Liburan Murah Naik Bus Tingkat Wisata

Sebentar lagi akhir pekan, buat para pekerja pastinya akan senang sekali. Entah itu hanya dipakai leyeh-leyeh santai, tidur sepanjang hari, main sama anak, dan liburan bersama keluarga. Kalau bicara liburan, rasa senangnya pasti akan dobel dua kali lipat. Cara mengisi liburan tentunya disesuaikan dengan kantong masing-masing. Jadi hanya karena merasa tidak ada uang, lalu tidak pernah liburan sama sekali. Untuk kita yang sudah dewasa mungkin tidak pernah atau jarang liburan tidak terlalu masalah, walau tidak sehat juga. Karena tubuh dan pikiran kita juga punya hak untuk istirahat dan disegarkan. Lain orang dewasa lain anak-anak. Liburan bagi mereka, selain untuk bersenang-senang juga sebagai sarana untuk menambah wawasan, pengalaman, dan pendidikan.

Kesadaran bahwa liburan merupakan sarana untuk menambah wawasan, pengalaman, dan pendidikan ternyata tidak semua orang dewasa (orang tua) miliki. Orang tua tidak memiliki (terbatas) uang maka selamanya anak-anak tidak punya kesempatan untuk liburan. Padahal liburan bisa didapatkan dengan biaya murah bahkan ada yang gratis. Seperti di awal tulisan telah disampaikan bila liburan dapat disesuaikan dengan kondisi kantong. Jangan sampai ingin liburan tapi tidak dapat menyesuaikan dengan kondisi keuangan yang dimiliki. Kalau begitu namanya tidak tahu diri. Saya sendiri pernah menjalani dan mengalami liburan dengan biaya murah juga gratis. Tulisan kali ini tentang liburan murah, kok bisa?

Mungkin anda akan sanksi dengan kalimat: liburan murah yang menyenangkan bersama anak. Apa iya hari gini, saat semua harga naik sementara penghasilan tidak naik, masih bisa terlaksana liburan murahnya? Betul, anda tidak salah membaca tulisan itu. Bisa keluar rumah untuk liburan murah bersama anak dan keluarga. Yang dibutuhkan adalah kreativitas dan kemauan anda untuk mewujudkannya. Serta kerja sama semua anggota keluarga yang akan ikut liburan murah.

Liburan Murah Naik Bus Tingkat Wisata

Dua pekan yang lalu berturut-turut saya liburan murah naik bus tingkat wisata keliling Jakarta dengan anak-anak. Liburannya dapat pendidikannya juga dapat, semua senang. Terutama saya, yang tidak mengeluarkan uang banyak 😁. Sebenarnya rencana untuk naik bus tingkat wisata ini sudah lama sekali, mungkin sejak 2 tahun yang lalu. Sayangnya belum ada kesempatan dan nyaris terlupakan. Baru dibulatkan niat untuk ajak anak-anak di bulan Maret lalu, tepatnya pada tanggal 18 dan 25. Mumpung niat dan ada kesempatan, malah sampai 2 rute yang dinaiki dari katanya 5 rute yang disediakan.

Naik Bus Tingkat Wisata Tanggal 18 Maret

Tidak ada persiapan khusus yang saya lakukan untuk liburan murah naik bus tingkat wisata keliling Jakarta. Hanya mencari info kapan jam operasional bus tingkat wisata mulai dibuka. Setelah mendapatkan infonya, yaitu mulai pukul 12.00 sampai 21.00. Saya pun langsung mempersiapkan anak-anak, yang sudah kesenangan saat diberitahu akan naik bus tingkat. Kebetulan untuk liburan naik bus tingkat yang pertama hanya 2 orang anak yang akan ikut, jadi lebih mudah persiapannya.

Rute perjalanan bus tingkat wisata

Saya memilih untuk pergi setelah sholat dzuhur terlebih dulu dan meminta nona dan gadis kecil untuk makan siang. Ini harus dilakukan supaya menekan pengeluaran agar tidak banyak 😁. Bekal air minum dan makanan ringan tidak kalah pentingnya untuk disiapkan. Kami waktu itu hanya membawa air minum (bukan air mineral), wafer cokelat, permen kojek yang memang sudah ada di rumah. Persiapan kecil sudah selesai, barulah kami mulai perjalanan menuju sarinah dengan menggunakan motor. Bus tingkat wisata yang ternyata dioperatori oleh Transjakarta ini memang tidak berhenti di semua halte. Hanya halte yang ada tanda plang city tour saja sesua rutenya. Sarinah menjadi pilihan, karena saya beranggapan di sana tidak ada antrean panjang dari calon penumpang bus tingkat wisata.

Anggapan saya kali ini benar, hanya ada satu keluarga yang sepertinya akan menjadi calon penumpang bus tingkat. Rombongan kecil kami pun ikut menunggu di halte (city tour) sarinah. Kurang lebih 20 menit menunggu, bus tingkat akhirnya datang. Penuh semangat anak-anak berdiri dari tempat duduknya menuju pinggir jalan. Mereka melakukan itu supaya bisa naik segera untuk mendapatkan kursi duduk di paling depan. Tentunya mereka milih di atas, alasannya kan naik bus tingkat bukan bus biasa. Sayangnya kami mendapatkan kursi di urutan kedua dan ketiga, untungnya anak-anak tidak masalah. Tetap asyik menikmati perjalanan menggunakan bus tingkat. Bahkan mereka menelepon adiknya yang ikut pergi bersama ayahnya. Jujur saya belum tahu rute yang akan dilalui oleh bus tingkat wisata yang membawa kami. Yang penting naik saja dulu, masalah rute ikuti saja kemana pun akan dibawa, masih di seputar Jakarta ini. Jadi tidak perlu khawatir.

Bus tingkat wisata yang kami naiki ternyata melayani rute pendek. Dari sarinah menuju bundaran HI untuk berputar menuju ke monas, berikut rute lengkapnya: Sarinah, Plaza Indonesia, Museum Nasional (museum gajah), Pecenongan, Juanda (Masjid Istiqlal), Monas 1, Monas 2. Saya pikir karena kami naik di sarinah maka akan turun lagi di sarinah dengan bus tingkat yang sama. Ternyata salah, kami dan penumpang yang lain harus turun di pemberhentian juanda (masjid istiqlal) untuk menunggu bus tingkat lainnya yang menuju sarinah 😢. Padahal halte juanda ini sejak awal saya hindari, karena melihat antreannya yang mana tahan. Mau tidak mau kami turun dan harus ikut antre lagi dengan calon penumpang lain yang jumlahnya sangat banyak. Yang membuat antrean mengular panjang.

Tempat antre bus di Juanda (masjid istiqlal)

Melihat antrean panjang, saya pun mengajak anak-anak untuk makan bakso terlebih dulu. Padahal ini tidak ada dalam rencana saya sebelumnya. Hanya sebagai penguat dan penyemangat anak-anak dalam menghadapi antrean. Setelah makan bakso, dengan terpaksa kami pun antre lagi untuk menunggu bus tingkat berikutnya yang akan mengantarkan ke sarinah. Cukup lama menunggu dan hampir saja gadis kecil putus asa karena kelelahan berdiri (kurang lebih 1 jam), yang membuatnya meminta naik bajaj ke sarinah 😅. Alhamdulillah masih bisa dibujuk hingga bus tingkat wisatanya datang. Dengan wajah yang terlihat lelah, nona dan gadis kecil naik bus tingkat. Mereka berdua kali ini memilih duduk di bagian bawah yang letaknya ada di belakang kursi supir. Memunggungi depan dan berhadapan dengan penumpang lain. Kami baru pindah kursi di halte monas 2, menunggu ada penumpang yang turun, jadi tidak pusing. Hingga sampailah kembali kami di sarinah untuk melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.

Naik Bus Tingkat Wisata Tanggal 25 Maret

Perjalanan kedua ini sebenarnya di luar perencanaan sama sekali. Ahad pagi putri kecil yang pekan lalu tidak ikut kami, tiba-tiba meminta kepada saya, kalau dia mau naik bus tingkat wisata. Mungkin dia “dipameri” kakaknya tentang foto-foto kami di dalam bus tingkat wisata. Saya pun tidak kuasa untuk menolak permintaannya, sekaligus penasaran dengan rute lainnya. Ditambah nona dan gadis kecil juga meminta untuk mencoba bus tingkat rute yang lain. Karena pekan yang lalu memang saya sempat terucap, “kapan-kapan kita coba rute ke priok ya”. Nah, akhirnya ditagih juga sama anak-anak 😁. Seperti pengalaman sebelumnya, hanya persiapan sederhana yang dilakukan. Apalagi untuk liburan kali ini ada suami, jadi saya merasa lebih ringan. Kami bisa berbagi tugas menjaga anak selama perjalanan.

Antran calon penumpang di halte IRTI

Belajar dari liburan murah naik bus tingkat wisata sebelumnya, kali ini saya memutuskan kami akan memulai dari titik awal di juanda (masjid Istiqlal). Walau kebayang antre dan berdirinya yang membuat pegal kaki. Pemilihan itu mempertimbangankan kalau di halte juanda adalah titik awal untuk naik bus tingkat wisata ke semua rute keliling Jakarta. Sholat dzuhur sudah, makan siang juga sudah, kami pun langsung berangkat ke masjid Istiqlal. Mohon maaf kali ini bukan untuk ibadah atau mengikuti kajian di dalamnya 🙈. Selesai parkir, kami pun langsung menuju tenda tempat menunggu bus tingkat wisata. Liburan murah kali ini pun hampir batal karena suami sudah sempat ngeluh, demi melihat antrean yang berjubel. Tidak mau mengecewakan anak-anak, saya pun bertanya kepada petugas: “di mana letak antrean untuk rute ke priok?” Kabar baik buat kami, ternyata antrean yang membludak itu adalah untuk rute ke monas dan ke kota tua. Sementara antrean untuk rute ke priok malah diberikan tempat duduk dari plastik. Alhamdulillah. Antrean yang banyak itu sepertinya sebagai imbas dari kegiatan pengajian yang baru saja selesai diadakan di masjid Istiqlal.

Sambil duduk menunggu, putri kecil minta dibelikan somay. Ayahnya yang bertugas mencarikan, namun ketika kembali yang dibawanya malah bakpau. Rupanya beliau tidak menemukan penjual somay, daripada anaknya kecewa dibelikanlah penggantinya. Kurang lebih satu jam lamanya kami menunggu, itu berarti 30 menit lebih dari yang waktu perkiraan diberikan oleh petugas. Kami dan 2 orang yang menunggu dipanggil oleh petugas, supaya bersiap di antrean yang sudah disediakan. Para calon penumpang yang sudah antre di jalur rute kota tua, tiba-tiba berubah pikiran dan berusaha menyerobot antrean ke priok. Untungnya petugas sigap dan mengambil tindakan tegas kepada mereka untuk tetap berada di antrean dan tertib. Melihat gelagat seperti itu anak-anak berbisik kepada saya, “nanti kita duduknya di depan ya bun”. Saya mengangguk dan mengiyakan permintaan mereka, kemudian mengatur strategi agar mereka masuk lebih dulu dan segera naik ke atas.

Antrean calon penumpang bus tingkat wisata

Pintu bus tingkat wisata dibuka, petugas sudah membolehkan calon penumpang untuk naik. Nona dan gadis kecil pun langsung berlari masuk ke bus dan langsung naik ke atas. Sesuai harapan, mereka berdua mendapatkan kursi paling depan sisi kiri. Sementara kami berada di kursi kedua di sisi kanan. Bus tingkat wisata memulai perjalanannya setelah bus sarat penumpang. Rute akhirnya sampai ke priok, tepatnya ke pemakaman mbah priok. Bus tingkat wisata rute priok ini melalui: Juanda (Masjid Istiqlal), Monas 1, Monas 2 (seberang Kemenpar), IRTI, Balaikota, Sarinah, jalan Jendral Sudirman, Semanggi, masuk tol GT. Semanggi 2, keluar GT. Priok, komplek makam mbah priok. Saya selama ini tidak pernah bayangin naik bus tingkat lewat jalan tol. Para penumpang diberikan waktu selama 30 menit untuk masuk dan mungkin berziarah ke makam mbah priok. Bus tingkat wisata berada di area parkir menunggu untuk nanti membawa penumpang kembali ke titik awal naik yaitu juanda (masjid Istiqlal).

Sayangnya kami tidak sempat melihat dan berziarah sampai ke makam mbah priok. Hanya sempat untuk sholat ashar saja, karena saya dan suami harus bergantian. Menjaga putri kecil di dalam bus, karena hujan masih turun. Tiga puluh menit sudah berlalu semua penumpang telah menempati posisi masing-masing. Bus tingkat wisata pun berangkat menuju juanda (masjid Istiqlal). Ternyata rute yang dilalui berbeda, kali ini kami melewati tol ke arah pluit. Berikut rute lengkapnya: makam mbah priok, masuk tol GT. Koja Barat, masuk GT. Kebon Bawang, ke arah Pluit, belok ke arah tol semanggi, keluar di GT. Semanggi, Tosari , Plaza Indonesia, Sarinah, Museum Nasional (museum gajah), Pecenongan, Pasar Baru, Juanda (Masjid Istiqlal). Cukup lama perjalanan yang kami lakukan dari titik awal pukul 14.20 sampai kembali lagi ke titik awal pada pukul 17.35. Total membutuhkan 3 jam 10 menit, diluar waktu menunggu, benar-benar liburan ya 😁.

Lantai 2 bus tingkat wisata

Walau butuh waktu lama untuk perjalanan wisata keliling Jakarta dengan bus tingkat, cukup membuat anak-anak antusias dan senang. Jenis liburan murah seperti ini jangan dipandang sebelah mata, karena manfaatnya juga ada. Diantaranya mengenalkan jenis dan bentuk bus sebagai angkutan umum, Seperti diketahui, anak zaman now tidak mengenal bus tingkat sebagai moda angkutan umum yang ada di Jakarta. Sebab terakhir ada bus tingkat sebagai angkutan umum yang melayani masyarakat Jakarta seingat saya di awal tahun 2000. Selebihnya bus tingkat sudah harus dikandangkan, mengingat kondisinya yang sudah tidak laik jalan. Kedua mengajak anak keliling Jakarta, mengunjungi tempat wisata dan bersejarah.

Tiket gratis untuk para penumpang bus tingkat wisata

Berikut ini adalah saran untuk pemprov DKI Jakarta dan PT Transjakarta: tempat pemberhentian di Juanda (Masjid Istiqlal) harap bisa diperbaiki jangan hanya tenda. Kesannya jadi kumuh ditambah lagi antrean calon penumpang yang sangat panjang mengambil jatah pedestarian pejalan kaki.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>