Datang ke Tempat Sidang yang Sudah Pindah Alamat

Saya lagi senang hari ini karena sudah selesai dan berhasil melewati “sidang”. Jadi mau berbagi dengan dua tulisan, yang satu tayang hari ini juga saking tidak sabarnya. Tulisan yang kedua sedang digarap dan akan menyusul, bisa besok atau lusa insyaallah tayang. Yup hari ini tanggal 5 Juli 2019, saya dijadwalkan untuk menghadiri sidang. Ceritanya begini, beberapa pekan lalu tepatnya pada tanggal 25 Juni 2019 saya ditilang oleh polisi. Hari itu dengan beat kesayangan, saya tanpa sengaja masuk ke jalur cepat. Sebelum memutar balik arah di depan Dwima Plaza. Ternyata didepan tempat putaran kendaraan, sudah ada polisi yang menunggu. Diberhentikanlah perjalanan saya, lalu dihampiri oleh pak polisi yang berseragam lengkap. Lalu terjadilah dialog di bawah ini:

Polisi: kenapa masuk jalur cepat?
Saya: cuma mau Putar arah saja pak di sini
Polisi: kan tidak boleh masuk jalur cepat
Saya: memang ada pak rambunya?
Polisi: ada di sana
Saya: tidak tahu dan tidak lihat pak, kan cuma mau putar arah saja
Polisi: coba lihat SIM dan STNK
Saya: (mengambil di dompet lalu menyerahkan SIM dan STNK ke polisi) ini pak
Polisi: (melihat dan memeriksa) ditilang ya, hari Jumat di Bungur (sambil menulis)
Saya: πŸ€”πŸ™„πŸ˜€πŸ˜.

Setelah menerima surat tilang berwarna biru dari pak polisi. Saya pun ngacir sambil dongkol dan sebal. Bahkan sempat ngedumel dan mengatakan: “tidak berkah pak, kalau seperti itu.” Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah maaf ya, sudah mengucapkan seperti itu ke bapak. Baru sadar dan nyesel sekarang sudah ngedumel seperti ituπŸ™ˆ.

Kertas tilang berwarna biru yang masih dipegang akhirnya bernasib jelek sekali di tangan. Karena saya remas-remas sampai seperti bulatan tidak berbentuk, saking keselnya. Kalau dibuka tentu saja kertas sudah menjadi lecek πŸ˜…. Tapi karena khawatir hilang, akhirnya saya rapikan dan lipat dengan baik juga. Sambil dibaca dan dilihat kapan tanggal sidangnya. Kemudian disimpan di tas yang sering dibawa, supaya ingat dan mudah kalau ingin dicari. Kesel ditilang, karena memang benar tidak tahu kalau di jalur itu tidak boleh dilewati motor, apalagi cuma untuk memutar jalan saja.

Hari berganti bulan dan terlupakanlah jadwal “sidang” yang harus saya hadiri. Alhamdulillah semalam, nona kecil mengingatkan dengan pertanyaan: “bunda besok sidang ya?” Terima kasih ya nak, sudah diingatkan. Anak-anak di rumah memang saya ceritakan kalau bundanya kena tilang dan harus mengikuti sidang. Dari situ terjadilah obrolan, tentang sidang, hukumannya, dan kenapa di sidang. Bahkan gadis kecil sampai takut dan berdoa untuk bundanya supaya tidak dipenjara, sambil berkaca-kaca matanya.

Singkat cerita, saya pun mulai merencanakan perjalanan menuju tempat sidang. Tidak banyak, hanya mencari tempat di mana sidang akan dilangsungkan dan naik apa ke sana. Berjaga-jaga kalau orang yang sudah janji untuk antar dan menemani tapi ternyata ingkar dengan janjinya. Dilihat dari surat tilang berwarna biru, tempat sidang tertulis di Pengadilan Negeri Bungur Raya. Seharusnya ditulis Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, karena Bungur Raya adalah nama jalan. Sampai pagi hari tadi benar apa yang sudah saya perkirakan, ternyata orang yang janji ingin antar dan menemani sidang, mengingkari janjinya sendiri. Ya sudahlah, tetap semangat datang sendiri ke pengadilan.

Walau sempat ditawari orang untuk diambilkan SIMnya (diurus sidangnya), saya tidak mau. Memilih untuk datang dan jalani sendiri sidangnya, karena penasaran seperti apa yang namanya sidang akibat ditilang dan bagaimana situasinya. Dengar-dengar dari orang banyak, kalau sidang itu antre panjang, ramai, duduk di kursi pesakitan dihadapan hakin sebagai terdakwa untuk pelanggaran lalu lintas. Makanya saya nekat untuk datang menjalani proses sidangnya ke pengadilan.

Pukul 08.28 saya sudah mendapatkan supir mobil ojek daring, tinggal menunggu untuk dijemput. Sampailah di depan pintu gerbang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pukul 09.12. Baru saja turun dari mobil, ternyata si bapak supir berkata sesuatu (tidak jelas terdengar) yang membuat saya menengok dan melihat ke jalan arah depan mobil (kurang lebih 100 meter). Ternyata ada kecelakaan lalu lintas yang sepertinya melibatkan motor, mobil, dan bajaj. Korbannya seorang wanita (sepertinya tidak menggunakan helm pelindung kepala) sudah tergeletak di aspal. Beberapa orang dan tukang parkir yang ada di depan gedung pengadilan yang melihat kejadian langsung berlari menolong. Karena ngilu lihat korban yang sepertinya sudah lemas saat digotong beberapa orang, saya memutuskan untuk memasuki gedung.

Datang ke Tempat Sidang yang Sudah Pindah Alamat

Datang ke tempat sidang yang sudah pindah alamat maksudnya gimana? Jadi begini ceritanya. Saat mendekati pintu masuk gedung, saya curiga dan membatin, kok sepi ya. Sambil terus berjalan mendekati pintu masuk yang terbuat dari kaca yang bisa bergeser otomatis saat ada orang yang mendekat. Di dalam gedung, setiap orang yang masuk disambut oleh mesin detektor dan seorang petugas keamanan. Saya pun melewati mesin detektor tersebut dan jalan mendekati petugas untuk bertanya. Sambil bertanya saya mengeluarkan surat tilang berwarna biru. Petugas yang sudah paham langsung memberitahu kalau sekarang sidang perkara lalu lintas sudah tidak di gedung itu lagi, sudah pindah.

Saat ditanya di mana tempat dan alamatnya, ditunjukilah selembar kertas dilaminating. Sudah tertempel di dinding kaca di meja penerima tamu, berisi tulisan alamat dari kantor Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat. Ternyata saya dan beberapa orang yang datang setelahnya sudah menjadi korban salah alamat, karena datang ke tempat sidang yang sudah pindah alamat. Jadi bertanya dalam hati, kok bisa pak polisi yang menilang tidak tahu perubahan alamat ini? Apakah perubahan ini terjadi baru beberapa hari saja? Sampai sekarang pertanyaan itu tidak terjawab, karena lupa bertanya sejak kapan pindahnya kepada petugas.

Pemberitahuan perpindahan alamat

Baiklah, daripada berlama-lama pun memoto selembar kertas bertuliskan alamat itu dan mencari tempat duduk untuk melakukan pemesanan ojek daring lagi. Setelah mendapatkan supirnya dari aplikasi ojek daring yang dipilih. Saya pun memutuskan jalan ke luar gedung untuk menunggu di luar gedung saja. Karena tertulis waktu tunggu saya hanya 4 menit saja, jadi tidak lama. Kebetulan, sambil menunggu supir ojek daring saya bisa bertanya ke tukang parkir tentang korban kecelakaan lalu lintas tadi. Ternyata sudah dibawa ke rumah sakit oleh bapak pemilik mobil, yang tadi sepertinya terlibat dalam kecelakaan tersebut.
Masukan nih untuk pihak kepolisian supaya jangan sampai salah memberikan alamat yang akan ditulis di surat tilang. Supaya tidak korban lagi, yang datang ke tempat sidang yang sudah pindah alamat. Karena lumayan memakan waktu dan biaya untuk pindah ke tempat yang benar. Pengalaman saya tadi untuk mendatangi Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat dari Pengadilan Negeri Jakarta Pusat membutuhkan waktu 23 menit lamanya, dari pukul 09.15 sampai pukul 09.38. Dengan biaya sepuluh ribu untuk membayar ongkos ojek online. Alhamdulillahnya tadi pagi saya dapat promo sangat bagus dari salah satu provider.

Nantikan ya postingan berikutnya yang bercerita pengalaman menghadiri sidang pelanggaran lalu lintas. Supaya anda tahu kalau sekarang tidak perlu sidang untuk mengambil SIM akibat ditilang.

5 thoughts on “Datang ke Tempat Sidang yang Sudah Pindah Alamat

  1. Pingback: Tidak Perlu Sidang untuk Mengambil SIM Akibat Ditilang | Catatan KecilkuBlog Catcilku

Leave a Reply to Hastira Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>