Nanas Madu sebagai Hidangan Pelengkap untuk Berbuka Puasa

Si abang pedagang sedang mengupas nanas

Ramadhan tidak terasa sudah berada di hari ketiga. Tepat hari Senin ini, karena mulai puasa serentak dimulai hari Sabtu. Untuk nona dan gadis kecil, tahun ini menjadi tahun keempat mereka belajar berpuasa. Alhamdulillah mereka sudah mulai lancar berpuasanya.

Di hari pertama, hanya ada sedikit rengekan dari gadis kecil. Baru pukul sebelas pagi sudah merengek kehausan. Mungkin hanya butuh penyesuaian untuk berpuasa. Alhamdulillah, puasanya masih lanjut hingga maghrib. Caranya dengan diajak ngabuburit, supaya keinginannya untuk berbuka teralihkan. Di hari kedua, gadis kecil sudah mulai bisa menyesuaikan diri. Sudah tidak terdengar lagi rengekan kehausan atau kelaparan dari mulutnya. Sebagai imbalannya saya ajak keliling mencari buah.

Nanas Madu Sebagai Hidangan Pelengkap untuk Berbuka Puasa

Nanas madu, buah yang akhirnya dibeli kemarin sore, sebagai hidangan pelengkap untuk berbuka puasa. Saya kenal buah yang satu ini sebenarnya sudah lama. Kalau tidak salah ingat, sejak setahun yang lalu, pertama kalinya memakan nanas madu. Tapi masih jarang sekali yang menjualnya di daerah rumah saya. Semakin ke sini penjual nanas madu sudah mulai ada dan mudah ditemui. Gerobak dengan warna yang khas, kombinasi antara kuning dan hijau. Biasa mangkal di pinggir jalan, yang mudah untuk didatangi oleh pembeli.

Gerobak penjual nanas maduKebetulan ketika membeli nanas madu sebagai hidangan pelengkap untuk berbuka puasa. Saya sempatkan ngobrol, lebih tepatnya tanya jawab dengan abang penjualnya. Sambil si abang mengupas nanas madunya, saya tanya-tanya. Kalimat pembukanya adalah daerah asal buah kecil yang manis itu. Sempat kaget juga atas jawaban yang diberikan, yaitu berasal dari desa Belik, Pemalang. Sebabnya, saya mengira nanas madu adalah buah yang diimpor. Ternyata buah lokal dalam negeri sendiri, alhamdulillah. Bangganya.

Harga nanas madu memang sedikit lebih mahal, bila dibandingkan dengan nanas biasa yang bukan madu. Dengan ukuran yang lebih kecil daripada nanas lain, nanas madu dihargai antara Rp. 5000 – Rp. 6000 per buah. Dengan harga yang lebih mahal itu, pembeli mendapatkan jaminan bahwa nanas yang dibeli pasti manis. Makanya diberi nama madu, karena madu identik dengan rasanya yang manis, walau ada juga madu pahit. Kata madu, memang banyak digunakan untuk melengkapi nama buah yang dianggap pasti manis. Contoh lainnya yaitu ubi madu atau disebut juga ubi cilembu.

Menurut penuturan abang penjual yang mulai menjual nanas madu sekitar 4 bulan yang lalu di Matraman. Mereka para pedagang buah kecil manis ini memiliki bos. Jadi gerobak dan nanas madu yang ingin dijual dikirim oleh bosnya. Untuk gerobak beda bos maka akan beda warnanya. Setiap pagi setelah Subuh, nanas madu sudah diantarkan menggunakan dus. Pedagang hanya diminta untuk menjualkan nanas madunya. Selanjutnya abang pedagang akan menyetor sejumlah uang dari hasil penjualan. Buah nanas madu yang terjual per buahnya wajib setor Rp. 3000 – Rp. 3500 (naik turun). Jadi setiap satu buah nanas madu terjual, abang pedagang akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp. 2000.

Keuntungan itu pun masih belum bersih, karena masih harus dipotong. Untuk membayar sewa kamar untuk tinggal dan sewa menaruh gerobak. Tapi ada juga bos yang memberikan tempat untuk tinggal sekaligus menaruh gerobak. Yang dicari adalah bos yang seperti itu, memberikan tempat, jadi tidak mengeluarkan uang untuk sewa lagi. Bersihnya, uang yang dibawa pulang oleh abang pedagang hanya sekitar Rp. 1500 per buah yang laku terjual. Rata-rata per hari, abang pedagang yang saya tanyai ini berhasil menjual satu dus. Isi per dus adalah enam puluh nanas madu. Ketika ramai seperti kemarin sore jelang berbuka puasa, bisa menjual sampai dua dus. Pangkalan dari si abang pedagang nanas madu ini berada di daerah Bukit Duri, sebelah mana tepatnya saya tidak tanyakan :).

Jualan dengan gerobak seperti itu lumayan juga jalannya ya. Dari Bukit Duri sampai Matraman. Yah, sekitar lima kilometer mungkin ya jaraknya. Mulai keluar dari pangkalan pukul setengah tujuh pagi, baru pulang sekitar pukul enam sore. Asumsinya dagangan sudah akan habis seperti kemarin sore saat saya temui. Cuma bisa bantu doa saja, semoga dagangannya laris terus ya.

38 thoughts on “Nanas Madu sebagai Hidangan Pelengkap untuk Berbuka Puasa

  1. nenas madu itu salah satu buah2an kesukaan saya karena rasanya manis. Manfaat nenas dahsyat loh. Mulai dari bermanfaat untuk sistem kekebalan tubuh sampai mencegah osteoporosis.

  2. Aaaah aku doyan banget nanas madu ini. Biasanya di Depok dijualnya udah dikupas dan dipaket 3 biji gitu mbak. Dan itupun bisa aku makan sendiri. Enaak..

    Eh di sana satunya 5 ribu ya mbak? Di depok kayanya isi 3 biji itu kisaran 20ribuan deh. Semoga dagangan bapak laris manis yaa. Aamiin

    • Iya di sini satunya 5 ribu. Wah di Depok lebih mahal ternyata, padahal seingat saya di Depok sudah ada lebih dulu nanas madu di banding di Matraman sini

  3. Aku belum pernah coba sama sekali tapi ada yang mangkal kira2 200M dari rumah. Kalau liat tampilannya manis ya karena kuningnya pekat.
    Coba akh…😄

    • Kayaknya umur sekarang tidak jadi patokan ya, melainkan karena pola makan kita yang sembarangan. Hati2 dengan asam uratnya ya, dicoba saja terapi dengan nanas madunya

  4. Nanas madu memang enak banget. Memang nggak semurah Nanas pasar umumnya, sih. Sekarang yang jualan tambah banyak, apalagi pas bulan puasa gini. Enak sih…

Leave a Reply to Idfi pancani Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>