Film Dancing in The Rain Tentang Hangatnya Persahabatan

Pas lagi berselancar dan baca berita di dunia maya, sempat lihat iklan film. Sekilas, hanya lihat pemainnya ada Christine Hakim dan judul filmnya. Dalam hati bilang sepertinya bagus film ini. Malamnya di hari yang sama yaitu Kamis tanggal 18 Oktober. Ada seorang pemilik sekolah Islam terpadu mengirim video di whatsapp. Di bawahnya ditulis pengen nonton๐Ÿ‘†. Seringnya sih kalau sudah bilang gitu ya 90% tandanya ajakan untuk nonton. Ada yang istimewa dengan film itu berarti.

Jumat siang, benar saja ajakan nonton dari pemilik SIT Permata Bunda dieksekusi. Sudah dari 7.30 pagi kami pergi berdua, tujuannya untuk menemani beliau urut terlebih dulu di tempat Sultan. Lanjut ke Harco, Mangga Dua untuk membeli laptop dan printer. Selesai sholat Dzuhur di musholla yang berada di area parkiran lantai basement. Perjalanan menuju mal Kelapa Gading dilakukan untuk nonton film yang baru beredar tanggal 18 Oktober. Apalagi kalau bukan untuk nonton Film Dancing in The Rain

Film Dancing in The Rain Tentang Hangatnya Persahabatan

Film Dancing in The Rain tentang hangatnya persahabatan, walau penuh dengan air mata namun kekal abadi. Hangatnya persahabatan dimulai saat Radin kecil (Deva Mahenra) “menemukan” Banyu Anggoro kecil (Dimas Anggara). Ketika itu Radin menghalau anak-anak yang sedang mengeroyok Banyu. Dengan kerikil yang dilemparkannya menggunakan ketapel. Jadilah ketapel itu sebagai simbol persahabatan Banyu dan Radin.

Poster film dancing in the rain

Keduanya bertemu dengan Kinara kecil (Bunga Zainal). Perantaraan ketapel pula yang menjadi penghantar persahabatan ketiganya. Kali ini Banyu sudah mahir menggunakan ketapel dan menghalau anak-anak yang mengganggu Kinara. Hangatnya persahabatan dan penuh dengan air mata, namun kekal abadi itu terus berlanjut hingga mereka bertiga duduk di bangku kuliah. Persahabatan ketiganya tidak semulus yang diharapkan. Justru orangtua Radin yang menjadi penghalang dari jalinan persahabatan antara Radin, Kinara, dan Banyu.

Ibunya Radin tidak ingin anaknya bergaul dengan Banyu yang dianggapnya sebagai anak cacat. Bahkan sampai datang dan melabrak ke rumah neneknya Banyu. Iya, Banyu memang tinggal dengan neneknya bukan dengan kedua orangtuanya. Hanya karena Banyu adalah anak dengan penyakit kejiwaan bernama autisme. Sejak kecil Banyu sudah dibuang oleh orangtuanya yang malu dengan kondisi anaknya dan menjadi cah bagus bagi eyangnya [Christine Hakim).

Film Dancing in The Rain sangat sesuai dengan kondisi sebenarnya, yang sangat banyak ditemui di dunia nyata. Di mana, pertama, ada saja orangtua yang dengan tega membuang anaknya yang tidak terlihat sempurna dimatanya. Kedua, adanya penolakan dari orang-orang di sekelilingnya. Yang menganggap anak dengan kondisi autisme atau berkebutuhan khusus lainnya adalah anak-anak tidak sempurna dan cacat. Stempel jahat selanjutnya dilekatkan ke anak-anak berkebutuhan khusus tersebut, yaitu harus dibuang dan dijauhi.

Kondisi tersebut di amini oleh ibu pemilik SIT, yang sehari-harinya sudah bergelut dengan anak dan orangtuanya. Bahkan di sekolah miliknya, yang menerima murid dengan berkebutuhan khusus. Banyak orangtua muridnya yang “sempurna” menemui dirinya. Meminta supaya anak-anak mereka dipisahkan dan dijauhkan dari anak-anak “cacat”. Seolah mereka jijik dan khawatir anaknya yang sempurna akan tertular dengan kecacatan ๐Ÿ˜ฐ.

Mereka yang melakukan penolakan tidak memikirkan bagaimana sedih dan susahnya para orangtua yang diamanahi anak-anak spesial dengan kebutuhan khusus itu. Mulai dari merawatnya, yang membutuhkan ekstra tenaga bahkan uang yang tidak sedikit. Belum lagi harus mencari sekolah yang mau menerima kondisi anak-anak berkebutuhan khusus. Supaya dapat memberikan pendidikan yang sama baiknya dengan anak lainnya. Kenapa tidak berusaha untuk berempati? Bukan malah menolak, kalau tidak mampu membantu meringankan beban mereka.

Anak-anak berkebutuhan khusus itu bukan sebuah virus atau penyakit menular yang harus dihindari dan dijauhkan. Mereka hanya membutuhkan perlakuan istimewa yang berbeda dari anak lainnya. Tapi mereka juga punya hati, perasaan, dan kemampuan. Bahkan Allah memberikan kelebihan yang banyak kepada anak berkebutuhan khusus itu.

Tinggal kita orang-orang di sekeliling yang harus bisa berempati. Bukan malah menjauhi. Mampukah?

Bagi anda yang selama ini salah sangka dengan melakukan penolakan, ada baiknya nonton film Dancing in The Rain tentang hangatnya persahabatan. Supaya bisa membuka mata dan hatinya terhadap anak-anak berkebutuhan khusus. Sekalian belajar tentang hangatnya persahabatan, walau penuh dengan air mata namun kekal abadi. Yuk bersama lihat dari sudut yang berbeda. Dan ajarkan kepada anak-anak anda untuk berempati pula. Tidak mengapa mereka berteman bahkan bersahabat dengan teman-temannya yang berkebutuhan khusus. Supaya mereka menjadi kaya hati.

Incoming search terms:

  • dancing in the rain

18 thoughts on “Film Dancing in The Rain Tentang Hangatnya Persahabatan

Leave a Reply to Agung Han Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>