Kebun Sayur di Dalam Hutan Kota

Jakarta, salah satu kota metropolitan di dunia. Penuh dan dihiasi oleh gedung-gedung bertingkat pencakar langit. Sudah sangat jarang dan sulit sekali menemui lahan terbuka. Apalagi dengan lahan untuk pertanian. Tahun 80-an sampai awal 90-an di Jakarta masih bisa ditemui lahan terbuka. Bahkan masih dengan mudah ditemui lahan pertanian yang sering disebut kebun atau kebon. Biasanya di kebun ditanami dengan sayuran, seperti  kangkung dan bayam. Semakin ke sini kebun sayur berubah jadi rumah dan gedung. 

Kebun sayur di dalan hutan kota Jakarta

Salah satunya di wilayah perbatasan antara Jakarta Timur dengan Jakarta Pusat. Dulu sekitar tahun 2014-2015 masih ada kebun sayur di sebuah lahan kosong. Yang dimanfaatkan oleh petani untuk dijadikan kebun sayur. Tidak jauh-jauh, tanaman yang ditanam adalah kangkung dan bayam. Letaknya tepat bersebelahan dengan apartemen Green Pramuka. Anda bisa melihatnya dari jalan layang saat melintasinya. Bila menuju ke arah Cempaka Putih. Entah kapan dan kenapa kebun sayurnya sekarang sudah tidak ada. Walau hingga kini lahannya masih ada dan tetap kosong, sayang sekali. 

Saya mengetahui kalau di sebelah apartemen itu ada kebun sayur, karena di tahun itu nona kecil masih TK. Diajak untuk belajar di luar ruang kelas, dari sekolah ke kebun sayur. Tujuan dari pemelajarannya sendiri adalah untuk mengenal tumbuhan kepada anak-anak. Utamanya tentang sayur mayur, yang biasa dimasak dan dimakan. Juga memperkenalkan profesi sebagai petani. Dikebun itu, anak-anak pun diajak praktek seperti petani. Yaitu menanam dan memanen langsung sayur mayur. Aktivitas belajar ruangan seperti ini sangat bermanfaat untuk anak. Kalau mau jujur, yang dapat menikmatinya bukan hanya anak-anak. Remaja dan orang dewasa pun akan sangat menikmati. Melakukan sesuatu yang tidak pernah atau jarang dilakukan. Tentu saja akan menggairahkan. Tidak terkecuali mencoba untuk menanam dan memanen. 

Mencari Kebun Sayur

Pada tahun 2019 lalu, saya diajak untuk mencari kebun sayur di Jakarta. Setelah tahu kalau kebun sayur yang di sebelah apartemen tidak ada lagi. Ternyata sangat sulit menemukan kebun sayur. Cari informasinya di dunia maya pun tidak memuaskan. Akhirnya saya dan seorang teman nekat untuk mencari. Tepatnya pada tanggal 5 November 2019. Tidak mau jauh-jauh, masih di sekitar Jakarta Timur yang dekat dari rumah. Jelang Ashar, kami berangkat mencari kebun sayur. Sepulangnya dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di jalan Jenderal Sudirman. Entah kenapa, saya tiba-tiba mengajak pergi ke arah Pulogadung. Sempat selintas diberi ingatan, kalau pernah melewati kebun sayur. Tempatnya di dalam kawasan industri Pulogadung (JIEP). Sekitar 10 atau 15 tahunan yang lalu, saya pernah iseng masuk ke kawasan JIEP. Menggunakan motor, untuk melihat-lihat dan mencoba. Adakah jalan tembus dari JIEP ke arah Pondok Kopi sana. Ternyata memang ada, tapi tidak sampai Pondok Kopinya. Hanya bisa tembus sampai ke jalan I Gusti Ngurah Rai. 

Kawasan JIEP Pulogadung

Kami berdua pun akhirnya menyusuri kawasan JIEP, Pulogadung. Tanpa tahu apakah masih ada kebun sayur. Seperti yang pernah saya lihat beberapa tahun yang lalu. Alhamdulillah, ternyata ada kebun sayur. Posisinya sedikit ke pinggir dan ke dalam kawasan JIEP. Tapi sayang kebun sayur yang kami temukan, bukanlah kebun sayur yang pernah saya lihat. Letaknya pun sudah berbeda. Kalau dulu di pinggir jalan dan luas. Sekarang posisinya ada di pinggir kali dan di dalam hutan kota. Iya, ternyata ada loh hutan kota di dalam kawasan industri. Lumayan luas juga, tapi jangan dibandingkan dengan Kebun Raya Bogor πŸ˜…. Pada awalnya kami masih belum mau turun dari mobil. Karena masih penasaran dengan lokasi yang pernah saya lihat. Jadinya masih muter-muter di kawasan JIEP. Berusaha menemukan kebun sayur lainnya. Kebun sayur tidak ketemu, malah menemukan wilayah lain. Serasa ada di negara lain, kalau menurut pendapat teman saya itu. 

Kebun Sayur di dalam Hutan Kota

Tapi kebun sayur yang pernah saya lihat dulu, tidak pernah ditemukan. Kami pun kembali ke kebun sayur yang berada di pinggir kali. Turun dari mobil dan melihat-lihat. Oh iya ada 2 area kebun ternyata, sama-sama ada di pinggir kali. Tapi yang satunya tidak ada di dalam hutan kota, letaknya juga terpisah oleh jalan. Hanya ada 1 petani saja di lokasi ini. Yang ditanam di sini kangkung, bayam, dan kemangi. Tidak lama berada di sini, setelah mendapatkan bibit kangkung dan bayam. Kami melanjutkan perjalanan ke area kebun yang berada di sebelahnya. Benar, kami pergi ke kebun sayur di dalam hutan kota. Hanya tinggal menyeberang jalan saja, kalau jalan kaki. Karena ada di dalam hutan kota, jadi harus sedikit memutar bila membawa kendaraan. Sebab tidak bisa masuk dari pinggir kali. Setelah berputar sedikit, kami menemukan pintu masuknya. 

Petani di pinggir kali

Letaknya ada di antara pabrik-pabrik yang berada di kawasan JIEP. Mobil parkir di pinggir jalan, dilanjutkan dengan jalan kaki. Mengikuti jalan setapak menuju kebun sayur di dalam hutan kota. Saat memasuki kawasan kebun, terasa seperti berada di sebuah perkampungan. Jalan beberapa menit, barulah terlihat area perkebunan sayur mayur. Di dalam hutan kota ini ada beberapa petani yang menggarap kebunnya masing-masing. Tanaman sayur yang ditanam apalagi kalau bukan kangkung dan bayam. Kebetulan saat kami sampai di kebun, sudah masuk waktu Ashar. Jadi matahari sudah tidak terlalu terik. Kami sempat berbincang dengan sepasang suami istri, yang menjadi petani di hutan kota ini. 

Menjadi Petani di dalam Hutan Kota 

Sepasang petani itu bernama Pak Duriah dan Ibu Mitun. Mereka sudah menjadi petani di hutan kota selama 10 tahun, sejak tahun 2009. β€œDulu di sini masih benar-benar hutan. Pohon besar-besar dan rumput tinggi-tinggi. Ularnya juga banyak, jadi tidak ada yang berani masuk ke sini.” Pak Duriah mengawali kisah mereka saat membuka lahan di dalam hutan kota ini. Bersama beberapa petani lainnya, mereka diizinkan oleh pihak JIEP dan Kementerian Kehutanan. Untuk menjadikan kawasan hutan kota yang berada di dalam kawasan JIEP Pulogadung, dikelola menjadi kebun-kebun sayur. β€œSekarang beda, sudah terang dan bersih. Pegawai PLN yang suka mengecek juga senang, tidak takut lagi.” Ujar sepasang suami istri itu bangga. Sebagai informasi, kebun sayur dalam hutan kota itu memang berada di bawah tiang-tiang sutet. Makanya ada pegawai PLN yang suka datang mengecek 😁.

Petani sedang menyirami kebun sayurnya

Untuk pengairan kebun sayur mayur yang ditanam, para petani mengambil air dari dalam kali. Jangan dibayangkan bau dan kotornya itu air kali. Kalau sudah jadi sayur mayur siap masak insyaallah tidak tercium baunya kok dan tetap sehat πŸ˜…. Saya bisa bilang begitu karena sudah pernah makan sayur daun singkong, hasil dari kebun sayur di dalam hutan kota ini. Pohon singkongnya dinamakan singkong australia. Tidak paham kenapa dinamakan dengan nama sebuah negara tetangga. Tekstur dari daun singkong australia berbeda dengan daun singkong jenis lainnya. Lebih lembut dan enak saat dikunyah dan dimakan. Tidak percaya? silakan coba sendiri.

Tidak semua petani menggunakan air kali langsung untuk menyirami tanamannya. Beberapa petani termasuk Pak Duriah dan Ibu Mitun membuat kolam penampungan. Jadi air dari kali diendapkan dulu ke dalam kolam penampungan. Air dari dalam kolam penampungan yang digunakan untuk menyiram tanamannya supaya subur. Alasan mereka mengendapkan air kali di kolam penampungan, supaya mengurangi bau dari air kali. β€œTidak kuat baunya.” keluh Pak Duriah, sambil terus memanen kangkungnya. 

Pak Dariah dan Ibu Mitun sedang panen kangkung

Oh iya bagi anda yang sedang mencari kebun sayur, bisa datang ke kawasan JIEP Pulogadung. Biasanya yang membutuhkan kebun sayur adalah pihak sekolah taman kanak-kanak. Untuk disurvei apakah bisa dijadikan tempat belajar bagi murid-muridnya. Insyaallah, petani kebun sayur di dalam hutan kota bisa diajak kerja sama. Alamat jelasnya mohon maaf saya tidak tahu di jalan apa πŸ˜…. Tapi kalau dari arah jalan pemuda terus saja masuk lewat gerbang kawasan JIEP. Di pertigaan pertama belok kanan ikuti saja jalan itu. Jangan belok-belok. Kalau sudah sampai bundaran ambil arah kanan, tidak lama anda akan sampai di pinggir kali tempat hutan kota berada. Silakan bertanya kepada petugas atau orang yang anda temui, dimana letak hutan kota.

Petani Profesi yang Menjanjikan

Tanah yang digarap oleh sepasang suami istri ini ada beberapa petak, dengan luas yang lumayan. Ditanami dengan kangkung, bayam, kemangi, dan singkong Australia. Hampir semua petani di hutan kota menanam tanaman sayuran yang sama. Mereka tetap hidup rukun tidak takut tersaingi satu sama lainnya. Rezeki memang tidak pernah tertukar, karena Allah yang telah menjamin rezeki tiap manusia. Menjadi petani saat ini mungkin bukan harapan dan pilihan setiap orang. Alasannya tentu berbeda-beda, mulai dari tidak keren, susah, tidak menghasilkan, dan sebagainya.

Generasi Milenial Jadi Petani

Tapi untuk para petani di hutan kota ini tidaklah demikian. Bahkan mereka menjadikan bidang pertanian sebagai mata pencaharian. Jadi menurut saya, petani profesi yang menjanjikan. Generasi milenial jadi petani adakah? Ada. Buktinya Pak Duriah dan Ibu Mitun saat ini dibantu oleh generasi milenial. Tidak lain adalah anak laki-laki mereka sendiri. Bertani, menjadi pilihannya mengumpulkan rezeki. Padahal anaknya pak Duriah itu sudah pernah bekerja, malah memilih untuk bertani. Dengan alasan penghasilan yang lebih, dibandingkan dengan bekerja menjadi buruh.

Petani muda dari generasi milenial

Bagaimana dengan generasi milenial sekarang, masih adakah yang mau menjadi petani?

57 thoughts on “Kebun Sayur di Dalam Hutan Kota

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.