Menunggu, Hal Yang Menjengkelkan Bagi Pasien

Salah satu hal yang paling menyebalkan adalah menungu. Yup, menunggu untuk alasan apapun itu. Terlebih bila menunggu untuk mendapatkan pelayanan, yang jelas-jelas kita diharuskan membayar untuk itu. Tentu harapan untuk dilayani dengan baik menjadi lebih besar. Bahkan kalau perlu tidak perlu ada antrian untuk menunggu.

Termasuk saya juga paling sebel kalau disuruh menunggu. Terutama yang tidak ada kejelasannya. Ini pengalaman semalam yang saya alami saat ke salah satu rumah sakit ibu dan anak dekat dengan rumah. Pegalaman menunggu yang tidak menyenangkan sudah 2 kali saya alami di rumah sakit ini.

Awal mendatangi rumah sakit ini saya diharuskan mendaftarkan diri. Berhubung ini adalah kunjungan perdana saya untuk periksa pertama kalinya. Wajar prosedur ini harus dilalui dan diikuti. Setelah mengisi sebuah formulir berisikan data diri saya pun diperintahkan hanya untuk menunggu di ruang tunggu bagian poli yang ingin saya kunjungi. Sebelumnya saya bertanya mendapat nomor urut berapa? petugas hanya menjawab sesuai kedatangan. Saya pun melakukan apa yang diperintahkan. Tampa banyak bertanya lagi.

Awalnya saya biasa saja saat menunggu walau sudah berlalu satu jam. Adanya hiburan dari seorang balita laki-laki yang berlarian ke sana ke mari tanpa merasakan lelah. Membuat saya sedikit melupakan waktu menunggu. Tapi semua itu berubah saat seorang suster mendekati untuk meminta saya melakukan tensi.

Saat melakukan tensi saya pun bertanya mendapat nomor urut diperiksa oleh dokter ke berapa? Suster menjawab urutan keempat. Saya pun langsung protes karena menurut saya paling tidak saya seharusnya mendapatkan nomor urut ketiga. Tapi jawaban susternya menambah jengkel. Nomor urut diberikan berdasarkan urutan tensi. Tentu saja hal ini membuat nomor urut saya menjadi yang terakhir.

Jelas saya protes keras, karena saya jelas mengetahui sisa pasien yang masih tertinggal dan belum mendapatkan pelayanan. Saya pun hafal pasien siapa saja yang ada saat saya baru datang. Begitu pun pasien mana saja yang baru datang setelah saya.

Saya pun meminta urutan saya dipindah sesuai urutan kedatangan saya, tapi tetap ditolak. Suster beralasan kalau urutan berdasarkan urutan tensi. Bagaimana mungkin dalam rumah sakit ini melakukan kebijakan yang berbeda dan membingungkan pasien?

Saya pun membuat sebuah kritik dan saran untuk pihak rumah sakit ini. Di sebuah kertas, entah disampaikan ke pihak yang berkepentingan atau tidak. Keluhannya bukan karena selisih satu nomor urut saja lalu protes. Bukan… bukan itu.

Hanya ingin membantu pihak manajemen memperbaiki sistem yan telah dibuat. Kalau di tempat pendaftaran pasien dibilang mendapatkan nomor urut berdasarkan kedatangan ya harus sama dengan di bagian polinya. Jangan di bagian polinya membuat peraturan yang berbeda. Seperti kasus saya nomor urut diberikan berdasarkan tensi. Kalau memang ada perbedaan seharusnya pihak rumah sakit juga proaktif dan mengkomunikasikannya kepada pasien.

Caranya: setiap pasien yang baru datang ditanyakan dan diminta untuk langsung tensi. Atau peraturan yang lain yang harus dikerjakan dan dilaksanakan.

Kadang hal-hal sepele seperti ini diabaikan oleh pihak manajemen dan petugas di lapangan yang langsung bertemu dan melayani pasien. Akhirnya kenyamanan pasien menjadi taruhannya. Padahal seharusnya hal ini tidak perlu terjadi. Kalau dikomunikasikan dengan baik.

Semoga semua rumah sakit di Indonesia ini lebih memperhatikan kenyamanan pasien. Sebab pasien merasa sudah bayar, tentu menginginkan pelayanan yang baik. Jangan badan sudah sakit ditambah lagi rasa kesal karena hal-hal sepele yang disebabkan oleh tidak adanya perhatian dari petugas dalam melayani. Semoga.

 

 

5 thoughts on “Menunggu, Hal Yang Menjengkelkan Bagi Pasien

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.