Memerah ASI Dengan Tangan V.S. Pompa Listrik

Tepat di bulan Mei lima tahun yang lalu, terakhir kali melahirkan gadis kecil. Mei tahun ini melahirkan dara kecil. Yup sudah banyak yang lupa bagaimana rasanya melahirkan dan perintil-perintilannya. Termasuk masalah menyusui dan menyediakan ASI untuk persediaan. Terasa seperti melahirkan anak untuk pertama kalinya. Jadilah mulai tanya di mbah gugel untuk pertanyaan yang ingin saya cari tahu jawabannya. Utamanya adalah masalah memerah ASI untuk persediaan.

Kebetulan dua anak terdahulu saya memerah ASI untuk persediaan di rumah ketika saya sedang tidak ada. Lancar-lancar saja menggunakan pompa elektrik. Tapi kali ini kok kesulitan ya, maksudnya walau sudah menggunakan pompa elektrik tapi tidak keluar ASInya. Memang sih beda merek pompa elektrik yang saya gunakan. Penasaran juga apakah berpengaruh ya, beda merek seperti itu. Jadilah saya sedikit khawatir untuk persediaan ASI ke depan.

Saya pun mencoba alternatif lainnya yaitu mencoba memerah ASI menggunakan tangan. Tekhnik ini sebenarnya saya sudah mengetahuinya sejak anak pertama dulu. Tapi tidak saya praktekan, alasannya ribet dan berantakan ASInya. Lebih memilih pompa elektrik untuk memerah ASI, karena lebih cepat, tidak berantakan, dan banyak dapat ASInya. Memerah ASI dengan menggunakan tangan sebenarnya tidak menjadi pilihan utama saya. Berhubung kali ini menggunakan pompa elektrik tidak berhasil mengumpulkan ASI dan saya belum membeli merek pompa elektrik lainnya. Belajar memerah ASIĀ  dengan tangan menjadi pilihan.

Saya menemukan sebuah cara memerah ASI yang dinamakan dengan marmet. Baru tahu juga ternyata memerah ASI dengan tangan yang sudah saya ketahui sebelumnya tidak tepat bahkan salah total. Baiklah kalau begitu saya harus belajar memerah dengan tekhnik marmet ini. Sudah hampir 12 hari belajar memerah dengan tekhnik marmet. Hasilnya belum juga maksimal, ASI banyak yang tercecer tumpah ke baju. Parahnya lagi, 2 kali payudara saya mengalami bengkak dan membuat saya meriang. Bahkan hingga tulisan ini dibuat saya masih meriang. Mungkin saya salah melakukannya ya.

Memerah ASI Dengan Tangan V.S. Pompa Listrik

Sedih tentu saja, karena berharap bisa maksimal memerah ASInya. Dengan menggunakan tangan. Pada kenyataannya hasil yang didapatkan setiap kali memerah dengan susah payah hanya kurang lebih 60 ml saja. Ada juga yang hanya 20 ml hasil perahannya. Ingin sekali kembali menggunakan pompa elektrik. Sudah cari infonya di jagat internet, ternyata merek pompa elektrik untuk memerah ASI itu banyak mereknya. Satu merek saja ada beberapa tipe yang semuanya ada kelebihan dan kekurangannya. Semakin baca banyak review dari para busui yang sudah pakai. Jadi semakin bingung menentukan pilihan beli pompa listrik yang mana. Selain itu faktor harga juga sangat mempengaruhi. Rata-rata harganya mahal-mahal, di atas 500 ribu. Itupun untuk pompa yang manual sementar yang elektrik bisa di atas 1 juta harganya.

Rata-rata hasil review para busui yang sudah pernah pakai condong ke sebuah merek saja. Sayangnya merek yang dipilih para busui itu yang harganya mahal banget. Antara sayang dan tidak sayang sih untuk mengeluarkan uang segitu untuk anak. Pertimbangan yang utama adalah memberikan yang terbaik bagi anak. Apalagi kalau bukan ASI eksklusif selama 6 bulan. Yang merupakan makanan dan minuman terbaik yang berhak anak dapatkan dari orang tuanya.

Tinggal tunggu saya sehat untuk bisa keluar rumah dan membeli pompa listrik untuk memerah ASI. Saya pun memiliki kesimpulan sendiri untuk masalah memerah ASI dengan tangan V.S. pompa listrik. Setiap orang beda-beda. Ada yang dengan mudahnya memerah dengan tangan ada juga yang mengalami kesulitan. Kalau memang diberi kelebihan dengan kemudahan menggunakan tangan alhamdulillah. Sementara yang kesulitan dan tidak bisa bahkan menimbulkan sakit seperti yang saya alami. Maka harus bisa bersyukur karena masih tersedia alat bantu. Yakni alat pompa ASI elektrik yang bisa dibeli. Walau harus mengeluarkan dana lebih. Tidak masalah yang penting semua dilakukan demi anak demi masa depan mereka.

Jadi jangan lagi menghakimi pilihan yang diambil oleh masing-masing ibu menyusui. Apakah menggunakan tangan atau dengan pompa listrik (termasuk yang manual). Terpenting para ibu menyusui dengan kesadaran penuh ingin memberikan ASI untuk buah hatinya. Yang kurang tepat adalah yang tidak bersedia memberikan ASI kepada bayinya. Apalagi yang tanpa sebab, jangan sampai hanya takut kehilangan keindaham dan kemolekan bentuk payudara. Jadi enggan untuk memberikan ASI.

Ah apapun pilihannya mari berikanlah yang terbaik buat generasi masa depan.

2 thoughts on “Memerah ASI Dengan Tangan V.S. Pompa Listrik

  1. Sebetulnya mereka yang memberikan ASI itu lebih seksi lho ketimbang yang ketakutan memberikan ASI. Yang penting pake BRA yang yahud aja. Wah Bunda mah udah lupa deh, tapi yang bunda inget ketika puting digigit my beloved baby setiap diberi anugerah baby oleh Allah, sampe menjerit kesakitan, ptapi teuteup senyum memandang bocah dalam pelukan. Yeeyyy…berarti bunda juga memberikan ASI tuh, hehe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>