Lampung Kota Sejuta Siger

Siger di gapura kantor pemprov Lampung

Sudah hari Kamis, berarti sebentar lagi akhir pekan. Waktu untuk berkumpul bersama keluarga. Mumpung kemarin baru saja pulang dari Lampung. Hari ini saya mau menulis sedikit oleh-oleh dari sana. Mungkin saja anda sedang merencanakan liburan untuk akhir pekan ini. Apa yang saya tulis kali ini mungkin dapat anda pertimbangkan menjadi tujuan wisata mengisi liburan dengan keluarga.

Bersama seorang teman, kami berangkat pada hari Senin, 23 April 2018 sore pukul 17.30 dari bandara internasional Halim Perdanakusuma menuju bandara Raden Inten. Waktu tempuh penerbangan dari Jakarta ke Lampung cukup singkat, cuma butuh waktu 30 menit. Postingan ini sekaligus sebagai bentuk perayaan kegirangan, pertama kalinya saya terbang melalui bandara internasional Halim Perdanakusuma. Boleh dong membuat perayaan ala-ala gitu, bentuknya dengan tulisan yang anda baca ini 😁. Selesai urusan koper dan bagasi di bandara Raden Inten, kami langsung naik taksi menuju hotel yang sudah dipesan sejak di Jakarta oleh teman. Oh iya, di bandara Raden Inten tersedia 4 operator taksi yang siap melayani penumpang ke tempat tujuan. Hanya 2 nama yang teringat, yakni: puspa dan trans lampung, sementara 2 lagi maaf lupa. Perjalanan ke Lampung kemarin, merupakan kali ke-3 saya berada di kota sejuta siger. Kali kedua tahun lalu, sementara kali pertama menginjakan kaki di Lampung saat masih duduk di kelas 2 sekolah dasar.

Lampung Kota Sejuta Siger

Julukan kota sejuta siger, asli barusan saja saya buat. Gimana saya tidak memberikan julukan lampung kota sejuta siger, kalau sepanjang mata memandang jalan-jalan yang ada di kota Lampung ini dipenuhi dengan siger. Menurut penjelasan seorang teman yang asli Lampung, siger sendiri adalah mahkota yang dipakai di kepala pengantin wanita. Mahkota yang biasanya terbuat dari lempengan tembaga itu dipakai saat acara pernikahan dan adat. Saya belum punya infonya sejak kapan siger menjadi ikon atau simbol khas untuk kota Lampung. Pokoknya siger ikonik banget untuk Lampung, selain tentunya gajah dan sekolahannya yang berada di Way Kambas. Yang juga sudah sangat terkenal itu. Sayangnya, tiga kali ke kota ini saya belum juga berhasil berkunjung dan melihat pertunjukan di sekolah gajah Way Kambas.

Siger di gerbang pabrik

Siger di gapura kantor BKIPM

Julukan sejuta siger nampaknya memang layak disematkan untuk kota Lampung, karena begitu banyaknya siger bertebaran, seolah tidak ada tempat di bumi Lampung yang tanpa siger. Bagi anda yang memiliki kesempatan mengunjungi Lampung dapat menemukan simbol siger ini di berbagai tempat dan di hampir seluruh wilayah. Di gedung perkantoran, ruko, sekolah, kantor pemerintahan, hotel, wisma, gapura, pagar, bahkan di tiang lampu penerangan jalan. Bentuknya tentu saja disesuaikan dengan tempat di mana siger itu akan diaplikasikan. Bahannya juga demikian, ada yang dari lempeng tembaga, semen, dan sebagainya. Menurut sopir mobil sewaan yang membawa kami di hari kedua. Pemakaian dan pemasangan siger itu diwajibkan untuk gedung-gedung yang berada di kota Bandar Lampung. Sementara untuk rumah ibadah dibebaskan, diperbolehkan apakah ingin memasang atau tidak simbol siger. Sepertinya selama 3 hari 2 malam, baru 1 masjid yang saya lihat memasang dan menggunakan siger. Melihatnya juga sekilas dan sudah lewat, itu pun kalau tidak salah lihat 😅.

Siger di gapura masuk pelabuhan panjang

Siger di tiang lampu penerangan jalan

Yang jelas siger raksasa sudah berdiri dan diresmikan pada tahun 2008. Siger berukuran raksasa itu berbentuk sebuah menara siger yang letaknya tepat berada di titik 0 km pulau Sumatera. Letaknya sangat dekat dengan pelabuhan Bakauheni, sehingga bisa terlihat dari atas kapal feri. Menara siger yang tampak begitu megah layaknya sebuah gapura, yang akan menjadi penanda sekaligus penyambut para pengunjung di kota Lampung. Dengan adanya menara siger menguatkan siger menjadi sebuah ikon dan mendapatkan julukan Lampung kota sejuta siger. Semoga kelak saya bisa kembali ke Lampung kota sejuta siger. Supaya bisa mengunjungi menara siger dan melihat pertunjukan di sekolah gajah Way Kambas.

28 thoughts on “Lampung Kota Sejuta Siger

  1. Waah jadi kangen Lampung, seperti apa ya sekarang? Pasti udah tambah keren. Dulu banget aku ke lampung pas masih SD, kami sekeluarga naik ferry dari Merak ke Bakaheuni Namanya masih bocah ya jadi dulu mah ngikut ortu aja. Kepingin deh ke sana lagi dan benar-benar menikmati dan mengunjungi tempat wisata di sana.

    • Sama, saya juga pertama kali datang ke lampung pas SD kelas 2. Sepertinya dulu itu belum ada siger sebanyak sekarang atau tidak ngeh ya karena masih kecil 😁

  2. Saat mau menepi di Bakauheni aja udah kelihatan Siger-nya. Dan dulu ada yah stasiun televisi deh kalau nggak salah yang gunakan siger

  3. Aku kelampung udah bbrapa x tapi tetap aja suka bingung bahasanya soalnya bahasa lampung tidak sefamiliar profinsi lain

  4. Oooh itu namanya siger ya. Baru tau hehe. Belakangan ini memang banyak gapura dengan itu di Lampung. Beda dua puluh taun lalu pas aku suka mudik lewat lampung jalan darat.

  5. Tadinya akhir bulan Mei ini saya dan keluarga mau ke Lampung tapi berhubung baru pulang tugas jadinya ditunda deh…. semoga bisa segera ke Lampung untuk melihat siger :)

Leave a Reply to Honey Josep Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>