Menuju Puncak Tugu Monas dengan Gowes Sepeda

Tugu monas

Boleh jadi sebagai orang yang sudah bertahun-tahun tinggal di Jakarta, anda belum pernah menginjakan kaki di atas puncak tugu monas. Alasannya pasti banyak, kalau boleh menebak, salah satunya adalah antrean masuknya. Yup betul, alasan antrean yang panjang mengular memang menjadi alasan kemalasan untuk mengunjungi puncak tugu monas. Setidaknya untuk saya pribadi, yang paling malas untuk antre kalau harus berdiri dalam waktu yang lama. Tidak kuat.

Walau sering membawa anak-anak ke monas pada waktu pagi di hari Sabtu atau Ahad. Tapi selama ini belum pernah berusaha ikut antre untuk naik ke puncak tugu monas. Padahal ada keinginan untuk naik ke puncak, tapi saat tengok dan melihat antrean yang panjang. Seketika keinginan itu langsung lenyap tidak berbekas. Hanya bisa berharap lagi, semoga suatu saat tanpa harus antre panjang bisa menuju puncak tugu monas.

Ahad, 18 Februari kemarin tidak disangka kesempatan untuk naik ke puncak tugu monas datang. Tanpa direncana dan disangka sebelumnya, alhamdulillah ?. Awalnya saya dan anak-anak berencana untuk gowes sampai monas lalu langsung pulang dengan melewati jalur CFD, ternyata…

Kali ini anak-anak berharap bisa gowes bareng jiddahnya tidak batal lagi. Seperti rencana gowes ke monas yang lalu. Rencana pun dibuat beberapa hari sebelumnya, kami janjian di tengah jalan untuk bertemu dengan jiddah lalu gowes ke monas bersama. Rencana hampir gagal, karena Sabtu malam jelang Subuh hujan deras mengguyur Jakarta. Saya hanya bisa berharap supaya hujan berhenti saat kami akan berangkat setelah sholat Subuh.

Alhamdulillah hujan berhenti sesuai harapan. Setelah melakukan persiapan sebentar, kami pun keluar rumah untuk memulai gowes. Menuju titik temu di satu tempat, tanpa berhenti gowes kami akhirnya bertemu dengan jiddah dan melanjutkan perjalanan kami menuju monas. Mendung masih menggelayut di langit sana, ketika kami memulai perjalanan. Harapan supaya hujan tidak turun kali ini rupanya belum terkabul. Sampai di jalan Pramuka, hujan mulai turun satu dua tetes. Rombongan kecil kami masih mengabaikan hujan kecil itu dengan terus melaju melewati jalan layang Matraman menuju Cikini. Rute ini dipilih karena saya anggap jaraknya lebih pendek, daripada harus melalui Kwitang.

Nona dan gadis kecil tetap semangat mengayuh sepedanya walau hujan turun dan mulai deras. Sampai di halte seberang metropol (megaria), akhirnya jiddah meminta untuk berteduh sebentar. Mendung putih masih ada dan hujan tampaknya enggan untuk berhenti walau telah cukup lama–antara 15-30 menit–kami duduk menunggu berteduh dari guyuran hujan. Anak-anak sudah mulai bosan menunggu dan minta untuk melanjutkan perjalanan. Hujan sedikit reda saat rombongan kami melaju lagi menuju monas, yang masih separuh jalan untuk dilalui.

Kebayang dong bawa anak umur 7 dan 9 tahun naik sepeda di jalan raya sambil hujan-hujanan. Ngeri ngeri sedap plus asyik ?. Ngeri karena khawatir anak-anak sakit. Asyik karena bisa ikut hujan-hujanan.

Akhirnya sampai juga kami di jalan Medan Merdeka, dekat kantor Gubernur. Monas sudah di depan mata, sementara hujan masih turun, jiddah tiba-tiba meminggirkan sepedanya untuk membeli jas hujan sekali pakai seharga 10 ribu untuk kami. Setelah memakai jas hujan, perjalanan dilanjutkan. Saya mengira rombongan akan langsung menuju jalan Thamrin melewati CFD untuk kembali pulang. Ternyata keliru, jiddah mengajak kami tetap masuk area monas. Alasannya, sayang dan tanggung kalau tidak masuk. Melalui pintu IRTI kami masuk dengan sepada masing-masing. Senangnya bisa tercapai lagi tujuan gowes ke monas, kali ini bersama jiddah ?.

Menuju Puncak Tugu Monas dengan Gowes Sepeda

Menuju puncak tugu monas dengan gowes sepeda, bisakah? Bisa, kalau anda serius mau ke puncak tugu monas. Jadi tunggu apalagi, ayo mulai gowes. Tidak mahal kok untuk masuk area monas, malah gratis. Sepedakan tidak kena biaya parkir, jadi asyik. Ditambah lagi badan sehat, karena bersepeda itu olahraga.

Setelah berada di area monas, rombongan kecil kami langsung mengelilingi tugu monas. Sambil gowes jiddah langsung melontarkan ajakan untuk naik ke puncak. Saya yang sejak awal tidak punya rencana cuma senyum saja sambil terus gowes sepeda. Cuma nona dan gadis kecil langsung berharap dan mengiyakan ajakan jiddahnya. Akhirnya diputuskanlah kami akan naik ke puncak tugu monas dengan gowes sepeda untuk pertama kalinya. Saat berkeliling kami sempatkan untuk mampir ke gerbang pintu masuk menuju puncak tugu monas. Hanya ada beberapa orang pengunjung dan petugas yang berjaga. Mungkin karena masih pagi, hujan dan belum waktunya dibuka untuk umum jadi masih sepi.

Setelah bertanya beberapa hal kepada petugas yang berjaga, kami pun melanjutkan berkeliling menuju pintu keluar. Tepatnya ke area kuliner, mencari makanan kecil untuk sarapan pagi dan tempat penitipan sepeda. Saya sempatkan bertanya kepada petugas yang berada di tenda di depan area kuliner tentang penitipan sepeda. Ternyata menurut petugas, tidak ada tempat untuk menitipkan sepeda. Padahal saat bertanya ke petugas yang berada di depan gerbang pintu masuk menuju puncak tugu monas, kami diarahkan ke petugas yang berada di area kuliner.

Gerbang pintu masuk ke tugu monas

Jam menunjukan hampir pukul 8 pagi saat kami keluar dari area kuliner menuju gerbang pintu masuk menuju puncak tugu monas. Kami pun akhirnya memarkirkan sepeda di area parkir yang disediakan untuk motor yang berada sekitar 100 meter dari pintu masuk puncak monas. Tanpa digembok, hanya bisa berdoa semoga sepeda kami aman. Selanjutnya ikut antre di depan gerbang pintu masuk yang belum juga dibuka karena masih belum pukul 8. Saat antre, petugas yang di awal tadi sempat menyuruh kami untuk menitipkan sepeda di depan area kuliner mendekati dan bertanya. Kenapa sepedanya di parkir di situ bukan di sana dekat area kuliner? Kami pun menjelaskan kalau di area kuliner ditolak oleh petugas di sana saat akan menitipkan sepeda. Bukannya membolehkan memarkirkan sepeda, petugas itu malah “menakuti” kalau nanti sepedanya bisa diangkut petugas patroli.

Terlanjur memarkir dan sudah berada dalam antrean, kami pun hanya bisa pasrah kalau nantinya sepeda kami diangkut petugas. Bismillah saja, karena sekarang waktunya menuju puncak tugu monas dulu. Supaya tidak merusak suasana senang dan untuk menenangkan diri. Kami memutuskan untuk masalah (bila) sepeda diangkut petugas, akan diselesaikan nanti setelah turun dari puncak. Pukul 8 lewat, setelah petugas menghubungi rekannya di dalam, akhirnya pintu dibuka. Kami pun segera masuk dengan mempercepat langkah, seolah-olah khawatir pintu akan segera ditutup kembali. Semoga tidak ada yang melihat tingkah kami ini sebagai ke-norak-an ?.

Antrean pembelian tiket

Alhamdulillah, akhirnya bisa masuk ke tugu monas. Setelah melewati pintu gerbang kami dan pengunjung lainnya harus menuruni tangga menuju loket pembelian tiket masuk menuju puncak monas. Ada dua pilihan tiket yang bisa dibeli, yaitu pertama naik hanya sampai bagian cawan dan kedua naik sampai puncak tugu monas. Ada selisih harga yang harus dibayarkan tentunya bisa dilihat di foto. Kami pun memilih membayar tiket sampai puncak. Sensasi bisa masuk ke lorong menuju puncak tanpa antre panjang itu, benar-benar wauw. Ditambah petugas yang menyemangati para pengunjung yang sudah memiliki tiket untuk bergegas naik lift supaya tidak antre naik menuju puncak tugu monas.

Antrean di lorong setelah beli tiket

Pintu pemeriksaan tiket menuju antrean naik lift

Antrean lift untuk naik ke cawan atau puncak monas

Antrean di depan lift

Kami harus antre lagi di depan lift sebentar, sebelum akhirnya mendapat giliran untuk diangkut sampai puncak. Saat mendapat giliran naik, kami memilih untuk langsung ke puncak tugu monas. Alhamdulillah, sampai di atas yang menjadi puncak tertinggi di Jakarta. Dari atas bisa melihat ke bawah dengan 4 buah teropong yang disediakan. Tentu saja harus sabar, karena harus bergantian dengan pengunjung yang lain. Rasanya puas, keinginan untuk menuju puncak tugu monas dengan gowes sepeda dan tanpa antrean panjang dapat terpenuhi. Anda tertarik? Ayo, ajak anak dan keluarga menuju puncak tertinggi di Jakarta.

32 thoughts on “Menuju Puncak Tugu Monas dengan Gowes Sepeda

  1. Saya belum pernah sih kak sampai keatasnya Monas.
    2x kesana cuma dibawahnya aja. Hahhaa
    Lagian liat antriannya aja udah males duluan, wkkwkw.
    Maklum, bukan tipe orang yang sabaran ??

  2. Naah Bunda belum #sempat ke puncak Monas harus direncanakan benar” karrna dari Bandung plus berdoa yaa. Menarik . . .

  3. Waah….sy sendiri belum tuh nyoba naik ke Monas. Iya itu, males dengan antriannya. Belum jam 8 aja udah penuh ya ternyataa…..

    Tapi pengen deh suatu hari nyobain, masa seumur-umur di Jakarta kalah sama wisatawan hehehe

Leave a Reply to Desy Yusnita Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>