Diskusi Publik Mengawal Bersama Revisi UU ITE

image

Pernah denger kan dengan yang namanya UU ITE? Rata-rata kalau ditanya seperti itu pasti jawab pernah dengar. Apalagi buat orang-orang yang sering berhubungan dengan dunia maya. Buat seorang blogger sudah pasti pernah dengar. Kalau sampai belum pernah dengar, pastinya bisa ditanya kepada blogger itu. Ke mana saja selama ini? :D.

Kalau cuma dengar sudah, pertanyaan selanjutnya sekarang adalah tahu tidak apa itu UU ITE? Kalau pertanyaannya ini, bisa beragam jawabannya. Mari sini saya beritahu UU ITE itu apa. UU ITE secara bebas saya artikan sebagai Undang-undang yang mengatur tentang transaksi yang terjadi secara elektronik. Awalnya UU ini dibuat untuk memfasilitasi segala kegiatan yang berhubungan dengan transaksi dan perdagangan secara elektronik–e commerce–transaksi secara elektronik. Tapi sepertinya UU ini dibuat begitu terburu-buru hanya karena ingin memberikan fasilitas tadi kepada para pelaku di dunia maya. Sehingga ada hal-hal yang luput begitu juga ada yang tumpang tindih dengan produk hukum lainnya.

Ide awalnya sudah bagus tapi pada pelaksanaannya UU ini jadi menyasarkan kepada persoalan lainnya, yang tidak berhubungan sama sekali dengan transaksi perdaangan secara elektronik. Persoalan lainnya adalah lebih banyak menjerat masyarakat dengan alasan pencemaran nama baik.

image

Jumat 18 Februari lalu, di gedung De one, jalan Wolter Monginsidi saya mengikuti sebuah diskusi publik. Acaranya sendiri diselenggarakan oleh Bloggercrony Community (D’cronys) dan Satu Dunia. Mengambil tema mengawal perubahan UU ITE. Kenapa ya musti dikawal? ini salah satu pertanyaan yang membuat saya tertarik untuk datang ke acara ini. Berharap pertanyaan tersebut dapat terjawab di akhir acara.

Diskusi Publik Mengawal Bersama Revisi UU ITE

Diskusi publik mengawal bersama revisi UU ITE dibuka dan diperkenalkan oleh  mbak Wawa dari D’cronys selanjutnya dimoderatori oleh Mas Misan dari Satu Dunia. Pembicaranya terdiri dari 4 orang narasumber, yaitu: Bayu Wardhana dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Asep Komarudin dari LBH Pers, Anwari Natari dari Satu Dunia, Ezki Suyanto (Korban dari UU ITE).

Sebagai blogger sekaligus masyarakat umum, haruslah sadar dan bertanggung jawab akan segala aktivitas yang berhubungan dengan dunia maya. Atau meminjam istilah dari mas Asep setiap aktivitas yang terhubung dengan colokan listrik. Agar terhindar dari jerat UU ITE yang begitu “mengerikan”. Begitu banyak aktivitas di dunia maya yang dianggap sebagai guyonan di ruang pribadi ternyata dapat membawa akibat hukum bagi pelakunya. Akibat hukum karena dapat terkena jerat UU ITE itu tadi.

Jangankan membuat postingan di blog yang berisikan beberapa ratus kata hanya menuliskan status di BBM saja juga harus hati-hati. Jangan sampai ada orang yang merasa tersinggung dan akhirnya melaporkan anda atas tindakan pencemaran nama baik. Ada beberapa dari UU ITE yang dianggap sebagai pasal karet. Disebut pasal karet karena berbenturan langsung dengan kemerdekaan berekspresi dan beropini. Pasal-pasalnya yaitu:

  • Pasal 27 (3) tentang penghinaan/pencemaran nama baik
  • Pasal 28 (2) tentang penyebaran kebencian berdasar SARA
  • Pasal 29 tentang ancaman kekerasan/menakut-nakuti
  • Pasal 45 yang mengatur mengenai ancaman hukuman pidana untuk pasal 27, 28 dan 29 UU ITE.

Dengan adanya pasal-pasal karet tersebut menurut mas Asep sudah banyak berjatuhan korban dari pihak masyarakat. Sudah pada tahu dong kasus pencemaran nama baik yang sempat menguras perhatian kita semua. Yup, betul, Prita yang akhirnya memunculkan keprihatinan semua elemen masyarakat hingga sempat muncul gerakan ‘coin for prita’ ini. Bahkan mas Asep dan mbak Ezki yang juga sebagai narasumber ini juga diantara mereka yang menjadi korban pengaduan dikarenakan dianggap melakukan pencemaran nama baik.

Yang sangat disayangkan, hingga saat ini UU ITE ini lebih banyak menjerat masyarakat untuk kasus pencemaran nama baik, bukannya transaksi perdagangan elektronik. Padahal diharapkan UU ITE ini dapat menjerat mereka yang melakukan transaksi yang merusak masyarakat secara luas. Seperti perjudian online, prostitusi online, pornoaksi-grafi online, dan sebagainya. Tapi sayangnya transaksi elektronik yang merusak tersebut malah banyak yang luput dari jeratan UU ITE. Terbukti hingga saya menulis tulisan ini saja saya membuka situs yang menyediakan layanan streaming menonton film masih dapat dibuka dengan mudah. Belum lagi di situs tersebut menampilkan iklan perjudian online dilengkapi pula dengan gambar-gambar yang porno.

Dari hasil diskusi publik mengawal bersama revisi UU ITE dan pemaparan para narasumber, diharapkan pasal-pasal karet dalam UU ITE ini bisa dihapuskan. Bukan hanya penurunan jumlah hukuman, yang awalnya diancam hukuman 6 tahun penjara diturunkan menjadi 4 tahun. Agar tidak ada lagi berjatuhan korban baru karena ancaman pencemaran nama baik. Selain itu juga UU ITE diharapkan tidak memberangus kebebasan berekspresi dan berpendapat yang memang jelas-jelas sudah diatur dalam UUD 1945 pasal 28.

14 thoughts on “Diskusi Publik Mengawal Bersama Revisi UU ITE

  1. Dunia maya selain bermanfaat juga mengandung kemudaratan. Mengapa? Karena pengisinya adalah manusia petualangan dan tidak bertanggung jawab. Internet seharusnya untuk menebar kebaikan bukan menebar kebencian, kejahatan, pornografi, dan hal-hal negatif-destruktif lainnya.
    Blogger selayaknya menjadi penjuru dalam mengisi konten yang menarik dan bermanfaat.
    Salam hangat dari Surabaya

  2. Aduduuu…serem, ya, kalo gak hati-hati menyusun kata dan menjaga hati supaya tetap adem ayem ketika menulis status or komentar. Hehehe…ke mana aja, ya, si bunda sampe baru tau nih tentang UU ITE, ya, dari postingan ini. Si Bunda ngumpet di belakang monitor laptop, hehe…. Makasih Mbak Catcilku adanya postingan ini mencerahkan pikiran bunda. Makasih banyak.

  3. Emang ya ngeri2 sedap berada di dunia online.
    Alhamdulillah berada diantara orang2 yang selalu saling mengingatkan tentang etika beronline ria terutama attitude sebagai blogger khususnya dan pekerja online umumnya 😀

  4. UU ITE ini memang harus direvisi, karena ngeri-ngeri sedap ancaman hukumannya, lebih dari 5 tahun, yang mana dengan ancaman hukuman selama itu polisi berhak menahan tersangka demi kepentingan penyelidikan.. ngeri banget, kalau cuma gara-gara blunder di internet sampai harus ditahan walau belum pasti bersalah..

  5. setuju mbaa.. ini jatohnya malah ke persoalan ‘remeh temeh’ kalo menurutku. persoalan yg ‘berat’ malah tak terjangkau.

    skrg banyak kasus juga sih, artis ngelaporin netter yg membully di IG atau twitter.. ngeri juga euy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>