Dengan Gernas Baku, Mari Tumbuhkan Minat Baca pada Anak

Sudah sejak akhir pekan lalu di grup sekolah, ada pengumuman kalau hari Senin, tanggal 29 Juli 2019 akan ada acara membacakan buku. Belum ada sepekan kegiatan belajar mengajar di sekolah berlangsung sudah mulai padat dengan kegiatan. Salah satunya adalah acara yang sudah berlangsung kemarin. Selama acaranya bermanfaat bagi anak, kegiatan atau acara apapun tidak menjadi masalah.Kemarin pagi, saya menemani adek pergi ke sekolah. Dengan diantar ayah yang kebetulan tidak masuk kerja. Dari rumah berjalan seperti biasa hingga di sekolah adek mulai mengkeret.
Kami memang mepet saat antar, jelang waktunya masuk kelas. Setelah salim ke ayah, tidak mau salim ke bu guru dan berdiri saja di depan pagar mogok tidak mau masuk. Mungkin kaget dan bingung dengan suasana sekolahnya yang beda dari biasanya. Tidak ada ibu guru yang menyambut seperti hari-hari lainnya. Ditambah, halaman sekolah sudah penuh dengan ibu-ibu sedang duduk di kursi yang telah disediakan. Menanti jalannya acara yang sudah dijadwalkan. Mau tidak mau saya pun ikut masuk ke dalam melewati ibu-ibu tadi. Mengantarkan adek hingga ke depan kelas.Sayangnya, adek tetap tidak mau lepas dari sisi saya, malah minta digendong. Sambil digendong dibujuk supaya mau masuk ke kelas atau beraktivitas seperti teman-temannya yang lain.
Bukannya antusias, malah pilih menangis. Sampai ada bu guru yang mengambil alih gendong dari saya untuk dibawa masuk ke dalam kelas. Walau masih dengan menangis dan sedikit “dipaksa”. Saya sendiri kaget dengan mood adek yang tiba-tiba berubah ini. Padahal sudah dari rumah dikondisikan lebih dulu, cuma mungkin kurang lengkap dan tidak sesuai harapannya. Saya pun keluar menunggu di luar pagar, berjaga-jaga kalau adek keluar lagi. Sekaligus untuk menunggu dimulainya acara membacakan buku. Alhamdulillah, adek tidak ikut keluar dan sepertinya sudah tidak nangis lagi, ketika saya tanya ke salah satu gurunya.Tidak lama kemudian terdengarlah suara salam dari pembawa acara. Membuka acara membaca buku bersama untuk anak di sekolah PG dan TKIT Permata Bunda. Gernas Baku di PG dan TKIT Permata Bunda nama acara yang berlangsung selama satu jam kemarin pagi di PG dan TKIT Permata Bunda tempat adek sekolah. Acara ini baru pertama kalinya diselenggarakan di sekolah, ya iyalah kan gerakan ini juga baru dicanangkan oleh pemerintah.

Dengan Gernas Baku, mari tumbuhkan minat baca pada anak. Seru, penilaian yang saya berikan pada acara gernas baku yang berlangsung kemarin. Bersama-sama dengan orangtua lainnya, serentak membacakan buku pada anaknya masing-masing. Saking berisiknya, membuat anak jadi tidak bisa konsentrasi mendengarkan isi buku yang dibacakan. Bahkan saat ditanya oleh bu guru yang menjadi pembawa acara. Tentang isi buku yang sudah dibacakan, anak tidak bisa menjawab. Malah memberikan jawaban tidak tahu apa yang dibacakan. Jawaban polos dan lucu dari anak yang ditanya, tentu saja membuat para orangtua yang hadir tertawa.
Pengalaman merupakan pembelajaran begitu berharga, bagi anak yang telah mengalami sendiri aktivitas dibacakan buku oleh orangtuanya. Yang akan dikenang sepanjang perjalanan dalam hidupnya. Karena, bagi sebagian anak pengalaman dibacakan buku oleh orangtuanya kemarin di sekolah, merupakan yang pertama kalinya. Ini berkaitan langsung dengan temuan yang tanpa disangka, dari semua orangtua yang hadir kemarin. Hanya ada 2 orangtua saja yang mengangkat tangan saat ditanya: “siapa dari ayah dan bunda yang pernah atau sering membacakan buku untuk anaknya di rumah?”
Dengan Gernas Baku, mari tumbuhkan minat baca pada anak. Sudahkah anda tahu apa itu Gernas Baku? Gernas Baku merupakan sebuah singkatan dari Gerakan Nasional Orangtua Membacakan Buku. Gerakan ini telah dicanangkan oleh pemerintah sejak tahun 2018 yang lalu, namun baru di tahun 2019 Gernas Baku dilakukan serentak secara nasional tepatnya di bulan Juli. Pemerintah sepertinya berinisiatif dan menjadi motor penggerak untuk melakukan Gerakan Nasional Orangtua Membacakan Buku. Karena melihat fakta yang boleh dibilang memprihatinkan sekaligus mengerikan atas minat baca di tanah air tercinta. Bisa dilihat dari hasil survei atas penilaian siswa pada Programme for International Student Assessment (PISA) di tahun 2015. Dari 72 negara yang dinilai, Indonesia menduduki peringkat ke-64 dalam hal minat membaca. BPS pun mengeluarkan hasil surveinya di tahun yang sama. Di mana perbandingan yang begitu mencolok atas rendahnya minat baca anak usia sekolah yaitu 91,47%:13,11%.
Dari hasil survei tersebut bisa dilihat kalau, anak usia sekolah lebih suka menonton televisi dibandingkan dengan membaca buku. Rendahnya minat baca pada anak usia sekolah membutuhkan perhatian dari kita semua untuk memperbaikinya. Menjadi PR bagi para orangtua untuk mulai memberikan rangsangan pada anak untuk gemar membaca. Memang bukan sebuah perkara mudah, tapi bukan hal yang mustahil juga untuk dilakukan.
Pemerintah bersama pihak sekolah sudah memulai usaha tersebut, “memaksa” para orangtua untuk membacakan buku kepada anak di sekolah. Dalam rangka memberikan wacana dan rangsangan kepada orangtua untuk mau berusaha menumbuhkan minat membaca pada anak. Melalui Gernas Baku yang pada bulan Juli sedang dilakukan secara serentak. Tinggal bagaimana kita sebagai orangtua melanjutkan usaha tersebut di rumah masing-masing. Walau sebagai orangtua tidak suka membaca, paling tidak bersedia memberikan fasilitas kepada anak untuk bersentuhan dengan buku. Bahkan sebagai orangtua harus mau berkorban untuk setidaknya meluangkan waktu 15-30 menit setiap harinya untuk membacakan buku untuk anak. Karena dengan membacakan buku kepada anak, memiliki manfaat yang begitu besar. Antara lain: mempererat hubungan sosial-emosi antara orangtua dengan anak dan menumbuhkan minat baca anak sejak dini.
Yuk ikut menyukseskan Gerakan Nasional Orangtua Membacakan Buku di rumah masing-masing. Mulai dengan buku tipis yang berisi hanya beberapa halaman saja. Pilih posisi dan waktu senyaman mungkin untuk anda dan juga anak. Kalau saya biasanya menjelang waktunya anak tidur. Sambil tiduran atau duduk di kasur, membacakan buku untuk anak di malam hari. Walau terkadang bacaannya ngawur kemana-mana dan tidak jelas, karena yang membacakan sudah ngantuk atau malah tertidur sendiri karena lelah. Sementara anaknya masih segar dan matanya mencorong. Tinggal kita yang digoyang-goyang bahkan dipukul dan diteriaki oleh anak yang masih minta dibacakan hehe.

28 thoughts on “Dengan Gernas Baku, Mari Tumbuhkan Minat Baca pada Anak

  1. Buku sebagai literatur yang harusnya dipertahankan dalam eksistensi pertumbuhan anak supaya generasi penerus memiliki pola pikir dan kecerdasan yang lebih baik.

  2. Wah asyik sekali mengajarkan anak membaca buku. Biasanya anak kecil susah sekali diajak membaca. Paling gampang ya diajak main hape. Cepet banget dah tuh. Acara Gernas ini positif banget dan perlu dikembangkan lagi di mana pun. Salut.

  3. Di saat makin banyak pilihan mengisi waktu di jaman digital, adanya gadget, televisi, dll, kegiatan membaca buku menjadi tantangan tersendiri. Gerakan membaca buku ini sangat positif utk mencwrdaskan generasi muda, sudah sepantasnya kita dukung bersama

    • Pengalaman saya, yang tidak terlalu suka baca. Jadi memaksakan diri untuk meluangkan waktu baca mas. Diniatkan demi menularkan minat baca pada anak. Tidak mudah memang😅

  4. sebelum ada gernas baku ini aq sudah memulai mbak, membiasakan membacakan buku untuk anak sebelum tidur agar dia punya minat untuk membaca buku ketika dewasa, apalagi sekarang anak2 lebih tertarik dengan gadget jadi harus lebih maksain untuk anak2 mulai membaca buku dari sedini mungkin, semoga gernas ini berkelanjutan dan di dukung oleh orang tua untuk bonding dengan anak

    • Iya mbak, di rumah juga sudah mulai dibiasakan sejak masih pada bayi dibacakan. Sampai sekarang masih suka minta bacakan buku kalau mau tidur. Padahal bacaanya sudah coba tereliye 😅

  5. Gernas baku seharusnya tidak hanya untuk anak ya, tapi juga untuk para orang tuanya. Setahu aku, kebiasaan membaca itu tak bisa serta merta dipaksakan pada anak, sementara orangtuanya tak suka membaca buku. Bagusnya sih memang di rumah orangtua udah suka duluan membaca, nah kemudian menularkannya pada anak, dan bersama-sama menjadikan kebiasaan membaca sebagai kebiasaan keluarga. Ini pasti lebih bagus hasilnya ya.

    • Iya harus orangtua lebih dulu yang sadar. Walau tidak suka membaca kalau untuk menularkan membaca pada anak tetap harus sedikit “memaksakan” diri ya

Leave a Reply to Fendi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>