Mencoba Program Ok Otrip dari Kampung Melayu ke Duren Sawit

Mesin tapping kartu Ok Otrip

Salah satu program unggulan pada masa kampanye pilkada DKI Jakarta tahun 2017 kemarin. Cagub dan Cawagub Anies dan Sandi menjanjikan program OK OTrip untuk masyarakat Jakarta bila kelak terpilih. Program OK OTrip (One Karcis One Trip) adalah program transportasi dengan satu tarif yang besarnya Rp. 5000,- untuk sekali jalan. Hanya bisa ngebatin dalam hati saat itu, kalau bisa terwujud program ini sangat keren. Perkiraan saya, tiap penumpang dapat menghemat antara 2-3 ribu rupiah sekali jalan. Itu berarti meringankan beban ongkos untuk transportasi bagi masyarakat Jakarta.
Sejak Januari lalu Gubernur dan Wakil Gubernur yang terpilih, ternyata mewujudkan janji kampanyenya. Tapi saya baru baca dan cari beritanya dengan benar di akhir bulan Maret.

Mulai Januari itu pula dilakukan uji coba Ok Otrip dari 15 Januari-15 April 2018. Pada kesempatan uji coba Ok Otrip bisa dimanfaatkan sebanyak-banyaknya oleh masyarakat untuk mencobanya. Karena pemprov DKI Jakarta menggratiskan biayanya. Sayangnya hingga tanggal uji coba berakhir, saya belum punya kesempatan untuk mencobanya. Entah kenapa dalam hati, saya masih berharap semoga uji cobanya diperpanjang. Makanya sehari setelah masa uji coba Ok Otrip berakhir, saya langsung mencari beritanya. Harapan bukan hanya harapan, tapi jadi kenyataan. Masa uji coba Ok Otrip diperpanjang sampai dengan bulan Juli 2018. Sudah diniatkan dalam hati, kesempatan ikut uji coba Ok Otrip harus dilaksanakan.

Mencoba Program Ok Otrip dari Kampung Melayu ke Duren Sawit

Yeay, akhirnya tadi pagi berhasil menjalankan niat saya yang sudah berapa pekan lalu direncanakan. Apalagi kalau bukan mencoba program OK Otrip dari Kampung Melayu ke Duren Sawit. Karena program ini bekerja sama dengan transjakarta, makanya pertama kali yang saya lakukan adalah ke shelter transjakarta yang paling dekat dengan rumah. Pilihannya adalah shelter genjing. Berangkatlah saya ditemani oleh bocah kecil, naik mikrolet menuju genjing. Setibanya di shelter, saya langsung membeli kartu Ok Otrip di loket penjualan. Dengan menyerahkan uang 40 ribu rupiah, akan mendapatkan 1 lembar kartu yang berisi deposit senilai 20 ribu rupiah. Satu kartu Ok Otrip hanya untuk satu penumpang, tidak bisa digunakan beramai-ramai layaknya uang elektronik.

Perbandingan skema tarif dengan OK Otrip

Petualangan mencoba program Ok Otrip dari Kampung Melayu ke Duren Sawit dimulai. Setelah mentaping (menempelkan kartu Ok Otrip) untuk membayar ongkos transjakarta senilai Rp. 3500,-. Kami berdua naik ke bus transjakarta lalu transit di shelter matraman 2. Ganti bus transjakarta yang menuju terminal Kampung Melayu. Di terminal kami langsung mencari mikrolet yang sudah bekerja sama dan terintegrasi dengan transjakarta. Untuk mudahnya saya mencari mikrolet yang memiliki ciri khusus berupa gambar stiker Ok Otrip di badan mobilnya. Ciri khusus tersebut mudah dikenali dan ditemukan. Karena sampai sekarang belum banyak angkutan umum yang mengikuti program Ok Otrip. Baru ada 6 trayek yang beroperasi di Jakarta. Di terminal Kampung Melayu hanya ada satu trayek saja yang beroperasi. Jurusan Kampung Melayu ke Duren Sawit.

Antrean mikrolet OK-2 di terminal Kampung Melayu

Hanya ada kami berdua yang menjadi penumpang mikrolet nomer OK-2 tadi pagi. Sementara sopir ditemani oleh 1 pegawai transjakarta. Dari pengamatan saya, pegawai transjakarta bertugas untuk: satu, mentap kartu ke alat supaya saldo di kartu berkurang untuk membayar ongkos mikrolet Ok Otrip. Kedua, mencatat jumlah dan dari mana penumpang naik turun. Apakah setelah uji coba selesai nantinya sopir tetap ditemani dengan pegawai transjakarta atau tidak saya masih belum ada informasinya. Tanpa ngetem, sopir langsung mengemudikan mobilnya menuju Duren Sawit. Selama perjalanan dari Kampung Melayu sampai Duren Sawit total hanya ada 4 orang penumpang yang turun naik. Menurut keterangan pak sopir yang tidak mau memberikan namanya ketika saya tanya. Hari Sabtu dan Ahad memang sepi penumpang, tapi kalau hari kerja penumpangnya banyak. Selama satu shift saja (pagi sampai siang) penumpangnya berjumlah kurang lebih 700 orang.

Sopir dan pegawai Transjakarta

Berarti peminat program Ok Otrip lumayan banyak. Sayangnnya jumlah armada OK-2 yang disediakan di terminal Kampung Melayu terbilang sedikit, hanya ada 15 mobil. Trayek OK-2 merupakan penyempurnaan dari trayek yang sudah ada sebelumnya. Yaitu 6 unit mikrolet PW 03 yang melayani rute Kampung Melayu-Komplek PWI. Setelah diubah menjadi OK-2 jumlah armadanya ditambah 9 unit dengan rute yang dilayani diperpanjang. Total tersedia 15 unit mikrolet OK-2 dengan rute Kampung Melayu sampai Duren Sawit. Otomatis kehadiran program Ok Otrip dengan OK-2 nya meniadakan trayek mikrolet PW 03. Untuk sopir program OK Otrip diharuskan memiliki SIM A Umum. Selain itu calon sopir juga dites bagaimana kemampuan menyetirnya. Pada masa uji coba yang baru saja diperpanjang, ongkos untuk mikrolet digratiskan. Jadi penumpang transjakarta hanya membayar Rp. 3500,- saja selama durasi 3 jam.

 Plang pemberhentian khusus bertanda Ok Otrip

Kelebihan mikrolet Ok Otrip dibandingkan dengan mikrolet konvensional:
1. Jam operasionalnya yang lebih panjang dan lama: yaitu sejak pukul 05.00 – 21.00 tiap harinya
2. Tarif yang berlaku hanya satu saja: ongkosnya jauh dekat sama dengan membayar Rp. 3500/orang
3. Tanpa ngetem disembarang tempat: jangankan hanya 1 penumpang, mobil kosong tanpa penumpang yang naik saja, mikrolet tetap jalan. Jadi sopir tidak perlu ngetem untuk menunggu penumpang. Lagipula jeda waktu keberangkatan antara mikrolet yang pertama dengan yang kedua hanya 5-7 menit saja
4. Menaikan dan menurunkan penumpang hanya di plang pemberhentian khusus bertanda Ok Otrip: jangan khawatir, ada 20 plang disediakan bagi anda yang ke arah Kampung Melayu. Sementara yang ke arah Duren Sawit disediakan 24 plang pemberhentian. Pada awalnya banyak penumpang yang protes dan ngedumel, karena tidak bisa turun sesuai keinginan. Menjadi tugas sopir untuk memberikan informasinya kepada masyarakat pengguna
5. Tidak kebut-kebutan: gimana bisa ngebut, kalau kecepatan maksimal yang diperbolehkan adalah 40 km/jam. Selain itu sopirnya dapat gaji, jadi mereka tidak perlu memikirkan uang setoran. Dengan begitu tidak ada lagi kejar-kejaran berebut penumpang demi uang setoran.

Tadi, kartu Ok Otrip milik saya hampir saja hilang. Ceritanya setelah turun dari mikrolet di depan RS. Duren Sawit. Kartu yang dipegang adek yang tertidur, jatuh. Saat saya gendong untuk ganti mikrolet. Baru sadar ketika akan mencoba tapping kartu di alat yang disediakan di di dalam mikrolet yang akan membawa kami kembali ke terminal Kampung Melayu. Akhirnya saya pun turun sambil menggendong adek yang tertidur. Untuk jalan kaki kembali ke tempat awal naik, kurang lebih 200 meter 😰. Mungkin merasa tidak nyaman digendong sambil jalan, adek terbangun. Untungnya bersedia diajak jalan kaki separuh tujuan. Masih rezeki kami, kartu Ok Otrip ada, tergeletak di bawah pintu masuk OK-2 yang membawa kami ke Duren Sawit. Alhamdulillah. Kami pun naik kembali ke mikrolet OK-2 dengan sopir yang sama.

Pemberhentian terakhir mikrolet OK-2 di Duren Sawit

Kartu OK Otrip yang jatuh di samping mikrolet OK-2 di Duren Sawit

Saya pribadi sebagai penumpang dan setelah mencoba sendiri program Ok Otrip ini merasa cukup puas. Bahkan berharap semoga banyak pemilik dan pengelola mikrolet bersedia gabung dengan program Ok Otrip ini. Program ini sungguh membantu masyarakat dengan penghematan pengeluaran untuk transportasi.

23 thoughts on “Mencoba Program Ok Otrip dari Kampung Melayu ke Duren Sawit

  1. di pondok labu udah ada satu angkot yg pakai ok otrip, belum pernah nyoba karena katanya agak ribet + gak bisa bayar tunai klo gak punya kartunya :(

    setelah baca tulisan mbak, kayaknya kudu dicoba ya angkot ok otrip pondok labu

    • Iya memang tidak bisa bayar tunai harus pakai kartu Ok Otrip. Tapi kalau sering pakai angkotnya dan transjakarta, program ini sangat membantu sepertinya. Karena lebih murah 😊

  2. Programnya bagus ya mbak, naik transportasi umum setidaknya membantu mengurangi macet ketimbang bawa kendaraan sendiri.
    Btw mikroletnya dilihat dari luar udah bagus, pasti nyaman ya mbak

Leave a Reply to ivonie Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>