Film The Power of Love

Poster film the power of love

Sedari April sudah ada yang membagikan berita soal film 212. Bahkan ada ajakan meramaikan bioskop-bioskop untuk menonton film bertemakan islam yang satu ini, di grup medsos teman kuliah. Saya bahkan sudah menerima ajakan nonton tersebut. Mendekati hari penayangan perdana film 212, makin ramailah beritanya. Tepatnya tanggal 9 Mei 2018 film 212 akan diputar di bioskop-bioskop melalui jaringan XXI.

Film yang katanya menceritakan tentang semangat dan aksi damai umat Islam yang dilaksanakan pada tanggal 2 Desember 2017. Lebih dikenal dengan nama aksi 212 yang sangat fenomenal. Karena melibatkan jutaan umat Islam yang berkumpul di lapangan Monas, dalam satu komando dari para ulama yang lurus. Saya memang belum punya rencana untuk pergi nonton. Baru punya keinginan saja untuk nonton film itu. Tujuannya jelas, ingin ikut dalam bagian mempromosikan film yang bernuansa islami dan penuh perjuangan. Paling tidak dengan ikut menonton saya bisa membuat tulisan di blog 😁😅.

Film The Power of Love Tidak Laku

Kata siapa film The Power of Love tidak laku? Masa sih masa iya? Kalau pendapat saya ada di tulisan ini, baca deh lanjut ke bawah sampai selesai.

Alhamdulillah, pada tanggal 9 Mei saya diajak saudara untuk nonton film The Power of Love. Dadakan dan tanpa rencana macam-macam. Jadilah kami berangkat ke bioskop XXI yang ada di mall basura pada sore hari. Sayangnya sesampainya di bioskop semua tiket untuk semua jadwal pemutaran film sudah habis terjual. Lihat ke sekeliling, ternyata hari itu tidak hanya kami yang gagal nonton pada pemutaran perdana secara serentak film The Power of Love di bioskop-bioskop. Melainkan ada beberapa pengunjung yang juga harus balik kanan tidak jadi nonton. Alasannya sama, yaitu karena ke habisan tiket nonton film. Oh iya, sebagai informasi bagi anda nih. Baru kali ini saya masuk bioskop yang didominasi oleh pengunjung yang mengenakan busana muslim. Para prianya ada pula yang mengenakan kopiah di kepalanya. Bahkan banyak diantara busana muslim itu menggunakan warna putih. Benar-benar terbawa nuansa aksi 212 di Monas.

Pengunjung berpakaian muslim dan berkopiah

Pengunjung telah selesai menonton

Tidak jadi nonton tentu saja menimbulkan sedikit kekecewaan, tapi lebih banyak senangnya. Kenapa? Karena itu berarti tudingan dari oknum yang tidak bertanggung jawab yang mengatakan kalau film The Power of Love tidak laku dan akan sepi penonton salah besar! Bahkan sebaliknya, animo masyarakat untuk menonton film The Power of Love sangat besar. Bahkan bisa dibilang tidak terbendung. Berarti masyarakat menerima dan film The Power of Love layak dipasarkan. Mau tidak mau kami harus kembali lagi di lain hari. Sebelum pulang, bahkan anak-anak diajak nonton film 9D virtual reality. Yang letaknya berada satu lantai dan tidak jauh dari bioskop.

Keesokan harinya tanggal 10 Mei, ternyata saudara saya sudah membelikan tiket nonton film The Power of Love secara online. Alhamdulillah, dapat tiketnya untuk tiga dewasa dan dua anak-anak. Tempat nonton yang dipilih masih sama yaitu di bioskop XXI yang ada di mall bassura pada pukul 16.45 WIB. Saya baru tahu kalau beli tiket nonton secara online tetap harus mendapatkan tiket fisiknya. Maklum tidak pernah membeli tiket nonton secara online dan jarang nonton juga 😁. Jadi semua diurus oleh saudara, saya dan anak-anak hanya melihat dan menunggu. Acara nonton dadakan ini tentu saja membuat anak-anak sangat senang. Tanpa diberitahu sebelumnya, hanya diminta untuk bersiap-siap saja. Lalu mereka dijemput untuk pergi ke bioskop. Nonton di bioskop kali ini menjadi pengalaman kedua bagi anak-anak. Sebelumnya pernah nonton film anak di bioskop di daerah Kelapa Gading.

Film The Power of Love

Ada apa saja ya di film The Power of Love? Jelas banyak yang bisa dan penuh pelajaran bagi yang mau menerimanya. Film ini dilatarbelakangi dengan cerita aksi damai umat Islam yang terbesar tercatat dalam sejarah Indonesia. Yang menuntut adanya keadilan kepada pemerintah, untuk menjebloskan penista agama ke dalam penjara. Diselipkan pula cerita tentang hubungan antara seorang ayah (ustad Zainal Abdullah) dengan anak lelakinya (Rahmat Abdurrahman: Fauzi Ba’adilah). Diramaikan oleh kelucuan temannya Rahmat bernama Adin yang berprofesi sebagai fotografer.

Rahmat sedang berdebat dengan bapaknya di monas

Film The Power of Love bertabur bintang sekaligus seorang penulis yang cukup terkenal, yaitu Asma Nadia. Dengan musik oleh Dwiki Darmawan. Film yang mengambil setting lokasi di Jakarta dan Ciamis ini sangat kental dengan suasana jelang kegiatan aksi damai 212 dua tahun yang lalu. Walau banyak isu yang kurang baik dan usaha penggembosan dari sana sini supaya kegiatan tidak terlaksana. Alhamdulillah, kegiatan aksi damai umat Islam yang dikomandoi oleh para ulama yang baik ini tetap bisa berlangsung. Dengan tertib, aman, damai, dan bersih.

Kesimpulan saya, film The Power of Love sangat cocok untuk ditonton oleh semua umur siapa saja orangnya, tanpa memandang suku agama, ras, dan antar golongan (SARA).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>