Kisah sebuah Absen

Kisah sebuah absenPernah saya menghadiri sebuah kegiatan, katakanlah seminar. Pada saat seminar itu ada edaran sebuah absen yang harus diisikan. Kebetulan saya datang lebih cepat beberapa menit sebelum acara berlangsung. Sepertinya saya adalah orang ketiga atau keempat yang datang, tapi yang lainnya adalah panitia kalau tidak salah. Karena selain saya mereka sibuk mempersiapkan beberapa hal yang dibutuhkan untuk seminar itu.

Acara belum lagi dimulai padahal jam sudah berlalu tiga puluh menit dari waktu yang telah ditentukan, tapi peserta yang hadir tidak bertambah banyak masih dapat dihitung dengan jari yang sepuluh ini. Ah, biasa sekali acara-acara yang saya datangi sering memberlakukan jam karet seperti itu. Molor panjang sekali jamnya tanpa ada pemberitahuan sebelumnya atau saat acara peserta hanya dapat berharap dalam hati. Entah kenapa sulit sekali budaya karet di negeri tercinta ini dihilangkan, bahkan menjamur. Apapun kegiatannya pasti ada saja yang ngaret entah itu dari pihak panitia maupun peserta. Semua tidak merasa bersalah dan tidak suka disalahkan.

Pihak pantia merasa harus menunggu peserta yang belum hadir jadi waktu pelaksanaan diundur entah sampai kapan. Tidak jarang pula harus menunggu pemateri atau narasumber yang belum datang karena alasan macet di jalan atau mendadak harus ke tempat lain terlebih dulu. Dari sisi peserta merasa datang sebelum waktu yang ditentukan sangatlah rugi, alasannya tidak ingin menunggu lama di tempat kegiatan. Datang mepet waktu atau malah lebih barang semenit dua menit atau bermenit menit akhirnya menjadi pilihan. Yang dirugikan tentu saja yang datang tepat waktu dan yang berusaha menghargai waktu.

Biasanya dalam sebuah kegiatan atau acara, pihak panitia membuat absen atau daftar hadir. Tujuan pembuatan absen selain untuk mengetahui berapa jumlah yang hadir, bisa bermacam-macam tergantung informasi apa yang diharapkan dari absen tersebut. Saya sendiri kalau boleh bilang sudah tamat tentang absen bahkan cenderung bosan membicarakannya. Postingan kisah sebuah absen ini saya buat memang tentang absen yang ternyata bisa menjadi ide untuk dituliskan.

Kisah Sebuah Absen

Kisah sebuah absen ini berasal dari sebuah kejadian beberapa waktu lalu yang saya sempat dengar di sebuah komunitas. Perlu digarisbawahi bahwa pastinya kisah sebuah absen ini bukan terjadi di komunitas para blogger ya :). Hanya karena sebuah absen ada seseorang menjadi pembicaraan di sebuah komunitas. Iya karena seorang anggota komunitas ada yang tidak mengisi daftar absen ketika menghadiri suatu kegiatan.

Orang itu dipertanyakan integritas dan kesetiaannya kepada komunitas itu dan menjadi hangat perdebatan di dalamnya. Istilahnya orang ini dinilai oleh para tetua dari komunitas tersebut. Sayangnya penilaian itu tidak dihadiri oleh orang yang bersangkutan, jadi tidak dapat ditanya alasan orang itu tidak mengisi absen. Orang yang dibicarakan dan diperdebatkan asyik dengan kegiatan yang lain sementara yang memperdebatkan sampai menghabiskan energi, kasihan ya :).

Sebuah absen, seperti yang saya tuliskan di atas bisa jadi penting dan tidak penting keberadaannya. Tergantung dari tujuan dan informasi yang diharapkan oleh penyelenggara kegiatan. Kalau saya sendiri menganggap absen sangat tidak penting kalau tiap individu yang sudah memiliki integritas dalam dirinya. Ingin melihat berapa jumlah yang hadir tinggal dihitung saja peserta yang hadir oleh salah satu panitia, gampang tidak perlu menghabiskan tinta dan kertas untuk membuat absen yang nantinya akan dibuang.

Ingin melihat ketaatan seseorang terhadap perintah yang diberikan bukanlah dilihat dari sebuah absen, sungguh dangkal pemikiran orang kalau itu dilakukan. Dengan hadir di kegiatan dan kelihatan wujudnya itu sudah mencerminkan orang itu taat, walau tidak absen sekalipun. Bisa jadi seseorang tidak mengisi absen karena terlewat, belum ada daftar absennya saat tiba (karena hadir lebih dulu daripada panitia), sudah bosan dengan absen. Yang terakhir ini bisa jadi dialami oleh setiap orang, karena sudah sejak sekolah dasar selalu diabsen oleh guru bahkan hingga jadi mahasiswa dan bekerja di kantor.

Lain lagi kalau panitia ingin mendapatkan informasi lain dari peserta selain nama dan tanda tangan. Absen bisa menjadi cara untuk mengumpulkan informasi itu tinggal panitia bisa membuat se-kreatif mungkin. Misalnya ingin mendapatkan alamat rumah, email, alamat blog, dan sebagainya. Coba dicek apakah absen sudah diwajibkan oleh panitia saat memerintahkan peserta untuk absen. Sepertinya sampai detik ini saya belum pernah menemui ada absen yang dibawah daftarnya tertulis: “absen ini diwajibkan untuk diisi”. Yang ada, akan menjadi wajib absen bila terkait dengan pemberian uang (gaji). Kalau yang ini pasti semua peserta akan dengan sukarela dan mencari-cari absen.

Kisah sebuah absen di komunitas itu mungkin bisa dijadikan pelajaran bagi saya dan anda yang membaca tulisan ini. Agar tidak mempermasalahkan lagi tentang absen kecuali terkait dengan uang yang harus dipertanggungjawabkan. Atau memang sudah memberitahukan sebelumnya kalau peserta diwajibkan untuk mengisi absen walau apa pun yang terjadi. Bagaimana dengan anda, masih mau absen?

8 thoughts on “Kisah sebuah Absen

  1. Saya selalu sukarela mengisi absen. Karena bisa saja, absen itu memang diperlukan untuk melengkapi dokumen. Jadi setiap acara ada dokumentasi gambar kegiatan dan jumlah peserta hadir yang dilengkapi dengan tanda tangan.
    Atau bisa saja absen digunakan sebagai pelengkap untuk pertanggungjawaban.

  2. Orang tersebut ngga lupa kan ya, Mbak? Kadang emang suka ada yg lupa ngisi absen. Apalagi kalau ngga ada yg nerima para tetamu.

    Setuju banget, menghargai, dan bukti ketaatan. 😉

  3. daftar hadir mungkin ya maksudnya, kalau absen berarti kan tidak hadir :) Aku selalu datang selum jam yang ditentukan malah sering dapet rezeki, itu karena panitianya juga well prepared ya

Leave a Reply to Idah Ceris Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>