Gowes Pagi ke Velodrome

Pagi tadi seusai sholat Subuh, kami sekeluarga pun bersiap-siap. Gowes lagi dengan anggota tim komplit. Ayah, bunda, kakak pertama, kakak kedua, dan adek. Masing-masing menggunakan sepedanya sendiri. Kecuali adek yang masih harus dibonceng. Sebenarnya anak lima tahun itu sudah bisa gowes sepeda sendiri. Hanya saja masih geyal-geyol dan belum mengerti bahayanya gowes di jalan. Demi keamanan, tetap dibonceng. Walau dia merengek minta gowes sendiri. 

Seperti beberapa pekan yang sudah kami lalui, gowes bersama ini tanpa rencana. Padahal sudah dari semalam janjian untuk gowes. Tapi jarang sekali menetapkan tujuan akan gowes ke mana. Kecuali saat ingin gowes ke Monas beberapa pekan yang lalu. Memang sudah direncanakan sejak malam. Bahkan sudah sempat diobrolkan sejak beberapa hari sebelumnya dengan anak-anak. Gowes pagi tadi pun sama, yang penting keluar rumah saja dulu. 

Kami gowes pun harus mematuhi protokol kesehatan. Menggunakan masker adalah kewajiban saat melangkahkan kaki keluar rumah. Penyanitasi tangan tidak ketinggalan, selalu menggantung di sepeda. Tidak lupa, botol berisi air untuk minum pun harus selalu dibawa. Setelah lengkap, kami pun mengawali gowes dengan membaca doa. Ini penting sekali, karena memohon perlindungan saat di perjalanan. Tahu sendiri kan, gimana kondisi jalan di Jakarta. Belum lagi perilaku dari para pengendara kendaraan bermotor. Tidak punya aturannya sama sekali. 

Rute gowes dari rumah langsung menuju jalan Ahmad Yani. Kami jalan berurutan, saya yang memimpin. Diikuti kakak pertama, kakak kedua, dan terakhir adalah suami. Pertimbangan saya yang berada di depan, karena ada adek yang bonceng. Jadi harus ada orang yang berada di belakang. Untuk memberitahukan, kalau-kalau adek duduknya miring, kakinya terlalu mepet ke ban, atau mengantuk. Mendekati perempatan lampu merah Rawamangun, saya menghentikan laju sepeda. Bertanya ke suami dan anak-anak, ke mana tujuan gowes kali ini. Saya dan suami berjarak tiga sepeda, belum lagi menggunakan masker. Membuat pembicaraan harus sedikit berteriak. Ditambah bantuan isyarat tangan supaya jelas. 

Suami mengisyaratkan tangannya ke arah kanan. Itu berarti kami akan menuju ke arah jalan Pemuda. Kondisi lalu lintas belum terlalu ramai, tapi kendaraan sudah banyak juga yang melintas. Bahkan kalau masih pagi, banyak yang sembarangan. Mulai dari melanggar lampu lalu lintas, melaju dengan kecepatan tinggi. Membuat jeri untuk melintas dengan menggunakan sepeda. Apalagi dengan anak-anak yang masih berusia di bawah 12 tahun. Kami pun menunggu di depan SPBU setelah lampu lalu lintas. Saat lampu berwarna merah untuk kendaraan yang melintas di jalan Jend. Ahmad Yani. Barulah kami berani menyeberang, menuju lampu merah berikutnya. Yang berada di perempatan jalan Pemuda. 

Gowes Pagi ke Velodrome

Berhasil menyeberang ke jalan Pemuda perjalanan diteruskan, menuju arah Pulogadung. Mendekati Velodrome kami pun sempat berhenti, untuk berembug kembali. Tidak jauh dari replika peti mati lengkap dengan jenazah di atasnya. Diputuskanlah akan gowes pagi ke Velodrome. Dengan catatan, kalau tidak antrean saat memasukinya. Untuk menghindari berkumpul dengan banyak orang dalam satu waktu. Gowes pun dilanjutkan kembali menuju Velodrome. Tinggal belok kiri saja di perempatan. Belum terlalu antre untuk memasuki kawasan saat rombongan kami tiba. 

Pertama Kali Memasuki Kawasan Velodrome 

Ini merupakan kesempatan pertama kali memasuki kawasan Velodrome bagi saya. Setelah dibangun dalam rangka perhelatan Asian Games di Indonesia. Pada tahun 2018 yang lalu, supaya berstandar internasional. Sementara suami dan anak-anak sudah pernah sebelumnya. Kawasan Velodrome sudah tidak asing lagi bagi saya. Dahulu Velodrome merupakan gelanggang olahraga yang berada di Rawamangun. Di dalamnya tersedia kolam renang. Saat masih duduk di sekolah dasar. Pelajaran olahraga renang, diajarkannya di kolam renang Velodrome. Kini namanya berubah menjadi Jakarta International Velodrome. 

Protokol Kesehatan Diterapkan

Protokol kesehatan diterapkan saat memasuki gerbang kawasan Velodrome. Ada petugas yang memeriksa suhu semua orang yang akan melewati gerbang. Selanjutnya diperintahkan untuk mencuci tangan. Menggunakan sabun dan air bersih yang mengalir dari kran. Sudah disediakan wastafel di kanan dan kiri gerbang. Bagi yang membawa penyatisi tangan sendiri, diperbolehkan tidak cuci tangan dengan air. Termasuk kami yang malas antre cuci tangan dengan air kran. Tetap membersihkan tangan, menggunakan cairan penyanitasi tangan sendiri.

Velodrome dan Asian Games

Selesai membersihkan tangan, langsung diarahkan oleh petugas untuk ke jalur sepeda. Tapi kami minta izin untuk berfoto di depan arena stadion Velodrome. Tentu saja kesempatan masuk ke kawasan ini untuk pertama kalinya. Jangan sampai melewatkan sesi foto 😅. Dengan latar belakang arena Jakarta International Velodrome. Sebagai bentuk kebanggan tersendiri. Indonesia memiliki arena sepeda bertaraf internasional. Sudah dipakai dalam ajang bergengsi pula. Apalagi kalau bukan Asian Games 2018 ke-18, yang diselenggarakan di Jakarta dan Palembang. Velodrome dan Asian Games memang tidak bisa dipisahkan. Menjadi sejarah, di mana Velodrome dijadikan arena bersepeda bertaraf internasional. Ajang olahraga bergengsi ini, menjadi salah satu prestasi yang patut dibanggakan oleh kita bangsa Indonesia. 

Fasilitas untuk Pengunjung

Sayangnya, para pengunjung Velodrome tidak diizinkan untuk masuk dan mencoba trek sepedanya. Bisa hancur dalam waktu singkat kalau sampai diizinkan untuk umum 😅. Tahu sendirikan bagaimana perilaku dari bangsa ini. Jadi rombongan kami dan pengunjung lainnya hanya diperbolehkan untuk mengitari arena balap sepeda dari luar. Selain itu pengunjung dapat mempergunakan fasilitas untuk pengunjung lainnya yang disediakan. Ada lapangan basket, trek untuk lari, joging, atau jalan. Para goweser yang lelah bisa juga memarkirkan sepedanya di tempat parkir khusus sepeda. Untuk kenyamanan pengunjung, selain toilet juga disediakan mushollah. Lengkap dengan tempat berwudhunya bagi umat muslim. Buat anda yang ingin melihat dari dekat Velodrome. Langsung saja datang, jangan khawatir dikenai biaya. Karena semuanya gratis untuk umum. 

Tiga kali putaran saja kami mencoba mengitari Velodrome. Ternyata, semakin siang, pengunjung yang ingin masuk semakin banyak. Berarti akan semakin banyak orang yang akan berkumpul. Demi keamanan, kami memutuskan untuk segera keluar. Menghindari kumpulan banyak orang yang ingin berolahraga. Setelah berada di luar gerbang, terlihat antrean pengunjung yang ingin memasuki kawasan Jakarta International Velodrome. Gowes dilanjutkan menuju jalan Bangunan, sempat berhenti sebentar untuk membeli kelapa muda. Melewati jalan H. Ten dan menyeberang menuju jalan Pramuka. Sebenarnya saya masih ingin melanjutkan perjalanan sampai ke Matraman. Sebelum pulang ke rumah, sayangnya gadis kecil sudah kelelahan. 

Perjalanan terpaksa dipangkas, rombongan belok masuk ke jalan Kayumanis. Menyusuri sepanjang rel kereta, sebelum belok lagi menuju rumah. Gowes Ahad pagi ternyata hanya berhasil menempuh jarak 13,84 kilometer saja. Dari target jarak 20 kilometer yang ingin dicapai. Biasanya kalau belum mencapai target 20 kilometer saya akan melanjutkan gowes sendiri. Kali ini tidak dilakukan, mengingat masih memboncengkan putri kecil yang terkantuk-kantuk di belakang sepeda. Mulai di jalan Pramuka dia sudah mulai mengantuk, karena tertiup angin pagi yang sejuk. Sesampainya di rumah langsung segar kembali. Minta izin supaya diperbolehkan main sepeda sendiri 😅.

One Comment

  1. Rawamangun yah.. Keren loh.. dulu waktu kerja di Sunter sering lewat hahaha.. lewat doang nggak pernah mampir.

    Kalau saya sejak pandemi, mengurangi keluar rumah. Sebisa mungkin keluar kalau perlu saja. Bahkan meski sudah PSBB transisi, kegiatan fotografi saya tetap berhenti.

    Parno.. soalnya pernah pergi cuma mau beli lampu ke supermarket saja, tahunya pegawainya ada yang kena. Akhirnya terpaksa isolasi mandiri minggu.

    Jadi, biar sekarang banyak yang suka gowes, saya tetap pilih di rumah dulu..

    Daripada nanti akhirnya malah tegang tidka puguh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.