Ikut Pembuatan SIM Kolektif

Desain SIM Pintar terbaru sejak 2019

Alhamdulillah, akhirnya bisa punya SIM lagi, setelah dua tahun lamanya. Tidak pernah mengira sebelumnya, kalau bisa ikut pembuatan SIM kolektif. Sempat lontang lantung tidak punya SIM itu tidak enak. Ini akibat lupa memperpanjang SIM dan baru sadar setelah lewat beberapa bulan. Jadi malu sendiri, karena pernah menertawakan tante sendiri. Kebetulan saat itu tante yang sedang berkunjung ke rumah bercerita. Kalau belum lama habis mengurus SIMnya yang telat diperpanjang. Nah, saat itu saya menertawakannya. Bahkan mempertanyakan, kok bisa sampai kelewat gitu. 

Eh, saya pun mengalami nasib yang sama dengan tante, lupa untuk memperpanjang SIM. Malah sampai kelewat jauh sekali. Dari masa berlakunya habis, kalau tidak salah sampai enam bulan lamanya. Nasib, kalau SIM sudah kelewat masa berlakunya, walau hanya satu hari. Harus membuat baru lagi dan dilakukan di Satpas Daan Mogot sana. Kebayang dong jauhnya, panasnya, antrenya, tesnya, dan uangnya. Yang ada bawaannya malas untuk membuat SIM. 

Pernah juga, tanya-tanya dan cari informasi. Membuat SIM melalui biro jasa, yang katanya tinggal foto saja. Tapi sanksi, mengingat pengalaman dahulu kala. Saat pertama kali membuat SIM. Begitu pula saat mendapatkan cerita dari suami. Katanya kalau menggunakan biro jasa pembuatan SIM, tinggal foto dan pasti lulus. Nyatanya tetap harus ikut ujian tertulis, tes kesehatan (mata), dan ujian praktek. Sampai menghabiskan waktu lama, dari pagi hingga sore. Kebayang capeknya. Padahal sudah mengharap, datang langsung foto lalu pulang. 

Makanya sampai dua tahun lebih malas mau membuat SIM. Masih menunggu momen dan kesempatan. Lagi pula, jarang-jarang ada kesempatan nyetir sendiri. Selama dua tahun itu pula, tanpa berbekal SIM kalau harus nyetir. Jangan ditanya setiap kali nyetir, pasti rasanya ya deg-degan dan takutlah. Namanya juga melakukan pelanggaran. Tapi setiap diminta untuk nyetir, saya meminta jaminan dulu sama yang nyuruh. Kalau diberhentikan sama polisi, nanti diurusi ya. Alhamdulillahnya, sudah sampai Lampung dan Palembang, tanpa ada SIM. Jangan ditiru ya 😅. Maafkan ya Pak Polisi. Insyaallah tidak diulang lagi, kan sekarang sudah punya SIM. 

Ikut Pembuatan SIM Kolektif

Tidak disangka, saya bisa ikut pembuatan SIM kolektif. Yang dikoordinir oleh pihak kelurahan. Informasinya kebetulan dari ibu sendiri, yang didapat dari tetangga. Kebetulan tetangga ini, orangnya aktif di kelurahan, macam ibu-ibu PKK gitu deh. Apalagi pernah menjabat jadi ibu Ketua RW. Pasti masih ada hubungan dengan pihak kelurahan. Ibu mendapatkan informasinya, saat belanja di warung milik anaknya mantan RW ini. Jadilah saya ikut mendaftarkan diri. 

Uang yang harus dikeluarkan lumayan besar untuk ikut pembuatan SIM kolektif. Bandingkan saja, biaya resminya hanya 120 ribu sementara kalau ikut SIM kolektif 760 ribu. Selisihnya luar biasa bukan? Walau selisih uang yang begitu besar, banyak peminat yang ikut pembuatan SIM kolektif, termasuk saya. Daripada harus mengurus sendiri dan tidak ada jaminan lulus ujian lalu mendapatkan SIM. Bahkan dari cerita banyak orang, ada yang sampai 3 kali atau lebih mengurus sendiri pembuatan SIM. Belum juga berhasil mendapatkan SIM. Tidak tahu gagalnya di mana. Pada akhirnya, pilihan terbaik adalah dengan ikut pembuatan SIM kolektif.

Selama ini saya memang belum pernah tahu atau dengar. Kalau di kelurahan tempat tinggal, ada pembuatan SIM kolektif. Baru kali ini dengar dan ikut. Proses pembuatan SIM yang dikoordinasi oleh Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK) sangat cepat. Dari mulai mendaftar pada tanggal 20 Agustus sampai waktu pelaksanaan, hanya tiga hari saja. Memang sih saat saya mendaftar sudah hari terakhir waktu pendaftaran. Syarat kalau ikut pembuatan SIM kolektif sangat mudah. Cukup dengan memberikan fotokopi KTP sebanyak 4 lembar kepada panita. Selanjutnya tinggal mengikuti arahan dari panitia, mulai dari keberangkatan hingga berada di Satpas. Sempat kaget juga, saat tanya kapan waktu pelaksanaan ke Daan Mogot. Dijawab Minggu ini. Yang dimaksud minggu ini ternyata hari Ahad, bukan pekan. Baiklah, lebih cepat lebih asyik. Peserta yang ikut pembuatan SIM kolektif ada kurang lebih 160 orang. Terbagi menjadi dua kloter, pagi dan siang. 

Pagi hari, ada dua bus disediakan untuk mengangkut peserta Ke Daan Mogot. Dua bus yang disediakan untuk keberangkatan pagi, sudah ada di depan kelurahan sejak pukul 6 pagi. Saya sempat melihatnya saat gowes pagi. Sisa peserta diberangkatkan siang hari dengan satu bus. Karena mendaftar di hari terakhir, jadinya saya mendapat giliran siang hari, yang akan diberangkatkan jam 11 siang dari Kelurahan. Sepulang dari gowes, badan sempat sedikit menghangat. Khawatir juga kalau nanti diperiksa suhu badan dan disuruh pulang ke rumah. Menghindari hal tersebut, saya pun minta diantar suami ke Daan Mogot. Kami pun berangkat dari rumah sekitar pukul 11 lewat sedikit. Perjalanan cukup lancar, sampai juga ke Satpas Daan Mogot. Walau sempat kesasar ke Samsat Daan Mogot. Untung tidak jauh nyasarnya, hanya kurang ke depan lagi sejauh 2 kilometer.  

Satpas Sim Polda Metro Jaya di Daan Mogot

Sesampainya di Satpas Daan Mogot, akan disambut dengan tulisan selamat datang di Satpas (SIM) Polda Metro Jaya. Saat kami masih mencari tempat parkir, terlihat bus yang membawa rombongan mulai memasuki Satpas Daan Mogot. Saya pun berbaur dengan rombongan untuk mendapatkan keterangan. Bersama-sama kami rombongan peserta yang akan membuat SIM kolektif, masuk ke dalam aula untuk menunggu. Prosesnya sangat cepat, tidak sampai satu jam sepertinya. Saat menunggu, nama saya pun dipanggil petugas. Diberikan formulir untuk diisi dan langsung cek melihat. Setelah diisi formulir, masih menunggu yang lain untuk diberikan pengarahan terlebih dulu. Tidak lama pengarahan yang diberikan oleh petugas, hanya kurang lebih lima menit.

Isi pengarahan untuk mengingatkan peserta, saat di foto nanti akan ada dua layar monitor. Satu menghadap petugas satunya lagi menghadap peserta. Akan ditampilkan data diri peserta pembuat SIM, yang harus diteliti. Supaya tidak ada kesalahan saat dicetak, bisa minta diperbaiki kalau ada yang salah. Karena kalau ada kesalahan, maka tidak akan bisa diperbaiki. Kecuali harus membayar kembali. Selesai pengarahan, seluruh peserta digiring ke ruangan besar untuk foto. Ada sembilan bilik terbuka untuk foto, bilik A sampai bilik I. Tapi hari itu tidak semua bilik diisi oleh petugas. Hanya ada tiga bilik saja yang beroperasi.

Proses mengambil foto tidaklah lama. Masing-masing peserta yang telah mengumpulkan robekan kertas formulir yang diisi sebelumnya. Diharuskan menunggu gilirannya dipanggil. Hanya butuh waktu kurang dari dua menit saja setiap peserta berada di bilik. Benar apa yang diinfokan oleh petugas saat pengarahan. Ada dua monitor di setiap bilik, satu menghadap peserta. Saat berada di dalam bilik tiap peserta memeriksa identitas data diri. Supaya tidak ada kesalahan. Saat mata tertuju pada kolom pendidikan, ada yang aneh di sana. Kolom pendidikan terisi berbeda, saat saya tanya kepada petugas. Malah dijawab, tidak akan tertulis di SIM. Tanpa berusaha untuk menggantinya. Ya sudahlah daripada harus berlama-lama, diamkan saja.

Setelah memeriksa data diri, saya pun diminta untuk merekam sidik jari. Hanya jari tangan kanan saja yang direkam. Selanjutnya difoto, pastikan penampilan anda rapi dan baik ya. Supaya hasil foto yang dicetak di SIM jadi bagus. Sesuai pesan petugas, jangan sampai nyesel fotonya jelek terpampang selama lima tahun di SIM 😅. Oh iya, ada yang tertinggal, petugas juga berpesan agar tanda bukti pembayaran ikut pembuatan SIM Kolekti jangan sampai hilang. Berjaga-jaga bila SIM dalam waktu sehari, tiba-tiba hilang. Maka bisa minta untuk dicetak ulang, tanpa kena biaya lagi.

Biasanya SIM langsung jadi, tapi berhubung pembuatan secara kolektif. Jadinya dikoordinasikan oleh pihak LMK dan diambil di kelurahan keesokan harinya (Senin). Tidak apalah, toh SIMnya belum mau dipakai dalam waktu dekat. Dilihat dari grup WA, mulai hari Senin sudah banyak peserta yang mengambil SIMnya di kelurahan. Saya kebetulan baru hari Selasanya bisa mengambil ke ruangan LMK di kelurahan. Baru tahu juga kalau ternyata LMK memiliki ruangan tersendiri di kelurahan. SIM baru sudah ada di tangan, sudah tidak deg-degan lagi nantinya kalau harus nyetir 😁.

Semoga tidak akan lupa lagi saat sudah waktunya perpanjangan SIM. Karena lebih mudah mengurus SIM perpanjangan dibandingkan dengan membuat baru. Perpanjangan bisa melalui daring (online), bisa dibaca di  perpanjang SIM Online yang mudah dan cepat. Sementara membuat SIM baru harus ke Satpas Daan Mogot. Belum lagi untuk biaya yang dikeluarkan, pastinya lebih besar lagi.

Beda SIM Baru dan Lama

Tampilan SIM yang sekarang berbeda loh dari sebelumnya. Dari mulai desainnya, warna, hingga data yang ditampilkan. Kalau saya pribadi lebih suka tampilan yang lama sih. Yuk, temui beberapa perbedaan yang ada di SIM baru:

Desain dan warna

Kalau yang lama latar SIM berwarna putih dengan bertuliskan SIM sebagai latar. Sekarang latar berwarna abu-abu, di bagian atas ada warna merah dan putih ber-glitter. Sepertinya sebagai lambang bendera merah putih. Bertuliskan Indonesia, di bawahnya ada keterangan surat izin mengemudi. Lengkap dengan logo kepolisian di samping kiri. Tidak ketinggalan tulisan huruf A besar berwarna hitam, menandakan SIM A. Ada pula tambahan gambar peta Indonesia sebagai latar.

Foto diri dan masa berlaku SIM

Yang terbaru, foto diri ditampilkan dua kali. Posisi foto pertama yang berwarna, masih ditempat yang lama yaitu sebelah kiri. Sementara tambahannya ada disebelah kanan bawah dengan ukuran yang lebih kecil dan berwarna hitam saja. Masa berlaku berada di bawah foto kecil berwarna hitam. Sebagai tambahan, masa berlaku SIM keluaran terbaru telah diubah. Kalau dulu mengikuti tanggal lahir, sekarang mengikuti kapan SIM tersebut dicetak dan dikeluarkan. Jangka waktu tetap sama, yaitu selama lima tahun. SIM saya dan seluruh peserta yang ikut pembuatan SIM kolektif. Masa berlakunya sama dan akan habis pada tanggal yang sama pula, yaitu tanggal 23 Agustus 2025.

Tanda tangan dan cap sidik jari

Dahulu tanda tangan pemilik SIM berada di sebelah kanan bawah, setelah cap sidik jari. Sekarang tanda tangan berada di bawah foto diri yang berwarna. Sementara untuk cap sidik jari telah ditiadakan.

Isian data diri

Sudah tidak ada judul isian data, seperti nama, alamat, tempat tanggal lahir, tinggi, pekerjaan, no SIM, dan masa berlaku. Semua judul hilang digantikan dengan angka 1 sampai dengan 6. Dilanjutkan dengan isian data diri. Tulisan jalan (Jl.) yang biasa dituliskan saat membuat alamat dihilangkan. Langsung nama jalannya saja. Tinggi badan dihilangkan diganti dengan golongan darah dan jenis kelamin di sampingnya. Terakhir diisikan wilayah kepolisian yang mengeluarkan, karena SIM saya buat di Jakarta, maka tertulis Metrojaya. Semuanya tertulis dengan huruf besar semua, seperti SIM lama.

Penambahan kolom golongan darah dan jenis kelamin, menurut saya sangat bagus. Membantu apabila pemilik SIM membutuhkan pertolongan (darah) saat mengalami kecelakaan. Seharusnya ada satu baris lagi untuk kolom agama. Sangat penting untuk mengurus jenazah, bila pemilik SIM mengalami kecelakaan dan meninggal. Supaya jenazahnya diurus sesuai dengan agama yang dianutnya. Utamanya bagi umat muslim, yang ada hukum pengurusan jenazahnya. Di mana harus dimandikan, diwudhukan, dikafani, dan dikuburkan sesuai syariat agama Islam. Semoga ke depannya bisa dicantumkan kolom agama di SIM.

Barcode dan tanda tangan pejabat yang berwenang

Keberadaan keduanya sudah ditiadakan dari desain SIM yang baru.

Sisi belakang SIM dan hologram

Berubah dari berwarna biru muda menjadi abu-abu tua, desain hologramnya pun berubah. Saya pribadi lebih suka desain hologram yang lama, karena bila digerakkan akan terlihat warna pelangi. Sementara yang baru hanya akan terlihat warna hijau. Tulisan ketentuan pidana diganti dengan perhatian.

Sisi belakang SIM dan hologram

Secara keseluruhan saya lebih suka desain dan warna SIM yang lama dibandingkan yang baru ini. Bagaimana pendapat anda lebih suka yang mana? Tapi pertanyaan yang terpenting adalah, apakah anda sudah memiliki SIM sebagai syarat kepatuhan sebagai seorang pengemudi? Saat mengambil SIM di kelurahan kemarin, panitia dari LMK sempat memberi bocoran kalau SIMnya bisa digunakan sebagai uang elektronik. Karena sudah ditanam chip di dalam kartunya, jadi dapat digunakan untuk alat pembayaran elektronik, salah satunya membayar tol.

Sepulang dari kelurahan langsung cari informasi di dunia maya, untuk menghilangkan rasa penasaran. Ternyata benar SIM keluaran baru ini bernama SIM pintar dan diluncurkan secara resmi pada tanggal 22 September 2019 yang lalu. Boleh juga nih kapan-kapan coba untuk isi dan digunakan membayar tol. Tapi kok rasanya khawatir hilang ya SIMnya. Nanti malah repot lagi kalau sampai hilang. Tahu sendirikan, kalau soal mengurus administrasi luar biasa ribetnya. Tapi pilihan tetap di tangan anda masing-masing. Apakah ingin menggunakan SIM sebagai alat pembayaran atau tidak. Yang penting perlu hati-hati, jangan sampai ketelingsut dan akhirnya malah repot sendiri.

21 Comments

  1. wah mahal juga ya, beda biaya jauh banget..Tapi gapapa daripada urus baru ribetnya ituuu
    Senengnya sekarang sudah ada SIM, jadi tenang di jalan
    Kalau aku karena pernah 2 tahun tinggal di LN jadi ga bisa perpanjangan SIM saat habis berlaku. Akhirnya balik Jakarta urus SIM baru sama suami. Sampai 3 kali gagal terus tesnya. Padahal punya SIM dari usia 17 tahun dan saat ngurus itu aku sudah 35 tahun which is sudah 3 kali perpanjang SIM..akhirnya “dibantu” deh baru lulus tesnya. Lima tahun berikutnya aku perpanjangan di Gerai Samsat Gancit Mal sekalian ngadem kwkwk

  2. Hi kak,
    makasih informasinya. Kebetulan sim saya kelewat juga tahun lalu karena jadwal pulang ke Indonesia adalah bulan depannya, jadi saya ikhlaskan saja akhirnya.
    Sim kolektif ini online gak sih mbak? atau harus sesuai domisili di ktp?

    1. Kurang tahu juga ya. Karena yang urus semua panitia dari LMK, kami peserta tinggal datang untuk foto saja😊. Peserta dari daerah lain bisa ikut pembuatan SIM kolektif

  3. Wah baru tahu kalau ada pembuatan sim kolektif gini. Tapi lumayan juga ya Mbak harganya 700-an ribu. Tapi mau ikut pembuatan sim seperti biasa kira-kira aman dari keramaian nggak ya Mbak? Sim-ku juga sudah lama mati nih, belum urus lagi, hihii, tapi mau buat mikir keramaiannya itu ditambah harus tes segala.

    1. Lumayan mbak uangnya mahal banget😥. Tapi kalau urus sendiri kok ya malas. Kata orang susah lulusnya, sampai berkali-kali. Kalau kemarin sih sepi, karena hari libur dan sudah siang. Jadi tinggal rombongan kami saja. Jadi tidak terlalu banyak

  4. wah penasaran sama tampilan dpn sim barunya..klo sy pribadi tampilan sim ga masalah ya klo berubah cuma sy lbh suka tgl exp.sim tetap sesuai tgl. lahir biar gampang nginget nya hehe

  5. Meski mahal yang kolektif, tapi nggak papa datipada tibet urus senditi ya kak ataupun yang cuma setor foto saja itu juga pasti lebih mahal ya kan? Hehehe
    Selamaaat sudah punya sim baru. Yeayyyy

  6. miris bgt ya, biaya yang dikeluarkan jauh sm yang dianjurkan. saya pun pernah mengalaminya pertama kali bikin SIM, idealis ga mau dibantu gitu. sampe test teori berhasil. naasnya pas test praktek gagal terus smp 2kali, karena sim c suruh bikin puteran angka 8 ga nyentuh kaki, itu susah bgt. akhirnya ya banyak calo jg yang datang buat “menyelamatkan”. hufh dagelan dah negeri kita

  7. Mbak Titi, saya auto-ngeluarin SIM A ku dari dompet lohh, nyamain kartu belakang SIM dengan yang mbak posting di artikel ini. Wah ternyata SIM Pintar ya, bisa dipake buat bayar tol jd kayak e-money gitu. Ah syukurlah sudah punya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.