan bersiap-siap untuk menemani. Sampai rumah, saya pun masih bisa santai dan sedikit memberi pesan. Yang mungkin akan menjadi pesan terakhir, kepada nona dan gadis kecil saya. Seandainya ada apa-apa saat melahirkan.  Ya namanya juga melahirkan, tentu tidak aka tahu apa yang akan terjadi ke depan. Bukankah melahirkan juga menjadi salah satu jihadnya kaum ibu? Pukul 20.30 telah tiba, saya pun berpamitan kepada keluarga di rumah. Diantar suami dengan sepeda motor menuju rumah bersalin. Masih belum ada tanda-tanda mules atau kontraksi, bayinya masih senang berada di dalam perut.

Sampai adzan Subuh di hari Kamis masih belum merasakan apa-apa. Hanya flek-flek saja yang memang sejak malam sudah keluar. Balon yang semalam dipasang kemudian dilepas oleh bidan, yang akan digantikan dengan cairan infus. Sebelum pemasangan infus saya pun meminta izin untuk mandi, karena badan rasanya sudah lengket dan bau. Jarum infus di tangan kiri mulai ditusukan untuk mengalirkan cairan infus. Tetesan cairan diatur setiap 15 detik sekali untuk memberikan reaksi mules dan kontraksi secara bertahap. Sejam kemudian dicek dan ditingkatkan dilanjutkan setiap 30 menit sekali. Masih belum ada reaksi apa-apa di saya.

Jelang pukul 12 siang barulah rasa mules terasa. Semakin lama semakin kuat dan semakin sakit juga rasanya. Khawatir tidak kuat jalan kalau semakin lama, saya meminta untuk diantar ke ruang persalinan. Tepat pukul 12.31 alhamdulillah bayi perempuan yang sehat lahir. Dengan berat 3,5 kg terbesar diantara 2 kakaknya dan panjang 49 cm, lebih pendek 1 cm dibanding kakak keduanya. Lega, plong, dan rasa syukur melingkupi walau masih belum juga dipercaya untuk sebuah amanah bayi laki-laki. Sudah senang dengan bayi perempuan yang sehat, sempurna tidak kurang satu apapun. Semoga membawa keberkahan, berbakti kepada kedua orang tuanya dan menjadi anak sholehah yang berguna bagi agama serta negeranya, aamiin.

Incoming search terms:

  • pengalaman melahirkan dengan induksi
  • pengalaman melahirkan normal dengan induksi
  • pengalaman induksi
  • pengalaman melahirkan
  • pengalaman induksi saat melahirkan
  • pengalaman melahirkan induksi
  • pengalaman melahirkan lewat hpl
  • pengalaman diinduksi

6 thoughts on “Pengalaman Melahirkan Dengan Induksi

  1. selamat ya makk .. smg jd anak sholehah. sama kaya aku dulu..udah lewat hpl..udah bukaan dua..blm jg kontraksi. jd diinduksi deh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>