Nasib Pejalan Kaki

PelanggaranTrotoarSebagai seorang pejalan kaki saya merasa dirugikan dan terdzholimi oleh para oknum pengendara motor, pedagang kaki lima, dan tukang ojek yang menggunakan trotoar untuk kepentingan mereka sendiri.

Sebagian warga Jakarta yang senang berjalan kaki–apapun tujuannya–pastilah merasakan hal yang sama dengan saya. Sangat sulit untuk berjalan kaki dengan nyaman dan aman. Alasannya ya tadi itu, terotoar yang seharusnya menjadi hak pejalan kaki diambil dengan seenaknya saja oleh para oknum tadi.

Akibatnya para pejalan kaki harus berebut, beradu bahkan mengalah dengan pengguna kendaraan motor atau mobil di jalan raya.

Berebut, kamu tidak salah baca kok. Pejalan kaki memang harus sering berebutan jalan. Terutama dengan pengendara motor, pedagang kaki lima, dan tukang ojek. Karena mereka mengambil hak trotoar yang memang diperuntukan bagi pejalan kaki. Lihat saja saat jalan raya macet, banyak pengendara motor yang maksa menggunakan trotoar sebagai jalan mereka untuk menghindari macet. Belum lagi dengan gerobak milik pedagang dan motor-motor milik para pengojek yang diparkir tanpa rasa bersalah ditrotoar.

Jadilah pejalan kaki mengalah turun dari trotoar untuk menggunakan jalan raya. Saat jalan di jalan raya itu, tak jarang pejalan kaki harus beradu dengan motor, mobil pribadi, angkot yang enggan untuk mengalah. Walau sudah berjalan dipinggir sekali, para pengendara motor dan mobil itu dengan angkuhnya membunyikan klakson kendaraan mereka untuk menghalau para pejalan kaki.

Entahlah apa yang ada dipikiran mereka sampai tidak punya rasa mengalah sedikit pun dengan pejalan kaki. Bila melihat atau membaca berita di media massa tidak sedikit pejalan kaki yang mengalami celaka akibat tidak ada atau disalahgunakannya fasilitas trotoar.

Kalau sudah begini, siapa yang bersedia bertanggung jawab? Tentu tidak ada yang merasa bertanggung jawab. Semua merasa benar sendiri. Mungkin masalah trotoar ini bisa menjadi perenungan kita semua, untuk ke depan dicarikan solusinya.

Solusi sebenarnya sudah ada dan sudah diberikan, namun adakah kesadaran untuk mewujudkannya? Itulah yang saat ini menjadi pekerjaan rumah kita semua untuk segera diselesaikan.

 

3 thoughts on “Nasib Pejalan Kaki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>