Catatan Seputar Hari Raya Qurban

Ahay bulan Agustus sudah lewat dan tidak ada satupun tulisan yang tayang di bulan itu. Sekarang sudah masuk awal bulan September, semoga mulai bisa rajin menulis lagi.

Baru saja umat Islam merayakan Hari Raya Qurban atau Idul Adha. Tepatnya pada hari Jumat kemarin. Disebut Hari Raya Qurban, mungkin karena pada hari itu disunnahkan untuk menyembelih hewan qurban. Sebagai salah satu bentuk ketaatan seorang hamba kepada Penciptanya. Alhamdulillah, selama ini saya selalu ada di Indonesia saat Idul Adha. Jadi tidak pernah tahu bagaimana situasi atau kemeriahan umat Islam di negara lain dalam menyambut Hari Raya Qurban :-). Memang sungguh besar karunia Allah kepada umat-Nya. Dengan memberikan dua hari raya, agar dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari keduanya.

Hari Raya Qurban tahun ini jatuh pada hari Jumat, jadi proses penyembelihan hewan qurban tidak serempak dilakukan. Sebagian langsung melaksanakannya setelah selesai sholat Idul Adha. Ada pula yang melaksanakannya pada keesokan harinya, yaitu pada hari Sabtu. Bahkan dilakukan hari Ahad sekarang pun diperbolehkan, yang penting masih termasuk hari Tasyrik (11-23 Dzulhijjah). Tidak serempaknya kegiatan penyembelihan dikarenakan adanya kekhawatiran tidak dapat selesai dalam waktu singkat.

Mengingat biasanya penyembelihan dilakukan di area halaman masjid. Sementara masjidnya akan segera dipergunakan untuk sholat Jumat. Singkatnya waktu yang ada membuat penyembelihan yang dilakukan di area masjid dialihkan menjadi hari Sabtu. Karena selain penyembelihan tentu ada pula beberapa proses yang harus dilalui. Diantaranya menguliti, memotong daging, memotong tulang, menimbang, memasukan ke kantong plastik, dan mendistribusikan daging qurban. Kesemua proses itu dilakukan oleh panitia yang bukan berprofesi sebagai jagal hewan. Tentunya akan membutuhkan waktu yang lebih lama.

Ada beberapa catatan seputar Hari Raya Qurban yang bisa saya ceritakan dalam tulisan kali ini, antara lain:

1. Catatan pertama: Minimal lima belas hari sebelum Idul Adha, biasanya lapak-lapak dadakan yang menjual hewan qurban banyak bermunculan. Lapak-lapak dadakan itu bukan di pasar, melainkan ada dekat dan di tengah-tengah pemukiman warga. Para penjual menyewa tanah-tanah kosong sementara waktu, untuk memajang hewan qurban dagangannya. Selama ini saya sendiri tidak pernah melihat atau mendengar ada warga yang keberatan. Apalagi sampai melakukan demo untuk menentang keberadaan lapak-lapak dadakan itu. Malah yang sering ditemukan, lapak-lapak dadakan dari penjual hewan qurban akhirnya menjadi hiburan tersendiri bagi warga. Utamanya anak-anak, mereka akan berlomba-lomba untuk meminta diantar oleh orangtuanya melihat hewan-hewan qurban yang “dipajang”.

Para penjual ada yang menjual sapi, kambing, dan domba. Jenis sapi yang dijual pun beraneka macam, dari sapi limosine yang berukuran besar, sapi Bali hingga sapi Jawa. Begitu pula jenis kambing atau domba yang dipajang, demi memenuhi kebutuhan pembeli sekaligus calon pequrban. Harga tentunya disesuaikan dengan ukuran dan jenisnya. Ada harga ada rupa, masing-masing penjual memberikan harga yang berbeda. Semua penjual mendapatkan rezeki yang berbeda dari keuntungan penjualan. Berkah tersendiri bagi para penjual hewan qurban saat datangnya Hari Raya Qurban.

2. Catatan kedua: Mendekati hari raya, kurang lebih 2 hari sebelumnya (H-2). Para pequrban sudah mulai mengantarkan hewan-hewan qurban pilihan mereka ke tempat yang menyelenggarakan penyembelihan. Biasanya di masjid-masjid, pengurus yayasan, sekolah, bahkan ada penjual yang juga sekaligus menyediakan jasa pemotongan hewan qurban. Tentunya dengan bekerja sama dengan yayasan atau panti asuhan. Sehingga langsung disalurkan kepada yang berhak mendapatkan daging qurban. Hewan-hewan qurban yang sudah terkumpul akhirnya menjadi tontonan yang menarik tiap tahun bagi anak-anak. Tidak perlu jauh-jauh contohnya, anak saya di rumah pun kalau sore bersama teman-temannya mendatangi masjid. Untuk melihat sapi, kerbau, kambing, atau domba yang diikat di pagar masjid. Mereka pun mencoba keberanian untuk sekedar mendekat kemudian meraba dan mengelus-elus, serta memberikan makan kepada hewan-hewan itu.

IMG20170901172410

Catatan ketiga: Pada saat penyembelihan pun bisa jadi kegiatan menarik bagi anak-anak. Untuk dilihat dan diambil hikmahnya. Tentu peran dari para orangtua sangat penting untuk memberikan penjelasan kepada anak. Di negeri yang mayoritas beragama Islam ini, tiap tahun selalu dimeriahkan dengan proses penyembelihan hewan qurban. Karena begitu banyaknya masjid, minimal dalam satu RW ada satu masjid. Maka hampir di setiap jalan bisa ditemukan masjid yang menyelenggarakan penyembelihan hewan qurban.

Yang perlu dan penting dicatat di sini adalah: selama ini saya belum pernah melihat, mendengar atau menemukan. Darah dari hewan-hewan yang disembelih itu berceceran dan berantakan ke mana-mana. Semua dilakukan dengan baik oleh umat Islam bahkan sangat detail. Termasuk untuk urusan menjaga kebersihan lingkungan agar tidak tercemar dengan darah dari hewan yang sudah disembelih. Jadi kalau ada oknum dari agama lain yang berkomentar buruk bahkan melarang proses penyembelihan hewan qurban yang dilakukan oleh umat Islam. Kok saya rasa oknum itu salah tempat ya.

Berbagai macam cara atau tehnik penyembelihan diterapkan, untuk penyembelihan. Tentunya yang sesuai tuntunan agama Islam. Sekaligus proses setelah hewan qurban disembelih hingga pendistribusiannya. Dicari cara yang efektif dan efisien. Hewan qurban yang sudah disembelih ada yang digantung berjejer untuk kemudian dikuliti. Ada yang satu persatu digantung lalu dikuliti. Semua dilakukan cara yang menurut panitia paling baik dan cepat. Beda-beda cara dan tehnik itu menjadikannya unik. Seperti pada hari Sabtu kemarin, saya sempatkan melihat ke beberapa tempat. Mendapatkan pemandangan yang unik atas hewan qurban yang sudah disembelih. Bisa anda lihat di foto di bawah ini.

IMG20170902090118

Tiap daerah mungkin akan berbeda kemeriahannya dalam menyambut Hari Raya Qurban dan pelaksanaan penyembelihan hewan qurban. Bahkan mungkin hanya ada di Indonesia yang sangat terasa kemeriahannya. Ah, kalau memang benar hanya ada di Indonesia, sungguh saya dan anda sangat beruntung menjadi warga negeri ini. Anda bisa berbagi cerita atau catatan seputar Hari Raya Qurban dengan saya di kolom komentar.

Belum terlambat juga saya dan keluarga mengucapkan: Selamat Hari Raya Idul Adha 1438 H. Semoga amal ibadah atas qurban-qurban kita diterima dan mendapat ridho dari Allah Swt.

40 thoughts on “Catatan Seputar Hari Raya Qurban

    • Iya, semua rumah dapat bagian. Kadang kasihan juga sama yang kurang mampu dan berhak mendapatkan pembagian, karena dapatnya sama ukuran timbangannya

  1. Karena in masuk ritual ibadah, pasti sudah dipikirkan Dan dicari tau ilmunya supaya berkurban dengan Aman. Bisa-bisanya oknum aja itu ya mbak mencari kesalahan Dr kurban. Huh, ikut sebel!

  2. Aku tidak membela mereka yg kontra sih, karena aku pribadi muslim. Cuma kadang emang agak gemes saat proses pengantaran hewannya. Kasian, mereka di mobil bak terbuka dan supirnya kadang bawa ugal – ugalan. Kebayang gak stress hewannya? Tapi aku pribadi juga masih belum bisa kasih solusi gimana caranya supaya mereka gak stress di jalan :)))

  3. Saya senang kalau hari raya kurban. Pagi-pagi sudah ke masjid buat shalat hari raya. Ini sekaligus mengingatkan memori masa kecil suka ngasih makan hewan kurban yang ada di masjid beberapa hari sebelum hari raya :)

  4. Di daerah saya juga gak bareng, kalau di masjid kampung menyembelihnya hari Minggu.
    Model menguliti begitu sejak saya kecil sering lihat di kampung rumah ortu

  5. Kalau di LN terutama di beberapa negara barat, memang ada aturannya soal menyembelih kurban, bersih, teratur, ditempat yang memang penjagalan. Pun tidak ditonton oleh yang merasa ga tega. Ada petugasnya, dari muslim sendiri. Disaksikan ya oleh yang muslim. Jadi memang menyembelihnya ngga di tempat terbuka dipinggir jalan misalnya. Di Indo pun kalau dilapangan kalau memang tuntunan agama Islam, pasti bersih kan kebersihan bagian dari iman. Juga menyembelih bukan menjagal. Ada norma dan etika termasuk terhadap hewan. Ngga nyinyir juga sih kalau di luar, mungkin yg kurang piknik dan kurang gahol aja tuh. Jadi ya aneh kalau di negara kayak Indonesia yng mayoritas malah ada yang nyinyir, mesti cek lagi pelajaran toleransi di agamanya, mungkin sudah jarang ke tempat ibadah dan berkomunikasi dengan pemuka agama. Seharusnya di negara yang agamais lebih toleran kalau menurutku. Kalau memang menjalankan sesuai tuntunan agama. Saling menghormati.

  6. Kebetulan suami tahun ini diminta menjadi ketua panitia kurban di sekolah anak. Subhanallah emang seru mbak karena semua gotong royong bahkan anak-anak pun dilibatkan. Jadi mereka yang masih kecil juga bisa merasakan esensi kurban.

    Selain itu yang bikin happy adalah anak-anak punya hiburan ngasih makan hewan kurban. Aku perhatikan mushola dan masjid jadi ramai anak-anak dan pengasuh berkumpul. Seru juga.

Leave a Reply to Timo Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>