Idris Manusia Batu

Kumpul dengan temanJalan-jalan secara sepontan tidak kalah mengasyikannya dengan yang sudah direncanakan. Bahkan bisa lebih asyik dan banyak menemukan kejutan-kejutan menyenangkan yang tidak terduga sebelumnya. Saya mengalaminya sendiri, pergi tanpa perencanaan yang ribet. Hanya iseng-iseng mengajak teman. Langsung disanggupi dengan kalimat “besok ya” akhirnya pergi juga. Kejutan yang didapat dari hasil jalan-jalan siang adalah bisa ngobrol dengan seseorang. Kegitan ngobrol itu belum tentu berhasil kalau perginya direncanakan jauh hari sebelumnya.

Ceritanya begini, pas menuju mobil yang saya parkirkan di kantor Pajak. Saya melihat di salah satu pintu, ada tiga orang sedang duduk sambil ngobrol. Entah apa yang diobrolkan oleh mereka. Yang jelas saya melihat ada yang menarik di antara mereka. Yaitu tulisan di lembaran kertas  yang telah dilaminating, sepeda ontel, dan pakaian yang dipakai oleh seorang yang sedang duduk itu.

Manusia batu pejuang 45 boleh foto bersamaBerhubung saya senang memoto, langsung saja berhenti sejenak dan langsung foto ketiganya. Selanjutnya saya membaca tulisan yang ada di antara mereka bertiga. Belum selesai membaca, orang yang memakai baju ‘aneh’ berdiri dan langsung menawarkan diri, dengan kalimat “Boleh kok foto bareng.” Awalnya saya kaget juga ditawari seperti itu. Tawaran itu langsung saya setujui juga. Beberapa detik kemudian orang berbaju ‘aneh’ itu berkata lagi “tapi saya belum berhias.” Saya jawab “Ah, tidak apa-apa nanti kelamaan.”

Bisa dibayangkan apa yang kami lakukan selanjutnya. Betul sekali, kami berfoto-foto ria. Tapi seperti biasa saya lebih banyak memoto dibanding difoto. Tentu saja yang menjadi obyek fotonya teman saya dan orang berpakaian ‘aneh’ beserta ontelnya. Sudah penasarankah siapa orang yang berpakaian ‘aneh’ yang melayani kami berfoto bersama?

Idris Manusia Batu

Dialah Idris Manusia Batu. Mas Idris begitu saya memanggilnya adalah orang yang berpakaian ‘aneh’. Tentu saja dengan sengaja mas Idris memilih kostum berwarna campuran (gradasi) hitam, coklat, dan abu-abu. Warna dipilih agar menyerupai perunggu atau besi. Agar tampak alami layaknya warna batu atau patung. Pakaian ‘aneh’ yang dipilihnya itu dipakai setiap hari. Sebagai kostum untuk mencari uang dengan cara menjadi manusia batu. Selain kostum mas Idris juga melengkapinya dengan properti lainnya. Yaitu sepeda ontel, bivaks (seperti peci), dan senjata. Properti yang disebut terakhir tentu saja bukan senjata sesungguhnya. Hanya kayu bekas peti kemas yang dibentuk menyerupai senjata.

Idris manusia batu

Menurut pengakuan sehari-harinya Idris Manusia Batu berdiri di depan Museum Keramik. Pada hari kerja, jam operasinya dari pukul 14.00 hingga 18.00 sementara akhir pekan sejak pukul 09.00 hingga 18.00. Mas Idris Manusia Batu sangat ramah dan enak diajak ngobrol. Mungkin lebih tepatnya saya tanya-tanya. Mulai dari di mana tinggal hingga akhirnya berapa penghasilannya. Semua dilayani dan dijawab dengan baik olehnya. Padahal mas Idris ini sudah terkenal, karena sudah menjadi artis. Wajahnya sudah sering masuk televisi sebagai bintang iklan dan pernah juga di wawancarai. Bahkan pernah memenangkan penghargaan sebagai manusia batu. Yang terakhir pada perlombaan yang diadakan di Bogor. Memenangkan dan membawa pulang sebuah sepeda motor. Dari lomba berdiri dengan posisi menghormat ke bendera. Selama 8 jam, yang pada awalnya lomba berdiri sambil hormat bendera selama 17 jam. Dipersingkat karena sudah banyak yang gugur belum sampai waktu yang ditentukan. Hanya Idris Manusia Batu saja yang dapat bertahan.

Kisah hidup Idris Manusia Batu bisa menjadi pelajaran dan inspirasi bagi siapa saja. Awalnya mas Idris adalah seorang pedagang di kawasan toko tua. Tepatnya pedagang keliling di sekitar Museum Fatahillah. Adanya tuntutan dari kebutuhan hidup yang semakin tinggi. Membuat mas Idris berpikir, bagaimana caranya agar bisa mendapatkan penghasilan yang lebih. Agar dapat mencukupi segala kebutuhan hidupnya dengan seorang istri dan seorang anak laki-lakinya.

Akhirnya ketemulah ide kreatif yang diwujudkan hingga menjadi profesinya lima tahun belakangan. Ide kreatif itu muncul dari melihat banyaknya orang yang lalu lalang sambil berfoto-foto. Baik selfie maupun welfie di sekitar Museum Fatahillah. Ide kreatif itu adalah menjadi manusia batu. Pada awalnya saat beralih profesi, sempat bimbang. Mas Idris memikirkannya selama 3 hari sampai akhirnya yakin dengan pilihannya. Akhirnya memulai profesi barunya menjadi manusia batu.

Berhias untuk menjadi manusia batu

Kemunculannya pertama kali di depan publik dengan menggunakan properti bekas. Dengan menggunakan pakaian bekas entah dari mana kemudian di cat hitam. Tidak hanya itu, mas Idris rela wajahnya di cat tembok dengan warna hitam. Kebayang dong rasanya wajah di cat, pastinya tidak nyaman. Pengecatan wajah itu dilakoninya selama 3 bulan. Sampai ada sekelompok mahasiswa dari Yogyakarta yang dengan baik hatinya menyarankan menggunakan kosmetik. Mahasiswa itu bahkan menuliskan nama toko dan alamatnya serta kosmetik apa saja yang harus dibeli. Sejak saat itu hingga sekarang mas Idris putus hubungan dengan cat tembok dan menggantinya dengan kosmetik.

Untuk properti seperti senjata yang kini menggunakan kayu bekas peti kemas. Dulu hanya menggunakan senjata mainan anak terbuat dari plastik. Jadi tidak tampak alami dan tidak seperti senjata. Mas Idris tetap memulai aksinya tanpa menunggu semuanya mejadi sempurna. Ini salah satu karakteristik dari orang yang sukses. Kesempurnaan akan dicapai seiring dengan perbaikan-perbaikan yang dilakukan sesuai berjalannya waktu.

Perubahan Penghasilan

Idris Manusia Batu begitu sumringah saat saya dengan hati-hati bertanya soal penghasilan. Dengan senang hati bercerita, sebagai penyemangat bagi dirinya sendiri juga orang lain. Begitu alasannya saat ingin berbagi cerita tentang kesuksesannya saat ini. Mas Idris mengawali dengan penghasilan saat masih sebagai pedagang keliling. Penghasilannya selama sebulan berkeliling untuk jualan saat itu, kini bisa didapatkannya hanya dalam hitungan 3 hari saja. Bayangkan suatu lompatan penghasilan yang luar biasa sekali. Bahkan saya sampai takjub mendengarkan ceritanya.

Rata-rata di hari kerja Idris Manusia Batu penghasilannya sebesar minimal 300 ribu sudah bersih. Di akhir pekan tentu saja penghasilannya melesat jauh. Minimal 1 juta rupiah bisa didapatkan di hari Sabtu dan Ahad. Itu penghasilan rutinnya sementara yang tidak rutin tentu akan berkali lipat yang dikumpulkannya. Tawaran iklan, menjadi pengisi suatu acara di perusahaan, memenangkan lomba, dan lainnya. Tak putus-putus Idris Manusia Batu mengucapkan Alhamdulillah saat bercerita kepada saya. Sebagai rasa syukurnya kepada Sang Maha Baik dan Pemberi Rezeki. Berkah, begitulah yang dirasakannya. Terlebih mas Idris kini mampu membiayai dua adiknya untuk kuliah. Kebanggan dari anak semata wayangnya atas profesi ayahnya juga menambah kebahagiaan dirinya. Juga penyemangat kerja bagi mas Idris dalam menjalani profesinya. Berdiri berjam-jam bercucuran keringat di tengah teriknya matahari.

Terima kasih atas kesempatan berbagi ceritanya ya mas.

17 thoughts on “Idris Manusia Batu

  1. Sebelum adanya mereka di Kota Tua, dulu ramai dengan anak-anak seni pantomim dari IKJ mak. Mungkin beliau mantan mahasiswa seni pantomim yang terkormersilkankah atau ia (manusia batu) salah satu anggota Fantastic Four yang terisolir hingga ke Indonesia ?

  2. Kok bisa ya, apa nggak gatal, nggak pegel atau gimana ditu deh heheee…. Karena saya nggak bisa diam, jd susah ngebayangin orang yg gak bergerak kyk batu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>