Menuju Longmarch ke Monas 212

Pesan berantai longmarch di whatsapp Sejak beberapa hari yang sudah berlalu, saya sudah sibuk ingin pergi ke aksi damai 212 di Monas. Baru hari Kamis, memantapkan diri untuk berada di Monas bersama para jamaah lainnya.

Semua serba mendadak tanpa ada perencanaan sebelumnya. Sampai beberapa jam sebelum berangkat, masih belum punya teman untuk pergi ke Monas. Pada awalnya berharap akan pergi bersama suami. Tapi sayang beliau pergi bersama teman-temannya. Akhirnya saya mengalah dan mulai mencari teman seperjalanan.

Bangun tidur sudah langsung mandi dan bersiap untuk mencari teman. Kebetulan beberapa teman memiliki inisiatif untuk membuat dapur umum. Jadilah saya menghubungi mereka, menanyakan adakah yang bisa dibantu. Alhamdulillah saya masih bisa membantu untuk mengantarkan beberapa bungkusan nasi untuk dibagikan. Ya amal jama’i (berjamaah) semua ingin ikut berpartisipasi membantu. Untuk aksi super damai 212 kali ini.

Selesai mengantarkan nasi-nasi bungkus itu, saya pun mencari pekerjaan lain, yang mungkin masih memerlukan bantuan. Sekaligus mencari teman perjalanan menuju Monas. Tapi tidak ditemui pekerjaan yang diharapkan. Bahkan teman perjalanan pun belum didapatkan. Sebuah pesan di whatsapp masuk, ternyata seorang teman menanyakan akankah saya pergi ke Monas. Langsung saya jawab dan ajak dia menjadi teman perjalanan menuju monas. Tapi belum dapat kepastian. Sambil terus berhubungan melalui whatsapp dengan teman itu, akhirnya saya memutuskan untuk ikut rombongan suami dan temannya yang menggunakan taksi. Belakangan baru diketahui kalau rombongan itu hanya sampai Kenari. Dilanjutkan dengan berjalan kaki hingga Monas.

Sendirian saya turun dari taksi dan berjalan menuju pasar Pramuka. Memilih tempat itu, karena dua hari sebelumnya saya mendapatkan pesan berantai di whatsapp. Kalau akan ada rombongan longmarch yang akan melewati pasar Pramuka. Sebagai bentuk solidaritas saudara-saudara muslim yang dari Ciamis ke Jakarta dengan longmarch. Sepi yang saya dapati, hanya beberapa bapak yang menunggu di halte bus. Mungkin memiliki niat yang sama, menunggu rombongan longmarch. Alhamdulillah ada seorang perempuan yang kebetulan saya kenal (walau hanya kenal wajah). Akhirnya kami pun ngobrol sambil menunggu rombongan yang lain. Tak lama ada seorang perempuan lagi yang datang menghampiri saya. Menanyakan apakah saya ingin ke Monas? Karena dirinya pun mencari teman perjalanan longmarch. Yup, semakin lama semakin bertambahlah teman perjalanan.

Menuju Longmarch ke Monas 212

Alhamdulillah, teman saya sudah memutuskan untuk pergi bersama menuju longmarch ke Monas 212. Kami pun janjian untuk bertemu di pasar Pramuka. Rombongan kecil kami yang tanpa rencana sebelumnya semakin bertambah. Setelah teman saya sampai di titik temu, bertambah lagi rombongan dari para guru. Kebetulan mereka adalah guru-guru dari sekolahan tempat anak saya sekolah. Yaitu Sekolah Islam Permata Bunda, yang berada di Jakarta. Saya pun mengenali mereka begitu pula sebaliknya. Terbukti segala kemudahan diberikan Allah swt kepada saya dan juga orang lain yang ingin mengikuti dan datang ke Monas. Tentunya untuk mengikuti aksi damai 212 umat muslim. Karena hari sudah makin siang, kami pun akhirnya memutuskan untuk memulai longmarch ke Monas 212.

Rombongan jemaah di depan pasar PramukaTepat pukul 07.47 rombongan kecil kami mulai perjalanan. Dimulai dari Pasar Pramuka menuju Monas. Rute yang kami lewati adalah Matraman Raya, Salemba Raya, Kramat Raya, Kwitang, Tugu Tani, Ridwan Rais, Monas. Sepanjang perjalanan bertemu beberapa rombongan yang menuju satu tujuan yang sama yaitu Monas. Bahkan saat rombongan kami berada di depan gedung Arsip Nasional. Terlihat berbondong-bondong rombongan yang turun dari flyover Matraman menuju arah Salemba. Kemungkinan itu adalah rombongan longmarch yang dikoordinir melalui pesan berantai whatsapp. Saya kebetulan tidak membawa apa-apa, alias lenggang kangkung. Malas untuk membawa tas apalagi bekal makanan minuman. Rencananya kalau haus atau lapar ya tinggal beli saja sambil lewat. Tapi rencana tinggal rencana, karena sepanjang perjalanan saya menemukan banyak sekali makanan dan minuman. Semua dibagikan dengan gratis.

Pembagian makanan dan minuman gratisSemua orang ingin berpartisipasi dalam aksi damai 212. Semua orang ingin mendapatkan pahala yang sama dan ingin berbagi apa yang dimiliki untuk membela agama Allah. Yang punya dana menyumbang air, roti, nasi bungkus, dan sebagainya. Terbukti sejak di depan kampus UI Salemba, sudah ada yang membagi-bagikan air mineral. Semuanya gratis tidak bayar, semua ikhlas berbagi karena Allah. Subhanallah. Sejuk sekali melihat dan merasakan langsung sepanjang perjalanan pemandangan seperti itu.

Kami yang longmarch masih dapat berjalan lancar dan tanpa hambatan. Karena arus kendaraan sudah tertutup oleh rombongan longmarch. Jadi kalaupun ada kendaraan yang lewat hanya motor dan mobil yang akan ikut aksi damai 212 juga. Perjalanan longmarch kami mulai tersendat saat keluar dari jalan Kembang, Kwitang. Bahkan rombongan kecil kami berpencar. Tinggal saya tersisa berdua saja dengan teman yang memang sudah janjian bertemu di pasar Pramuka. Yang penting masih ada teman perjalanan, seperti pesan dari suami harus ada teman jangan sendirian.

Jamaah yang tuna netra ikut aksi damai 212Perjalanan tetap berlanjut berdua saja dengan perlahan. Semakin mendekati Tugu Tani semakin padat dan sulit untuk lewat. Banyak motor dan mobil yang terjebak lautan massa di jalan Ridwan Rais. Menurut salah seorang pengendara motor yang saya tanya, mereka sudah terjebak sejak pukul 08.00. Kurang lebih sudah sekitar satu jam mereka mematikan kendaraannya. Pasrah menunggu entah sampai berapa lama. Jangankan kendaraan, hanya membawa diri saja sudah kesulitan karena begitu padatnya manusia. Yang menakjubkan adalah tidak ada satu pun yang merasa panas dan emosi saat berdesak-desakan kemarin. Semua ikhlas berbagi tempat di jalan dan suasana sangat menyejukan. Bahkan untuk para bapak yang tidak melihat (tuna netra) saling berpegangan pun masih mau dan sanggup berdesakan dalam lautan manusia di sekitar lampu lalin di Tugu Tani. Begitulah kehebatan sebuah panggilan untuk membela agama Allah Swt.

Lautan massa di depan Tugu TaniPukul 09.25 alhamdulillah kami berdua sampai di halaman Monas. Ketika memasuki pagar Monas, suasana sudah agak lega. Di sini sudah mulai dipisahkan para jamaah pria dan wanitanya. Untuk shaf wanita masih banyak ruang dan mudah untuk dilewati. Bahkan para ibu banyak yang membagikan makanan sepanjang jalan. Kanan kiri banyak antrian orang yang berwudhu. Tempat wudhu banyak disediakan entah oleh panitia atau inisiatif masyarakat. Bahkan dari pemadam kebakaran pun menyediakan mobil damkar untuk tempat wudhu bagi para wanita. Kami pun ikut berwudhu di mobil damkar. Setelah berwudhu kami istirahat sebentar dengan duduk di samping taman. Setelah memakai kaos kaki dan sepatu kembali, kami melanjutkan jalan. Kami sengaja memilih ke bagian depan, mencari speaker agar terdengar ceramah dari para ustadz. Alhamdulillah kami masih mendapatkan tempat yang lega. Bahkan diberikan tempat yang beralaskan tikar sekali pakai. Semua ingin berbagi apa yang dimilikinya saat itu.

Jamaah akhwat yang membludakCeramah sudah dimulai entah sejak pukul berapa. Para ulama bergantian mengisi ceramahnya. Saat kami sudah duduk di pelataran Monas, gilirannya ustadz Arifin Ilham yang sedang berceramah. Kami duduk mengikuti acara dan mendengarkan ceramah hingga lantunan doa dan sholawat. Hingga tak terasa air mata mengalir karena haru. Acara aksi damai 212 terus berlanjut walau diguyur hujan. Tidak ada satu pun jamaah yang pergi meninggalkan tempat. Baik yang muda maupun tua, semua khidmat mengikuti acara dan sholat jumat berjamaah. Hingga selesai dan ditutup doa.

Allahu Akbar! Umat Islam bersatu tanpa sekat dalam aksi damai 212, semua demi bela Islam.

2 thoughts on “Menuju Longmarch ke Monas 212

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>