Pedagang Asongan Ganggu Atau Dibutuhkan?

Pedagang Asongan Ganggu Atau Dibutuhkan?

Pedagang asonganSore itu setelah pulang mengikuti acara pengenalan bayi lumba-lumba yang baru saja dilahirkan di Ancol. Saya melewati jalan Gunung Sahari sendirian di dalam mobil, sambil berusaha menikmati kepadatan jalan Jakarta. Ya saat itu memang menjelang waktu pulang kerja, jadi jalan sudah mulai padat walau belum sampai macet.

Beberapa kali melewati lampu merah sepanjang jalur Ancol ke arah Matraman. Sampai pada lampu merah yang kalau belok ke kiri akan mengarah ke PRJ dan Kemayoran. Cukup lama saya berhenti di lampu merah ini. Hingga saya menyadari bahwa di lampu merah ini banyak sekali pedagang asongan. Yang saling bergantian antara pedagang satu dengan pedagang yang lain. Mengasongkan dan menawarkan dagangannya diantara mobil mobil dan motor yang berhenti.

Pedagang Asongan Ganggu Atau Dibutuhkan?

Kebetulan yang terlihat hanya para pedagang yang kesemuanya adalah pria. Tidak ada satu pun pedagang yang wanita, tumben juga pikirku, mungkin kalau mereka satu keluarga sedang berganti shift. Diantaranya ada pedagang pajangan, kursi plastik untuk renang sepertinya, kerupuk ikan, tissu, permen, dan mainan anak.

Pedagang Asongan Ganggu Atau Dibutuhkan? pertanyaan itu tiba-tiba ada dipikiran. Kalau saya pribadi yang ditanya saya tidak akan menyetujui adanya pedagang asongan di lampu merah. Tentu dengan alasan keselamatan mereka sendiri dan pengguna jalan lainnya serta demi lancar dan rapinya lalu lintas. Seharusnya ada solusi untuk mereka, mungkin diberikan tempat oleh pemerintah untuk berdagang. Ah, tapi itu sebuah solusi yang juga tidak mudah untuk direalisasikan.

Asongan di lampu merahSeharusnya ada kesadaran dari semua pihak, baik dari pedagang, pengguna jalan, dan juga pemerintah. Tujuannya untuk kebaikan dan keselamatan bersama. Para pedagang seharusnya berpikir tentang keselamatan dirinya sendiri dan orang lain pengguna jalan. Jangan karena dirinya yang sedang mengasongkan dangangan maka pengguna jalan lainnya menjadi terhambat. Belum lagi kalau ada salah satu yang sedang lengah bisa jadi sebuah kecelakaan.

Pun yang harus dipikirkan adalah bagaimana menciptakan jalan-jalan di Jakarta ini rapi, nyaman dan aman untuk digunakan oleh siapapun. Selanjutnya adalah para pengguna jalan, janganlah membiarkan suburnya pedagang asongan di jalan-jalan. Jadi ada baiknya bila saat berhenti di lampu merah jangan melakukan transaksi jual beli apapun. Tindakan ini bukanlah tindakan kejam, melainkan untuk sebuah pelajaran dan penyadaran.

Terakhir adalah bagi pihak pemerintah, janganlah membuat peraturan yang setengah setengah. Dalam menertibkan para pedagang asongan ini. Di satu tempat ditertibkan dengan sangat rutin dan keras sementara di tempat lain tidak ada tindakan penertiban apa-apa. Jangan sampai ada lagi pertanyaan pedagang asongan ganggu atau dibutuhkan?

Jadi masing-masing harus sadar memposisikan diri dan lakukan untuk negeri ini. Jangan sampai ada pikiran egois: “…kan yang penting saya enak, mudah mencari uang…” Karena mencari uang juga jangan sampai mendzholimi orang lain dong dan harus taat pada peraturan. Kalau semuanya ikhlas dan mau ditata pastinya jalan-jalan akan aman dan nyaman untuk digunakan.

15 thoughts on “Pedagang Asongan Ganggu Atau Dibutuhkan?

  1. Sepakat, Bun. dari berita yang sering saya baca, penertiban pedangan asongan atau yang di terotoar jalan-jalan tertentu, sudah dilakukan. seperti dibukanya pasar baru khusus menampung mereka, kayak di daerah Tanah Abang yah kalau tidak keliru. tapi juga di beberapa titik, yang masih ditemui pedangan asongan, seperti yang Bunda temukan di atas. biar merata dan mendapatkan tempat yang layak juga. meski kadang ada yang bandel, karena merasa jualanannya menurun di tempat khusus.

  2. Jika mereka pedagang bisa ditertibkan dengan baik, maka akan ada timbal balik yang manis ya antara pengelola dalam hal ini pemerintah untuk memberikan fasilitas akomodasi yang lebih layak :)

  3. pembeli dijalan slalu berganti itulah yang menjadi daya tarik dijalanan, jadi penyediaan tempat baru akan terasa dampaknya apalagi dengan barang yang hampir sama
    selain itu adanya bimbingan pelatihan bukan hal yang mudah buat mereka/pemerintah
    klo memang ada pekerjaan yang nyaman pastinya mau dong, untuk bertahan hidup pastinya apapun akan dilakukannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>