Keliling Naik Bandros Bandung Tour on Bus

Dalam kurun waktu tiga pekan ini saya mendapatkan ajakan 2 kali pergi ke Bandung. Pada awal bulan dan terakhir kemarin hari Rabu, 18 Juli. Pergi untuk menemani jiddah memberikan dukungan kepada anaknya. Yang sedang melaksanakan sidang skripsi di Unpad.

Perjalanan pagi di mulai setelah selesai sholat Subuh, tepatnya pukul 5.25. Hanya berdua kami melakukan perjalanan menggunakan ignis baru milik jiddah. Untuk cerita tentang ignis moga bisa dijadikan postingan selanjutnya.

Saya dijemput di depan jalan masuk menuju rumah. Langsung menuju Bandung tanpa jiddah turun terlebih dulu. Melalui gerbang tol Rawamangun perjalanan selama tiga jam dimulai. Perjalanan lumayan lancar, karena masih pagi. Pukul 8.38 kami memasuki kota Bandung melalui gerbang tol Pasteur. Mengisi waktu sebelum bertemu yang sedang sidang skripsi, jiddah mengajak makan. Di warung mih kocok bandung mang Dadeng di jalan KH. Dahlan.

Perut sudah kenyang tapi tidak bisa menunggui anaknya jiddah, karena anaknya mendapat giliran sidang skripsi pukul 11. Sementara tidak boleh ditemui saat sidang berlangsung. Kami pun akhirnya mengisi waktu dengan jalan-jalan. Menuju alun-alun kota Bandung dengan tujuan ingin naik bandros. Kenapa bandros yang jadi tujuan? Untuk memenuhi keinginan yang tertunda sejak dua pekan yang lalu. Ketika kami selisipan jalan dengan bandros yang baru pertama kalinya kami lihat.

Bandros Bandung Tour on Bus

Sejenis makanan apa ya bandros? Eits bandros yang satu ini tidak ada hubungannya dengan makanan. Melainkan salah satu moda transportasi. Tepatnya bandros adalah bus pariwisata keliling kota Bandung. Semacam bus tingkat pariwisata yang ada di kota Jakarta. Bandros mulai diresmikan pertama kalinya pada tanggal 18 Februari 2018. Jadi masih sangat baru dan sedang menjadi sorotan publik dan masyarakat Bandung khususnya. Bandros Bandung Tour on Bus, menurut petugas yang sempat saya ajak ngobrol, hingga kini menjadi wisata tersendiri sejak Lebaran. Tidak hanya warga Bandung melainkan untuk warga lainnya, seperti saya yang datang dari Jakarta.

Bandros Bandung Tour on Bus

Ada 2 Bandros Bandung Tour on Bus kosong yang parkir di sisi alun-alun, saat kami tiba. Setelah memarkir ignis di lantai basement alun-alun. Petugas menyarankan untuk naik ke bandros yang parkir paling depan. Dua orang petugas sedang asyik ngobrol, segera berpindah tempat duduk ketika kami naik. Dengan leluasa kami memilih tempat yang akan diduduki. Tak berapa lama datanglah serombongan emak-emak beserta anak-anaknya. Sepertinya mereka rombongan satu RT. Oleh petugas rombongan itu diminta untuk naik ke bandros supaya lekas penuh dan bisa memulai perjalanan keliling.

Sebelum jalan, seorang petugas naik ke bandros untuk menarik uang perjalanan layaknya kondektur. Per orang dikenakan dua puluh ribu rupiah untuk sekali perjalanan. Setiap orang yang telah membayar kemudian diberikan tiket sebagai buktinya. Selesai urusan bayar membayar petugas tadi pun turun. Digantikan oleh dua petugas lain naik ke dalam bandros. Satu orang sebagai supir bernama Puji. Satu lagi Dewi yang bertindak sebagai pemandu wisata selama perjalanan.

Dari perjalanan denganย Bandros Bandung Tour on Busย saya jadi tahu kalau dulu Bung Karno pernah dipenjara oleh Belanda, di sebuah penjara kecil di Banceuy. Rute selanjutnya melalui jalan Braga. Saat melewati jalan itu, emak-emak dalam bandros menjadi heboh. Karena sepanjang jalan Braga rombongan itu sibuk menyapa beberapa orang-orang yang dikenalnya. Braga ternyata tempat tinggal dari rombongan emak-emak tadi. Selanjutnya melewati daerah Cipaganti, yang termasuk daerah elit di Bandung. Kalau boleh disamakan seperti Menteng di Jakarta mungkin ya. Banyak rumah-rumah kuno peninggalan Belanda yang kondisinya hingga saat ini masih kokoh berdiri.

Walau usianya tentu sudah ratusan tahun. Menurut informasi dari teh Dewi, ada beberapa rumah orang Belanda yang masih asli bagunannya sejak zaman dulu. Bisa dikenali salah satunya dari penulisan nama anak perempuan tertua dari pemilik rumah. Nama itu dituliskan di depan rumah dengan ukuran cukup besar. Sehingga sangat mudah dikenali dan dibaca dari bandros. Benar saja memang ada nama perempuan di tiap rumah yang masih asli buatan zaman Belanda. Diantaranya saya melihat ada nama Sindora dan Elly di dua rumah yang berbeda.

Masih di kawasan Cipaganti, teh Dewi menunjukan sebuah masjid peninggalan zaman Belanda. Yang dibangun oleh orang keturunan Belanda yang saking inginnya mendirikan masjid tersebut sampai menjadi mualaf. Dialah Schoemaker, yang memiliki ibu orang pribumi muslim dan ayahnya yang katolik berasal dari Belanda. Masih menurut teh Dewi, Schoemaker ini pernah menjadi pembimbing bung Karno. Di mana Presiden RI pertama itu pernah magang menjadi asisten arsitek. Di sepanjang perjalanan dengan bandros, pemandu wisata terus menunjukan bangunan-bangunan yang memiliki nilai sejarah di kota Bandung. Yang dulu pernah ada, bahkan beberapa diantaranya hingga kini masih bisa terlihat keberadaannya. Diataranya ada bekas perkebunan karet dan pabrik kopi. Ada pula satu-satunya pabrik kina terbesar pada zamannya dulu.

Bandros warna hijau toska yang kami naiki memiliki rute alun-alun, ciwalk (cihampelas), dan kembali lagi ke alun-alun. Bandros ini berhenti untuk transit di Ciwalk selama lima belas menit. Untuk memberi kesempatan bagi para penumpang yang ingin berbelanja atau sekedar cuci mata saja. Saat ini kawasan Cihampelas sudah begitu berbeda dibandingkan tiga belas tahunan yang lalu. Yang paling mudah bisa dilihat perbedaannya, karena saat ini sudah ada Ciwalk. Tempat para pedagang kaki lima berdagang dan berada di atas jalan Cihampelas. Selesai lima belas menit waktu yang ditentukan, masing-masing penumpang kembali ke naik ke dalam bandros. Mungkin khawatir akan ditinggal oleh bandros atau karena sungkan dengan penumpang lainnya.

Seperti juga bus tingkat wisata keliling yang memiliki 5 rute berbeda dan bisa dinikmati di Jakarta. Bandros Bandung Tour on Bus pun sama memiliki 5 rute yang berbeda dan beroperasi dari pukul 8 sampai pukul 15 setiap harinya. Dengan 10 unit bandros reguler dan 2 unit melayani penumpang VIP, yang disediakan oleh Dinas Perhubungan kota Bandung. Semua bandros diwarnai denga warna cerah dan menarik. Tiap warna berbeda akan mewakili rute yang dilalui. Berikut warna dan rute bandros Bandung tour on bus:

1. Putih dan kuning: Balaikota – Gasibu – Balaikota
2. Pink: Museum geologi – Gasibu – Cihameplas – Ciwalk – Gasibu
3. Ungu: Gasibu – Ujung Berung – Gasibu. Karena sekarang sepi dan kurang peminatnya jadi diperbantukan rute yang ke Balaikota atau Cihampelas
4. Hijau tua dan toska: Alun-alun – UPI – Alun-alun
5. Biru muda dan merah: Alun-alun – Cibaduyut – Alun-alun.

Bagi anda yang ingin mencoba naik bandros harap diketahui kalau bangkunya keras banget. Karena terbuat dari besi yang dijajarkan seperti pagar tanpa alas.ย Selain itu untuk yang membawa anak, harap diperhatikan jangan sampai anggota badan dikeluarkan saat bandros melaju.

Oh iya selain bandros yang dikelola Dishub, ternyata ada juga bandros mang dudung. Untuk yang terakhir ini dikelola oleh Organda dengan tarif Rp. 10 ribu. Penumpang akan berkeliling dengan rute yang berbeda, yaitu: alun-alun – Braga – Balaikota – Cilaki – Gedung sate – alun-alun.

Jadi ada sedikit perbedaanya ya, antara bus tingkat wisata milik DKI Jakarta. Di Bandung kalau ingin wisata berkeliling dengan bandros harus mengeluarkan uang. Sementara di Jakarta, alhamdulillah gratis. Semoga ke depannya pemerintah Bandung dapat menggratiskan bandros Bandung tour on busnya.

Sebelum turun dari bandros Bandung tour on bus, kami mendapatkan oleh-oleh dari teh Dewi yang memandu wisata. Yaitu sebuah lagu bandros, dengan nada seperti lagu brother John, berikut ini liriknya:

Naik bandros naik bandros
Asyiknya asyiknya
Keliling-keliling Bandung 2x
Asyiknya asyiknya.

Selesai keliling dengan bandros Bandung tour on bus, kami pun melanjutkan perjalanan. Menengok kak icha di kampus Unpad. Tapi sebelumnya mampir ke toko pembuatan kaos. Mengambil kaos olahraga pesanan jiddah untuk anak sekolah.

41 thoughts on “Keliling Naik Bandros Bandung Tour on Bus

  1. Waaa berkalikali ke bandung, ku ga peenah naik bandros. Pengen juga pankapan ke sana. Selalu ada yang unik dan baru ya di bandung.

    Jadi bandros naiinya dari alun2.swmua kan? Warna bandrosembedakan tujuan masing2. Begitukah?

  2. Klo ke bandung harus selalu mampir makan mie kocok. Duuhh jadi kangen kan, udah lama gaknke bandung. Btw, asik ya keliling naik bandros. Pengem seh klo kesana lagi nyobain naik.

  3. Pertanyaan:
    1. Tiket Rp20ribu untuk satu kali naik bandros saja, atau kalau rute yang satu sudah habis, bisa naik rute lainnya gratis?
    2. Rute yang direkomendasikan yang mana?

    makasiiii

    • 1. Bayar 20rb sekali jalan aja mbak dr alun2 ke cihampelas (yang berhenti 15 mnt di ciwalk). Kalau turun di ciwalk dan mau belanja lebih dr 15 mnt harus bilang ke sopir biar bisa ditinggal. Nah kalau mau naik lagi setelah puas dari belanja, bisa ikut dengan bus berikutnya yang datang di ciwalk. Dengan menunjukan tiket yang di awal naik. Jadi tidak harus bayar lagi. Berhenti dan turun hanya boleh di alun2 (titik awal naik), ciwalk, atau di cihampelas
      2. Belum bisa merekomendasikan rute yang bisa dipilih mbak, karena baru 1 rute yang dicoba ๐Ÿ˜…

Leave a Reply to Melysa Luthiasari Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>