Membudayakan Membaca Pada Anak

Anak kedua saya termasuk anak yang hobi baca. Kalau sudah pegang buku bakal anteng baca. Sementara kakaknya baru tahap ikut-ikutan untuk membaca seperti adiknya. Maklum dia tidak kuat melek lama-lama, baru baca sebentar langsung mengantuk. Jadi kalau membaca nebeng sama adiknya. Maksudnya gini, kalau adiknya membaca, kakak duduk di sampingnya. Tujuannya untuk ikut membaca buku yang sedang dibaca adiknya.

Sebenarnya sejak bulan Ramadhan anak-anak minta diantar pergi ke toko buku. Tapi sayangnya saya belum menyempatkan diri untuk pergi ke sana, ada saja acara lain. Kebetulan kemarin sore akhirnya pergi ke toko buku, yang merupakan terbesar di Jakarta. Biasanya kalau sudah ke toko buku, asal main ambil aja. Tidak lihat-lihat lagi berapa harganya. Kalau sudah di depan kasir baru deh kaget. Sekaligus terasa banyaknya uang yang harus dibayarkan. Kalau sudah begini tinggal nyengir deh di depan kasir. Kalau perginya sama suami tinggal nengok ke arah beliau sambil nyengir minta dibayarkan tagihannya.

Membudayakan membaca pada anakAwalnya setiap ingin pergi ke toko buku, sudah dari rumah saya membuat target pengeluaran untuk membeli buku. Jatahnya hanya 200 ribu sampai 300 ribu saja per bulan. Membuat target dan jatah seperti itu hanya berjalan beberapa kali saja, karena selanjutnya bablas tanpa kendali. Penggunaan target dan jatah bisa berjalan karena anak masih pada tahap belajar dan melancarkan membaca. Ketika kemampuan membaca anak-anak sudah mulai meningkat dan baik, tidak bisa lagi jatah segitu. Pengeluaran langsung naik jadi 500 ribu lebih. Terakhir kemarin–Ahad sore–lebih kaget lagi, pengeluaran sampai satu juta lebih. Lebih kaget ini ternyata sudah terjadi dua kali setelah saya berhasil mengingat-ingat.

Oh tidak, ini sudah di luar jatah dan sangat berlebihan. Itu pun kalau melihatnya hanya satu kali belanja buku. Tapi kalau berpikir ulang lagi pengeluaran satu juta itu, ya tidak banyak juga. Karena sudah beberapa bulan anak-anak tidak membeli buku. Jadi ya kalau dihitung-hitung pengeluaran ya tetap sama perbulannya. Untuk membeli buku hanya 200 ribu sampai 300 ribu :D.

Yah namanya juga emak-emak kalau lihat sekali pengeluaran segitu terasa seperti gimana gitu. Padahal itu dibelanjakan untuk buku ya. Sebuah investasi untuk pengeluaran pinggang ke atas. Seharusnya sih pengeluaran-pengeluaran untuk membeli buku tidak menjadi beban. Ini memang butuh pemahaman, “kerelaan” sekaligus dukungan dari keluarga. Karena kalau tidak ada dukungan, maka yang ada akan timbul kemarahan dan ketidaksuka (rela)-an.

Membudayakan Membaca Pada Anak

Tujuan saya membelikan dan memuaskan anak-anak akan buku bacaan bukan tanpa alasan. Inginnya dalam keluarga di rumah mulai membudayakan membaca pada anak. Sudah bukan hal yang harus ditutup-tutupi kalau budaya membaca di Indonesia memang sangat rendah. Setiap keluarga menjadi penyumbang utama generasi yang tidak menyukai aktivitas membaca. Kalau tidak dimulai membudayakan membaca kepada anak sejak mereka masih kecil. Bahkan sekarang diperparah dengan adanya gawai. Banyak orang tua yang lebih memilih untuk membelikan gawai terbaru untuk anaknya dibandingkan buku.

Membudayakan membaca pada anak sendiri sebenarnya bukan tanpa kendala. Kalau tidak ada dukungan dari keluarga, akan sangat sulit untuk membudayakan membaca pada anak. Keluarga yang dimaksud bisa pasangan (suami atau istri) dan orang tua. Tidak adanya dukungan dari keluarga akan menimbulkan perang batin tersendiri. Karena akan ada komentar-komentar yang membuat tidak nyaman. Komentarnya antara lain:

  • Buat apa beli buku banyak-banyak cuma numpuk
  • Apa pentingnya beli banyak buku
  • Anak-anak masih kecil untuk apa beli buku melulu, dan sebagainya.

Komentarnya cukup membuat tidak nyaman ya. Karenanya sangat butuh dukungan anggota keluarga di rumah. Utamanya bagi anda yang ingin membudayakan membaca pada anak di rumah. Sebenarnya tidak sulit untuk membiasakan anak pada budaya membaca. Ini menurut pengalaman saya yang juga baru mulai prosesnya pada anak di rumah. Satu yang pasti adalah kesiapan. Kesiapan seharusnya dimiliki oleh semua anggota keluarga yang tinggal di rumah. Tapi hanya satu orang pun sebenarnya sudah cukup. Yang penting satu orang ini harus kuat dan semangat untuk berjuang. Berikut persiapan yang harus dilakukan untuk membudayakan membaca pada anak:

  1. Tetapkan tujuan: menetapkan tujuan harus seiring sejalan dengan kesiapan dari orang tua untuk membudayakan membaca ini di rumah. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, kalau ada satu orang saja yang memiliki kesiapan maka itu sudah cukup. Akan bertambah lebih baik lagi kalau semua anggota keluarga di rumah memiliki tujuan dan kesiapan yang sama
  2. Berikan pengertian kepada seluruh anggota keluarga: bila belum semua yang siap dengan kegiatan membudayakan membaca ini. Maka perlu ada komunikasi, untuk menjelaskan dan memberi pengertian tentang proses yang sedang dilakukan
  3. Matikan dan hindari penggunaan televisi serta gawai: mungkin langkah ini akan menjadi sangat sulit, jika anak sudah terbiasa dengan televisi menyala di rumah. Tontonan dan permainan baik di televisi maupun di gawai tentu akan lebih menarik daripada membaca buku. Karenanya bila ingin mulai membudayakan membaca pada anak, terlebih dulu dengan membatasi penyetelan televisi dan penggunaan gawai. Kalau belum bisa betul-betul menghindari penggunaan televisi
  4. Siapkan anggaran tersendiri untuk pembeliaan buku bacaan: kalau tidak dipersiapkan, maka bisa menjadi sebab timbulnya permasalahan baru dalam keluarga. Bisa-bisa suami istri bertengkar hanya karena adanya pengeluaran tambahan untuk membeli buku. Besarnya anggaran membeli buku tentu saja disesuaikan dengan umur dan jumlah anak serta kesiapan dari keuangan yang dimiliki oleh keluarga. Untuk mempermudah bisa disiapkan untuk pengeluaran selama satu bulan
  5. Mulai dari orang tua: untuk anak, tentu saja pelajaran yang paling mudah adalah dengan meniru. Apabila ingin membudayakan membaca pada anak, orang tua yang seharusnya membudayakan dirinya sendiri dengan membaca. Sehingga tanpa disuruh anak pasti akan meniru kebiasaan dari orang tuanya. Bukankah anak adalah peniru yang sangat ulung?

Merupakan sebuah perjuang tersendiri untuk membudayakan membaca untuk anak di rumah. Kalau sudah terlihat sedikit saja hasilnya. Rasa bahagianya tidak terkira. Tapi awas, jangan sampai terlena. Karena tugas selanjutnya masih panjang.

18 thoughts on “Membudayakan Membaca Pada Anak

  1. Sama mba saya mulai membelikan buku sejak anak saya usia 16 bulan yang hanya bergambar untuk menambah kosa kata hingga saat ini usia 3 tahun punya buku dongeng dengan gambar yang bisa diwarnai. Harapan saya sama kayak mba agar membudayakan membaca :) nice share mba. Salam kenal ^^

  2. Kalau anak saya yang demen banget sama buku ya anak pertama. Sedangkan anak kedua mau baca hanya buku komik dan majalah bergambar. Anak ketiga ini lumayan suka dengan buku. Jadi buku bacaan kakak2nya dibaca. Dia sering minta beli buku. Saya sih lebih suka memberikan hadiah buku daripada mainan.

  3. Daripada jajan dan beli mainan, aku lebih suka beliin buku buat anak-anak. Komentar-komentar miring itu emang kadang bikin baper sih. Tapi kalau terus liat anak-anak anteng baca buku atau utak atik puzzle book, biasanya ya terus ilang bapernya hahaha.

  4. Wah setuju banget mb sama tips2 nya. Memang anak itu kan peniru ulung ya, jadi kita sebagai ortu harus maniak baca buku dulu (ini yang masih susah huhuhu) padahal dengan begitu anak akan mudah jadi penggemar buku juga.

  5. Jika ibu bapa menjadikan membaca satu rutin dalam keluarga apabila saja ada masa terluang akan dipenuhi dengan membaca atau membaca bersama anak-anak sebelum tidur mungkin anak mereka akan mengikuti teladan ini dan secara pelahan-lahan mereka sendiri akan berminat untuk membaca. Oleh itu, teladan ibu bapa memberi satu peringatan kepada anak untuk menirunya secara semula jadi.

Leave a Reply to NLP Semarang Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>