FoMO Sama dengan Pamer Gaya Baru

⁠⁠⁠FoMO sama dengan pamer gaya baruBeberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke blognya mas Arul. Dari sana mendapatkan oleh-oleh berupa istilah baru, yaitu FoMO. Duh sepertinya saya ketinggalan banget ya untuk istilah ini. Karena baru-baru saja tahu istilah ini, tapi tidak apalah daripada tidak tahu sama sekali seumur hidup :).
Yuk lebih dekat dengan si FoMO ini dan lihat baik buruknya. FoMO sendiri adalah sebuah singkatan dari sebuah istilah dalam bahasa inggris. Yaitu Fear of Missing Out, bila diterjemahkan secara bebas–menurut saya–dalam bahasa Indonesia. FoMO kurang lebih adalah ketakutan akan menjadi tidak kekinian (kudet). Kalau melihat dari terjemahan itu, maka bisa dikatakan FoMO akan menjangkiti orang-orang yang sering kali menggunakan media sosial.
Seperti diketahui media sosial itu banyak macamnya. Yang jelas media sosial yang banyak itu ada dan dihubungkan melalui jaringan internet. Hampir semua yang pernah melakukan interaksi dengan jaringan internet pasti mengetahui setidaknya satu buah media sosial. Terlebih sekarang ini media sosial sudah menggantikan bahkan menggeser fungsi dari Short Masseging Service (SMS). Bahkan aktivitas menelepon pun sudah mulai tergeser dan berubah menjadi mengirimkan tulisan, gambar, dan video melalui media sosial tadi.

FoMO Sama dengan Pamer Gaya Baru

Yang menarik untuk diperhatikan menurut saya adalah, FoMO sama dengan pamer gaya baru. Karena aktivitas orang yang terjangkiti FoMO adalah seperti mereka yang dalan dunia nyata melakukan pamer. Tapi kini dilakukan dengan menggunakan media sosial yang terhubung dengan jaringan internet. Yang memberikan dampak begitu dahsyat. Memberikan efek bukan hanya satuan atau puluhan orang saja. Melainkan bisa langsung ke ribuan bahkan jutaan orang sekaligus. Dalam sekali melakukan aksi pamer melalui media sosial. Tergantung seberapa berpengaruhnya seseorang di media sosial. Entah sadar atau tidak orang yang melakukan aksi pamer di dunia maya tersebut akan efek yang ditimbulkannya. Makanya saya menyebut FoMO sama dengan pamer gaya baru.
Mari saya berikan contohnya akan aksi pamer di salah satu media sosial. Saya punya pertanyaan terlebih dulu. Siapa saat ini pengguna android yang tidak memasang aplikasi whats app (WA) di telepon genggamnya? Rasa-rasanya tidak mungkin ada ya. Aplikasi yang satu ini penggunanya sangat banyak, tentu karena kemudahan yang diberikannya. Bahkan aplikasi ini sudah bisa menyaingi atau malah sudah menggeser aplikasi sejenis yang sempat naik daun di negeri ini. Betul sekali, aplikasi yang pernah naik daun tersebut adalah Blackberry Massenger (BBM).
Pada aplikasi WA memungkinkan penggunanya membuat sebuah grup. Yang terbaru hasil tanya mbah google, jumlah anggota dalam satu grup di WA bisa mencapai 256 orang. Aktivitas yang dilakukan di grup tentu bermacam-macam. Awalnya tujuan grup dibuat untuk memudahkan dan mempercepat komunikasi dengan memanfaatkan media sosial. Sekali mengirim informasi semua anggota grup langsung mendapatkan, sangat bermanfaat. Tapi sayangnya, ada saja anggota sebuah grup terjangkiti bahkan sudah mengidap virus FoMO yang akut. Orang yang dalam dirinya ada FoMO ingin segala aktivitas pribadi yang dilakukan olehnya, diketahui oleh semua orang. Baru jalan-jalan ke suatu tempat difotonya kemudian dikirim ke grup. Pergi makan atau beli suatu barang pun dilakukan hal yang sama. Mendapatkan hadiah atau rezeki juga diinfokan, belum lagi hal-hal yang berbau intim kepada pasangan pun semua anggota grup wajib tahu.
Pokoknya semua yang dilakukan olehnya menjadi harus dan penting untuk orang lain ketahui. Apa namanya aksi yang dilakukan oleh orang FoMO kalau bukan pamer gaya baru? Untuk apa segala aktvitas pribadi yang dilakukan ingin semua orang tahu, kalau bukan untuk pamer. Kalau tidak percaya lihat arti pamer menurut KBBI di bawah ini:
pamer/pa·mer/ /pamér/ v menunjukkan (mendemonstrasikan) sesuatu yang dimiliki kepada orang lain dengan maksud memperlihatkan kelebihan atau keunggulan untuk menyombongkan diri.
Nah, kuncinya adalah untuk menonjolkan diri dihadapan orang lain. Kalau dalam terjemahan KBBI disebut: “dengan memperlihatkan kelebihan atau keunggulan untuk menyombongkan diri”. Hati-hati bagi anda yang masih berkelit dengan mengatakan: “ah, saya kan tidak untuk bersombong diri, cuma ingin berbagi info dan kebahagiaan saja…” Kalau benar hanya ingin berbagi info dan kebahagiaan, tidak dengan cara seperti itu. Misalnya ingin berbagi info restoran murah dan enak makanannya. Bisa dengan memberi nama serta alamat restoran. Sementara untuk berbagi kebahagiaan bisa dirasakan langsung saat mengalami kejadiannya. Yaitu dengan mengajak dan mengalami bersama dengan orang lain suatu kegiatan. Bukan dengan membagikan foto dan gambar yang telah dialami di grup.
Halo, sadarlah. Tidak semua orang suka dibagi informasi yang tidak penting untuk dirinya. Tidak semua orang punya waktu untuk membaca informasi yang isinya tentang anda. Sadarlah, anda yang terjangkiti FoMO sudah menghabiskan kuota internet orang lain dengan paksa. Betul dengan paksa saya bilang, karena gambar dan foto yang dikirim otomatis menyedot kuota internet orang lain anggota grup. Padahal semua itu tidak penting bagi orang lain. Selain itu yang paling perlu diperhatikan adalah anggota grup memiliki latar belakang yang berbeda. Baik latar belakang pendidikan maupun ekonomi. Jangan sampai apa yang dipamerkan menjadi bibit dari kesenjangan dan kecemburuan sosial.
Mulai sekarang berhenti dan sembuhkan diri Anda dari virus FoMO. Gunakan media sosial dengan bijak, seperti untuk berbagi kebaikan dan manfaat. Bukan untuk berbagi aktivitas pribadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>