Makan di Bebek dan Ayam Goreng Sari Rasa Pak Ndut

Baru kali ini saya dan keluarga kulineran di Kota Hujan. Tepatnya sore tadi kami pergi mengunjungi tante yang baru saja kehilangan ibu mertuanya. Awalnya ingin tengok ke Ciputat saja, berhubung tante saya sedang mengantarkan suaminya terapi dan ingin ke Bogor juga. Kami pun memutuskan untuk bertemu di Bogor saja. Di mana tempat pengajian tiga hari dilangsungkan.

Lalu lintas yang dilalui sore tadi, alhamdulillah lancar jaya. Hanya kurang lebih satu jam lamanya perjalanan Jakarta Bogor, lewat Sentul Selatan. Berhubung sampai di tempat lebih awal dibandingkan dengan tante dan om yang ada hubungan keluarga. Kami pun memutuskan untuk jalan-jalan sore di kota Bogor. Sayangnya tidak punya referensi akan pergi ke mana. Tanpa tujuan jelas tempat yang akan dikunjungi sampai Maghrib menjelang. Akhirnya masjidlah yang paling jelas untuk dijadikan tujuan utama untuk mendirikan sholat.

Masjid Jenderal Soedirman

Masjid Jenderal Besar Soedirman tempat pertama yang dikunjungi malam tadi. Sepertinya masjid yang beralamat di jalan Jenderal Sudirman No. 35, Bokor, Bogor ini masih baru selesai dibangun. Terlihat dari beberapa tumpukan sisa keramik. Yang ada di lorong perbatasan antara tempat wudhu dan tempat sholat akhwat (perempuan). Walaupun tergolong baru, tapi masjid ini sudah memiliki jamaah yang lumayan banyak. Saya tidak cukup punya waktu untuk bertanya kepada jemaah yang ada di bagian akhwat. Apakah mereka memang jamaah rutin yang sering mengikuti kajian atau para musafir seperti kami. Yang hanya sekedar singgah untuk numpang sholat di masjid.

Kalau boleh iseng-iseng menebak, mereka adalah jamaah rutin yang sering mengikuti kajian di masjid Jenderal Soedirman. Tebakan itu berdasar dari pengamatan sekilas, antara lain: pertama, saya melihat beberapa jemaah sepertinya sudah saling kenal. Kedua, beberapa perempuan membawa serta anak-anak mereka yang masih bayi ke masjid itu. Ketiga, dari penampilan dan pakaian yang mereka kenakan tidak nampak seperti seorang musafir seperti kami. Keempat, berlangsungnya kajian ba’da sholat Maghrib, yang membuat saya yakin kalau para akhwat yang tadi sholat berjamaah bersama kami adalah jamaah rutin di masjid tersebut.

Entah benar atau tidak tebakan iseng saya itu 😁. Yang penting sudah terlihatkan gaya saya sebagai detektif.

Selesai sholat ternyata tante saya belum juga sampai di rumah mertuanya yang tiga hari lalu baru saja meninggal. Kami pun memutuskan untuk mencari tempat untuk makan malam. Kebetulan saat jalan menuju masjid Jenderal Besar Soedirman, saya sempat melihat ada tempat makan. Sepertinya tempat itu cukup asyik untuk dicoba sebagai tempat makan malam. Berhubung memang sejak awal tidak punya rencana, referensi, dan tempat tujuan. Pilihan kami jatuhkan ke tempat makan yang ada di jalan Pemuda No. 9, Bogor.

Bebek dan Ayam Goreng Sari Rasa Pak Ndut

Sebelum memutuskan untuk makan di rumah makan Pak Ndut. Suami sudah punya rasa ingin makan bebek dan menyebutkan tempat yang sama seperti di Jakarta. Saya hanya bilang: “untuk apa jauh-jauh sudah di Bogor, tapi cari tempat makan yang di Jakarta ada.” Makanya ketika saya mengajak ke tempat Pak Ndut, beliau tidak menolaknya.

Bebek dan ayam goreng sari rasa Pak Ndut

Rumah makan Pak ndut menyediakan makanan olahan bebek dan ayam. Seperti tagline mereka: Bebek dan Ayam Goreng Sari Rasa Pak Ndut. Di tempat ini menyediakan area lesehan dan bukan. Kami pun memilih area lesehan di saung. Biar serasa makan di saung pinggir sawah.

Lesehan di saung

Menu yang dipilih sebagai makan malam kami berlima adalah bebek goreng. Berupa paket keluarga (happy family). Dalam paket berisi satu ekor bebek goreng, 4 porsi nasi, 4 gelas air minum teh (bisa memilih hangat atau dingin), tempe tahu, sayur asem, dan sambal (2 macam: merah dan hijau).

Menu makanan minuman di Pak Ndut

Isi paket keluarga (happy family)

Tidak pakai menunggu lama, pesanan diantar ke meja kami yang berada di saung. Kaget juga melihat isi paket keluarga yang disajikan menggunakan tampah berukuran kecil. Tidak mengira akan begitu banyak isinya, membuat tampah penuh sesak. Salah satu yang membuat kaget adalah adanya beberapa pisang mas diberikan di dalam tampah. Baru kali ini saya makan bebek dapat bonus buah pisang di dalam paket yang dibeli. Luar biasa komplit. Untuk rasa, menurut saya dan suami, lebih enak daripada bebek yang dijual di toko sebelah. Sementara, nona dan gadis kecil yang biasanya sangat doyan bebek dan suka berebutan kalau di rumah. Kali ini menyerah kekenyangan bebek.

Tempat duduk lesehan

Tempat duduk tanpa lesehan

Sayangnya selama makan di Bebek dan Ayam Goreng Sari Rasa Pak Ndut, saya tadi tidak melihat ada sertifikat halal dari MUI. Tapi di sana sudah berani menempelkan logo halal dari MUI. Di sebuah spanduk yang memuat tentang kebijakan halal di tempat makan Pak Ndut. Semoga ke depan bisa mengurus sertifikat halal MUI. Sehingga menjadi kepastian dan memberikan rasa tenang bagi konsumen muslimnya.

Kebijakan halal di tempat Pak Ndut

Malam ini sukses kulineran di kota Bogor, Alhamdulillah.

2 thoughts on “Makan di Bebek dan Ayam Goreng Sari Rasa Pak Ndut

  1. Duhhhh kkiatan enak banget mba. Kapan2 ke Bogor aku hrs mampir. Trakhir ke bogor bbrp bulan lalu, puas banget seharian kuliner di sana. Dari ayam goreng doyong yg bikin nagih dll. Makanya kapan2 mau nyobain bebeknya pakndut ini :)

Leave a Reply to Lucky Caesar Direstiyani Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>