Pasar Baru Kini Sangat Beda

Pasar baru kini sangat beda, bagaimana pendapat anda apakah sama dengan apa yang saya tuliskan di bawah ini?

Teringat waktu masih kecil, masa SD sampai SMA sekitar tahun 80-an sampai 90-an. Zamannya saya masih suka diajak ibu mendatangi rumah sahabatnya untuk silaturahim. Sengaja datang saat anaknya sedang berulang tahun, entah awalnya bagaimana sampai kegiatan silaturahim itu berulang setiap tahunnya. Berkeliling bergantian ke rumah tiga sahabat itu. Tidak hanya ulang tahun saja sih, tapi juga saat lebaran Idul Fitri. Ada cerita sedih dan senang kalau mengingat masa itu. Kebetulan dari ketiga sahabat itu, cuma kami yang kondisi ekonominya biasa saja. Namun begitu alhamdulillah, kami tidak pernah kekurangan dan masih bisa berbahagia. Sementara dua sahabat ibu yang lainnya, merupakan orang mampu dan berada.

Tiap kali menjelang hari silaturahim ke rumah sahabatnya, tentu saja ibu harus mempersiapkan kado untuk anak sahabatnya itu. Sering sekali kami kebingungan bila ingin membeli kado. Karena biasanya kalau saya yang berulang tahun, pasti mendapatkan hadiah yang bagus. Tentu dengan merek-merek terkenal. Entah itu sepatu, tas, baju, jam pokoknya ada mereknya. Sementara kami tidak tahu di mana belinya dan jelas tidak mampu. Mungkin masih mampu beli kalau memaksakan diri. Tapi itu tidak dilakukan oleh ibu, jadi Disesuaikan dengan kondisi ekonomi kami.

Sesuai kemampuan, belinya pun tidak pernah di pasar swalayan atau di toko bermerek. Hanya beli di pasar tradisional, tanpa merek terkenal. Dibilang menyesuaikan dengan kondisi, karena kalau mau ikut dengan gaya kedua sahabatnya, tentu ibu tidaklah sanggup 😊. Perbedaan ekonomi memang tampak sekali terlihat. Namun begitu kami tidak pernah minder, begitu juga dengan sahabat ibu tidak pernah merasa malu memiliki teman yang berbeda tingkat ekonominya. Dari hubungan persahabatan ibu ini, saya mendapatkan banyak pelajaran berharga tentang hubungan sosial.

Suatu kali saat ingin mencari kado dan mungkin ibu sedang memiliki uang lebih. Beliau mengajak saya ke Pasar Baru, pertama kalinya di tahun 90-an. Itu pun setelah saya yang mengajukan terlebih dulu untuk mencari ke Pasar Baru. Saat ibu menanyakan, kadonya akan beli apa dan di mana. Perkenalan saya dengan Pasar Baru, jauh sebelum kami akhirnya pergi ke sana. Melainkan saat ngobrol dengan anaknya sahabat ibu, yang kemudian menceritakan tentang sebuah pasar, tempatnya membeli sepatu baru. Hasilnya membuat rasa penasaran saya muncul. Dan berharap suatu saat bisa pergi mengunjungi Pasar Baru itu berada. Alhamdulillah, akhirnya terwujud juga pergi ke Pasar Baru dengan ibu.

Kagum, perasaan yang muncul saat pertama kali datang dan menginjakkan kaki di pasar ini. Kondisi Pasar Baru di tahun 90-an dan image yang terbangun saat itu memang tergolong sangat bergengsi. Yang berkunjung dan mampu membeli di sana hanya dari golongan masyarakat dengan ekonomi menengah ke atas. Pasar Baru memang merupakan komplek toko-toko yang didominasi oleh penjual alas kaki. Seperti sepatu, sandal, kaos kaki, semir. Namun ada juga toko yang menjual bahan kain milik orang keturunan India. Ada pula toko yang menjual alat musik dan olahraga, jam, dan tas. Kebanyakan yang dijual di toko-toko sepatu yang ada di Pasar Baru adalah sepatu dan sandal yang terbuat dari kulit. Untuk harga dan merek yang dijual di setiap toko hampir sama. Walau ada beberapa toko menjual koleksi sepatu dari merek serta tipe yang berbeda dan tidak ada di toko lainnya. Bicara kualitas sepatu dan sandal cukup bisa diandalkan, karena kuat dan awet hingga beberapa tahun. Pengunjung tinggal memilih akan membeli di toko mana saja, akan sama. Yang membedakan adalah suasana dan pelayanan yang diberikan.

Saya menilainya, saat itu sekitar tahun 90-an sampai awal tahun 2000-an Pasar Baru semacam pasar sepatu, yang boleh dibilang sebagai trendsetter persepatuan. Pengunjungnya pun sangat ramai, bahkan pernah mengalami sampai berdesakkan saat berkunjung menjelang hari raya Idul Fitri. Kalau ada teman bercerita beli sepatu dan ditanya beli di mana, jawabnya pasti di Pasar Baru. Ada semacam kebanggan tersendiri bila berhasil membeli dan menenteng sepatu atau sandal dari sana. Saya pun pernah merasakan betapa bangganya bisa mendapatkan sepatu baru yang dibelikan ibu di Pasar Baru 😁. Kalaupun tidak membeli dan hanya jalan jalan dan cuci mata saja, suasana di sana enak untuk dijadikan sebagai tempat wisata belanja. Toko-toko masih tertata rapi, di lorongnya pun tidak banyak pedagang kaki lima dan bebas dari parkir kendaraan. Terlihat suasana yang cerah dan bergairah, membuat nyaman pengunjung yang datang.

Pasar Baru Kini Sangat Beda

Beda dulu beda sekarang ceritanya, karena semakin ke sini kondisi Pasar Baru kini sangat beda, semakin memprihatinkan. Pendapat pribadi saya sendiri saja sih yang menilainya dengan melihat kondisi terakhir di hari Ahad kemarin. Sudah sejak lima tahun ke belakang, banyak sekali pemilik toko yang sudah menutup tokonya. Entah gulung tikar atau pindah ke lokasi lain yang masih memungkinkan. Bahkan ada sebuah gedung yang memiliki nama pasar baru juga. Hanya tinggal beberapa toko yang dibuka di lantai satu saja. Padahal gedung ini memiliki beberapa lantai. Pengunjung pun terlihat sangat sedikit dan terkesan sepi. Kondisi seperti itu, diamini oleh pramuniaga di beberapa toko yang sempat saya ajak bicara.

Banyak toko yang tutup di gedung pasar baru

Kondisi toko yang sudah tua dan tidak terawat. Di sepanjang lorongnya banyak sekali pedagang kaki lima dan kendaraan parkir dengan bebas tidak teratur. Jalannya tidak rata dan banyak yang rusak, awning rusak dan lepas tidak dipasang lagi. Membuat Pasar Baru kini sangat beda, sekarang kondisinya tidak rapi, terlihat kumuh, dan tidak nyaman. Belum lagi koleksi sepatu dan sandal yang dijual tidak banyak perubahan, terkesan ketinggalan zaman. Iya sih, model sepatu dari dulu ya gitu-gitu saja 😁. Entah kenapa terasa beda sekali dengan yang dulu, sedih juga sih melihat kondisi Pasar Baru kini sangat beda, jadi seperti sekarang. Padahal sampai kemarin Ahad, saya dan suami masih mengandalkan untuk membeli sepatu dan sandal di Pasar Baru.

Kondisi lorong Pasar Baru Kini sangat beda, menjadi kumuh

Kondisi awning yang rusak

Satu yang menarik dari Pasar Baru walau kondisinya sekarang sudah sangat beda. Yaitu keberadaan dari pedagang uang-uang lama, yang tidak berubah sejak dulu hingga kini. Dari tahun ke tahun pedagang yang berjenis kelamin laki-laki itu semakin berubah usianya. Semakin bertambah tua seperti benda yang menjadi jualannya. Pedagang uang-uang lama itu masih bertahan, dengan cara berjualan yang sama yaitu sebagai kaki lima. Hanya mengandalkan sebuah meja kecil sebagai alas dari tas koper yang digunakan sebagai etalase. Tempat memajang koleksi uang yang dijualnya. Mereka berjualan menempel di pintu keluar sebuah toko sepatu, yang posisinya sepertinya tidak pernah berubah. Hanya di situ saja bertahun-tahun, betah 😁.

Walau tidak sering belanja di Pasar Baru, ya iyalah belanja sepatu kan tidak tiap hari. Bisa lama dan hitungan tahun, tergantung dari awet tidaknya sepatu yang dibeli sebelumnya. Atau sudah bosan atau belum dengan modelnya, kalau alasan terakhir ini sih bisa tiap bulan belanja. Saya termasuk yang suka memperhatikan juga kondisi pasar yang berlokasi di seberang kantor Pos Besar ini. Diantaranya sudah saya ceritakan di atas, ada satu lagi yang diperhatikan, yaitu gerbangnya. Kalau tidak salah ingat di tahun 90-an sampai pertengahan tahun 2000-an, belum memiliki gerbang.

Gerbang Pasar Baru kini sangat beda

Namun kemudian, saat saya mengunjungi lagi sekitar tahun 2010. Pasar Baru kini sangat beda sudah dibangun gerbangnya. Mungkin salah satu cara dari pengelola pasar untuk menarik minat pengunjung. Seingat saya, untuk gerbang hingga sekarang sepertinya sudah mengalami dua kali perubahan bentuk. Awalnya terbuat dari besi, sekarang dibuat dari batu dan semen dan lebih megah. Tapi sama-sama mencantumkan tulisan berukuran besar yang dapat dibaca dari jarak kurang lebih 100 meter. Tulisan Batavia di baris paling atas, diikuti dengan tulisan Passer Baroe di bawahnya, dan terakhir angka 1820.

Tapi rupanya dengan pembangunan gerbang, yang menyambut kedatangan para pengunjung. Belum dapat mengembalikan jumlah pengunjung seperti dulu. Harus ada terobosan baru untuk membangkitkan keinginan pengunjung. Supaya datang ke Pasar yang merupakan pusat perbelanjaan tertua di Jakarta ini. Mungkin pihak pemerintah daerah DKI Jakarta sebaiknya dapat mengambil alih atau mengkoordinasikan perbaikan kondisi Pasar Baru yang berada di Jakarta Pusat ini. Saya sebagai warga Jakarta juga amat menyayangkan kalau sampai pasar ini sampai tutup semua. Karena menurunnya minat masyarakat untuk berkunjung dan belanja di Pasar Baru. Padahal kalau ada yang mengurus dan mengembalikan kejayaannya seperti dua puluh tahunan yang lalu. Akan mendongkrak Pasar Baru menjadi tujuan wisata belanja yang amat diminati. Setidaknya bagi warga Jakarta sendiri.

44 thoughts on “Pasar Baru Kini Sangat Beda

  • Ada trend baru yang saat ini sedang terjadi masif di kalangan konsumen, yaitu trend belanja online. Orang yang sering membeli alas kaki dalam setahun adalah orang yang masih muda, sedangkan kalangan ini kini jarang mau belanja offline, sebab lebih suka belanja online.
    Ketika mereka belanja offline pun, mereka lebih suka datang ke toko yang brandnya telah mereka kenal.

    Jika para pedagang Pasar Baru ingin tokonya tetap ramai, sebaiknya mereka buka account Instagram untuk membuat nama toko mereka tetap dikenal. Followers account mereka itulah yang akan loyal datang ke toko offline mereka. Tanpa branding di dunia Maya, agak mustahil mereka akan terus bertahan di retail offline seperti Pasar Baru ini.

  • menurut aku sih, mending Pasar Baroe ini dijadikan alternatif wisata kuliner tempo doeloe karena bangunannya bangunan lama unik dan bersejarah. itu kalo aku loh yaaaa… kita ajukan yuk ke Anis Baswedan

  • Perkembangan jaman memang dinamis dan cepat banget. SIstem pedagang konvensional, mau tak mau tinggal menghitung hari, sebelum akhirnya kolaps.

    Tren belanja online, yang sistemnya tidak perlu bayar sewa toko, pramuniaga , listrik dan air tentu membuat harga barang menjadi semakin murah. Hal tsb yang sangat sulit untuk bisa ditandingi oleh pedagang konvensional.

    Berubah, atau bubrah.

  • Ternyata setelah sekian tahun tak berkunjung Pasar Baru banyak perubahan ya.
    Padahal dulu kalau belanja ke Pasar Baru senang bukan main, seru dan ramai, tapi sekarang ….

  • mungkin gerbang dibangun sebagai pertanda yg memudahkan dimana pintu masuknya. seperti saya yg suka nyasar di pasar, gerbang ini penolong sekali. jd bs janjian bertemu di gerbang ini usai asyik belanja

  • Trend belanja online memang sangat berdampak pada toko2 offline. Beberapa retail bahkan tutup, salah satu sebabnya karena kalah dengan trend belanja online ini. Semoga Pasar Baru tetap bisa bertahan. Mungkin alternatifnya bisa dibikin pusat kerajinan, oleh-oleh, atau kuliner. Saya jadi ingat Pasar Gede Solo yg selalu rame dan jadi salah satu destinasi wisata kuliner.

    • Memang harus ada perbaikan ke depannya sebelum Pasar Baru ini hanya tinggal nama dan kenangan saja. Mungkin pemerintah daerah dapat membantu

  • pemicu sepinya pengunjung pasar tradisional juga bisa dikarenakan faktor start up raksasa yang terus berkembang di Indonesia.

    Karena kita tahu sekarang eranya industri 4.0, yang mana masyarakat sekarang lebih memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk belanja secara online.

    Sepinya pengunjung pasar menjadi PR besar bagi pemerintah daerah. Bagaimana cara dia untuk mengatasi hal tersebut.

    • Iya, harus ada yang mau memikirkannya. Supaya geliat pasar tetap ada dan tidak hilang. Sepertinya memang pemerintah daerah harus turun tangan membantu

  • aku belum sempat sih buat explore dan ngerasain belanja di Pasar Baru ini, tapi punya pengalaman makan di Restoran India yang ada di lorong gang Pasar Baru ini mba

  • Persahabatan yang solid banget ya,
    Ngomong-ngomong soal pasar, memang tampilan dulu dan sekarang sungguh jauh berbeda.
    Kalau dulu ikut ibu ke pasar, pasti suasananya riuh. Apalagi kalau dimusim hujan.
    Tentu siap-siap basah dan berkotor-kotoran, karena masih tanah bukan disemen permanen.
    Tapi terkadang merindukan masa masa itu

    • Benar mbak, suka iri melihat persahabatan mereka. Bahkan hingga maut menjemput salah satunya. Wah, saya malah tidak pernah merasakan lantai jalanannya masih tanah mbak. Tahun berapa itu ya?

  • Di daerah saya juga ada beberapa pasar lama yang kemudian direnovasi menjadi bangunan modern, tapi setelah selesai malah sepi pengunjung. Aku berpikir mungkin pengaruh marketplace , sekarang saya juga lebih suka belanja online, ke pasar paling beli keperluan dapur saja

    • Ini memang tidak masalah gerbangnya saja mbak, melainkan geliatnya sudah tidak ada. Mungkin karena kalah bersaing dengan dunia maya

  • Perkembangan zaman yang terus meningkat, secara tidak langsung merubah bangunan dan infrastruktur yang tradisional ke modern.
    Termasuk wajah dari pasar Baroe sekarang pun sudah mengikuti perubahan namun geliat perekonomian didalamnya masih seramai dulu

    • Ini termasuk bangunan yang sudah agak lama mas, kurang lebih sudah 30 tahunan ada. Jadi bukan pasarnya yang baru, tapi memang nama pasarnya adalah Pasar Baru

  • Ooo jadi memang pasar baru itu dulunya pusat sandal dan sepatu ya. Saya pernah ke sana akhir tahun 2018 kemarin, memang saya lihat banyak toko sepatu, bahkan ada yang namanya sama dan posisinya nggak begitu jauh

  • Pasar baru seperti ini kalau sudah direnovasi, dan dimodernisasi, apakah masih boleh menyandang julukan sebagai pasar tradisional? Soalnya kalau tak menyandang julukan tersebut, ia akan disaingi sama swalayan ritel modern. Atau bahkan kesannya jadi mahal, sehingga pengunjung Pasar Baru ini masih sepi.

  • Saya ingat, pernah ke pasar ini tahun 2004, saat ke Jakarta. Memang belum ada gerbang Batavia 1820 itu.
    Sayang sekali, ya, banyak pasar yang menjadi sepi dengan adanya mall dan toko online. Setidaknya, dulu musuh utamanya adalah gaya hidup ngemall. Sekarang, ditambah rival yang sangat kuat bahkan bisa menggeser mall, yaitu e-commerce.

    Begitulah zaman akan terus bergerak dan berubah.

    • Iya mbak, teknologi dan daring sangat dahsyat “ancaman”nya untuk semua sisi kehidupan. Tinggal kita mau menyelaraskan jalan atau tidak

    • Iya, semua pihak harusnya peduli dengan peninggalan dari ratusan tahun ini. Jangan sampai Pasar Baru hanya tinggal kenangan saja

  • Tren belanja sekarang sudah beralih ke belanja online meski sebenernya yang online itu ya belanja ke offline juga. Bedanya pedagang offline yang laris punya toko online juga. Jadi, bisa tetep bertahan. Semoga para pedagang di Pasar Baru segera menginsyafi kondisi ini

    • Ini bukan pasar yang baru saja dibangun mas, tapi memang namanya pasar ini adalah Pasar Baru. Hayo dibaca dulu yang benar hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.