Pelihara Kucing di Rumah

Lirik lagu Jawa yang bercerita soal kucing di bawah ini sudah kami kenal beberapa tahun lalu. Liriknya pendek, lucu, dan mudah dihafal. Kala itu saat diperjalanan, di dalam mobil. Nona dan gadis kecil diperdengarkan sekaligus diajarkan untuk menyanyikannya. Lagu kucing itu pun hampir terlupakan. Seiring bertambahnya usia kedua anak di rumah. Pun mereka mungkin tidak menjiwainya, karena belum pernah pelihara kucing di rumah. Saya pun baru kali itu mendengar lagu kucing tersebut. Baru hari ini, setelah mencari di google. Ternyata lagu Jawa tentang kucing itu memang ada. Dipikir hanya karangan asal buatan saudara untuk lucu-lucuan πŸ˜‚. 

🎡

Kucingku telu 

Kabeh lemu-lemu

Seng siji abang seng loro klawu

Meang meong

Tak pakani lontong

Hatiku seneng 

Koncoku ndomblong

🎡

Ciko, hewan peliharaan  di rumah

Tidak pernah terlintas dalam pikiran saya untuk pelihara kucing di rumah. Hingga anak bertambah seorang lagi, yang kini berusia jelang 5 tahun. Mereka kompak menyatakan permintaan untuk pelihara kucing. Entah mendapat bisikan dari mana, hingga ketiga dara itu berani untuk memintanya. Padahal mereka sudah memiliki Caca, kelinci yang hampir 2 tahun lebih menjadi hewan peliharaan di rumah. Sayangnya kelinci itu hampir tidak mendapatkan perhatian dari anak-anak. Tidak cuma sekali saja, semakin hari semakin sering. Anak-anak meminta dibelikan kucing untuk dipelihara. Antara kasihan dan khawatir, saya pun mencari info tentang kucing. Tentang mitos atau cerita yang belum tentu kebenarannya mengenai kucing.

Mitos tentang Kucing

Kalau ngomongin mitos tentu tidak ada habisnya, malah jadi mengganggu dengarnya. Karena biasanya mitos tidak ada faktanya, cenderung cerita yang dibuat dengan β€œbumbu” dan dilebih-lebihkan. Kucing itu pembawa atau menularkan virus. Kalau perempuan pelihara kucing nanti bisa mandul dan kena tokso. Satu mitos tentang kucing itu yang paling sering saya dengar. Menjadi sumber kekhawatiran, tiap kali ingin memelihara kucing. Kebenaran mitos ini pun saya pertanyakan bertahun-tahun. Karena terasa janggal dan aneh, sebab Rasulullah saja memiliki hewan peliharaan berupa kucing. Kucing Rasulullah pun memiliki nama yang bagus, yaitu Muezza. 

Kucing Tidak Bernajis

Iya, kucing tidak bernajis, ada hadits yang berisi tentang kucing yang tidak bernajis. Tidak mungkin apa-apa yang merugikan bagi manusia dilakukan oleh Rasul. Akhlak dan perilaku Beliau seperti Al-Qur’an berjalan. Semua perilakunya maksum, terjaga dari kekeliruan dan kesalahan. Termasuk dalam hal memelihara kucing, pasti sudah mendapat bimbingan langsung dari Allah. Logikanya sesuatu yang tidak bernajis, berarti dalam kondisi suci, bersih, dan tidak berpenyakit.

Pelihara Kucing Aman

Alhamdulillah, kesimpulan yang saya dapatkan adalah pelihara kucing aman. Informasi didapat dari berbagai sumber, selain berselancar di dunia maya. Ada tambahan dari teman yang memang memiliki usaha pembiakan kucing eksotik. Pelihara kucing aman, asalkan dijaga kebersihannya. Bukan kucingnya yang membawa virus tokso yang bisa menularkan ke manusia. Tapi kotorannya yang mengandung virus. Makanya kalau ingin memelihara kucing pastikan bersedia membersihkan. Jaga kebersihan kandangnya, tempat makannya, dan selalu buang kotorannya. Tidak lupa untuk mencuci wadah tempat kucing buang hajat. Setelah yakin dengan informasi yang diberikan teman tadi, saya pun mulai memantapkan diri. Bahwa pelihara kucing aman, berarti bisa dipelihara di rumah. Karena, ternyata tidak mudah menghilangkan persepsi lama yang terlanjur percaya dari mitos πŸ˜…. 

Permintaan anak-anak untuk memiliki kucing peliharaan ajeg selama setahun lebih. Saya pun mulai luluh, apalagi sudah mendapatkan informasi yang benar. Diam-diam, mulai mencari informasi dimana bisa mendapatkan kucing untuk dipelihara. Mulai dari tanya teman sampai mencoba membeli di dunia maya. Foto-foto kucing yang lucu dan menggemaskan banyak berseliweran di instagram (Ig). Baik yang dipajang oleh pemilik dan pemelihara atau penjual kucing. Tapi untuk yang terakhir disebut, entahlah, perlu diragukan kebenarannya. 

Kena Tipu Penjual Kucing 

Kenapa saya meragukan kebenaran foto-foto yang dipajang di Ig? Oleh orang yang mengaku sebagai penjual kucing. Karena, tahun lalu saya pernah kena tipu penjual kucing gadungan. Awalnya, tertarik dengan foto kucing yang dipajang. Lalu bertanya-tanya tentang kucing, harga, dan sebagainya. Tanya jawab layaknya calon pembeli kepada penjual. Teriming harga yang murah dan lucunya kucing. Saya pun setuju dengan harga yang ditawarkan. Saat itu ditawarkan Rp400.000,00 per ekor kucing persia (berhidung pesek). Harga itu belum termasuk ongkir dari Balikpapan ke Jakarta. Kebetulan ada saudara yang ingin membeli juga. Jadi dipesanlah 2 ekor kucing lucu, tanpa ada firasat akan kena tipu. Anak-anak pun sudah senang bukan kepalang, karena akan segera memiliki kucing peliharaan di rumah.    

Uang sudah ditransfer ke penjual, sebesar Rp800.000,00 untuk 2 ekor kucing yang dipilih. Tinggal menunggu kedua hewan berbulu lucu itu sampai di rumah. Dua, tiga hari ditunggu, tapi kucing yang dibeli belum juga datang. Saya pun menghubungi penjualnya lewat wa. Karena sejak awal memang berkomunikasi lewat wa saja. Tapi, pesan saya yang masuk sudah tidak dijawab dan ditanggapi. Barulah sadar kalau sudah kena tipu penjual gadungan. Cuma bisa mengucapkan innalillahi. Sayang bukti percakapan kami untuk transaksi jual beli, lupa memibuat tangkapan layarnya. Karena aplikasi wa sempat copot dan pasang ulang. Jadi hilanglah bukti kejahatan yang dilakukan oleh penjual gadungan di Ig. 

Kabar Gembira untuk Anak-anak

Kapok untuk membeli kucing dari dunia maya. Membuat saya mengurungkan niat membeli kucing untuk selamanya. Anak-anak pun hampir melupakan permintaan mereka untuk membeli kucing, walau sesekali masih memintanya. Ternyata anak-anak pun masih terus berusaha, dengan meminta kepada ayahnya. Lain bunda lain ayah, saat bereaksi terhadap permintaan anak-anak. Tipikal perempuan, pasti sudah heboh dengan segala tindakannya. Sementara laki-laki cuma, kalem dan mengiyakan saja. Termasuk permintaan anak-anak soal kucing sebagai peliharaan.

Sampai suatu hari, dalam perjalanan menuju Sukabumi untuk kondangan. Ayah memberikan kabar gembira untuk anak-anaknya. Bercerita kalau akan mendapatkan seekor kucing. Sontak saja, mobil penuh dengan keceriaan anak-anak. Tanya jawab pun tidak dapat dihindari antara anak dan ayah. Bunda cuma menjadi pendengar saja. Kucing itu dijanjikan oleh teman suami, yang saat ini masih kecil. Karena baru saja dilahirkan oleh induk persianya. Kami akan diberi kucing campuran antara kucing persia dengan kucing kampung. Cukup panjang cerita tentang anak kucing itu. Teman suami, memiliki kucing persia yang diterimanya dari ibu kosnya. Asal usul induk kucing yang berjenis persia, didapatkan oleh ibu kos dari pasar. 

Menurut orang di pasar, baru saja ada kucing persia loncat dari mobil. Si pemilik yang berada di dalam mobil, entah tahu atau tidak kucingnya loncat. Kucing yang ketinggalan itu sendirian di pinggir pasar. Saat hendak pulang dari pasar, ibu kos yang sedang melintas di jalan. Oleh orang diminta untuk membawa kucing hilang itu. Dibawa pulanglah kucing itu, sampai diserahkan ke temannya suami untuk dirawat. Saat dalam pemeliharaan, kucing itu suka keluar rumah. Sampai suatu hari, balik sudah dalam kondisi tekdung. Pada waktunya, melahirkan 5 ekor anak kucing hasil persilangan. Salah satunya diberikan kepada suami untuk dibawa pulang.

Memiliki Kucing Peliharaan

Masa penantian anak-anak selama kurang lebih 3 bulan lamanya. Supaya bisa memiliki kucing peliharaan di rumah. Harus menunggu supaya anak kucing bisa lepas dari asi induknya. Usai sudah, terbayarkan. Tiga dara merasa senang dan bahagia sekali. Saat ayah mereka pulang kerja sambil menjinjing keranjang berwarna hijau berisi sebuah kucing kecil. Mulai bulan November 2019, kucing berwarna coklat kekuningan itu resmi menjadi anggota baru keluarga kami. Cikocik nama lengkapnya, seringnya dipanggil Ciko. Berarti resmi pula anak-anak diperbolehkan pelihara kucing di rumah. Walau jalan panjang harus dilalui untuk memiliki kucing peliharaan. Yaitu persiapan sebelum pelihara kucing di rumah.

Kucing peliharaan

38 thoughts on “Pelihara Kucing di Rumah

  • Ngeliat kucing emang lucu banget. Tapi aku pernah trauma dicakar kucing, nggak lama ibu juga dicakar sampai darahnya ngucur. Semenjak itu jadi takut sama kucing. Dan, untuk mitos itu memang harus rajin membersihkan kotorannya agar kucing juga tetap bersih.,

  • Salam mbak saya Padil. Baru bergabung di BW. Mau komentar. Hehe..
    Nama kucingnya keren. Ciko. Modern lah. Satu hal yang cukup berat saat memelihara kucing itu mengurusi buang airnya itu lho. Memang kucing tidak najis. Tapi kotorannya kan najis mbak. Hehe..

    Sya termasuk sebel dengan kucing (tetangga) yang berkeliaran. Buang kotoran sembarangan. Di depan pagar. Pernah muntah di dalam rumah. Kok motor saya dicakarnya. Duuh..sebel. heran nih mbaknya ngebet punya kucing. Hehe…

    • Salam kenal mas. Yang ngebet punya kucing bukan saya, tapi anak-anak. Kalau saya sebenarnya tidak suka melihara hewan di rumah. Karena jijik dan malas urus kotorannya πŸ˜…

  • Dulu pernah ambil anak kucing dari jalanan. Pertama minta ijin sama ortu, iya ngga apa-apa. Etapi saya sukanya yang warna hitam. Dibawa pulanglah si hitam yang manis ini. Sudah capek-capek dibawa pulang. Mama ngomel-ngomel karena pilih yang hitam semua. Akhirnya ngga jadi piara kucing deh.

  • Saya dan istri juga pengen pelihara kucing hasil persilangan begini, karena di rumah banyak tikus. Cuma masalahnya kami sering pulang kampung, kasian kucingnya tinggal di rumah dan gak ada yang ngurus kalau jadi dipelihara. Akhirnya sampai sekarang gak ada pelihara kucing. Gak mau makhluk lucu ini terzalimi

    • Wah kucing sekarang mah mana ada yang berani sama tikus mas. Apalagi kucing persilangan gini πŸ˜…. Iya pelihara kucing gini repot, pernah nginap di rumah mertua. Ikut dibawa juga kucingnya 😁

  • Saya tidak berani pelihara hewan di rumah. Anak-anak suka kelinci. Pernah pelihara dan akhirnya kebanyakan sy yg rawat karena semua sibuk /sok sibuk πŸ˜‚
    Ngeri juga Kalau beli online ya mbak sekarang. Kalau kelinci sy beli di marketplace gt biar lebih aman. Datang beneran lucuuk. Mati satu diganti juga besoknya.

  • Saya juga pernah pelihara kucing pertama kali saat kuliah. Hasil persilangan anggora dan kampung. Kucing itu sudah dianggap anak sama mama. Padahal awalnya gak suka kucing. Meski kami semua sudah merantau, mama tetap tinggal berdua dengan kucing iu hingga akhir hayat kucingnya. Mama saya sampai menangis hebat 😭

  • Dulu waktu SMP pernah pelihara kucing. Kucing jalanan gitu, tau-tau ada depan pintu. Giliran udah menikah, engga pelihara apa-apa. Ngurus anak aja. Anak-anak juga engga keidean pelihara sesuatu. Haha…Yawsud…

  • Terakhir saya punya kucing mu mungkin 17 tahun lalu. Hahaha. Tapi bukan berarti saya tak suka kucing. Saya senang main sama kucing teman2 saya. Hanya sah J mobilitas tinggi saat masih bekerja membuat saya gak bisa melihara kucing. Kucing ada hewan peliharaan paling aman untuk anak. Kucing juga hewan terbersih di dunia di mata saya. Rasulullah pun mencintai kucing. Jadi, tak ada yang patut diragukan lagi soal aman tidaknya pelihara kucing.

  • Anak saya yang kecil pada awalnya takut dengan kucing, Tapi setelah saya contohkan dengan mengelus-elus bulunya lama-lama ketakutan dengan kucing sudah tidak lagi. Bahkan tiap kali ada kucing pengenya dia elus2

  • Jadi teringat masa balita. Dulu nenekku ajari aku lagu kucingku telur itu, Mbak. Hehehe.

    Keluarga kami juga pecinta kucing, Mbak. Tapi yang kami pelihara kucing kampung. Saking sayangnya kami sama si kucing, sampai rasa-rasanya dia jadi salah satu anggota keluarga juga. Alhamdulillah tahun ini si kucing berusia 7 tahun.

  • Kucing memang binatang peliharaan yang menyenangkan, tapi saya masih belum bisa pelihara karena ibu saya geli sama bulunya.
    Padahal anak-anak kepengin sekali. Kapan ya bisa punya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.