Obrolan Tentang Permainan dan Ponsel Pintar

Ahad pagi ini sejak ba’da Subuh saya sudah keluar rumah. Ditemani suami ke pasar kue subuh yang berada di pasar senen. Tujuannya untuk membeli kue untuk dibawa ke arisan. Ya, kami memang harus pergi ke acara arisan keluarganya suami. Kebetulan kali ini yang ketempatan arisan adalah adiknya suami.

Arisan, sebuah acara yang mengumpulkan beberapa keluarga. Dengan ada kocokan uang bergiliran menambah kesenangan tersendiri bagi yang menjalaninya. Kalau saya sendiri, mohon maaf sudah pada taraf bosen tingkat tinggi untuk arisan. Sebabnya, sejak kecil selalu ikut dan diajak arisan oleh ibu. Jadi kalau disuruh ikut arisan agak gimana gitu. Kecuali arisan hanya setor uang saja tanpa harus datang. Atau arisan dalam bentuk lain, tanpa ada setor uang.

Kembali ke arisan. Sesanpainya di rumah adik ipar, kami adalah keluarga kedua yang hadir. Sebelumnya sudah datang omnya suami. Selanjutnya satu per satu mulai gantian berdatangan para peserta arisan. Semua membawa keluarga, terdiri dari ayah, bunda, dan anak-anaknya. Yang menarik diperhatikan dalam arisan ini adalah setiap keluarga yang memiliki anak usia sekolah dasar bahkan tk sudah memiliki ponsel pintar atau tab. Fungsinya tentu saja untuk bermain game yang ada di ponsel pintar. Anak-anak yang memiliki ponsel pintar walau pun berada di keramaian keluarga berkumpul, mereka tetap asyik bermain dengan ponselnya. Tidak berusaha untuk bermain dengan anggota keluarga yang lain, yang sebaya. Lama sekali satu anak asyik sendiri dengan permainan di ponsel pintarnya. Untungnya setelah ramai sepupu-sepupu sebayanya datang, barulah dia menghentikan main ponselnya.

Saat sudah berkumpul semua, para wanita berkumpul sendiri di ruangan lain. Selanjutnya terlibat obrolan tentang permainan dan ponsel pintar. Dari beberapa keluarga yang memiliki anak kecil usia sekolah dasar dalam arisan itu. Hanya ada 2 keluarga yang anaknya tidak diperbolehkan main ponsel pintar atau tab. Yaitu keluarga kami dan keluarga sepupunya suami. Sementara keluarga yang lain tetap memberikan anak-anaknya ponsel pintar. Alasannya karena sang anak yang meminta, selain itu karena anak mereka lebih senang permainan di ponsel daripada permainan lainnya yang sehatusnya untuk usia anak. Seperti mainan masak-masakan, boneka, mobil-mobilan, dan sebagainya.

Ya begitulah, selalu ada pro dan kontra terhadap permainan dan ponsel pintar untuk anak usia sekolah. Masing-masing pada pendiriannya sendiri, yang menurutnya benar. Sementara obrolan kami tadi pun tidak ada titik temu. Kembali kepada kebijakan masing-masing dalam keluarga itu.

3 thoughts on “Obrolan Tentang Permainan dan Ponsel Pintar

  1. kalo saya ikut arisan RT niatnya utk silaturahim sm tetangga mba. karena emang jaraaaaang bgt ketemu tetangga karena ada yg kerja dan sibuk masing2, maklum di komplek :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>