Kembali Menjalani PSBB

Pemerintah DKI Jakarta akhirnya harus menarik rem darurat di masa pandemi virus korona. Yaitu dengan memberlakukan kembali aturan ketat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Saya pribadi tidak terlalu kaget dengan kebijakan rem darurat ini. Karena di awal, saat pengumuman akan dimulai masa PSBB transisi. Pak Gubernur sudah memberi peringatan akan pemberlakuan rem darurat ini. Apabila masyarakat tetap tidak tertib dengan protokol kesehatan dan kondisi membahayakan. 

Sejak sosialisasi akan diberlakukan kembali PSBB, banyak sekali pro dan kontra terjadi. Baik di masyarakat maupun pihak pemerintah sendiri. Dalam hal ini pemerintah pusat, yang dinilai sering menjegal kebijakan pemerintah daerah. Yang lebih cepat tanggap menangani dan menghadapi pandemi virus korona. Presiden sendiri sudah berpesan untuk mengutamakan kesehatan. Namun dalam beberapa hari kemudian diubah lagi. Dengan meminta para Kepala Daerah, melakukan pembatasan per wilayah saja. Bukannya memberlakukan PSBB seperti yang akan dilakukan oleh DKI Jakarta. Tersirat dari kebijakan tersebut adalah khawatir roda ekonomi kembali berhenti. Entahlah, rakyat selalu dibuat bingung dengan kebijakan pemerintah sekarang. 

Sebagai rakyat terus terang ingin sekali mendengar satu kebijakan yang bagus dari pemerintah. Yang diinginkan hanya satu, kebijakan ramah dan untuk kepentingan seluruh rakyat. Tidak terkecuali dengan kebijakan dalam menangani pandemi korona. Semua orang ingin sehat dan memiliki kehidupan yang normal. Dalam arti mudah beraktivitas, baik untuk bekerja, sekolah, dan berkegiatan lainnya. Seperti sebelum adanya pandemi virus korona. Melihat kondisi pemerintah yang lebih dari enam bulan masih gagap dalam menangani pandemi ini. Tentu saja rakyat menjadi tidak menentu. Sudah masalah kesehatan merasa terancam setiap detiknya. Masih harus memikirkan masalah ekonomi. Banyak terjadi PHK, karena roda ekonomi tidak berjalan. Membuat tingkat kesejahteraan rakyat terhempas ke titik terendah. 

Kembali Menjalani PSBB

Bukan tidak mau untuk kembali menjalani PSBB. Hanya saja rakyat memikirkan, bagaimana untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sementara tidak ada jaminan dari pemerintah, untuk menanggung setidaknya kebutuhan pokok setiap rakyatnya. Dalam menghadapi masa pandemi ini. Berat sekali dan jadi serba salah bagi rakyat kecil. Padahal ingin sekali mematuhi peraturan untuk kembali menjalani PSBB. Apa daya, untuk memenuhi kebutuhan tetap harus keluar dari rumah. Kalimat yang sering terdengar selama masa PSBB. “Keluar rumah mati kena virus, di rumah saja mati kelaparan.”

Mematuhi Protokol Kesehatan

Akhirnya sesuai kemampuan masing-masing, dalam menjalani PSBB. Sambil tetap waspada dengan kondisi kesehatan. Jaga diri, keluarga, dan lingkungan supaya tetap sehat. Selalu mematuhi protokol kesehatan. Jangan pernah sembrono keluar rumah tapi tidak melaksanakan protokol kesehatan. Karena kita tidak akan pernah tahu, apakah dalam kondisi sehat. Atau malah sudah terpapar dan tertular. Banyak tersiar kabar orang tanpa gejala sakit apapun, ternyata sudah positif tertular. Herannya masih ada saja orang yang menyepelekan virus korona yang belum ada obatnya. Sebagai pengingat untuk diri saya sendiri dan keluarga. Saat kembali menjalani PSBB tahap kedua ini, protokol kesehatan yang harus dilaksanakan masih tetap sama, yaitu:

Gunakan masker

Saat kaki keluar pintu rumah, saat itulah penggunaan masker wajib hukumnya. Jangan pernah abai terhadap penggunaan masker ini. Tidak betah, iya sudah pasti. Kita harus bisa beradaptasi dengan lingkungan. Sudah ada waktu selama enam bulan pertama untuk belajar menggunakan masker. Saya termasuk yang harus belajar menggunakan masker. Alhamdulillah, bisa beradaptasi dengan baik. Padahal sebelumnya, paling anti pakai masker. Jangankan pakai masker, ada benda kecil dalam waktu sebentar. Ada di area depan lubang hidung, menghalangi nafas. Pasti langsung megap-megap, tidak tahan. Bagaikan ikan yang dikeluarkan dari air. 

Berdasar pengalaman, saya beri tips awal belajar menggunakan masker. 

  1. Jangan pernah berpikir saat ingin memakai masker. Langsung saja pakai dan berkativitas
  2. Jangan pernah izinkan mengeluarkan perasaan. Maksudnya, memakai masker jangan dirasa-rasa. Bila perasaan mulai muncul, alihkan dengan kegiatan
  3. Jangan pernah melihat masker yang dipakai. Kadang ada saja rasa iseng ingin melihat masker yang sudah dipakai. Usahakan untuk tidak bercermin saat ingin dan sedang memakai masker. Supaya tidak memunculkan perasaan tidak nyaman
  4. Pilihlah bahan masker yang nyaman untuk diri anda. Jangan menggunakan masker dari bahan yang berbulu atau membuat alergi di kulit
  5. Pakai masker jangan terlalu kencang. Biarkan masker sedikit longgar saat menutupi hidung dan mulut. Supaya tidak terasa pengab dan masih mudah untuk bernafas
  6. Nafaslah yang normal. Bernafaslah dengan normal melalui hidung. Jangan khawatir tidak bisa bernafas. Bila diinginkan, bisa dibantu dengan bernafas melalui mulut. Ini dilakukan agar, tidak timbul perasaan kekurangan oksigen
  7. Jangan memaksakan diri. Sebagai permulaan, ambil waktu pendek-pendek saja saat menggunakan masker. Bila memungkinkan, anda bisa mengendurkan atau melepaskan masker sebentar. Lihat kondisi sekeliling sebelum melakukannya. Pastikan tidak ada orang lain dalam jarak dekat dengan anda. Setelah merasa sudah dapat bernafas seperti biasa dan nyaman. Jangan lupa untuk menggunakan masker anda kembali.

Cuci Tangan

Jangan lupa untuk selalu cuci tangan, apabila bersentuhan dengan orang. Atau dengan benda-benda yang diperkirakan pernah dipegang oleh banyak orang. Tentu saja gunakan sabun saat cuci tangan dan segera bilas dengan air bersih. 

Penyitasi Tangan

Selalu sediakan penyitasi tangan, sebagai pengganti cuci tangan dengan sabun dan air bersih. Dapat dilakukan saat ingin membersihkan tangan tapi tidak tersedia air bersih. Sediakan selalu di tas atau kendaraan pribadi anda. Sebaiknya penyitasi tangan ini digantung di luar tas, supaya tidak kontak dengan bagian lainnya. 

Langsung Mandi dan Ganti Pakaian

Pastikan cuci tangan lebih dulu sebelum masuk ke dalam rumah. Segera lanjutkan dengan  mandi dan cuci rambut hingga bersih. Selesaikan dengan mengganti dan menggunakan pakaian bersih. Jangan mengerjakan dan melakukan hal lain terlebih dulu. Apalagi bersentuhan dengan anggota keluarga lainnya yang berada di dalam rumah. 

Kami sekeluarga insyaallah akan selalu melaksanakan protokol kesehatan selama masa pandemi virus korona. Walau terasa merepotkan dan mengganggu, tetap dilakukan. Melaksanakan protokol kesehatan, bermanfaat tidak hanya untuk pribadi, tapi juga demi melindungi keluarga tercinta. Dalam skala lebih besar, sekaligus untuk menjaga lingkungan sekitar kita. Lakukan dengan ikhlas supaya terasa ringan dan tidak stres. 

Mari jalani masa sulit, di tengah pandemi virus korona ini dengan tetap berbahagia. Beri dukungan kepada Gubernur DKI Jakarta, dengan mematuhi panduan kembali menjalani PSBB. Jangan pernah mengabaikan dan menganggap kalau pandemi ini hanya isapan jempol. Selalu optimis, kondisi ini akan segera berlalu. Doakan pula para tenaga kesehatan agar selalu dalam kondisi sehat. Mudah-mudahan akan segera ditemukan obat dan anti virusnya. Terpenting, selalu yakin Allah Swt. akan memberi jalan keluar untuk kita semua.

Tetap jalani peran masing-masing sebagai pegawai, pelajar, pebisnis dengan mengupayakan selalu di rumah. Seperti saya, saat ini sedang senang menjalani kegiatan dari rumah. Rasa bosan tentu ada, kalau sudah begitu bermain dengan anak sebagai hiburan. Permainan papan bisa menjadi pilihan bermain dengan anak di dalam rumah. Bersepeda pun bisa jadi alternatif, selain sebagai hiburan juga menyehatkan badan.

1 thought on “Kembali Menjalani PSBB

  1. Terus terang terkurung dalam rumah untuk waktu lumayan lama bukanlah hal yang menyenangkan. Kebosanan yang paling utama.

    PSBB kedua di DKI Jakarta juga berimbas bagi saya karena kantor terpaksa harus tidak beroperasi. Disana ada ketegangan karena bagaimanapun kalau terus tutup hal itu akan berimbas pada penghasilan keluarga.

    Cuma, apa mau dikata. Kali ini keputusan gubernur DKI Jakarta saya rasa tepat mengingat peningkatan jumlah pasien ditambah dengan semakin abainya masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan mengkhawatirkan sekali.

    Jadi meski ketar ketir dengan situasi pekerjaan, dan rasa bosan yang pasti akan hadir kembali, saya pilih mengikut semuanya dengan sabar.

    Bagaimanapun, hanya dengan begitu Covid-19 tidak terus menyebar dan menelan korban

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.