Nasib Bajaj Kini dan Nanti

Mengawali hari Jumat yang semoga keberkahan mengiringi semua langkah. Hujan rintik-rintik mulai turun tadi pagi. Saat saya akan mengantar adek ke sekolahnya, di TKIT Permata Bunda, Jakarta. Kami menggunakan sepeda motor menuju sekolah yang berjarak kurang lebih 500 meter saja. Tentu saja dengan ditemani rintik hujan yang menyegarkan, kalau menurut saya penyuka hujan. Selesai mengantar, sengaja saya kembali ke rumah untuk mengembalikan dan menaruh motor di rumah. Kebetulan hari ini memang akan ada aktivitas ke luar rumah. Berhubung sejak awal tahun baru ini sering sekali hujan mengguyur Jakarta. Bawaannya jadi malas sekali untuk beraktivitas keluar rumah dengan mengendarai sepeda motor. Lebih memilih menggunakan taksol atau bajaj biru. Termasuk hari ini.

Sebagai konsumen pengguna layanan, sah-sah saja bila kita membandingkan terlebih dahulu beberapa hal. Dari layanan yang akan kita gunakan, apapun itu bentuknya. Porsi terbesar yang dibandingkan tentu saja masalah harga dan itu wajar sekali. Konsumen akan memilih harga yang paling murah dari yang termurah dengan kualitas atau pelayanan yang terbaik. Penggunaan prinsip ekonomi sangat diterapkan sekali :). Begitu pula akhir-akhir ini, soal menggunakan layanan untuk mengantarkan ke suatu tempat. Kalau biasanya saya menggunakan taksol sebagai pengharapan untuk mendapatkan kenyamanan dengan harga murah. Tapi semenjak menjelang tutup tahun dan awal tahun. Kebiasaan menggunakan taksol saya rubah.

Nasib bajaj kini dan nanti

Untuk menuju ke tempat yang sama dengan jarak yang sama, tarif yang diberlakukan oleh perusahaan taksol akhir-akhir ini ada perubahan yang cukup berarti. Karena nilainya lumayan besar, nyaris menyentuh 50%. Perubahan ini sangat terasa mulai sepekan jelang Tahun baru. Dengan jarak tempuh 3,9 kilometer yang biasanya berada di tarif antara 17 ribu sampai dengan 20 ribu. Berubah menjadi 27 ribu hingga 29 ribu, yang membuat saya berpikir ulang menggunakan taksol. Walau sempat juga merasakan 2-4 kali perjalanan menggunakan taksol dengan adanya perubahan harga ini. Entah perubahan harga ini akan tetap atau hanya dalam rangka memberikan sedikit kesenangan kepada para mitra/supir dari perusahaan taksol. Karena hingga hari ini saya belum mencoba menggunakan jasa dari taksol lagi. Kita lihat saja nanti ke depannya.

Sebagai pengganti taksol, alternatif yang saya pilih adalah menggunakan bajaj berbahan bakar gas (BBG) atau dikenal juga dengan sebutan bajaj biru. Mengingat hampir 50 persen dari bodinya berwarna biru muda. Semenjak ada taksol dengan harga yang murah. Namun memberikan kenyamanan layaknya memiliki supir dan mobil pribadi. Saya jarang menggunakan bajaj sebagai angkutan untuk mengantarkan menuju suatu tempat. Berhubung adanya perubahan harga, akhirnya saya 3-4 kali ini menggunakan bajaj biru. Dengan harga yang sudah disepakati bersama, sebesar 20 ribu. Untuk mengantarkan ke suatu tempat dengan jarak sejauh 3,9 kilometer. Sudah menjadi kebiasaan saya, saat menggunakan kendaraan umum seperti taksol atau bajaj.

Nasib Bajaj Kini dan Nanti

Daripada bengong atau menjadi ahli nunduk, lebih baik saya membuka pembicaraan dengan supirnya. Ngobrol. Obrolan tentu saja soal nasib bajaj kini dan nanti, yang keberadaannya semakin ke sini antara ada dan tiada. Padahal diawal pengadaannya, sempat dijagokan. Sebagai pengganti bajaj merah yang kondisinya sudah memperihatinkan. Nahasnya, keberadaan BBG yang begitu dinantikan ini terkalahkan secara telak dengan kehadiran taksol. Tentu saja para pemilik bajaj biru dan juga supirnya sangat terpukul dengan kondisi saat ini. Dengan modal milik pribadi yang tentu tidak sedikit, saat membeli bajaj biru baru dengan harapan untuk dapat mengais rezeki darinya. Justru harus mengalami kerugian dan kecenderungan ke arah gulung tikar. Diakibatkan sepi dan lesunya para penumpang yang tertarik menggunakan bajaj.

Pilihan konsumen tentu saja tidak bisa disalahkan bila memilih menggunakan taksol. Karena perbandingannya sangat mencolok, membuat bajaj kalah jauh dengan taksol, bila dilihat dari beberapa hal. Menyebabkan para penumpang enggan menggunakan bajaj dan lebih memilih taksol. Berikut ini beberapa sebab orang malas orang malas menggunakan jasa bajaj biru:

  1. Harga yang ditawarkan sangat mahal: supir bajaj sering kali menetapkan harga suka-suka. Tidak ada pedoman untuk penetapan tarifnya, jadi seenaknya supir saja. Kesepakatan akan terjadi bila calon penumpang merasa mampu bayar dan sesuai dengan jarak yang akan ditempuh. Terlihat sekali bedanya dengan taksol saat ini yang menetapkan tari berdasarkan hitungan kilometer
  2. Tidak suka saat ditawar oleh calon penumpang: Kalau menemukan supir yang ditawar marah, beneran tidak enak. Supir terkadang ada yang ngedumel sepanjang perjalanan, membawa kendaraan ugal-ugalan, bahkan ada yang suka minta tambah uang. Tidak sesuai kesepakatan di awal dengan alasan jaraknya kejauhan atau mengalami macet di perjalanan. Akhirnya membuat penumpang marah dan akhirnya adu mulut dan tidak ikhlas mengeluarkan uang tambahan. Tidak semua supir sih begini karena ada yang baik juga, malah kita penumpang jadi iba. Tanpa diminta malah suka memberikan tambahan
  3. Keselamatan penumpang kurang diperhatikan: nah ini yang paling dikeluhkan. Sampai ada pameo mengatakan hanya supir dan Tuhan saja yang tahu kalau bajaj mau belok ke mana. Saking sembarangannya supir mengemudikan bajajnya. Baik itu kebut-kebutan maupun main selap selip di jalan. Terutama saat bajaj masih berwarna merah, karena tidak dilengkapi dengan kelengkapan seperti lampu sein
  4. Tidak ada kenyamanan: jangankan kenyamanan di dalam kendaraan, keselamatan penumpang saja tidak diperhatikan. Mulai dari bau tidak sedap yang terhirup, tempat duduk yang basah dan kotor,  supir yang suka merokok sambil mengemudi. Sampai dengan tidak tertutupnya bagian kanan kiri bajaj dengan sempurna. Membuat air masuk dan membasahi penumpang yang ada di dalam bajaj saat hujan turun
  5. Daya angkut lebih sedikit: hanya cukup untuk dua orang dewasa dengan ukuran sedikit besar atau tiga orang bila tidak terlalu besar-besar. Jadi sangat menyulitkan bila ingin menggunakan jasanya untuk keluarga. Belum lagi bila ingin mengangkut belanjaan dengan ukuran besar atau dengan volume yang banyak.

Keluhan pertama dari supir adalah pendapatan yang menurun drastis, antara 60-80% dari awal, sebelum hadirnya taksol. Dari 2 supir yang saya ajak ngobrol, mereka bercerita adakalanya mereka tidak mendapatkan uang untuk memenuhi setoran. Dari setoran yang besarnya berkisar antara 80 ribu hingga 100 ribu. Kondisi tidak menguntungkan ini dialami paling tidak 3 hari sekali, tergantung rezekinya. Kalau dulu, para bos pemilik bajaj akan mencatat kekurangan uang setoran sebagai utang supir yang harus dilunasi di kemudian hari. Kini bos pemilik tidak lagi mencatat setoran yang kurang sebagai utang. Tapi ada juga bos pemilik yang masih menerapkan sistem utang kepada supir bajajnya.

Kebetulan dari 2 supir yang bercerita, keduanya memiliki bos yang sangat baik. Artinya tidak mencatat kekurangan setoran anak buahnya sebagai utang. Kalau disetor hanya 60 ribu atau 70 ribu dari 90 ribu yang harus disetor tetap diterima. Mungkin bos pemilik juga menyadari akan kesulitan dari para supir bajajnya yang harus bersaing dengan taksol di aspal jalanan. Bahkan supir tadi pagi yang mengantarkan saya ke tempat tujuan, memiliki bos yang sangat murah hati. Selain tidak mencatat kekurangan setoran sebagai utang. Pak haji bos pemilik bajai ini, akan memberikan uang makan bila dilihat anak buahnya dalam 3 hari berturut-turut tidak dapat memberikan uang setoran penuh. Begitu pula bila berturut-turut anak buahnya berhasil memberikan uang setoran secara penuh. Maka akan ditanya lagi, apa benar anak buahnya itu sudah mendapatkan kelebihan dari uang setoran itu untuk dibawa pulang.

Kalau melihat dari kacamata para pemilik dan supir bajaj, sebagai manusia kita juga akan merasakan kesedihan. Dengan kondisi dan nasib bajaj kini dan nanti ke depannya. Karena penghasilannya menurun banyak bahkan bisa tidak ada pemasukan sama sekali. Belum lagi keberadaannya perlahan akan tergantikan sendiri secara alami oleh taksol. Pada akhirnya, mau tidak mau siap tidak siap semua sisi kehidupan harus mengikuti atau diarahkan menggunakan teknologi dan terhubung daring.

44 Comments

  1. jujur, saya lebih milih taksi/ojek online karena perkiraan harga yang sudah jelas. karena malas berdebat/nego dg sopir bajaj/ojek yang seringnya ga ramah. kan jadi aneh, kita bayar malah dicemberutin kayak org minta tumpangan

  2. Pemerintah harus peka dengan hal ini. Setidaknya ikut membantu dengan menyediakan lapangan kerja yang lain. Taoi ya emang gak semudah itu, Esmeralda.

    Kadang suka sedih liat tukang bajay yang udah tua2. Apalagi yg mereka mampu lakukan untuk bertahan hidup?

    Ah, apapun, semoga mereka selalu diberkahi rezeki yang berkah. Sediiih

    1. Iya, pemerintah harus turun tangan mengatur moda transportasi yang ada. Supaya tidak ada yang tersisihkan dan dianaktirkan. Aamiin

  3. Saya sendiri belum pernah mencoba naik bajaj di Jakarta maklum saya jarang banget ke jakarta, jika pengemudi bajaj dibekali dengan pengetahuan dan skill costumer service yang baik mungkin akan lebih banyak orang memilih angkutan bajaj.
    Tetapi saya lihat belum ada perhatian akan kesejahteraan kepada para supir angkutan umum di Indonesia.

  4. Saya sendiri belum pernah naik bajaj karena di daerah saya nggak ada bajaj. Tapi memang kalau lagi keluar kota saya lebih memilih taksi online, soalnya ya seperti yang ditulis di atas lebih nyaman dan tarifnya sudah ditentukan dari awal. Memang mau nggak mau kayaknya supir bajaj harus segera beradaptasi dengan teknologi banting setir kah, atau memperbaiki pelayanan nya jadi lebih baik

    1. Iya mbak, harus cari alternatif lain. Tapi saya pernah ngobrol sama supir bajaj, ada yang sudah pernah coba jadi supi ojol atau taksol. Tetap mereka balik lagi jadi supir bajaj. Karena persaingannya berat untuk ojol dan taksol, capai dan tidak dapat apa-apa, bahkan merugi. Untuk yang baru kredit ambil kendaraan

  5. Aku dulu kalau pulang ke Jakarta dari Bandung, turun stasiun Jatinegara. Depan stasiun deret-deret Bajaj, siap nganterin ke rumah ortu di Cipinang. Paling tawar-tawar bentar. Soalnya taxi engga mau, karena terlalu dekat.
    Mamahku dulu kalau takut nyebrang, naik Bajaj untuk nyebrang. Haha…Tahu sendiri jalan di Jakarta kan lebar banget…
    Miris juga sih nasibnya…kegusur oleh taxi online

  6. Sampe setua ini saya belum pernah naik bajai, hihiihi maklum orang udik yang jarang ke kota besar sepeti Jakarta.
    Kasihan juga nasib abang Bajai, dengan semakin meningkatnya teknologi transportasi, keberadaannya sudah mulai jarang diminati oleh pengguna.

  7. Sudah sedih sih lihat babang bajaj yang mulai sepi order tergerus banyaknya pilihan transportasi umum saat ini, terutama karena sudah tersedia alat transportasi online dengan biaya yang jauh lebih murah. Di satu sisi, babang bajaj mesti juga mulai mempertimbangkan lho, inovasi apa yang mesti mereka lakukan agar tak tergerus jaman. Di sisi lain, mungkin pemerintah perlu turut campur juga melakukan suatu hal untuk membantu mereka

    1. Iya mbak. Sepertinya saya pernah dengar kalau salah satu perusahaan ojol sudah memasukan bajaj sebagai mitranya. Tapi kok tidak terdengar lagi. Benar atau tidak ya…

  8. hmmm kasihan dg nasib para sopir bajaj. tapi kendaraan kan memang harus upgrade sesuai jaman. kalau sekarang kita pengen yg bersih dan nyaman, sayangnya bajaj masih banyak yg kesannya kumuh dan kurang nyaman. gimana donk…

  9. Memang patut disayangkan jika akhirnya hilang dari peredaran. Saya pernah naik bajaj jiga, demi kenangan, dan memang tak bisa tenang. Apalagi tarif termasuk mahal jika dibandingkan taksi online.

    1. Betul, sekarang ini untuk tarifnya masih tetap mahal dibanding taksol. Ya jelas penumpang lebih milih taksol yang murah dan memberi kenyamanan

  10. Dunia transportasi semakin hari memang semakin maju dan memudahkan. Bajaj yang awalnya sangat dibutuhkan makin hari bersaing dengan model transportasi lain, seperti busway, juga kendaraanonline lain. Semoga supir Bajaj segera memiliki inisiatif untuk mencoba jenis usaha yang lain sesuai dengan kemajuan zaman ini.

    1. Bahkan ada beberapa supir bajaj yang sudah pernah jadi supir ojol maupun taksol. Tetap mereka kembali lagi jadi supir bajaj. Alasannya mereka malah lebih sengsara di dunia online

  11. “Konsumen akan memilih harga yang paling murah dari yang termurah dengan kualitas atau pelayanan yang terbaik.” Hehe ini aku banget sih. Ya hemat tapi nyaman. Aku pribadi pakai taxol kalau mepet hujan deras aja atau pergi dengan banyak orang. Soalnya gak sehat juga buat dompet. Waah, kupikir tarif bajaj itu seragam ternyata tergantung sopirnya ya. Kalau begini sama aja kayak angkot dan elf, gak pernah tahu tarif sebenarnya berapa. Setiap naik pasti beda harganya. Dan banyak yang ugal-ugalan juga. Seneng deh kalau pemilik bajajnya gak mematok setoran, secara ya kan cari penumpang di zaman sudah ditunjang transportasi daring, yang konvensional semakin berkurang. Karena sejak kendaraan pribadi bertebaran, angkutan umum konvensional penumpangnnya memang sudah berkurang. Tapi kalau mau membenahi dari yang punya bajaj, terus sopir bajajnya. Menarik juga kalau dijadikan bajaj online 🙂

    1. Iya, hampir semua konsumen pasti berpikiran sama kok, seperti mbak dan saya. Saya pernah dengar katanya bajaj akan bermitra dengan ojol tapi kok tidak ada lagi beritanya sekarang ini

  12. Saya kira bajaj yang beroperasi itu punya perusahaan atau minimal induk semang ya Kak. Baiknya memang dikelola dan di branding dengan baik, terutama prosedur standar operasional, harga dan lainnya

    1. Ada induk semangnya (bos). Jadi sistemnya sewa untuk 1 hari penuh misalnya. Sepertinya harus ada bantuan pemerintah untuk mengatur

  13. Pertamakali datang ke Jakarta, salah satu angkutan umum yang ingin sekali saya coba adalah bajaj. Lalu pas naik, saya ngakak gak berhenti-berhenti karena kalau mau ngobrol harus kenceng akibat kalah sama suara mesin bajajnya yang ajiib banget

    Sedih juga sih ngebayangin nasib bajaj kalau sampai hilang dan tergusur
    Tapi ya gitu deh, agak gak nyaman memang klo ketemu yang jutek dan ngasi tarifnya gak kira-kira
    Semoga ke depannya ada kebijakan yang baik untuk kelangsungan bajaj

    1. Iya, kalau ngobrol pas naik bajaj merah. Suaranya harus balapan sama suara mesin😅. Beberapa kali pernah dapat supir yang kasih tarif mahal

  14. Sungguh nasib bajaj skrg akan mulai menyusut dan harus tetap berjibaku dengan kendaraan onlinenya.. Semoga aja para bos yang baik hati dan Pemerintah tetap melestarikan kendaraan asli baja buatan anak bangsa

    1. Iya benar, kalau ke Tanah Abang enak pakai bajaj. Pernah ngobrol smaa supir taksol mereka jarang ada yang mau bawa penumpang ke Tanah Abang. Karena akan rugi dengan macet yang lama adan panjang

  15. bajaj yang saya tahu adanya hanya di jakarta, jadi bajaj bisa dikatakan ikon kota jakarta juga. sebagai transportasi yang cukup merakyat, keberadaan bajaj harus tetap dilestarikan. namun semua kembali kepada para pengemudi bajaj itu sendiri, kalau mereka bisa memberikan pelayanan yang lebih, pasti akan tetap laku

    1. Harusnya memang dilestarikan ya, karena benar kata mas bajaj sudah jadi icon Jakarta. Tinggal Pemda yang harus mengatur tentang keberadaan bajaj sebagai salah satu moda transportasi. Supaya tetap eksis dan tidak merugi

  16. Saya naik bajaj di Indonesia terakhir kali mungkin 20 tahun yang lalu, hehehe. Cuma tahun kemarin, saya sempat naik Tuk-tuk di Cambodia yang bentukannya justru lebih mirip Bajaj daripada Tuk-tuk yang ada di Thailand 😀

    Dan enaknya, Tuk-tuk di Cambodia ini (alias bajajnya Cambodia ini) bisa dipesan online pakai aplikasi GRAB. Jadi enak, sebelum order sudah ketauan harganya berapa dan bayarnya pun bisa pakai kartu kalau nggak bawa cash (diconnect gitu appsnya ke kartu yang kita punya). Seandainya bajaj-bajaj di Indonesia juga dikelola oleh aplikasi online, mungkin akan ada banyak orang lagi yang mau menggunakannya 😀

    Karena sekarang permasalahannya kita sebagai customer cenderung lebih memilih transportasi yang murah, dan terjamin harga, kualitas dan pelayanannya. Hehehe. Semoga one day, bajaj ada di aplikasi online juga ya agar lebih tertata sistemnya dan para driver juga tetap dapat pemasukan 🙂

    1. Namanya juga tuk tuk ya. Nah, saya pernah dengar juga di sini bajajnya juga mau bermitra dengan perusahaan ojol. Tapi kok belum kedengeran lagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.