Kunjungan Silaturahim dalam Rangka Idul Fitri

Kunjungan silaturahim dalam rangka Idul FitriMulai sering ditinggal dan jarang diisi tulisan blog ini, jadi agak berdebu. Alhamdulillah kali ini ada tantangan satu hari satu postingan yang dibuat oleh Fun Blogging dan saya berusaha mengikuti tantangan itu. Bila konsisten maka dalam dua pekan ke depan blog ini akan ramai dengan tulisan baru. Baiklah, bismillah mari mulai menulis untuk tantangan hari pertama.

Hari ini Rabu tepat sepekan sudah lewat dari Idul Fitri, Jakarta masih belum pulih benar kondisi lalu lintasnya. Banyak pekerja yang masih memanfaatkan momen Idul Fitri untuk cuti sekaligus liburan, karena bersamaan dengan libur sekolah. Sementara yang tidak cuti sudah harus kembali bekerja sudah mulai masuk sejak Senin kemarin. Untuk yang tetap berada di Jakarta tentu merasakan senang karena Jakarta sepi, apalagi kondisi lalu lintas lancar.

Kebetulan saya dan keluarga tidak pernah mudik saat Idul Fitri, karena orang tua, mertua, mbah sudah ada di Jakarta. Kalau pun ingin mudik ke rumah mertua dekat saja hanya di Pondok Ranggon, Jakarta Timur. Jadilah menikmati liburan Idul Fitri di Jakarta dengan cara berkunjung ke rumah beberapa saudara, yang dianggap lebih tua.

Bicara berkunjung ke rumah saudara (silaturahim) dalam rangka Idul Fitri, yang dibudayakan oleh ibu saya. Butuh waktu satu bulan bahkan lebih untuk menyelesaikan acara silaturahim keliling ke rumah saudara saat momen Idul Fitri. Menjadi satu bulan atau lebih, karena menunggu hari Sabtu atau Ahad untuk berkunjung.

Kalau dulu saat saya masih kecil hingga sebelum menikah, masih banyak para tetua yang dikunjungi. Tapi sekarang tersisa hanya satu Bude yang berada di Cempaka Putih. Diawali dari hari kedua Idul Fitri, kami memulai silaturahim ke rumah tetua (Bude dan Pakde) yang ada di Kebayoran dan Kemayoran. Untuk mengunjungi Bude dan Pakde (atau kakak sepupu ibu saya) biasanya hanya dilakukan oleh kami sekeluarga saja. Tidak melibatkan adik-adiknya ibu, karena memang yang paling rajin bersilaturahim di keluarga besar sepertinya hanya ibu saya saja.

Kunjungan Silaturahim dalam Rangka Idul Fitri

Selain ke rumah para tetua, kunjungan silaturahim dalam rangka Idul Fitri juga dilakukan berkeliling ke rumah adik-adiknya ibu. Walau pada hari pertama Idul Fitri semua adik-adik dan keponakannya ibu sudah datang dan berkumpul di rumah, tapi tetap selanjutnya ada kunjungan balik. Kami melakukan keliling rumah adiknya ibu satu per satu, diurutkan mulai dari yang tertua setelah ibu tentunya. Di Jakarta kakak beradik ibu saya awalnya ada delapan, tapi sekarang tinggal tujuh saja. Salah satu adik sudah pindah ke Jawa beberapa tahun lalu. Dari tujuh bersaudara ini jadilah dibagi jadwal kunjungannya. Mana yang sudah siap untuk menerima kunjungan di hari Sabtu atau Ahad.

Jadi terbayang sudah ya kalau untuk menyelesaikan kunjungan balik dengan berkeliling ke seluruh adiknya ibu, kami bisa menghabiskan waktu satu bulan atau lebih. Karena letak dan posisi rumahnya tersebar di Jakarta mulai dari Condet, Kali Sari, Warung Atas, Cakung, Bekasi, dan Ciputat.

Untuk kunjungan silaturahim dalam rangka Idul Fitri tahun ini kami belum menyelesaikan semuanya. Baru ke rumah Bude yang di Cempaka Putih, ke rumah adik ibu yang di Warung Atas dan Condet. Ini dilakukan saat masih libur Jumat dan Sabtu kemarin. Bahkan sepertinya untuk tahun ini kunjungannya sudah lebih sedikit, karena kunjungan balik ke Kali Sari sudah tidak dilakukan. Alasannya karena adiknya ibu sudah meninggal dan tersisa hanya suaminya saja, jadi sedikit agak canggung untuk mengunjunginya. Tapi entahlah, masih menunggu keputusan dari adik-adiknya yang lain.

Manfaat yang saya rasakan dari kegiatan kunjungan silaturahim dalam rangka Idul Fitri yang dibudayakan oleh ibu tentu sangat banyak. Kali ini hanya akan dituliskan dua saja, yaitu:

  1. Mengenal dan lebih dekat dengan saudara : manfaat yang satu ini sangat terasa sekali. Saya jadi mengenal para tetua (sepupunya ibu). Berbeda sekali dengan adik-adik sepupu saya yang bisa ditebak mereka tidak mengenal siapa para tetua yang masih ada hubungan saudara. Karena oleh orang tua mereka tidak pernah diajak berkeliling. Jadi kalau nanti orang tua sudah pada meninggal, sepertinya akan terputus sudah silaturahim dan hubungan kekeluargaannya. Terbukti sudah mulai terasa saat ini, apalagi kalau tidak ada yang mau mengalah dan memulai untuk saling berkunjung
  2. Menjalin dan menyambung silaturahim: seperti sebuah hadits “Siapa yang ingin rezekinya diperluas dan umurnya panjang maka hendaknya ia bersilaturrahmi.” Sepertinya ibu saya ingin mengajarkan kepada saya dengan teladan beliau rajin bersilaturahim dan terus menyambungnya. Alhamdulillah rezeki ibu memang dimudahkan.

Semoga saya masih bisa mengikuti kunjungan silaturahim dalam rangka Idul Fitri yang telah ibu ajarkan dan budayakan selama ini hingga akhir hayat. Aamiin.

10 thoughts on “Kunjungan Silaturahim dalam Rangka Idul Fitri

  1. silaturahim itu buanyaaak banget keutamaannya ya mba, terbukti habis mudik silaturahim ke rumah ortu..eh pulangnya bawa oleh2 yg banyak.. ups. Ga mengharap juga tapi orangtua mah gitu suka ga tegaan sama anak :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>