Mangan Ora Mangan sing Penting Ngumpul

Sejak kemarin kami sekeluarga pergi ke Cakung. Ada bulek yang akan menikahkan anaknya pada tanggal 16 Desember 2018. Kemarin diadakan selamatan dengan diisi kegiatan pengajian oleh ibu-ibu.

Sebelumnya bulek sempat datang dan main ke rumah untuk meminta doa restu sekalian mengundang. Yang dimintai doa restu adalah ibu, yang merupakan kakak tertua dari bulek. Tradisi seperti ini masih kental di keluarga kami. Bila akan ada kegiatan yang melibatkan anggota keluarga besar. Pasti pemilik acara akan keliling mendatangi keluarganya yang dituakan. Tentunya untuk meminta doa dan ditunggui acaranya.

Mangan Ora Mangan sing Penting Ngumpul

Mangan ora mangan sing penting ngumpul. Begitulah kira-kira moto yang digunakan. Yang penting adalah seluruh keluarga dapat berkumpul. Tidak peduli apakah ada makanan yang terhidang atau tidak. Bila mampu dan ada rezeki, bisa datang dengan membawa buah tangan. Pilihan lain dengan cara membantu beberapa pekerjaan (bantu masak, cuci piring, mengemas makanan kecil) dari pemilik hajat. Tujuannya tentu untuk mengakrabkan dan mendekatkan keluarga dalam satu acara.

Sabtu pagi sebelum pergi ke Cakung, saya mengantarkan ibu yang kondangan lebih dulu. Berikutnya, barulah bersiap untuk pergi ke acara selamatan yang diselenggarakan oleh bulek. Kurang lebih pukul 10.30 kami berangkat dari rumah menuju Cakung. Perjalanan cukup lancar, jadi waktu tempuh perjalanan masih normal. Acara selamatan diadakan pukul 14.00. Sudah ada dua adik ibu yang lainnya saat kami tiba. Duduk sebentar sambil bertanya kabar, selanjutnya azan Dzuhur berkumandang.

Acara selamatan yang diisi dengan pengajian ibu-ibu selesai kurang lebih pukul 03.30. Kami tanpa ibu berpamitan untuk pulang. Sebelum pulang, suami malah dibawakan burung love bird dari calon pengantin (adik sepupu). Suami dan anaknya bulek memang sedang senang beternak burung kecil yang lincah itu. Berhubung sudah banyak peliharaannya dan ingin mencoba mengawinkan silang burung dengan warna berbeda. Makanya sejoli burung diberikan ke suami untuk dirawat. Kebetulan si betina sedang waktunya bertelur. Saya, suami, dan tiga dara pun pulang dengan menenteng sepasang love bird dengan menggunakan kardus khusus membawa burung.

Ahad pagi, kami sudah sibuk bersiap-siap. Lagi, menuju rumah bulek di Cakung untuk menghadiri acara akad nikah anak bontotnya. Sedari malam saya juga sudah memberitahu simbok (mbah) yang akan ikut untuk bersiap. Karena akan berangkat dari rumah pukul 07.00 pagi. Supaya tidak ketinggalan rombongan yang akan jalan ke calon mempelai wanita pada pukul 08.00. Sudah pukul 7 lewat ketika kakak memanggil dari bawah untuk mengingatkan saya yang masih bersiap.

Enam belas menit meleset dari rencana awal, karena kami baru berangkat dari rumah pukul 07.16. Masih di jalan Kramat Asem, pesan di wa masuk. Dari adiknya ibu yang tinggal di Ciputat. Yang menanyakan posisi kami sudah ada di mana. Kami memilih melalui Pondok Kopi menuju Cakung. Alhamdulillah kami tiba sebelum pulul 08.00 dan sudah ramai para tetangga bulek. Kami pun memasuki rumah dan bersalaman dengan saudara lainnya.

Kebiasaan keluarga besar kami adalah kalau sudah kumpul dan ada rezeki, pasti disuruh makan. Dengan moto mangan ora mangan sing penting ngumpul biasa diterapkan. Sedikit banyak apa yang dihidangkan semoga mendapatkan keberkahan. Karena dengan berkumpul berarti sudah menyambung silaturahim. Nah tadi juga begitu, baru sampai dan selesai bersalaman langsung disuruh makan. Berhubung sebelum berangkat sudah pada sarapan, jadi kami menolak tawaran itu.

Tidak lama kami bersiap-siap karena akan menuju rumah calon besan. Untuk melakukan ijab kabul. Calon mempelai pria sudah siap sejak tadi dengan jas warna putihnya. Tamu dari tetanggan rumah bulek masih ada yang datang. Tiba-tiba putri kecil minta makan, padahal sebelumnya sudah menolak saat ditawari. Mau tidak mau saya pun mengambil piring untuk diisi nasi dan sayur sop. Hanya beberapa suap saja adek bersedia memasukan nasi kedalam mulutnya. Berhubung rombongan calon mempelai sudah akan berangkat. Akhirnya makan tidak dilanjutkan, karena harus segera mengikuti rombongan yang sudah mulai jalan menuju tempat parkir mobil.

Jarak rumah calon mempelai wanita tidak terlalu jauh. Hanya sekitar sepuluh menit dengan laju kendaraan yang santai. Rombongan kami pun sampai dan siap untuk mengikuti seluruh prosesi akad nikah yang akan segera dilangsungkan.

Selamat menempuh hidup baru untuk Lukman dan istri. Semoga mendapatkan keberkahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>