Bijak Mengunggah Foto Pribadi Dan Anak

image

Tanggal 19 Juni kemarin di sebuah grup wa, salah seorang teman mengirimkan gambar foto bayi. Entah sumber awalnya dari mana, yang jelas teman saya itu sepertinya mengambil dari path. Di bawah gambar ada tulisan Hati-hati mengupload foto anak di socmed, sudah ada korbannya, diupload di instagram dengan akun jualbayimurah.

Sebagai seorang ibu yang baru saja melahirkan, tentu saja berita itu menimbulkan rasa cenat cenut di hati. Bagaimana tidak berita ada jual beli bayi dan dihargai murah. Tega, keterlaluan, dan jahat sekali para pelaku “bisnis” tersebut. Sudah separah dan sesulit itukah mencari pekerjaan dan rezeki di negeri yang kaya ini. Sampai orang begitu tega dan kehilangan nuraninya. Menjual dan membeli bayi sebagai cara mencari uang. Semoga para pelaku mendapatkan hidayah untuk kembali mencari rezeki dengan cara yang halal.

Saya tertarik dengan tulisan yang berada di bawah gambar yang dikirim oleh teman di grup wa tadi. Yang isinya mengingatkan untuk berhati-hati mengupload foto anak di socmed. Era kemudahan internet yang didukung dengan kemajuan teknologi sudah membuat orang terkadang mudah untuk mengunggah foto diri dan anaknya.

Memang tidak ada yang melarang, siapa saja bebas dan boleh suka-suka. Untuk mengirimkan, menaruh foto diri atau anaknya. Tapi ada baiknya lebih bijak bila ingin mengunggah foto terlebih foto anak. Alasannya di luar sana banyak sekali orang-orang jahat yang siap menerkam korban. Sudah banyak buktinya bertebaran, kalau dari foto dan socmed banyak korban berjatuhan.

Entah anda berpaham seperti apa, kalau saya memiliki paham tidak akan pernah mengunggah foto anak. Jangankan foto anak, foto saya sendiri saja jarang. Pernah mengunggah foto anak untuk postingan di blog ini, yang bercerita tentang pengalaman melakukan earth hour. Itu pun fotonya gelap dan hampir tidak kelihatan wajahnya. Ada pula satu lagi foto saat berada di museum. Lagi-lagi untuk keperluan postingan, saya menaruh foto kami sekeluarga. Kali ini foto kami sekeluarga cukup jelas terlihat wajahnya, karena diambil di luar ruangan di siang hari. Entah atas dasar pertimbangan apa saat itu saya ingin menaruh foto-foto itu. Mungkin karena ingin memberi bukti agar para pengunjung blog percaya. Kalau memang saya melakukan kegiatan seperti yang dituliskan.

Akhirnya beberapa bulan setelah postingan dibuat dan saya teringat. Foto-foto yang sempat saya unggah di blog, akhirnya diputuskan¬† untuk dihapus. Tidak tenang saja rasanya saat harus melihat foto anak-anak menjadi konsumsi banyak orang. Mudah-mudahan tidak dianggap sebagai paranoid berlebihan. Jujur sebagai seorang blogger terkadang saya merasa sedih kalau melihat blog teman banyak menggunakan foto pribadi. Sementara blog saya tidak ada foto pribadi. Sebagai penghibur hanya mampu berucap dalam hati “hidup ini pilihan dan tiap orang berhak memilih dan menentukan apa yang dimaunya.”

Sebagai pribadi dan blogger saya pun sudah memilih untuk meniadakan foto pribadi apalagi foto anak-anak. Kalau pun terpaksa seminimal mungkin menggunakan foto anak. Serta pilih foto dengan kualitas yang biasa saja. Bahkan kalau bisa yang gelap dan tidak tampak wajah hehe. Kalau ditanya alasannya ya tentu karena kekhawatiran seorang ibu yang mungkin terlalu berlebihan. Alasan lainnya lagi yaitu biarkan anak dengan dunia mereka sendiri. Karena kelak di masa depan mereka pasti akan ada masanya mereka menggunakan teknologi. Biarkan anak berekspresi dengan cara mereka. Tentu dengan panduan dan batasan yang harus sudah diberitahukan terlebih dulu. Lagi-lagi semua demi kebaikan anak dan masa depan mereka.

Yuk gunakan internet dan teknologi dengan bijak. Jangan lupa agar lebih Bijak mengunggah foto pribadi dan anak. Hati-hati dengan aktivitas di dunia online, terlebih bila melibatkan anak. Bagaimana pendapat anda?

Gambar: diambil dari grup di wa, yang sumber awalnya tidak diketahui

11 thoughts on “Bijak Mengunggah Foto Pribadi Dan Anak

  1. Aduh, aku miris banget bacanya. Sekaligus merasa dilema. Selama ini aku posting blog pakai foto, buat penunjang. Ya memang ada sih rasa takut, tapi semenjak anakku udah besar, pelan2 rasa takut itu berkurang. Tapi tetap aja ngeri, ya.

  2. Setahuku, katanya akun itu cuma nyari sensasi dan kalo udah banyak followersnya mau di jual. Caranya jahat banget ya? Btw, emang jadi pelajaran sih kalau nggak boleh sembarangan upload foto dan aktivitas anak. Jaman sekarang mah syerem!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>